SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Memantapkan Hati Untuk Kembali


__ADS_3

Kalau harus kumengingatmu lagi, aku takkan sanggup dengan yang terjadi pada kita.


Jika melupakanmu hal yang mudah, ini takkan berat, takkan membuat hatiku lelah.


...***...


"Syahdu.. kalau hatimu masih merasa ada yang mengganjal, pergilah, temui dia."


Syahdu menggelengkan kepala. Baginya kehidupan lalu sudah berakhir. Bagaimana dirinya tersiksa, begitu jugalah yang harus dirasakan oleh Arga. Lagi pula semua ini terjadi tanpa ia pinta. Dia juga tak tahu Arga menunggunya selama ini. Dia juga tak meminta lelaki itu mencintainya dan Syahdu yakin, semua ini hanya tentang waktu. Suatu hari laki-laki itu akan terbiasa dan melupakannya. Sama seperti dia saat ini merasakan kepedihan yang tak tergambarkan.


"Syahdu merasa... semua udah ngga penting lagi. Ini cuma karena Arga muncul dan mengatakan hal seperti itu. Syahdu cuma terbawa suasana karena belum jujur sama Bunda. Tapi sekarang udah lebih baik, kok." Jawab gadis itu.


"Apa kamu mau seperti ini selamanya, Syahdu?"


Pertanyaan Nani membuat Syahdu merenung. Dia juga tidak tahu. Kalau saja dia bisa meminta, maka dia ingin Arga melupakan semua hal tentang dirinya. Semuanya. Dan berharap agar laki-laki itu bahagia dengan perempuan lain.


Nani menyelipkan anak rambut yang terbang ke wajah Syahdu. Dia mengangkat wajah basah gadis itu.


"Selama ini kamu kabur. Dan masalah dibelakang masih tertinggal. Ngga ada yang terselesaikan satupun. Kamu sendiri ngga hafal sama keinginan kamu. Jadi, sampai kapanpun kamu ngga akan bisa ngelupain ini."


Ngga hapal dengan keinginan? Syahdu menghela napas. Memangnya selama ini apa tidak jelas kalau dia hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan? Tanyanya dalam hati.


"Trus.. Syahdu harus apa, bunda.."


"Selesaikan, nak. Selesaikan apa yang masih menyangkut di masa lalu. Semua ada di tanganmu. Kalau kamu ingin menyudahinya, maka sudahi dengan baik."


Syahdu kembali merenung, dia tak bisa membayangkan bagaimana pergi lagi ke tempat dimana dulu ia ingin menghilang, dimana masalah terus berdatangan, dimana penghinaan demi penghinaan ia terima, dimana dia mengkhianati Wicak dan membuat lelaki itu meninggal dunia.


"Coba lihat, kemajuan apa yang kamu lakukan untuk dirimu selama ini? Engga ada. Hanya ragamu yang ada disini, tapi jiwa dan hatimu masih disana. Itu yang buat kamu sulit menerima laki-laki lain dalam hidupmu."


Nani memeluknya saat Syahdu hampir tak bisa menahan sesak di dadanya. Syahdu juga merasa apa yang dikatakan Nani benar. Selama disini dia tak pernah benar-benar melupakan semua kejadian 7 tahun yang lalu. Dan kehadiran Arga belakangan ini membuat kenangan itu malah terlihat jelas dan belum terkubur sedikitpun.


...~...


Syahdu membuka lagi kotak yang berisikan kenangan ia dan masa lalunya. Diambilnya jeket Wicak yang ia bawa sejak menginjakkan kakinya ke desa ini. Mungkin dia akan memberikan saja jeket itu pada Adit. Karena bocah itu pernah merengek supaya Syahdu meminjamkannya. Namun Syahdu tak mengizinkan siapapun menyentuhnya.


Dia lalu mengambil perhiasan yang diberikan Wicak, kalung dan cincin. Juga buku tabungan yang Wicak berikan untuknya. Semua itu akan Syahdu berikan pada Nani, sebagai tanda terima kasih telah merawatnya dan anak-anak yang terlantar selama ini.


Saat ingin menutup kotak, mata Syahdu menangkap sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah. Syahdu menatap kotak itu cukup lama sampai ia meraihnya.


Dibukanya perlahan kotak itu sampai sebuah cincin dengan mata indah pun mengeluarkan kilauan. Cincin itu adalah cincin yang Arga berikan padanya tepat di malam pertunangan lelaki itu.


Syahdu menyentuh cincin itu. Dia memang selalu menyukai pilihan Arga soal apapun itu. Tanpa ia sadari kalau ternyata mereka satu selera.


Syahdu menarik napas dalam. Apa cincin ini juga akan ia berikan pada Nani? Tapi hatinya terasa berat...


Syahdu menutup kotak cincin, memasukkan lagi ke dalam kotak besar. Lalu ia merenung sebentar.


Benarkah dia harus kembali kesana walau sekedar mengatakan 'tidak' pada Arga? Haruskah dia datang? Tapi, kalau kehadirannya hanya untuk mengatakan itu, bukankah keterlaluan? Lebih baik Syahdu tetap diam disini sampai lelaki itu menemukan cintanya yang baru.


"Kaak!"


Syahdu terperanjat saat mendengar panggilan keras Tari yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya.


Gadis itu berjongkok mengambil selembar foto yang sejak tadi ada didalam kotak.

__ADS_1


"Ini.. ini Arga Xander, kan?!!"


Syahdu sampai memejamkan mata kuat-kuat, ia lupa kalau di Tari mengenal Arga sebagai idolanya.


"Iya, kan?? Ini Arga, kan?? Jadi.. jadi kakak temenan sama Arga??"


Belum Syahdu menjawab, Tari berteriak histeris. "Jadi kakak sama Arga itu temenan?? Waaahhh gilaaa. Keren! Kakak tau nomor Hp-nya, nggak?? Kasi tau aku dong, kak. Aaaakkk.."


Syahdu terbengong melihat betapa hebohnya Tari dengan segudang pertanyaannya.


"Kaak, ayo kita ke tempat kakak. Aku pengen banget ketemu dia. Bisa nggak kakak telfon dia dan suruh ngomong ke aku, kak.. aaakk. Pasti keren banget kalau dia mau ngomong sama akuuuu.. Eh, Ini foto kapan, kak? Kayanya kalian lagi naik gunung, ya? Wajah Arga ngga ada berubah-berubahnya, ya. Dari dulu ganteng banget. Ini wajah aslinya emang gini kan, kak? Kakak dulu gimana? Naksir nggak, sama dia? Masa nggak naksir sih, kak. Astaga..."


Syahdu sampai tertawa melihat Tari seperti itu. Matanya tak lepas dari foto Arga.


"Eh, bentar.. bentar." Tari tiba-tiba terhenti. Lama dia diam menatap foto, lalu kembali melihat Syahdu. "Ini dia liatin kakak, lho. Ya, kan? Aku ngga salah liat, kan? Di foto ini dia ngelirik kakak, gitu. Apa jangan-jangan-"


Tari terdiam saat Syahdu menarik paksa foto dari tangannya.


"Jangan sok berspekulasi. Kami temen kuliah. Udah ah, kakak mau keluar."


Tari malah merebut balik foto itu lalu berlari keluar.


"TARIIIIII!!" Teriak Syahdu mengejar gadis yang sudah menghilang entah kemana.


...🍁...


Syahdu tengah di dalam kamar bersama Wicak. Mereka tertawa dan bercanda bersama. Rasanya seru sampai Syahdu tertawa lepas di pelukan Wicak yang hanya tersenyum menatapnya. Tangan lelaki itu mengelus rambut Syahdu dengan lembut. Dia mendengarkan semua ocehan gadis itu sampai tiba saatnya Syahdu bangkit karena ia merasa lapar dan ingin mengambil makanan.


"Mau makan juga?" Tanya Syahdu dan Wicak hanya menggelengkan kepala.


Syahdu membawa makanannya kedalam kamar. Saat masuk, ia tak mendapati Wicak diatas ranjang. Kemana lelaki itu?


Syahdu meletakkan nampan berisi makanan dan minuman. Dia mencari Wicak ke kamar mandi, dapur, tidak ada.


Gadis itu keluar rumah, bertanya pada siapapun orang yang ada disana.


"Liat Wicak?" Tanya Syahdu pada orang yang lewat. Orang itu menggelengkan kepala.


Lalu ia beralih pada orang lain yang ada disana. Menanayakan hal yang sama seolah semua orang disana mengenal Wicak.


"Syahdu."


Panggilan itu membuat Syahdu menoleh. Arga berdiri di dekatnya.


"Mau kemana?"


Syahdu mengabaikan pertanyaan Arga. Dia menebarkan pandangan kesekelilingnya, mencari Wicak. Tetapi lelaki itu tidak kelihatan.


"Syahdu, mau kemana?" Tanya Arga lagi namun Syahdu tak menghiraukannya.


Syahdu melihat satu kereta api yang hendak berangkat. Dia berlari kearah sana, menerobos orang-orang yang berbondong ingin naik ke kereta.


Diujung lorong, Syahdu melihat Wicak tengah duduk disebuah kursi roda dengan selang oksigen di hidung dan infus di tangannya. Dibelakang lelaki itu, ada tiga orang yang menjaganya. Entah siapa, Syahdu tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.


Syahdu melangkah lambat. Hatinya teriris melihat Wicak yang terlihat tenang namun pucat. Lelaki itu sakit apa selama ini? Kenapa begitu banyak alat di tubuhnya? Syahdu tidak tahu.

__ADS_1


"Kak.." suara parau membuat Wicak menatapnya.


Seperti biasa, wajah tenang Wicak memberitahu kalau dia baik-baik saja dan Syahdu tak perlu bersedih. Tapi percuma, melihat itu membuat Syahdu ikut kesakitan.


"Kakak kenapa?" Tanya Syahdu dengan air mata yang membanjiri pipinya.


"Kakak kenapa tiba-tiba kaya gini?" Tanya gadis itu lagi, melangkah mendekat sampai Wicak berdiri.


Lelaki itu memegang kedua bahu Syahdu. Dia mengecup kening Syahdu cukup lama. Entah kenapa perasaan Syahdu begitu hancur. Yang dia tahu, kecupan itu adalah sebuah tanda perpisahan.


"Kak, jangan pergi.."


Wicak kembali duduk. Lalu seorang dibelakangnya memundurkan kursi roda Wicak.


Lelaki itu melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Kak, jangan tinggalin aku!" Teriak Syahdu, ingin mengejar namun tangannya digenggam oleh seseorang.


Saat menoleh, ternyata Arga dibelakangnya.


Syahdu kembali melihat ke depan, dimana Wicak berjalan semakin menjauh.


"Kaaaak!" Teriak Syahdu, namun Wicak hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada kedua orang itu.


Melihat kepergian Wicak, Syahdu terisak. Dia menangis sejadi-jadinya karena perasaan sakit hati pun timbul.


"Jangan tinggalin aku, kaaak. Huuu.." Syahdu menangis teriak, namun Wicak telah menghilang.


"Kaaak!" Teriak Syahdu sambil terduduk dari kasurnya. Napasnya tersengal, keringat begitu banyak membanjiri tubuhnya padahal suhu malam sangat dingin.


Syahdu meraba matanya, ternyata sudah basah. Ternyata dia menangis lagi dalam tidur. Syahdu memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri. Bukan hanya air mata, rasa sakit di dalam mimpi pun terbawa ke dunia nyata.


"Syahdu.."


Nani masuk kedalam kamar. Dia mendengar Syahdu berteriak tadi.


"Mimpi yang sama lagi?" Tanya wanita tua itu sembari duduk di tepi ranjang.


Syahdu mengangguk. Dia mengelap air mata yang mengalir tanpa ia sadari.


Dulu, yang Nani tahu Syahdu hanya memimpikan kekasihnya. Tapi setelah gadis itu jujur, ternyata di dalam mimpi itu juga ada Arga.


"Bunda.."


"Iya, nak."


"A-apa.. Syahdu harus kembali?" Tanya gadis itu, walau ia tahu apa jawaban Nani, dia ingin mendengarnya lagi supaya ia lebih mantap untuk melangkah.


"Iya, Syahdu. Kembalilah, selesaikan masalah kamu disana. Itu jalan yang memang harus kamu tempuh supaya kamu bisa melangkah untuk masa depan."


Syahdu memijit keningnya yang mulai sakit. Mimpi yang sudah lama menghilang kini muncul kembali. Semua ini mungkin karena kehadiran Arga.


Syahdu pun mengangguk. Dia sekarang yakin, kalau dia memang harus kembali dan menyelesaikan semua yang masih tertinggal di tempat yang lama.


TBC

__ADS_1


**Sorry kalau besok telat up yaahh kerjaan gw banyak bgt🥴**


__ADS_2