
...PoV Arga Alexander...
Syahdu, mau kemana dia? Gara-gara si brengsek Alvin, Syahdu sampai semarah itu.
"Sialan, kurang ajar banget cewek lo itu!" Vani, kekasih Alvin ikut memaki saat melihat pacarnya sudah basah karena Syahdu.
Aku mendekatkan diri ke Alvin yang masih sibuk membersihkan bajunya. "Lain kali, jaga omongan lo, atau lo akan tau akibatnya." Ancamku pada Alvin yang wajahnya sudah kesal setengah mati. Dia pasti merasa sangat malu sekarang.
Setelah memberi ancaman agar Alvin tak balas dendam pada Syahdu, akupun langsung pergi menyusul Syahdu yang sudah menjauh. Aku mengerjarnya dan untunglah, dia masih kelihatan.
"Syahdu!" Aku memanggilnya dan dia langsung berhenti.
Kulihat matanya berair. Dia pasti sangat marah karena ucapan Alvin padanya. Aku juga salah karena membiarkan Alvin mendekatinya. Padahal aku tahu seperti apa lelaki sialan itu.
Aku menyerahkan sapu tangan padanya. Dia menerima dan menghapus air matanya dengan perlahan.
"Ayo kita pulang." Ajakku sembari menggenggam tangannya.
Terus terang, aku sangat merasa bersalah. Tak seharusnya aku mengajaknya masuk ke lingkunganku. Aksi pamer saat membawa Syahdu memang sangat berhasil. Banyak yang kagum padaku karena menggandeng gadis seperti Syahdu. Tetapi efek yang aku lupakan, adalah sosoknya yang sekarang diincar banyak teman-temanku. Apalagi mereka tahu aku tidak pernah menjalin hubungan serius dengan perempuan.
"Arga!"
Ahshit. Siapa lagi ini.
Syahdu melepas tanganku dan pergi menuju lift.
"Arga, kemana aja? Lo tuh, sekarang sombong banget. Diajakin ngumpul juga ga pernah dateng..."
Cewek ini, aku lupa namanya tapi aku tahu dia mengincarku dari dulu. Tapi aku tak mendengarkan ucapannya dengan fokus karena aku terus melihat ke arah lift yang sudah dimasuki Syahdu.
"Ntar gue hubungin lo, deh. Gue buru-buru." Ucapku basa-basi. Aku langsung mengejar Syahdu menuju lift. Kulihat lift menuju lantai atas. Aku menekan terus tombol itu tapi tak kunjung terbuka. Sampai beberapa saat, aku menyusul Syahdu ke atas dan mendapati cewek itu pelukan dengan anak baru yang bersamanya beberapa waktu lalu.
Cowok itu memang terlihat sangat dekat dan mengerti Syahdu. Samar-samar kudengar pembicaraan mereka tentang masa lalu mereka dan wajah Syahdu juga terlihat lebih baik, tertawa dengan lelaki itu. syukurlah jika perasaannya sudah mereda.
Akupun keluar. Memilih untuk memberikan Syahdu waktu sebentar lagi sebelum mengajaknya pulang.
...~...
__ADS_1
'Lo dimana? Gue tunggu di lobi.'
Aku mengiriminya pesan setelah beberapa kali dia tidak mengangkat teleponku.
Baru aku mengirim pesan, pintu lift terbuka dan Syahdu berdiri sendirian disana. Kemana cowok itu?
Dia menatapku lama. Wajahnya terlihat seperti merasa bersalah. Padahal aku tidak menyalahkannya sedikitpun, walau pada awalnya aku kesal karena dia tidak mendengarkan ucapanku.
Kami pulang dalam diam. Syahdu terus menatap ke luar jendela. Akupun enggan berbicara jika itu tidak perlu. Memang hubungan kami sekedar diatas ranjang, untuk memulai percakapan pun aku tidak bisa.
Sesampainya, Syahdu menuju dapur untuk minum. Sedangkan aku, menyibakkan gorden, membuka pintu balkon yang jarang sekali kuinjak. Angin malam menerpa, dan itu memang membuat hati sedikit lebih baik.
"Arga.."
Aku menoleh, Syahdu berdiri di depan pintu.
"Aku lupa bawa baju ganti. Bisa pinjam bajumu?"
Aku menyandarkan bokongku di besi pembatas. Walau sempat melihatnya ceria sebentar, kini wajahnya terlihat murung lagi.
"Apa kau marah padaku?"
"Aku gak bermaksud merusak acara itu. Tapi aku kesal karena dia melecehkanku."
Tanpa kau jelaskanpun aku tahu karena aku ada disitu.
"Sejujurnya.. apa kau juga menganggapku pelacur?"
Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya. Selama ini memang aku menganggapnya perempuan simpananku. Walau kuakui kata 'pelacur' itu terdengar agak kasar.
"Begitu, ya. Ternyata kau juga menganggapku begitu."
Eh, dia main pergi padahal belum kujawab. Aku berhasil menangkap tangannya saat dia akan melangkah.
"Gue gak nganggep lo gitu." Jawabku asal. Padahal aku juga ga tau harus bilang apa. Kan, dia memang sudah bertransaksi denganku soal itu.
"Aku yang salah, sih. Sebenarnya yang dibilang Alvin itu benar. Cuma, aku aja yang belum terima dengan sebutan itu. Dari dulu orang-orang nganggap aku seperti ibuku. Padahal jelas aku menjaga diriku dari hal seperti itu."
__ADS_1
Dia malah curhat, padahal aku juga sedang pusing dengan pekerjaan yang diberikan oma. Tapi ya sudah, aku dengarkan aja.
"Aku selalu dianggap anak yang buruk, mirip dengan ibuku. Aku benci dibilang seperti itu. Karena aku beda dengannya. Aku gak pernah keganjenan sama cowok! Kau juga pasti tahu kan, kau pasti bisa merasakan aku yang belum pernah disentuh!"
Wajah Syahdu berubah geram, tapi di mataku dia sangat cantik apalagi rambutnya tertiup angin dengan lembut.
"Maaf, udah merusak acaramu tadi."
"Enggak apa-apa." Jawabku singkat.
Dia mengangguk dan melangkah pergi.
Syahdu, dia bukan pelacur. Karena dia punya harga yang sangat tinggi. Dia wanita cerdas dan penyayang. Dia melakukan itupun bukan karena nafsunya akan uang. Tapi demi kesembuhan orang yang paling dia sayangi. Aku akan memenuhi semua kebutuhannya, berusaha melakukan apapun yang dia butuhkan nantinya untuk membayar harga pengorbanan yang ia lakukan atas dirinya.
~
Aku duduk di atas sofa, memangku laptop sambil mengerjakan pekerjaan yang belum kuselesaikan dari oma. Tapi aku tidak bisa fokus, karena Syahdu.
Dia tengah duduk di bawahku, mengerjakan tugas kampus yang sudah kuselesaikan duluan. Tangan lentiknya menari di atas keyboard dan pandangannya fokus ke layar laptop. Tapi yang membuatku tidak bisa fokus adalah apa yang dia kenakan.
Syahdu memakai kaos putih oblongku. Baju itu besar di tubuhnya dan panjang hingga ke pahanya yang mulus itu. Aku menelan ludah. Dia sangat seksi.
Sayang sekali dia tengah haid. Tapi kalau aku minta untuk membantuku di kamar mandi, apa dia akan kesal padaku? Setelah kejadian tadi, aku sedikit ragu untuk mengajaknya melakukan itu.
Ck, benar-benar malam sialku. Ada perempuan cantik dan seksi tapi aku malah tidak seberani biasanya.
"Arga, Arga."
Lamunanku buyar, aku meliriknya kebawah.
"Yang bagian ini gimana, ya. Udah siap belum? Liat, dong. Contohnya doang, soalnya aku kurang nangkep."
Aku menunduk, mendekat ke wajahnya untuk melihat bagian mana yang dia maksud. Tapi, aroma tubuhnya membuatku semakin ingin meledakkan diri. Padahal itu cuma aroma sabun di kamar mandi yang aku juga pakai. Tapi terasa berbeda saat aroma itu menempel di tubuhnya.
"Giman..." Dia memundurkan kepalanya saat menyadari kalau wajahku malah menatapnya. Sial, aku kenapa..!
Aku turun ikut duduk disebelahnya. "Yang mana?"
__ADS_1
Dia menunjuk satu bagian yang memang agak sulit.
"Nih.." aku menyodorkan laptop, memberinya apa yang sudah kukerjakan dan aku langsung ke kamar mandi saja, menyelesaikan apa yang perlu kuselesaikan. Rasanya agak aneh kalau aku minta dia yang melakukannya sekarang. Momennya gak tepat karena dia baru bersedih. Jadi, memang lebih baik main solo di kamar mandi. Sesekali gak apa lah. Kasian juga anak orang, kasi libur dulu. Besok-besok gue gempur lagi! Liat aja, selesai haidnya, akan aku habisi dia!