
Syahdu dan Wicak duduk disebuah bangku panjang. Lelaki itu mengeluarkan isi plastiknya dengan senyum lebar, menyajikannya untuk Syahdu.
"Aku beli eskrim, susu coklat, dan makanan ringan kesukaan kamu. Mau makan sekarang?"
Syahdu langsung mengangguk cepat. Melihat eskrim di dalam wadah membuatnya sangat berselera.
Wicak mengeluarkan sendok kecil dari tasnya, lalu menyerahkannya pada Syahdu.
Gadis itu langsung memakan eskrimnya dengan lahap. Padahal dia membawa soto dari kafetaria, tapi makanan itu tak tersentuh.
"Pelan-pelan makannya." Wicak mengelus lembut rambut Syahdu. "Tuh, jadi belepotan. Kamu nih, kaya anak kecil." Wicak tertawa pelan. Dia membersihkan sisa eskrim yang menempel di sudut bibir Syahdu. Sedetik kemudian, perempuan itu diam menatap kekasihnya yang terlihat semakin menyayanginya.
"Ada apa?" Tanya Wicak padanya.
Syahdu memegang perutnya. Dia menatap Wicak dalam-dalam. Pikiran tentang kemungkinan hamil pun muncul. Bagaimana kalau benar-benar ada janin di dalam perutnya?
"Kamu sakit perut? Apa belum makan nasi?" Tanya Wicak lagi.
Syahdu tersenyum kecil, lalu memeluk Wicak. Membuat lelaki itu terheran dengan sikap Syahdu.
Mata Syahdu terasa panas. Dia menangis karena mengingat betapa jahatnya ia pada lelaki yang tulus ini. Walau sekarang dia mulai pasrah. Jika memang Wicak akan meninggalkannya, dia berbesar hati menerimanya. Karena Wicak berhak menemukan kebahagiaannya.
"Syahdu, aku ada disini. Jangan takut, ya. Nenek akan sembuh." Wicak tidak pernah tahu lagi apa yang menjadi penyebab utama gadis itu menangis. Dia mengira, Syahdu hanya menangisi neneknya.
"Aku ada disini, Syahdu. Kamu tidak akan sendirian." Syahdu mengangguk, lalu melepaskan pelukannya.
"Kita doakan sama-sama, ya. Intinya, jangan takut karena aku akan terus ada di dekatmu." Tuturnya lagi sembari menghapus air mata Syahdu.
Sungguh rasa bersalah selalu muncul di hati Syahdu. Dia benar-benar menyesal akan menyia-nyiakan lelaki seperti Wicak ini.
"Permisi, mbak Syahdu. Nenek akan dioperasi sebentar lagi." Tiga Perawat datang menemui Syahdu.
"Iya, sus. Terima kasih, ya." Ucapnya dengan nada parau.
__ADS_1
Perawat itu menunduk lalu berjalan masuk ke dalam ruang icu. Membawa nenek ke ruang operasi.
~
Syahdu tak bisa diam. Dia terus berjalan kesana kemari sembari terus berdoa agar operasi jantung nenek berjalan dengan lancar. Sudah dua jam berlalu, tapi belum juga ada tanda-tanda operasi telah selesai dilakukan.
"Syahdu." Wicak menahan tangannya, lalu menariknya untuk duduk.
Gadis itu menggenggam tangan Wicak. Dari tangannya yang terasa dingin, menandakan bahwa dia sangat khawatir.
Wicak menenangkannya, memeluk Syahdu yang pasti tidak bisa membayangkan hidupnya jika kehilangan sang nenek.
"Tenanglah, aku yakin nenek akan baik-baik aja. Kamu duduk, dan isirahat saja, ya."
Syahdu mengangguk, dia melingkarkan tangannya di pinggang Wicak. Berkali-kali terdengar hembusan napas yang kuat dari gadis itu. Dia tengah berusaha menenangkan perasaannya.
Satu jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi. Dengan segera Syahdu mendekatinya, menunggu kata yang keluar dari mulut dokter.
"Syukurlah, operasi berjalan dengan lancar."
"Setelah ini, nenek harus banyak istirahat. Dia tidak boleh dikejutkan atau diberi beban pikiran. Jauhkan dari hal-hal yang membuatnya berpikir dan sedih."
Syahdu tertegun. "Se-sedih, dok?" Syahdu heran. Padahal terakhir bertemu, nenek sangat ceria. Bahkan dokter bilang tiga hari lagi sudah bisa pulang. Tidak tahunya malah semakin drop.
"Iya. Saya dengar dari suster yang menjaganya, nenek melamun dan menangis. Lalu kondisinya memburuk."
Syahdu menatap Wicak. Dia bingung, apa yang terjadi sampai nenek menangis?
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Nenek akan dipindahkan dari ruangan vip ke vvip sesuai dengan permintaan tuan Arga."
Syahdu reflek melihat Wicak. Ada perubahan di wajah laki-laki itu saat dokter menyebut nama Arga. Syahdu pula menegang. Bisa-bisanya dokter Fahri mengatakan itu saat ada Wicak disebelahnya.
Sepeninggal dokter, Syahdu hanya diam. Dia bahkan tak berani menatap Wicak.
__ADS_1
"Syahdu, apa maksud dokter itu?" Tanya Wicak dengan wajah tak suka. Syahdu bisa melihat itu. Wicak terlihat seperti akan marah.
Syahdu menunduk. Air matanya benar-benar ingin keluar. Dia diam sampai menemukan cara untuk menjelaskannya pada Wicak, agar laki-laki itu tidak curiga padanya.
"Kak, sini duduk." Syahdu menarik tangan Wicak dan duduk di bangku panjang. Dia menggenggam tangan lelaki itu, berharap agar kata yang keluar dari mulutnya mampu membuat lelaki itu percaya nantinya.
Syahdu menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum memulai kalimatnya.
"Kak... aku bilang kan, kalau aku kerja."
Wicak tak menjawab. Dia hanya menatap dingin ke arah Syahdu. Dia tidak suka saat nama laki-laki itu tersebut dari mulut dokter. Apalagi dokter itu sepertinya menurut apa kata Arga. Dipanggil tuan, pula. Siapa laki-laki itu? Pikiran Wicak sempat berantakan terlebih Syahdu dan lelaki itu terlihat bersama beberapa kali.
"Jadi, sebenarnya... aku kerja untuk Arga, laki-laki yang kemarin sempat kakak tanyakan padaku." Ucap Syahdu dengan hati-hati. Dia juga tidak berani melihat mata Wicak, hanya menatap jari-jari Wicak yang ia genggam.
"Aku.. membantunya membersihkan apartemen miliknya. Mencuci, juga memasak." Syahdu mengigit bibirnya. Air matanya menerobos keluar, jatuh mengenai tangan Wicak. Kebohongan yang ia ucapkan di awal, kini berbuntut panjang.
"Awalnya, dia melihatku nangis di rumah sakit ini. Waktu itu... Aku nangis sendirian, dia menyapaku." Suara Syahdu tercekat. Dia menguatkan diri untuk terus melanjutkan kalimatnya.
"Dia tanya, kenapa, ada apa, sampai aku menceritakan kesulitanku soal.. Dana." Lanjutnya lagi.
"Lalu saat aku tahu kalau dia anak pemilik rumah sakit, aku langsung meminta bantuannya. Setelah berbicara cukup lama... diapun setuju asal aku bekerja di apartemennya tanpa digaji.. selama.. dua tahun." Suara Syahdu sudah hampir tak jelas. Dia mengelap cairan yang ikut keluar dari hidungnya. Rasanya sesak, sesegukan pun tak bisa ia tahan.
"Syahdu, hei.." Wicak meluluh. Dia tahu apa yang Syahdu alami selama ini sangat berat, tak sepantasnya ia marah tanpa penjelasan.
"Maaf. Aku cuma tidak suka kau dekat dengan laki-laki lain." Bukan itu alasannya. Selama ini Wicak selalu percaya pada kekasihnya. Siapapun teman lelaki Syahdu, dia tidak pernah melarang. Hanya saja, dia melihat sesuatu yang lain dari tatapan Arga pada Syahdu.
"Maafkan aku, ya. Aku sudah mencurigaimu." Wicak memeluk kekasihnya. Dia mengelus lembut rambut perempuan yang kini tersedu-sedu dalam pelukannya.
"Kakak nggak salah. Aku yang salah. Seharusnya.. Aku cerita sejak awal." ucap Syahdu. "Maafkan aku, kak. Maafkan aku."
"Iya, iya. udah, jangan dipikiri lagi."
"Maafkan aku.." Isak Syahdu dalam pelukan Wicak.
__ADS_1
Tak bisa ia pungkiri, Syahdu semakin tertekan dengan kebohongannya sendiri. Dia tidak tahu kebohongannya ini akan bertahan sampai kapan. Dia pasrah, jika seandainya hubungannya dan Arga akan diketahui Wicak. Namun tetap saja, keegoisan dalam diri Syahdu menginginkan kebohongan ini abadi saja. Walau dia tak bersama Wicak sekalipun, dia tak ingin Wicak tahu bahwa ia telah mengkhianati lelaki terbaik yang telah menjadi cinta sejatinya itu.