SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Melamar Syahdu


__ADS_3

"Jangan-jangan kamu punya tunangan, ya? Trus kamu selingkuh disini. Aku ini selingkuhanmu, ya?"


"Ck. Apaan, sih." Protes Syahdu.


"Aku ngga mau tau. Putusin dia dan nikah sama aku besok." Arga membuat Syahdu terbelalak kaget.


"Hah?! nikah besok? Jangan ngada-ngada."


"Kenapa? Kamu ngga mau nikah sama aku?" Arga sampai duduk dari tempatnya. Mendengar kalimat Syahdu membuatnya merasa ditolak. Padahal selama ini banyak perempuan yang mengajaknya menikah.


Syahdu tak ingin berkelit karena dia belum mau menikah sebenarnya.


"Kamu sendiri gimana? Selama 7 tahun ini udah pernah tidur sama siapa aja?" Tuduh Syahdu yang tahu dulunya bagaimana kehidupan Arga. Apalagi dia sempat menjadi teman tidurnya, tentu Syahdu curiga.


"Hah? Kamu nuduh aku tidur sama perempuan lain?"


Syahdu diam. Tadinya dia cuma ingin pembahasan nikah berakhir. Tidak tahunya Arga ngambek dan melangkah menuju tempat tidur.


Syahdu pun merasa bersalah. Dia menyusul Arga yang sudah bersandar di badan ranjang.


"Kamu marah?" tanya gadis itu, padahal ia tahu Arga kesal dengan tuduhannya. "Sorry, ya.."


Syahdu duduk di tepi tempat tidur, nampaknya Arga masih kesal padanya.


"Kalau untuk nikah, aku belum bisa jawab, Ga. Aku kan, udah cerita ke kamu kalau aku juga punya kehidupan di tempat baruku. Disana aku punya dua adik dan satu ibu. Aku.. masih ingin balik kesana, Ga."


"Jadi.. kamu mau ninggalin aku lagi, Syahdu?"


"Enggak. Bukan gitu. Aku cuma bingung.."


Arga mengerti. Dia mengangkat pinggang Syahdu dan mendudukkannya diatas tubuhnya. Kini mereka duduk saling berhadapan.


"Aku ingin serius dan membangun masa depan dengan kamu, Syahdu."


"Kamu kenapa jadi berubah pikiran gini.."


"Karena aku ngga mau kamu tinggalin lagi." Ungkap Arga. Selama ini Syahdu mudah meninggalkannya karena mereka tak punya hubungan khusus. Itu sebabnya Arga mengajak gadis itu menikah karena ia tahu, Syahdu bukan perempuan yang dengan gampang meninggalkannya dan memutuskan tali pernikahan.


"Aku belum siap, Ga. Aku belum mau punya anak."


"Eh, bukannya dulu pengen punya banyak anak?" Arga ingat syahdu dulu pernah menceritakan soal itu.


"Sejak aku tinggal di panti asuhan, aku tau gimana beratnya ngurus anak, besarin anak, ngedidik anak. Dan banyak banget anak-anak yang dibuang. Kadang aku ikut nangis kalau mereka menanyakan ibu asli mereka. Kenapa mereka dibuang, kenapa mereka dilahirkan kalau nggak diinginkan. itu kenapa aku pengen ngerawat mereka semua, anak-anak yang ditelantarkan orang tua mereka."


Mendengar penjelasan Syahdu membuatnya manggut-manggut. Dia malah kebalikannya sekarang. Sejak memiliki Shania, Arga tahu gimana serunya memiliki bayi. Apalagi anaknya akan dilahirkan oleh wanita yang dicintainya. Arga sudah bisa membayangkan betapa bahagianya dia nanti. Tapi Syahdu malah tidak berniat punya anak.


"Aku paham. Gimana kalau kita buka panti disini." Usul Arga kemudian.


Mata Syahdu membulat, "Panti?"


"Iya. Kalau kamu mau, kamu bisa atur itu."


"Serius?"

__ADS_1


"Ya seriuslah, Hani. Kapan aku bercanda?" Arga tahu, ini salah satu cara supaya Syahdu bertahan di kota ini.


Syahdu pula senang tak terkira. Gadis itu sampai sudah membayangkan bagaimana serunya bisa mengurus banyak anak-anak nantinya.


Ditengah kesenangan Syahdu, Arga memikirkan hal lain.


"Main lagi, ya. Kamu diatas."


Lagi, Syahdu terbelalak. "Apa?!"


"Kan, aku mau buatin panti asuhan buat kamu. Jadi.." Arga tersenyum jahil dengan tangan yang meremas dada gadis yang duduk di perutnya.


Ah, Syahdu sampai lupa kalau Arga memang dari dulu begitu. Kalau memberi, pasti meminta balasan.


"This is the hottest style, baby."


Arga mengangkat bokong Syahdu supaya gadis itu yang memimpin permainan. Perlahan Syahdu memasukkan benda yang sudah berdiri tegak itu kedalam inti tubuhnya. Seketika dia merasakan sensasi yang luar biasa tatkala benda itu berhasil masuk seluruhnya.


Arga bisa melihat itu, Syahdu sampai tak bisa berkata-kata.


"I know you will love it." Ucapnya sambil tersenyum jahil dan mulai membantu Syahdu menaik turunkan pinggulnya demi mendapatkan kepuasan dengan posisi yang belum pernah mereka coba sebelumnya.


~


Syahdu memperhatikan Arga yang tengah masak. Tengah malam begini gadis itu kelaparan. Maklum, Arga membantainya berkali-kali, tentu dia juga ikut-ikut menuntut balasan dengan menyuruh Arga memasakkannya nasi goreng.


Syahdu menopang dagu, tersenyum melihat punggung telanjang Arga yang lebih lebar dari yang dulu. Lelaki itu teramat seksi, menggunakan apron tanpa baju dan hanya memakai celana pendek.


Syahdu terkekeh kecil. Arga benar-benar kelihatan lebih matang sekarang. Syahdu juga bisa melihat itu dari pemikiran dan cara Arga berbicara. Syahdu semakin mengaguminya, terlebih lelaki itu menuruti semua kemauannya.


"Ngeliatin aku mulu. Mau lagi?"


Syahdu mencebik. Dia paham maksud lelaki itu.


Arga terkekeh lalu meletakkan 2 piring nasi goreng diatas meja. Harumnya menusuk, Syahdu langsung menyuapkan nasi goreng lezat itu kedalam mulutnya.


"Enak?"


"Banget." Jawab Syahdu masih dengan mulut yang penuh. Dia menghabiskan kunyahannya lalu berbicara lagi. "Masak tiap hari, ya."


Arga menyentil jidat Syahdu. "Hoh. Enak banget nyuruhnya. Ya, boleh aja sih, asal kamu nikah sama aku." Arga memiringkan duduknya menghadap Syahdu.


"Hei, kalau kita nikah, semua yang kamu mau, yang kamu butuhkan, akan aku turutin." Ucap Arga dengan suara yang lembut. "Aku tunggu jawaban kamu, Syahdu."


Syahdu sampai berhenti mengunyah. Ditatapnya mata itu lekat-lekat. Ah, dia juga ingin status yang jelas dengan lelaki yang melamarnya ini.


"Aku jawab setelah pulang dari desa, ya. Aku mau diskusi sama Bunda."


"Kamu mau pulang?"


Syahdu mengangguk. Dia tidak bisa memutuskan sendiri, walau tahu Nani pasti akan mendukung apapun keputusannya, tetap saja Syahdu ingin Nani terlibat.


"Aku ikut, ya?"

__ADS_1


Syahdu dengan cepat menggelengkan kepala dengan dua tangan yang ikut bergoyang.


"Ngga usah. Tempatnya jauh banget. Trus nanti sampe sana ngga ada sinyal, ga ada kendaraan, pokoknya kamu pasti ngga betah."


Bener juga, Arga diam karena setelah mendengar cerita Syahdu pun dia sudah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di tempat seperti itu.


"Tapi nanti kamu balik, kan?"


"Balik. Aku pasti balik."


Arga menggenggam tangannya, menyingkirkan rasa khawatir yang ada di hatinya. Dia yakin kali ini Syahdu tidak akan meninggalkannya lagi.


"Tapi, Ga.."


"Hm?"


"Aku pengen kuliah lagi."


Lelaki itu meletakkan sendoknya. Satu hal yang ia tahu saat ini, yaitu Syahdu secara tidak langsung memutuskan untuk tetap di kota ini. Tapi untuk kuliah, terus terang Arga merasa berat. Dia ingin Syahdu tetap di rumah.


"Kamu.. ngga ngizinin?" Syahdu merasa Arga melarangnya karena lelaki itu lama menjawab.


"Sebenarnya aku lebih suka kamu di rumah. Saat aku pulang, kamu ada. Saat aku pengen, kamu juga ada."


Ucapan Arga sebenarnya persis isi kontrak yang dulu pernah mereka jalani.


"Trus aku..." Arga menggantungkan lagi kalimatnya. "Ya sudahlah, semester depan aku daftarin, ya?"


"Kamu takut aku selingkuh?"


"Eh? Enggak. Aku ngga mikir gitu." Jawab Arga cepat. Pasalnya dia tahu jiwa Syahdu. Gadis itu bahkan berpacaran hampir 8 tahun lamanya tanpa konflik berat. Syahdu benar-benar perempuan yang patut dijadikan istri.


"Udahlah. Pokoknya kamu cepat balik lagi kesini biar kita nikah." Tukas Arga menutup persoalan malam itu.


...🍁...


Syahdu membuka pintu apartemen saat mendengar bel pintu. Tadi Arga bilang akan ada kurir datang membawa barang. Entah barang apa, saat Syahdu bertanya, Arga hanya tersenyum lalu keluar dari apartemen. Yang Syahdu tahu, Arga mengisi panggung tak jauh dari tempat mereka.


"Permisi. Paket, Mba."


Syahdu cengo. Dilihatnya kurir itu membawa banyak barang dengan troli.


"Masuk, pak." Ucap Syahdu memberi pintu.


Kurir itu masuk, meletakkan barang-barang di atas sofa, lalu meminta Syahdu tanda tangan kemudian pergi.


Gadis itu membuka satu paperbag. Dia membelalak, ternyata lingerie. Syahdu sampai menarik napas melihat pilihan Arga. Dibukanya yang lain, ada baju-baju, rok, dalaman, dress pendek, dan baju seksi lainnya.


"Arga gila, ya!" Pekiknya. Syahdu tak habis pikir. Dia ingin memarahi lelaki itu. Tadinya Syahdu memang bilang ingin membeli baju, tapi bukan yang crop dan mini seperti ini.


Syahdu pun membuka semua paket itu sambil menunggu kepulangan Arga yang katanya akan selesai siang ini juga.


__ADS_1


TBC


Guys. Aku skrg lagi mau lanjutin Richi. Lupa kalau masih ada dia😭


__ADS_2