SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
What If - Syahdu Tidak Kabur


__ADS_3


...🍁...


Syahdu terbangun saat mendengar getaran ponsel diatas nakas. Ia meraba dan dengan mata separuh terbuka, Syahdu membaca nama di layar ponsel yang ternyara milik Arga.


Siapa ini? Nama itu tertulis 'Tukang Sampah'. Alis Syahdu berkerut. Kenapa tukang sampah menelepon tengah malam begini?


"Ga, Arga.." Syahdu membangunkan Arga beberapa kali, namun lelaki itu hanya bergumam dan kembali tertidur. Nampaknya dia kelelahan.


Sambil memijit dahi yang pusing, Syahdu mengangkat panggilan yang tak mau berhenti itu. Mungkin saja penting, pikirnya.


'Argaa. Astaga akhirnya kamu angkat juga. Aku khawatir banget, kamu kemana aja? Papa mama, semua nyari kamu.'


Eh? Syahdu sampai melihat lagi nama di layar saat mendengar suara Soraya. Benar kok, dia tidak salah baca. Arga menyimpan kontak Soraya dengan nama tukang sampah, membuat Syahdu menggelengkan kepala.


'Arga, kamu baik-baik aja, kan? Semua orang nyariin kamu, Ga. Kamu kenapa pergi tiba-tiba??' Suara khawatir Soraya terdengar nyaring dan bahagia dalam satu waktu sebab akhirnya Arga mau mengangkat teleponnya.


Syahdu kembali melirik Arga yang benar-benar pulas, lalu berujar. "Arga tidur."


Tiba-tiba hening. Mungkin Soraya tengah memikirkan suara siapa yang ia dengar barusan.


'Wanita brengsek! Lo ngapain disana sama Arga? Emang pelacur brengsek!! Lo tidur sama Arga, hah?? Lo dimana, sialan? Emang dasar cewek nggak punya harga diri ya, lo! NGAPAIN LO SAMA ARGA JAM SEGINI, HAH??'


Deru napas Soraya terdengar berisik. Dia menjerit diseberang. Tentu ia marah saat tahu tunangannya tidur dengan perempuan lain di malam pesta pertunangannya.


Syahdu menutup sambungan. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan lagi ponsel Arga diatas nakas. Dia menyesal sudah mengangkat telepon itu. Tiba-tiba ia dihantui rasa takut. Bagaimana kalau dia didatangi Soraya, atau Julia dan Margareth jadi tahu selama ini kelakuannya dengan Arga?


Syahdu mengutip pakaiannya yang berserakan lalu memakainya. Ia keluar menuju balkon saat setelah benar-benar sadar atas apa yang telah ia lakukan bersama Arga malam tadi.


Berulang kali Syahdu menarik dan menghembuskan napas. Menangkap udara segar pagi yang dingin supaya pikirannya ikut terjernihkan, berupaya memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Tapi jalan satu-satunya yang ada di pikirannya adalah pergi menjauh dari Arga seperti apa yang telah ia rencanakan belakangan.


Dia memang gila, tidur dengan pria yang telah bertuanangan. Memang itu Arga. Lelaki yang telah menyewanya. Tapi kan, dia sudah bertunangan.


"Apa aku pergi aja?" Syahdu duduk di kursi balkon. Ia peluk lututnya. Dia ingin sekali pergi dan membiarkan Arga melanjutkan hidup seperti yang seharusnya. Namun dia teringat dengan segala pengakuan Arga tadi malam, bahwa lelaki itu mencintainya. Dan itu juga yang membuatnya berat melangkah pergi walau ia sadar, kalau Arga sudah bertunangan dengan orang lain.


Syahdu menunduk, menutup mata sambil memikirkan langkah apa yang harus ia gapai. Tapi, bukankah tak ada lagi yang ia harapkan dalam hidup? Tidak sebelum Arga mengungkapkan isi hatinya, membuat Syahdu memiliki harapan baru.


Dia tak ingin lagi kehilangan. Suriani, Wicak, dan sekarang apakah selanjutnya Arga. Dia tak punya apa-apa lagi selain cinta Arga untuknya. Seharusnya dia bertahan saat lelaki yang juga memilih dirinya. Dia.. takkan sanggup hidup sendirian. Pergi ke desa Bebatu juga tak menjamin apa-apa. Dia hanya perlu berjuang sedikit saja untuk hidup yang hampir tak ada harganya ini.


"Syahdu."


Gadis itu membuka mata perlahan. Arga ternyata sudah berjongkok di bawah, membangunkan Syahdu yang tertidur sembari memeluk lutut diatas kursi.


"Syahdu, kenapa tidur disini?"


Syahdu mengangkat kepalanya. Dia menyipit saat pagi ternyata sudah sangat terang. Astaga, ternyata tak sadar ia tertidur di atas kursi.


"Hei. Kenapa tidur diluar? Kamu kenap-"


Arga sampai menahan tangannya kebelakang saat tiba-tiba Syahdu turun dari kursi dan memeluknya erat.


"Kamu nggak ninggalin aku kan, Ga? Kamu udah janji tadi malam ga akan tinggalin aku."


Arga yang sempat bingung pun kini tersenyum. Ternyata Syahdu takut ditinggalkan olehnya. Padahal tadi malam, Arga lah yang takut Syahdu pergi darinya.


"Ga ada yang mau ninggalin kamu. Aku udah bilang berkali-kali, aku cintanya sama kamu, Syahdu." Ungkap Arga dengan tatapan penuh cinta.


Syahdu bergetar. Dia sangat-sangat sadar bahwa ini bukanlah sekedar pernyataan cinta di atas ranjang sebab ia bisa merasakan kesungguhan lelaki itu.


"Sekarang, aku mau pergi dulu. Kamu disini ya, aku udah pesenin sarapan buat kamu."


"Kemana?"

__ADS_1


"Nyelesein apa yang udah ku mulai. Aku harus segera batalin pertunangan tadi malam."


Syahdu menahan lengan Arga saat akan bangkit. Mendengar kata pembatalan pertunangan membuat perasaannya ciut. Akankah sekarang dia menjadi perempuan perebut kekasih orang lain? Apakah dia telah merusak pertunangan perempuan lain?


Raut takut itu bisa dilihat Arga. Lelaki itu kembali merengkuh Syahdu dalam pelukan. "Jangan khawatir. Ga akan ada yang bisa nyakitin kamu."


"B-bukan itu." Syahdu menunduk, memilin jari-jarinya dengan perasaan kacau. "Gimana kalau aku.." Syahdu menggigit bibirnya, "Gimana kalo aku dianggap perusak hubungan kamu dan Soraya?"


Arga tertawa kecil. Merasa lucu dengan ucapan Syahdu. Ia mengecup bibir gadis itu sekilas. "Bagus, kan. Aku suka kalo kamu punya julukan itu. Perebut hati Arga. Tapi lebih tepatnya penyelamat Arga dari si tukang sampah."


"Ga, aku serius!"


"Aku juga serius, sayang."


Zzzsss..


Sepertinya sesuatu telah mencair saat mendengar ucapan sayang dari Arga hingga membuat pipi Syahdu memerah. Detakan jantungnya berpacu kuat. Masih pagi, ini ga baik buat jantung. Batinnya.


"Aku pergi sebentar, dan segera balik kesini lagi. Kamu tunggu aku, ya."


Gadis itu mengangguk, lalu Arga mengecup bibirnya beberapa detik. Diusapnya lembut pipi Syahdu, tersenyum senang karena kini Syahdu telah menjadi orang penting dalam hidupnya.


"Makasih udah angkat telepon tukang sampah tadi malam. Jadi aku ga perlu jelasin panjang lebar ke mereka." Tukas Arga, pergi setelah mengecup singkat puncak kepala Syahdu.


Dengan senyuman yang terpampang sepanjang perjalanan, Arga telah mempersiapkan apa yang menjadi alasan utamanya membatalkan pertunangan yang tak ia kehendaki itu.


Tak peduli seberapa besar kemarahan pria tua yang menjadi ayahnya. Yang paling penting adalah kebahagiaannya sendiri.


Sesuai dugaan, pagi-pagi keluarga Soraya sudah datang ke rumah Margareth. Dengan langkah lebar dan tegap Arga memasuki ruang utama. Dia sudah membulatkan tekat dan harus siap dengan segala resikonya.


"Ini sungguh menyakiti hati saya. Pertunangan ini saya batalkan!"


Arga bisa mendengar suara berang Sutomo dari pintu depan. Nampaknya kejadian ini membuat wajahnya tercoreng malu.


"Tidak bisa! Ini sudah mutlak keputusan papa!"


Soraya turun dari sofa, berlutut dihadapan Sutomo. "Jangan, Pa, Jangan batalkan. Biarkan Arga yang jelaskan. Mungkin ini cuma salah paham, Pa. Soraya mohon."


"Bangun, Nak. Kamu ngga perlu begini." Sang Mama membujuk anaknya untuk bangkit, tetapi Soraya menolaknya.


"Soraya! Jangan rendahkan dirimu seperti ini! Aku mendidikmu supaya jadi anak yang cerdas!" Berang Sutomo.


Kini Alex pula berucap. "Maafkan saya. Biar ini saya yang urus. Saya akan menyeret anak itu kehadapanmu, Sutomo. Dia harus meminta maaf dan bersujud dihadapanmu. Dia sudah mempermalukan keluarga ini."


Cih. Mempermalukan. Arga melanjutkan langkahnya untuk segera menyelesaikan masalah ini.


"Biar aku yang jemput Xander." Tukas Julia, namun belum sempat melangkah, Julia justru mendapati sang anak melangkah masuk dengan santai dan wajah tenang.


"Arga. Akhirnya kamu datang." Soraya bangkit dengan tergopoh menghampiri tunangannya. Ia ingin memeluk lengan lelaki itu, namun dengan cepat Arga menyingkirkan tangannya dari Soraya. Membuat perempuan itu terdiam sejenak mendapat penolakan.


"Ga, kamu jelasin ke papa aku, kalau kamu dijebak dan hubungan kita masih berlangsung. Cepat bilang, Ga."


"Hubungan apa?"


Pertanyaan dingin Arga membuat bibir Soraya terbuka. Dihadapan keluarga Soraya, Arga mengatakan itu tanpa sungkan.


"Apa maksudmu, hah? Kau mau mempermainkan kami?" Berang Sutomo.


Arga berjalan selangkah dengan kedua tangan di saku celana. Dengan senyum kecil, dia berujar pada Sutomo.


"Sejak awal saya ga pernah menginginkan pertunangan ini. Saya ga ada sedikit pun perasaan pada putri anda. Jadi, saya batalkan pertunangan ini karena saya sudah memiliki calon istri."


"Kurang ajar!"

__ADS_1


BUG! Satu hantaman keras membuat Arga terjatuh memegangi bibirnya yang mengeluarkan darah.


Suasana mendadak panas, Soraya sampai tak bergerak mendengar pembatalan yang diucapkan Arga.


"Kau pikir, karena putriku mencintaimu, kau bisa seenaknya??" Teriak Sutomo pada Arga yang berusaha berdiri.


Sementara Alex telah menunggu giliran, tangannya terkepal keras menahan rasa malu dan amarah luar biasa.


Soraya kembali tersadar. Nggak bisa batal. Dia mendekat dan mengguncang lengan Arga dengan air mata yang mengalir.


"Katakan, Ga. Katakan kalo kamu bohong dan mau nguji aku. Cepat tarik ucapan kamu. Ini ga bener kan, Ga. Kamu ga beneran batalin ini, kan." Tentu dia tak ingin ini terjadi. Sudah dari usia 14 tahun Soraya menyukai Arga, tak beralih sedikitpun, menunggu sampai kemarin hatinya berbunga karena akhirnya bisa memiliki Arga. Tapi tiba-tiba semuanya hancur begitu saja. Dia tak mau ini terjadi.


Ibu Soraya menarik putrinya. "Ayo, kita pulang."


"Enggak!" Soraya memberontak. Dia kembali menatap Arga dengan penuh harapan. "Kamu bercanda kan, Ga. Kamu ga batalin ini, kan."


"Soraya! Pulang! Jangan rendahkan dirimu di hadapan laki-laki rendahan ini." Seru Sutomo pada putrinya, lalu beralih pada sang istri. "Bawa dia ke mobil. Keluarga ini telah mencoreng wajahku. Semua kerjasama telah dibatalkan dan tidak akan ada kerjasama dalam bentuk apapun dengan keluarga ini!" Berang Sutomo dengan mata membulat. Dia keluar dengan langkah lebar, ingin segera menjauh dari keluarga besar yang telah mempermalukannya itu.


"Enggak, Ma. Soraya gak mau. Lepasin, Maa." Soraya digeret paksa keluar dari pintu dengan teriakannya. Dan detik itu juga, Arga kembali mendapat hantaman keras dari Alex.


"Alex! Apa-apaan!" Pekik Julia dan dengan sigap membantu Arga.


"Bikin malu!" Bola mata Alex melebar, ingin menghajar kalau saja Margareth tidak bersuara.


"Apa yang kau rasakan, hm?"


Arga bangkit. Diusapnya darah yang mengalir dengan senyuman puas.


"Lega." Jawabnya pada Margareth yang hanya diam menatapnya.


"Aku yang akan nentuin hidupku sendiri. Kalo anda ga suka, anda bisa pergi dari sini." Ucapnya sinis pada sang Papa yang masih mengepalkan tangan. Dia yakin, dia akan dibela oleh sang Oma.


Setelah mengatakan itu, Arga keluar dari rumah dan cepat-cepat masuk kedalam mobil, ingin menemui Syahdu.


Entahlah. Dua hantaman keras sebenarnya terasa menyakitkan. Tapi daripada itu, bunga di hatinya lebih terasa indahnya hingga tak membuatnya terlalu merasakan denyut nyeri.


Arga membuka pintu dan mendapati Syahdu duduk membungkuk di tepi ranjang. Kehadirannya membuat gadis itu berdiri. Matanya melebar mendapati sudut bibir yang berdarah.


Arga berjalan cepat dan memeluk Syahdu. Benar, dia lega setelah semua yang terjadi. Akhirnya dia bisa bersama gadis kesukaannya ini selamanya. Iya, kan, selamanya.


"Syahdu. Aku udah batalin pertunanganku."


Gitu, ya. Pantas saja kau mendapat luka di wajahmu. Batin Syahdu. Tapi ternyata hatinya ikut merasa lega.


Syahdu mengangkat tangan, lalu melingkarkannya di pinggang Arga. Jadi, apa hubungannya dengan Arga berubah menjadi sepasang kekasih?


Entahlah. Sekarang tinggal bagaimana ia menjalani semuanya bersama Arga dengan suasan berbeda.


Sebenarnya Syahdu dalam keraguan. Dia tak tahu jalan apa yang ia ambil sekarang ini. Salahkah jika ia menerima Arga hanya karena jalan hidupnya tidak jelas arahnya?


Dia merasa, Arga mampu membahagiakannya.


Bisakah dia seegois ini? Melenyapkan harapan orang lain yang ingin bersama Arga, hanya untuk dirinya supaya tetap dicintai seseorang dalam hidupnya.


Semenjak Wicak dan Suriani meninggal, dia memang kehilangan arah. Untuk siapa lagi dia hidup? Anggap saja ini kesepakatan. Membuat Arga senang, juga menyelamatkan dirinya dari ketidak jelasan jalan. Setidaknya seperti itulah awal niat Syahdu menerima Arga dalam hidupnya, sampai suatu hari ia menyadari bahwa nama Arga telah terpahat di hatinya.


Sekian~


(Cerita ini hanya pengandaian dari kisah aslinya. Terima kasih, Tunggu next uploadnya)


WHAT IF TENTANG APALAGI YA KIRA-KIRAA?? KOMEN DI BAWAH!


UDAH BACA NOVEL ANAK-ANAK MEREKA? ADA DI High School Relationshitt!

__ADS_1


__ADS_2