
Tok..tok..
"Sayang, buka pintunya."
Julia menghela napas karena Arga tak kunjung membukakan pintu untuknya yang sudah membawakan makanan anaknya.
Dua hari Arga tidak turun untuk sarapan. Dia hanya keluar malam dan pulang subuh. Begitu terus dalam dua hari ini.
Tentu hal itu mendapat perhatian dari Julia dan Margareth. Sempat terpikir oleh Julia untuk menghentikan saja perjodohan itu, namun ia tak kuasa melawan suaminya, apalagi dia juga tahu kerja sama antara suaminya dan keluarga Soraya sudah digelar dan dijalankan.
Tiga minggu lagi Arga akan bertunangan. Soraya pula sering menghubungi Julia untuk menanyakan soal dekorasi atau gaun padanya. Dia ingin Julia memberinya saran mengingat wanita itu dulunya adalah seorang perancang busana. Sampai Julia sendiri kewalahan menanggapinya. Pasalnya ini hanya tunangan, bukan pernikahan.
"Sayang, mami dibawah kalau kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan cerita ke mami, ya." Julia mengeraskan suaranya supaya Arga mendengar itu. Tak ada jawaban sama sekali, Julia memilih turun.
"Apa manfaatnya cerita? Hh." Arga tersenyum miring. "Ga ada." Sambungnya lagi. Dia tahu tak ada yang bisa oma atau maminya lakukan untuknya.
Arga menyalakan rokok yang kesekian, menghirup dan melepaskan asapnya keluar melalui jendela taman. Puntung rokok sudah menumpuk di asbaknya. Padahal kemarin dia sudah bertekat untuk berhenti. Tapi yang memotivasi hatinya sudah tidak ada lagi.
Dua hari tidak melihat Syahdu, Arga seperti kekurangan oksigen. Setiap lima menit sekali dia akan mengecek ponsel untuk melihat barangkali Syahdu mengiriminya pesan, atau mungkin melihat Story gadis itu di sosial media. Tapi tidak ada apa-apa. Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan bodoh, pasti dia baik-baik saja karena ada laki-laki yang sangat menyayanginya.
Rumit. Arga tiba-tiba saja membenci perasaannya sendiri. Baru pertama kali ia jatuh cinta. Jatuh sedalam ini pada seseorang yang mempunyai cinta untuk orang lain. Cinta yang pernah Syahdu katakan sebagai cinta sejatinya.
Mustahil dia bisa bersama Syahdu. Arga menyadari itu. Selama ini Syahdu hanya menganggapnya sebagai teman seberusaha apapun Arga untuk tetap membuat gadis itu merasa aman dan nyaman.
Selama ini Arga tampak tak peduli dengan status gadis itu. Namun saat kemarin ia mengatakan akan menikah, disitulah Arga tahu bahwa dia harus mundur. Tak ada lagi kesempatan bahkan sekecil kerikil sekalipun, dia sudah kalah.
Di tempat lain. Hal yang sama dilakukan oleh Syahdu. Dia duduk termenung di ruang tamu. Syahdu tak pernah keluar. Dia tidak merasa lapar karena hatinya yang pilu ditinggal dua orang sekaligus dalam satu waktu. Belum kering air mata Syahdu untuk Suriani, kini dia menangis lagi karena Wicak juga meninggalkannya.
Sejak tadi dia terus memandang ruang obrolan dirinya bersama Wicak di ponselnya. Pesan-pesan yang ia kirimkan sejak kemarin tak dibaca oleh lelaki itu. Syahdu ingin kejelasan, apakah Wicak mau menerimanya atau tidak walau dalam hatinya menyadari kalau Wicak memang telah pergi.
Tapi tetap saja, Syahdu ingin mendengar langsung bahwa Wicak menyerah, bahwa ia memilih menjauh karena luka yang Syahdu torehkan teramat perih baginya.
Syahdu meraih jeket Wicak yang tertinggal, dia memakainya dan keluar dari rumah. Tekatnya bulat menemui Wicak ke kosannya. Dia ingin melihat lelaki itu, anggap saja untuk yang terakhir kali.
Sesampainya disana, Syahdu masuk ke halaman kosan. Dia melihat teman Wicak ada diluar pintu utama, nampaknya bersiap untuk pergi.
"Eeeh.. Syahdu. Cari Wicak, ya?"
"I-iya, kak."
"Wicak kayanya sibuk, sih. Soalnya ga keluar-keluar. Dia pasti lagi nguasain skripsinya. Soalnya kan, dua hari lagi dia meja hijau." Jelas Khairul pada Syahdu.
"Gitu ya, kak." Syahdu sampai lupa bahwa Wicak akan menyelesaikan studinya sebentar lagi. Tapi dia malah menambah beban pikiran Wicak, yang semoga saja tidak mempengaruhi pada nilainya nanti.
"Kalau gitu, aku masuk ya, kak." Syahdu pamit dan masuk ke dalam pintu utama, sedangkan Khairul pergi dengan motornya.
__ADS_1
Syahdu menatap pintu kamar Wicak. Tidak ada suara apapun dari dalam. Dengan menguatkan perasaannya, Syahdu mengetuk pintu.
Dia diam, menunggu sahutan dari dalam tapi hening. Lagi, Syahdu mengetuk sampai beberapa kali. Dia yakin Wicak di dalam karena Khairul tadi juga bilang begitu.
"Bentar, Rul. Berisik banget sih, lo-" Tangan Wicak tertahan dengan pintu yang sedikit terbuka. Matanya menangkap Syahdu berdiri dengan wajah kusut dan mata sembab. Seketika Wicak menutup kembali pintunya karena tak kuat berhadapan dengan Syahdu.
Bagaimana pun ucapan Syahdu masih terngiang di telinganya. Setiap detik dia membayangkan betapa sanggup Syahdu melakukan hubungan badan dibelakangnya.
"Kak." Terdengar rintihan tangis Syahdu dari luar. Gadis itu sesegukan. Tangannya membuka-buka handel pintu.
"Aku minta maaf. Aku kesini bukan mau memaksa kakak untuk terima aku.. hiks."
Wicak bisa mendengarkan suara yang pelan itu. Dia tidak berniat membukakan pintu bagi Syahdu.
"Aku sadar kesalahanku. Aku.. cuma mau liat kakak untuk yang terakhir kali. Aku udah siap kalau kakak ninggalin aku."
Mata Wicak berkaca-kaca. Dua hari tak bertemu sebenarnya membuat hatinya rindu. Dia juga belum memutuskan apa-apa. Merenung pun tidak membuahkan jawaban. Yang ada malah ia selalu saja, lagi dan lagi, membayangkan bagaimana Syahdu sanggup melakukan itu dengan laki-laki lain.
"Kak, makasih banyak buat waktunya selama ini."
Suara parau itu, dulu Wicak tak pernah sanggup mendengarnya.
"Makasih udah selalu berdiri didepanku, membelaku, menjagaku."
"Aku cuma ingin kakak tau. Selama ini aku ga pernah sedikitpun menikmati hari-hariku. Aku.. Aku seperti terikat dan ga bisa melakukan apa-apa." Syahdu menunduk. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Tak ada jawaban dari dalam. Syahdu tahu, sekuat apapun dia mencoba, Wicak sudah tak menginginkannya.
"Kaak.." Syahdu menyentuh pintu seolah menyentuh tubuh Wicak. "Semoga kakak menemukan orang yang tulus cinta sama kakak."
Syahdu menghapus air matanya yang tak henti keluar. Pilu sekali. Dia tidak pernah membayangkan akhirnya ia mengatakan itu untuk Wicak, orang yang sangat ia cintai.
"Semoga kakak bertemu dengan perempuan yang ga akan mengkhianati kakak. Aku pulang, kak. Maaf udah ganggu waktunya."
Bertemu dengan perempuan lain? Wicak menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak pernah sekalipun ia berpikir demikian. Sejak awal dia menemukan Syahdu, sejak itulah dia ingin menjadikan Syahdu sebagai pendamping hidupnya.
Sudah tidak ada suara lagi dari depan. Nampaknya Syahdu sudah pergi.
Wicak kembali ke tempat tidur, merebahkan dirinya untuk mencari jawaban.
Namun, berpikir berkali-kalipun tidak membuatnya sanggup kehilangan Syahdu. Tak bisa ia pungkiri bahwa perasaannya pada Syahdu sudah diluar garis.
Satu-satunya orang yang harus ia salahkan adalah lelaki itu. Sejak awal dia pasti memanfaatkan keterpurukan Syahdu untuk bisa menikmati tubuhnya dengan imbalan membantu urusan rumah sakit. Seharusnya, jika dia berniat membantu, tak perlu meminta tubuh gadis itu. Dia adalah pemilik rumah sakit, bukan hal sulit baginya menurunkan biaya perawatan Syahdu atau macam hal lainnya untuk membantu.
~
"Caak. Lo yakin mau ke tempat itu?" Khairul mengeraskan suaranya supaya Wicak bisa mendengar apa yang ia tanyakan.
__ADS_1
"Iya. Kenapa, sih!" Tanya balik Wicak dari belakang Khairul. Saat ini, mereka berboncengan menuju Redsky. Berdasarkan informasi yang Wicak dapatkan, jika malam Arga sering berada disana.
"Bukan gitu. Kan, lo gak biasanya nginjak tempat begituan."
"Gue ada urusan!"
"Urusan apaan, sih, sampe kesana segala. Kita puter balik aja deh, Cak. Perasaan gue ngga enak. Mau hujan juga, nih!"
"Udaah. Lo gausa bawel. Gass terus biar cepat sampe!"
Walau tidak tahu apa yang akan Wicak lakukan, Khairul tetap melajukan motornya dengan kencang.
...🍁...
Arga menatap gelas berisikan alkohol yang masih penuh di depannya. Sejak tadi ia hanya bengong. Hidupnya semakin hari semakin terasa hampa. Ditambah orang tua Soraya terus menghubunginya entah untuk apa, Arga tidak tahu karena dia enggan mengangkatnya.
"Udah tiga malam lu gini terus. Kenapa, sih?" Tanya Rio. Padahal Arga yang mengajak mereka berkumpul tapi lelaki itu tak melakukan apa-apa selain duduk, merokok, merenung.
"Galau. Modelan lo sih, ga akan paham." Sambung Arvian yang kali ini ikut gabung lantaran Arga penggeraknya.
"Halah. Dia juga gua ga percaya bisa galau."
"Ngapain sih, galau. Mending lo cari cewek yang cakep. Kencanin, deh." Sahut yang lain, sementara Arvian menggelengkan kepala.
"Gue kesana bentar." Arga beranjak dari kursinya. Pikirannya sudah sangat suntuk. Mendengarkan ocehan teman-temannya malah membuatnya semakin pusing.
Arga keluar dari bar. Dia menuju halaman belakang dan duduk merokok disana.
Angin malam terasa sangat dingin. Arga menghembuskan asap rokok keatas, melihat awan yang hitam bukan hanya karena malam, namun nampaknya mendung dan akan turun hujan.
Tak ada bintang maupun bulan. Arga tersenyum getir. Dia mengibaratkan hidupnya dengan langit malam yang hitam. Kosong tanpa cahaya apapun. Di posisinya yang sekarang, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Seseorang datang dengan cepat kearahnya. Arga menoleh dan mendapati Wicak berjalan dengan tangan mengepal. Tanpa aba-aba Wicak memberikan satu hantaman di wajahnya.
"Memang Brengsek lo!" Pekik Wicak dengan keras.
Arga tersungkur memegangi rahangnya yang nyeri. Dia tidak paham apa yang membuat kekasih Syahdu itu marah dan menghajarnya.
Wicak kembali mendekat dan memberikan pukulan lagi di wajah Arga. Lelaki itu kembali tergeletak.
"Bangkit lo, Brengsek! Gua ga akan ampunin sampe lo sekarat sekalipun!!" Sentaknya keras dengan napas yang memburu karena emosi yang kini sudah berada di puncaknya.
TBC
** Ketiganya kini berada pada keterpurukan yang sama. Sampai disini, bagaimana menurut kalian? Lalu, siapa yang paling menyakitkan? **
__ADS_1