SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Ikat Rambut


__ADS_3

Awan berlari kencang mengejar sepeda motor yang membawa kabur ponselnya. Namun gagal. Dia berhenti di jarak 40 meter karena orang itu mengendarai sepeda motor dengan kencang.


Lelaki itu berdiri disana, menatapku dari jauh dengan wajah sendu. Sementara aku masih terpaku di tempat karena bingung dengan keadaan yang baru saja terjadi.


Kejadian itupun membuat beberapa orang di dekat kami memperhatikan. Kejadian singkat, hingga membuat semua benar-benar bingung.


"Habis sudah." Ucapnya mendekat, berjalan dengan lambat dan mengacak rambutnya dengan kesal.


"I-itu... pencuri??" Tanyaku yang sejak tadi masih tak sadar. Sebab terus terang, kupikir itu teman Awan yang tengah bercanda sambil merebut ponselnya.


Awan menatapku. Dia berdiam diri di disebelah motornya yang sudah ketumpahan minuman coklat tadi.


"Wan, i-itu hp kamu??"


"Iyaa. Dicuriii, Syahduuu." Jawabnya memperjelas keadannya padaku yang masih lambat berpikir.


Ah, ya ampun. Kasihan Awan. Baru saja diputusi karena pacarnya yang tiba-tiba langsung dapat pengganti, lalu sekarang, ponselnya dicuri orang.


"Mana hp mahal lagi!" Ucapnya sambil menendang kecil ban motornya.


"Terus.. gimana, Wan?" Tanyaku terbata. Dia juga seperti sudah tak semangat hidup.


"Aaah. Entahlaah."


"Makanya, ngapain coba dari tadi megangi hp dipinggir jalan begitu. Aaah. Kamu, sih!" Suaraku terdengar parau. Melihat Awan kesusahan dan aku hanya bisa diam membuatku sedih. Padahal dia memintaku menemani untuk menghilangkan stres-nya. Tidak tahunya malah semakin stres.


"Eh. Kenapa lo yang nangis?" Awan mendekatkan wajahnya padaku, memastikan apakah aku menangis atau tidak.


Aku tidak sampai mengeluarkan air mata, hanya mataku berkaca-kaca. Kalau dipikir-pikir, nasib Awan agak memprihatinkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga lagi.


"Aku nggak apapa. Aku yang kena musibah kok kamu yang nangis." Tukasnya yang sok tegar itu. "Yauda, ayo pulang. Emang paling bener gue berendem aja tadi di bak daripada keluar gini." Katanya sambil naik ke atas motornya.


TRING!


Aku mengecek ponsel dan mendapati pesan dari Arga.


"Disuruh pulang sama Wicak?" Tebak Awan.



Aku memperhatikan jalanan dan mendapati mobil Arga diseberang jalan. Dia benar-benar disana. Arga mengancam ingin mendatangiku saat ini. Bisa gawat kalau Awan tahu aku ada hubungan dengan lelaki itu.


"I-iya, aku pulang, ya?"


"Ya udah, aku anter."

__ADS_1


"Enggak, aku pulang sendiri aja. Eeeng.. kamu nggak papa, kan?" Tanyaku memastikan kondisi Awan.


Agak lama dia menjawab, sampai ia mengangguk. "Nggak apapa. Emang lagi sial aja. Jadi, aku pergi, nih?"


"Iya. Sorry nggak bisa nemenin lagi."


"Ngerti gue. Cabut dulu."


"Eh, Wan." Aku menahan tangan Awan yang hendak mengegas motornya.


"Jangan bunuh diri, ya."


"Apaan, sih. Gila lu, ya." Tukasnya sembari pergi meninggalkan aku.


Yah, sejujurnya aku serius, aku takut dia bunuh diri gara-gara diselingkuhi dan ponsel yang dicuri.


Aku melangkah lambat dan masuk ke dalam mobil Arga. Aku menghela napas panjang setelah berhasil menduduki kursi disebelah lelaki itu. Rasanya sangat malas tapi laki-laki sialan ini mengancam.


Arga melihatiku. Aku tahu karena bisa melihatnya dari ekor mataku.


"Susah banget ya, ngubungin elo." Celotehnya dengan wajah juteknya itu. Kenapa malah dia yang marah sekarang?


"Tidur dimana lo selama dua hari nggak ke tempat gue?" Tanyanya tiba-tiba.


Terdengar helaan napas dari Arga. "Gue tau, gue salah. Makanya gue-"


"Sekali lagi." Kataku memotong ucapan Arga.


"Apa?"


"Sekali lagi kamu lakuin hal kayak kemarin, kontrak kita berakhir." Aku memberi ultimatum pada Arga, supaya dia tidak mempermainkan posisiku.


Dia diam menatapku. Terserah kalau dia mau marah. Daripada aku yang terancam hubungan ini terbongkar dan aku pasti menanggung malu seumur hidup, lebih baik akhiri saja. Toh, Arga juga menjaga rahasia itu dari citra keluarganya.


Arga tak menjawab. Dia langsung menjalankan mobilnya. Kami berdua menciptakan keheningan di sepanjang jalan. Aku memikirkan nasibku yang entah bagaimana endingnya, sementara Arga.. entahlah, aku tidak melihat ke arahnya.


Saat berhenti di lampu merah, aku melihat anak kecil datang dan tengah mengamen tepat disebelahku. Sudah malam, tapi anak itu masih juga bekerja. Penampilannya juga menyedihkan, membuatku merasa kasihan. Aku membuka kaca perlahan, dan bisa dengan jelas mendengar suaranya.


"Masih sekolah?" tanyaku pada anak itu disela nyanyiannya.


Dia menggelengkan kepala perlahan. Aku memberinya dua puluh ribu rupiah, dia menerima dengan senyum dan mengucapkan terima kasih padaku seraya berlari riang.


"Ngapain sih, ngasi uang sama pengamen begitu." Gerutu Arga padaku sambil menjalankan mobilnya.


"Kasian. Masih kecil harus cari uang." Jawabku dengan terus menatap keluar jendela membiarkan angin menyapu wajahku.

__ADS_1


"Mereka itu nyari uang bukan karena urgent! Tapi buat ngelem."


"Belum tentu, Ga. Siapa yang tau, kalau ternyata dia lagi nabung buat sekolah. Atau orang tuanya sakit." Jawabku pelan. Aku menatap langit malam sambil bersandar.


"Dia mirip aku, kan? Kamu nganggep dia menyalahgunakan uang yang aku kasih karena hanya melihat mayoritas anak sepertinya mungkin memang buat ngelem. Sepertiku, jika orang tau aku menjadi wanita simpananmu, apa orang akan berpikir kalau aku memerlukan uang untuk urusan urgent?"


Aku tak mendengar suara selain klakson dari Arga. Dia pun menutup kaca jendela mobil.


"Dingin. Ntar lo masuk angin."


Aku tersenyum kecut. Bahkan Arga nggak bisa menjawab apa yang ku katakan tadi, kan? Karena aku benar. Orang-orang akan menganggap kalau aku merelakan diriku demi harta.


Sesampainya di apartemen, Popi langsung bergonggong dan melompat ke arahku. Ekornya yang mungil itu bergoyang-goyang riang, membuatku ingin melahapnya karena gemas.


"Kau rindu? Aku juga merindukanmuu.." Aku mendekap Popi dengan erat. Ah, rasanya sedikit lebih baik.


"Mau makan apa. Gue masakin." Ujar Arga sembari berjalan menuju dapur. Tumben banget nanya, apa karena merasa bersalah?


"Terserah." Jawabku malas, aku meletakkan Popi di atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuh yang sudah penat.


Aku menuju rak sabun Arga dan tidak mendapati ikat rambut yang biasa kugunakan saat mandi disana. Apa dipakai Arga?


"Ga, ikat rambut aku mana? Yang warna merah jambu." Teriakku dari kamar mandi.


"Mana gue tau." Teriaknya balik.


"Kamu pake, ya???"


Tak ada jawaban, aku memilih keluar dari kamar mandi dan mendapati Arga sudah di depan kamar mandi.


"Ikat rambut aku yang biasa aku taruh di rak."


Arga diam sejenak, terlihat matanya menyipit. "Naya?"


"Hah?" Kenapa dia tiba-tiba menyebut Naya?


"Naya ke kamar mandi, kan, waktu itu." Tukasnya tiba-tiba dan berhasil membuatku membelalakkan mata.


"Naya yang ambil??" Ah. Lagi, aku merasa jantungku berdetak lebih cepat jika membahas soal ini lagi. Naya, kenapa dia lagi, sih?


"Gimana ini??"


"Ya udah, santai aja. Kalau dia tanya, bilang aja nggak tau. Ingat, bersikap biasa aja." Arga kembali ke dapur setelah mendengar suara denting waktu dari Oven. Sementara aku berusaha menenangkan jantung sembari berendam.


Belakangan terasa berat. Entah kenapa aku semakin hari semakin takut. Bagaimana kalau orang-orang mengetahui hubunganku dengan Arga? Argh.. Entahlah aku lelah, setiap hari pikiran-pikiran buruk terus mampir di otakku.

__ADS_1


__ADS_2