SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kasus Pemerkosaan


__ADS_3

Sekitar pukul 9 malam, acara hampir berakhir. Dan saat itu, Syahdu beserta teman-temannya yang lain tengah menikmati acara penutup. Disela itu, Syahdu meminta Adina menemaninya ke toilet, karena dia tidak berani pergi sendirian walau banyak lampu di sekitar lorong.


Mereka berdua pergi tanpa permisi dari teman-teman yang tengah fokus menonton aksi panggung kelas lain.


Wicak yang memperhatikan kekasihnya dari jauh pun ikut bangkit dari duduk saat melihat Syahdu bergerak dengan temannya. Dia tidak tahu Syahdu mau kemana, dia hanya menuruti dirinya yang ingin mengekori Syahdu.


"Ras, gue terima telepon bentar. Lo berani kan, masuk sendiri?"


Syahdu mengangguk, lalu masuk ke dalam toilet sendiri, sementara Adina agak menjauh untuk menerima telepon.


Setelah beberapa saat, Syahdu keluar dari toilet dan tak mendapati Adina diluar.


"Din.." panggilnya, namun tak ada suara. Syahdu menengok kesana kemari, sepi, tak ada orang. Hanya suara berisik dari panggung yang terdengar.


Merasa Adina sudah pergi dulaun, Syahdu pun berjalan perlahan walau perasaannya mendadak tak enak.


Lalu tiba-tiba saja tangannya ditarik dan ia menjerit. Namun jeritannya terhenti saat sebuah tangan mendekap mulutnya.


Mata Syahdu membulat. Dia tidak tahu siapa laki-laki yang tengah membekapnya itu.


"Hmmmppp.."


Lelaki itu merapatkan wajahnya. "Sssstt.. jangan takut. Aku ini teman Wicak." Bisiknya pada Syahdu. Seringainya membuat Syahdu malah semakin takut.


Lelaki itu menyeret Syahdu masuk ke dalam salah satu ruang kosong.


"Tol-"


"Sstt. Kubilang jangan berisik." Dia menekan keras mulut Syahdu sampai membuat gadis itu hampir tidak bisa bernapas. Tangannya satu lagi berhasil mengunci kedua tangan Syahdu.


"hmmmpp..." Syahdu menangis. Rasa takutnya menyeruak. Dalam hatinya memanggil Adina, Wicak, juga Arga, siapapun yang ada, dia menejerit meminta tolong.


Adina yang baru kembali, menoleh kesana kemari, namun tak mendapati Syahdu, baik di dalam toilet maupun diluar.


"Udah duluan kali, ya." Pikirnya. Diapun berjalan santai menuju tempat dimana acara Expo dijalankan.


Namun langkahnya terhenti, saat mendengar suara rintihan.


Adina menoleh kesumber suara. Dia takut, apa itu suara hantu? Sesaat tubuhnya langsung merinding jika mengingat sosok makhluk halus yang bisa saja tengah mengerjainya. Tapi lirihan itu terdengar menyedihkan, membuatnya mau tak mau mengecek ke sumber suara.


Adina berjinjit, melihat ke dalam ruang kosong dari jendela. Tubuhnya langsung membeku, matanya membulat saat melihat Syahdu yang didekap oleh seseorang berbedan besar.


"La-laras.." lirihnya. Ya, Adina yakin itu Syahdu.


Adina berjongkok saat orang bertubuh besar itu menoleh kearahnya.


Adina ingin membantu, namun dia juga takut. Akhirny Adina berlari untuk mencari pertolongan.

__ADS_1


Ditengah lorong, dia merasa lega saat melihat Wicak.


"Kaaak!"


"Iya? Syahdu, mana?" Tanya Wicak.


Adina tak langsung menjawab. Tangannya yang bergetar memegangi lengan Wicak.


"Kaak.. Laras.. Laras.." wajah pucat dan keringat yang muncul di dahi Adina membuat Wicak langsung berlari kearah dimana tangan Adina menunjuk. Sementara Adina langsung menemui teman-temannya.


"Ibra, Arga!"


"Apaan sih, Din. Kenapa lo?" Tanya Ibra saat melihat Adina begitu ketakutan.


"Laras.. laras .. Disekap.. Dia.. Dia.. mau diperkosa.."


"Hah? Yang bener??!" Pekik Ibra.


Arga langsung berlari. Sementara orang-orang disekitar yang mendengar ucapan Adina ikut terkejut.


"Cepat kesanaa!" Ibra bergerak lari, diikuti Adina.


"Arga, gudang sebelah toilet!" Pekik Adina. Dan Arga langsung mengencangkan larinya detik itu juga.


~


"Gue tau lo bukan cewek baik-baik. 7 tahun bareng Wicak, bukannya lo bosan dan perlu mencicip milik orang lain?" Bisiknya pada Syahdu.


Syahdu hanya menangis. Napasnya tersengal, keringat di dahinya bermunculan.


"Gue akan lepasin setelah lo muasin gue."


Syahdu menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau ini terjadi. Tidak pernah ada dalam pikirannya bahwa malam ini, dia akan diperlakukan seperti ini.


Lelaki itu mencium telinga Syahdu, membuat gadis itu menjerit.


"Mmmmhhhhhppp.." Syahdu menangis sejadi-jadinya, sampai urat lehernya keluar, berharap ada siapapun orang yang menolong, namun sampai lelaki itu berhasil mengoyakkan baju Syahdu dibagian dada, tak ada yang menolongnya.


"Aaah. Lo benar-benar buat gue bergairah. Sial! Menang apa Wicak sampe 7 taun makek lo!"


"ANJING!"


Wicak menarik lelaki itu lalu menghajar wajahnya hingga terjatuh.


Syahdu segera berlari kepelukan Wicak. Dia ketakutan dan sangat bersyukur lelaki itu menolongnya tepat waktu.


"Syahdu, kamu ga apa-apa?" tanya lelaki itu, mengecek tubuh Syahdu dari atas sampai bawah dan mendapati robekan dibagian dadanya.

__ADS_1


"APA YANG LO LAKUIN SAMA CEWEK GUE, BANGSAT!" Pekik Wicak dengan amarah yang bahkan Syahdu belum pernah lihat selama bersamanya.


Lelaki itu tersenyum miring saat melihat darah keluar dari sudut bibirnya. Dia berusaha bangkit kembali.


"Kenapa? Gue cuma mau icip cewek lo doang. Lagian dia juga bentar lagi lo buang karena bosan dipakek 7 taun." Ucap Roni dengan santai.


"BRENGSEK, BAJINGAN LO ANJING!"


Wicak memberi satu pukulan, membuat Roni tertoleh kesamping, namun ia segera membalas Wicak dengan satu pukulan tepat di sudut bibirnya.


"Kaakk!" Syahdu masih menangis di tempatnya. Apalagi melihat sudut bibir lelaki itu membiru.


Roni malah tertawa. Dia mengelap darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya.


"Anjing banget tau, nggak. Hidup itu emang nggak adil banegt. Lo enak. Ganteng, pinter, disukai cewek-cewek. Padahal lo nggak tajir, anjing!"


Ucapan Roni membuat alis Wicak berkerut. Kenapa Roni tiba-tiba mengatakan itu?


"Trus, liat cewek lo. Cakep, bening, dan lo udah pakek selama 7 taun, belom bosan juga? Gue cuma mau pakek sekali doang. Lo juga bisa pilih banyak cewek yang dengan mudahnya bakal ngasi tubuh mereka buat lo. Jadi-"


"JAGA UCAPAN LO, BANGSAT!"


Wicak murka, sejak tadi, lelaki itu memang terua memuji Syahdu. Telak, bertubi-tubi pukulan Wicak layangkan kewajah Roni. Yang membuat Wicak semakin kesal adalah Roni masih saja tertawa-tawa. Amarah Wicak sudah diujung. Dia mencari apa yang bisa membuat Roni diam.


"Kaak.." Syahdu segera memeluk Wicak saat lelaki itu mengangkat kursi dan hendak melemparkannya pada Roni, teman sekelasnya yang sudah berani melecehkan Syahdu.


"Udaah, kaak. Udaah.." Isak Syahdu dipelukan Wicak. Dia tak ingin lelaki itu membunuh orang walau orang itu sudah melecehkannya.


Langkah Arga terhenti saat dia melihat Wicak mengangkat kursi tinggi-tinggi, dan Syahdu memeluk lelaki itu, memintanya untuk berhenti.


"Astaga." Ibra ikut tercengang melihat apa yang ada didepannya.


"Laras!" Adina memanggilnya. Perempuan itu masih saja memohon supaya Wicak tidak melanjutkan aksinya.


Wicak melempar kursi ke sembarang tempat. Lalu dia membuka almamater yang menjadi penanda bahwa ia bagian dari panitia, kemudian melingkarkannya dibahu Syahdu.


"Ayo, kita keluar dari sini."


Syahdu mengangguk. Dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Wicak, ia berjalan dengan rangkulan lelaki itu, melewati Adina dan yang lain.


Arga hanya diam. Tangannya yang mengepal sejak tadi kian meregang melihat bagaimana kondisi wajah Wicak yang masih menyisakan api kemarahan, juga orang yang dihajar Wicak sudah penuh dengan luka dan darah.


"Ada apa, Cak?" Tanya teman-temannya yang baru datang.


"Urus dia. Gue mau tu orang dikeluarkan dari kampus." Tukas Wicak, kemudian berjalan lagi merangkul Syahdu dalam pelukannya.


TBC

__ADS_1


**Jangan lupa kasih Vote dan Rate untuk cerita ini, ya. Eh like juga dong.😆**


__ADS_2