SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
5 Hari Lagi~


__ADS_3

"Syahdu."


Arga berusaha mengejar Syahdu yang terus berjalan cepat menghindari Arga.


"Tunggu dulu. Lo kenapa, ha?"


Arga berhasil meraih tangannya, seketika Syahdu menghempaskan dengan kesal. Melihat itu, Arga juga ikut sebal.


"Kenapa, sih? Emang gue salah apa sampe lo semarah ini?"


Syahdu baru membuka mulut, ingin bicara. Tetapi pandangan orang-orang kini mengarah pada mereka.


"Kamu jauh-jauh deh, Ga."


"Kenapa?" Arga menarik tangannya lagi. "Ikut gue."


"Nggak, ah."


"Ck. Ikut." Arga menarik paksa, Syahdu tak banyak menolak lantaran tatapan orang-orang padanya.


Arga membuka pintu dan menyuruh Syahdu masuk ke mobilnya. Lelaki itu membawanya pergi keluar dari lingkungan kampus.


Syahdu masih diam dengan wajah cemberut. Dia pusing memikirkan Naya. Kenapa gadis itu bisa berpikir bahwa dia telah merebut Arga darinya. Selama ini Naya melihat apa sampai ia memikirkan hal itu tentangnya dan Arga?


"Ada apa? Lo berantem sama Naya?"


"Gara-gara kamulah!" Pekiknya kesal.


"Lho, kok aku?"


"Iyalah. Dia pasti sering perhatikan sikap kamu ke aku, makanya dia nebak kalo aku sukak sama kamu dan ngerebut kamu dari aku."


Arga malah terbahak-bahak, membuat Syahdu kesal dan membuang wajah keluar jendela.


"Bagus, deh. Gue juga capek diteror mulu sama dia. Tiap detik nge-chat nanya kabar, lagi apalah, inilah, itulah. Haah." Keluh Arga sembari fokus ke hamparan aspal di depannya.


"Berarti lo tuh, cewe yang beruntung." Sambungnya lagi. "Karena cuma lo yang bisa kaya gitu sama gue. Buktinya, Naya aja sampe cemburu." Katanya lagi sambil tertawa.


"Diem deh, Ga. Nggak lucu sama sekali. Kamu tau, gara-gara itu aku nggak bisa kuliah dengan tenang!"


"Iya, iya. Trus sekarang lo maunya gimana?"


Ditanya begitu, Syahdu diam. Kemarin dia mengubah rencana hidupnya untuk terus berkuliah. Walaupun Suriani sudah tidak ada, tetapi dia tetap melanjutkan keinginan neneknya itu supaya Suriani tersenyum diatas sana.


Belum Syahdu menjawab, ponsel Arga berdering.


"Iya, mi?" Sahutnya pada Julia.


'Sayang, kamu bisa ke Altamode sekarang? Kita perlu fitting baju'


"Ngga bisa, mi. Arga kuliah." Jawabnya sembari melirik Syahdu yang mengerutkan alis karena kebohongannya.


'Sebentar saja, sayang. Ini Soraya juga ada disini. Ayolah.'


Mendengar nama perempuan itu justru membuat Arga semakin enggan.

__ADS_1


"Udah dulu ya, mi. Dosennya udah datang." Arga menutup ponselnya.


"Hobi banget bohong." Celetuk Syahdu.


"Ini kita kemana, ya? Kamu mau kemana?" Tanya Arga, mengabaikan ucapan Syahdu.


"Hei, gue nanya!" Tegur Arga lagi saat Syahdu tak menjawab.


"Terserahlah. Kalo bisa ke tempat yang buat aku ngga teringat sama kak Wicak." Jawabnya tanpa menoleh pada Arga.


"Hmm.." Arga sibuk dengan pikirannya. Tempat yang tidak membuat Syahdu teringat pada Wicak, memangnya ada? 8 tahun pacaran selama ini mereka ngapain aja? Kemana aja? Pasti semua tempat sudah pernah dikunjungi. Apalagi pantai.


Arga tersenyum, dia punya tempat untuk dituju walau dia tidak tahu apakah tempat itu mengingatkannya pada Wicak atau tidak, dia akan mencobanya terlebih dahulu.


Setelah hampir satu jam akhirnya mereka sampai disebuah taman yang masih sepi. Syahdu keluar dari mobil, dia menatap sekitar. Udaranya terasa segar karena masih pagi dan banyak pepohonan disekitarnya.


"Ini.. kebun binatang?"


Arga menggandeng tangannya. "Ayo." Dia membawa Syahdu masuk menapaki jalan yang banyak daun kering berserakan.


Syahdu tidak mengerti kenapa dia menurut saja dengan tangan hangat yang menuntunnya berjalan.


Arga masuk setelah membeli tiket. Belum ada orang di dalamnya, hanya petugas kebersihan dan petugas yang mengurus hewan-hewan di dalam.


"Huaa.. coba liat itu." Arga menunjuk seekor gajah yang tengah makan tebu.


"Cara makannya mirip banget kaya lo hahaha." Dia malah terbahak-bahak.


Syahdu berdecak, ia berjalan terus meninggalkan Arga. Syahdu berhenti di depan sekumpulan angsa putih. Syahdu mengamati dua ekor yang tengah berenang bersama. Ingatannya langsung tertuju pada Wicak.


"Tau nggak, Angsa itu hewan setia." Ucap Syahdu saat Arga baru saja berdiri di sebelahnya.


"Angsa itu salah satu hewan yang setia. Mereka cuma akan mengganti pasangan saat kekasihnya mati. Sebagian angsa akan merasakan patah hati kalau pasangannya mati." Jelas Wicak pada Syahdu waktu itu.


"Ngga tau." Jawab Arga.


Syahdu menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Wicak. "Pernah ada cerita, seekor angsa jantan patah hati setelah melihat pasangannya mati. Dia banyak diam, tidak mau makan, sampai ditemuin mati tiga hari setelahnya."


Syahdu mengadahkan kepalanya, dia menahan agar air matanya tidak keluar lagi.


Kini ia teringat pertanyaannya waktu itu pada Wicak.


"Kalau aku mati, apa kakak akan patah hati."


Wicak tidak suka arah pembicaraannya, tetapi lelaki itu tetap menjawab.


"Jangan nanya-nanya kaya gitu. Aku bahkan ga bisa bayangin hidupku tanpamu. Jadi, berhentilah menanyakan hal yang gak penting. Kamu mengerti, Syahdu?" Jawab Wicak waktu itu.


Wicak tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya. Itu sebabnya dia menerima apapun kondisi Syahdu, sekalipun itu sangat menyakitinya.


"Bukan cuma angsa kali, buaya juga gitu."


Syahdu langsung menengok ke arah Arga saat lelaki itu mengkoreksinya.


"Buaya itu lambang kesetiaan. Kenapa suku Betawi membawa roti buaya untuk pernikahan, yaitu sebagai ungkapan kesetiaan pasangan yang menikah untuk sehidup semati, mengarungi bahtera rumah tangga hingga akhir hayat. Selain itu, roti buaya juga melambangkan kesabaran, lambang kejantanan, kemapanan ekonomi, dan harapan. Beda lagi kalau buayanya udah sampai darat. HAHAHAHAAAA." Tawanya begitu lepas, merasa lucu juga ingin menghibur Syahdu yang ia tahu, gadis itu pasti teringat kekasihnya.

__ADS_1


"Kaya kamu gitu, ya. Buaya darat." Cibir Syahdu lalu pergi melangkah lagi.


Arga semakin tergelak, apalagi melihat wajah cemberut Syahdu. Padahal ini lucu baginya. Tapi bisa-bisanya Syahdu tidak tertawa.


Arga mempercepat dan menyamakan langkahnya dengan Syahdu. Gadis itu berjalan tanpa menoleh kiri dan kanan. Dia fokus menuju sebuah jembatan yang cukup tinggi.


Setelah menaiki anak tangga yang cukup banyak, akhirnya Syahdu berada diatas jembatan batu. Dimana semua hewan dan tumbuhan kini bisa terlihat dari atas.


Syahdu menghirup udara dalam-dalam. Semilir angin membuat sejuk. Dedaunan kering gugur dan beterbangan tertiup angin. Tempat ini ternyata cukup membuatnya merasa lebih baik.


"Ternyata, gue ngga punya tempat yang buat lo ngga ingat sama dia." Ujar Arga. Dia ikut menatap kearah Syahdu memandang.


"Gue tau, pasti sulit lupain orang yang udah lama ada di hati lo." Sambungnya lagi.


Syahdu tersenyum getir. "Ngga apa-apa. Justru aku mau bilang makasih. Perasaanku lebih baik sekarang."


Mereka diam beberapa saat. Syahdu menikmati udara disana dengan memejamkan mata.


"Setelah ini.. tujuan lo apa?" Tanya Arga.


"Entahlah. Yang pasti, aku mau cari kehidupan baru. Tapi.. setelah kamu tunangan." Jawabnya sembari menoleh pada Arga. "Karena aku udah janji, akan bantuin acara kamu. 5 hari lagi, kan?"


Arga menunduk, memperhatikan hewan-hewan yang bisa ia lihat dari atas.


"Kalo gue ngga jadi tunangan, lo tetap disini?"


Syahdu menatap kedua mata Arga. Seorang laki-laki kini berusaha membuatnya tetap disisinya, sementara Arga tak mengerti betapa dunianya dan dunia Syahdu tidak cocok.


"Aku ngga kemana-mana." Jawab Syahdu tanpa keraguan.


Arga meraih tangan Syahdu dan menggenggamnya erat.


"Kalo lo mau, gue bisa batalin tunangan ini dan kita..." Arga ragu melanjutkan kata-katanya. Dia tak tahu apakah kalimatnya akan membuat Syahdu lebih baik atau sebaliknya.


"Kontrak kita udah berakhir, Ga." Jawab Syahdu sembari menarik tangannya kembali.


Arga mencoba mencerna ucapan Syahdu. Tidak ada kata penolakan dalam ucapan 'kita' yang Arga lontarkan.


"Gue bisa cari cara supaya terlepas dari ini semua supaya gue bisa terus jagain lo." Arga melanjutkan apa yang ingin dia ungkapkan pada Syahdu secara eksplisit. Dia yakin, perempuan itu akan sedih jika dia juga pergi dari hidupnya.


Angin menerbangkan rambut Syahdu, namun gadis itu bergeming. Tidak sedikitpun menoleh atau menjawab ucapan Arga.


Lelaki itu memiringkan tubuh, meraih tangan Syahdu dan menggenggamnya.


"Syahdu, aku-"


"Jangan buat kerusuhan, Ga." Tukas Syahdu, menarik kembali tangannya. "Jangan ucapkan sesuatu yang buat kamu menyesal nantinya. Kamu tau kan, mami dan oma kamu sayang banget sama aku. Jangan karena kamu, aku ikut terbawa-bawa. Lagi pula, hubungan kita hanya karena kontrak. Ngga ada hubungan lain diluar dari itu. Setelah kamu tunangan, aku bukan siapa-siapa dan kita akan kembali seperti orang yang ga kenal satu sama lain. Itu kan, isi kontraknya?" Ucap Syahdu dengan mata yang berkaca.


Arga tahu saat ini, hati Syahdu terasa kosong dan hampa. Jika Arga terus mengisinya, dia yakin Syahdu akan berpaling kepadanya.


5 hari lagi. Arga akan membuat Syahdu berubah pikiran dalam 5 hari itu. Dia ingin Syahdu yang menyerah akan perasaan bahwa dia membutuhkan Arga disisinya.


Arga ingin Syahdu mengutarakan itu, sampai akhirnya dia bisa membatalkan pertunangan karena sesuatu yang pasti yang Syahdu berikan padanya.


Arga menggenggam tangan Syahdu. Dia tak mengucapkan apa-apa, hanya menatap kedepan sambil mengerat genggaman yang sempat Syahdu ingin lepaskan. Namun akhirnya gadis itu mengalah, membiarkan Arga menggenggam erat tangannya. Mereka diam disana cukup lama, berperang dengan pikiran mereka masing-masing sambil terus merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam genggaman satu sama lain.

__ADS_1


TBC


__ADS_2