SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Bertemu Adik Arga


__ADS_3

Kuyakin suatu saat semua kan terjadi. Kau kan mencintaiku dan takkan pernah melepasku.


...**...


Syahdu tak berkedip menatap Arga. Ini masih pagi sekali dan Arga mengatakan sesuatu yang membuat hatinya berdebar.


Arga,, Mengajaknya menikah? Apa Syahdu salah dengar? Apa Arga ngigau?


Tapi lelaki itu juga tengah menatapnya lekat-lekat dengan wajah yang serius.


"Masih ngantuk, ya?" Tanya Syahdu, mencoba mengalihkan ucapan Arga yang aneh itu. "Aku mau mandi dulu, ya." Katanya beranjak dan masuk kedalam kamar mandi.


Mata Arga terus mengikuti Syahdu sampai pintu kamar mandi itu tertutup. Arga menghela napas panjang, karena Syahdu belum juga mau bicara serius padanya. Apa gadis itu tidak percaya? Arga mengakui kalau dulu dia terlalu cuek dan cenderung kasar pada gadis itu. Namun kepergian Syahdu membuat segalanya berubah. Dia ingin gadis itu. Dia ingin terus bersama Syahdu apapun jalannya.


Ponsel Arga berdering, dia tersenyum kecil menatap nama di layarnya.


"Iya, sayang."


'Kaakk. Serius mau ngundurin diri jadi penyanyi??'


Suara cempreng dari seberang membuat Arga gemas dan rindu.


"Wah, pagi-pagi udah nonton kakak manggung di internet, ya?"


'Ihh. Jawab duluuu.' Pekik gadis kecil itu.


"Kamu ngga ngucapin selamat ulang tahun dulu ke kakak, Syahdu?"


'Enggak. Bye!'


Sambungan telepon mati, membuat Arga terkekeh.


"Kenapa, Ga?" Tanya Syahdu yang sudah balik dari kamar mandi.


Arga berpikir sebentar. Dia ingin mengenalkan Syahdu pada Shania. Mungkin gadis di depannya ini tidak tahu kalau ada anggota baru yang membuatnya sedikit semangat saat ditinggal Syahdu.


"Hmm... aku mau ke suatu tempat. Kamu ikut, ya?"


"Kemana?" Tanya gadis itu.

__ADS_1


"Ada, deh. Kamu siap-siap, ya. Aku buatin sarapan dulu."


Arga bangkit, dia mengecup kening Syahdu lalu menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk mereka.


Sementara gadis itu masih bergeming di tempatnya. Perlahan tangannya naik memegang dahi yang dicium Arga. Lucu, padahal dulu Arga juga melakukan ini. Tapi kali ini berbeda. Darahnya berdesir saat bibir Arga mendekat kearahnya. Pikirannya melayang-layang ke tempat yang tidak seharusnya. Diapun menggelengkan kepala, tak ingin berpikir yang tidak-tidak.


"Hei."


Arga tertawa geli melihat Syahdu yang aneh. "Temenin, dong." Pinta lelaki itu.


Syahdupun berjalan ke dapur dan duduk di kursi makan. Diperhatikannya Arga dari belakang. Seperti biasa, Arga piawai soal memegang pan fried dan spatula. Aroma masakan Arga pun harum tercium, membuat perut Syahdu berteriak meminta segera diisi.


Setelah beberapa saat, Arga meletakkan nasi goreng yang sudah ia tuang saus berbentuk love.


"Selamat makan." Ucapnya yang duduk disebelah Syahdu, lalu mulai menyantap makanannya.


"Ngga suka?" Tanya Arga lagi pada Syahdu yang masih diam menatap makanannya.


Gadis itu bukan tidak suka. Dia hanya kembali mengingat momen dimana Arga memang selalu memasakkannya makanan terlebih saat ia sakit waktu itu.


Kalau dipikir-pikir, Arga mengantarkan sup daging pagi-pagi buta dulu saat di rumah sakit. Itu berarti lelaki itu memasaknya saat subuh hari. Artinya, Arga memang sudah menunjukkan perasaannya perlahan-lahan. Tapi dasar dirinya saja yang tidak paham.


Syahdu melahap masakan Arga tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu. Ditunjukkannya pada Arga bahwa ia sangat suka masakan buatan Arga. Selalu enak dan pas dilidahnya.


...🍁...


"Kita.. mau kemana?" Tanya Syahdu yang sudah duduk disebelah Arga. Lelaki itu menoleh sekilas, lalu kembali menatap hamparan aspal.


"Ke rumah Oma."


Syahdu diam sejenak. Oma Arga? Ah, panjang umur. Wanita yang sangat baik itu masih ada.


Syahdu masih terus menatap Arga. Lelaki itu tersenyum karena tahu ia diperhatikan.


Tangannya meraih tangan Syahdu, lalu menggenggamnya erat dengan tangan lain yang tetap memegang kemudi.


"Kalau lelah, kamu tidur aja." Ucapnya kembali menoleh sekilas dengan bibir tersenyum.


Syahdu terenyuh. Kalau dulu saja, Arga yang tahu diperhatikan pasti dengan juteknya akan bilang begini, 'Ngapain lo liat-liat gue?'

__ADS_1


Syahdu terkekeh kecil. Lucu juga, dulu ia membenci lelaki yang menggenggam tangannya ini.


Tapi, Syahdu juga merasa aneh. Tak sedikitpun Arga bertanya kemana ia selama ini. Kenapa ia pergi, kenapa hilang untuk waktu yang sangat lama, atau pertanyaan lain yang Syahdu yakin Arga penasaran.


Walau begitu, Arga tak bertanya apapun bahkan tujuan Syahdu yang tiba-tiba saja muncul kedalam hidupnya lagi bukan karena tak peduli, dia hanya merasa kehadiran Syahdu saja sudah lebih dari cukup, dan Arga tak mau lagi Syahdu pergi atau merasa berat dengan segala pertanyaan yang masih menggantung di pikirannya. Syahdupun enggan menjelaskan, karena saat ini hati dan pikirannya terbelah dua. Satu sisi, ia ingin bersama Arga. Namun di sisi lain, dia punya perasaan yang tak bisa digambarkan saat ini.


Mobil berhenti setelah masuk kedalam pekarangan rumah besar milik Margareth, Syahdu pun keluar dari mobil. Dia melihat anak kecil berlari riang ke arahnya. Lalu Arga melangkah lebar menyambut gadis kecil itu. Mereka berpelukan dan Arga menggendongnya dengan satu tangan.


"Lama banget, datangnya." Ucap gadis itu dengan wajah cemberut.


"Ini udah cepet. Kamu ini cerewet banget. Nurun siapa, sih."


Syahdu melihat interaksi akrab pada keduanya. Matanya juga menangkap sosok gadis kecil yang mirip sekali dengan Arga. Dia pun bertanya-tanya, siapa anak kecil itu. Tidak mungkin anak Arga, kan?


"Siapa kakak itu?"


Lamunan Syahdu buyar. Baru saja dia menanyakan siapa anak yang digendongan Arga, dan gadis cilik itu juga menanyakan hal yang serupa.


"Syahdu.." Margareth menjawab pertanyaan gadis kecil yang baru saja diturunkan Arga. Syahdu menghampiri Margareth yang disorong di kuris roda oleh perawatnya.


"Oma.." Gadis itu mencium punggung tangan Margareth yang sejak tadi tersenyum cerah melihat kedatangan Syahdu. Selama ini, bukan dia tak tahu kalau Syahdu terus dicari oleh cucunya. Bahkan ia ikut membantu dengan mengerahkan anak buahnya. Tapi memang Syahdu sama sekali tak tercium keberadaannya. Dan kini, Margareth bisa melihat kebahagiaan di wajah Arga. Dia bisa merasakan itu.


"Syahdu? Itukan namaku.." protes gadis kecil itu pada Arga.


Arga berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Shania.


"Kakak pernah bilang, kan. Kalau kakak suka sama cewek yang namanya Syahdu." Shania mengangguk mendengar kalimat Arga. Dia ingat, waktu Shania bertanya kenapa kakaknya itu suka sekali memanggilnya Syahdu. Dan jawaban Arga..


'Kakak suka sama nama itu. Syahdu itu cewek yang kakak suka. Kakak lagi rindu, makanya kakak panggil kamu dengan nama Syahdu. Ngga apapa, kan?' Dan dengan polosnya Shania mengangguk.


"Oooh. Jadi.. kakak ini yang kakak suka, yaa?" Tanya Shania memastikan dan Arga mengangguk pasti.


Syahdu tertegun. Arga bahkan menceritakan perasaannya pada sang adik yang mungkin belum begitu mengetahui makna suka yang dimaksud Arga.


"Kakak. Aku Shania."


Shania melambaikan tangannya sambil tersenyum, membuat Syahdu berjongkok di dekatnya.


"Cantik sekali.." puji Syahdu sembari mengelus rambut panjang Shania.

__ADS_1


"Makasih, kak. Kata kak Arga, aku cantik karena kak Arga yang tampan." Jawab gadis polos itu.


Syahdu mengerutkan dahi. Sementara Arga tertawa puas dengan jawaban Shania.


__ADS_2