
Arga berniat naik ke lantai atas, menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur saat maminya juga sudah masuk ke dalam kamar. Namun langkahnya tertahan karena Margareth memanggilnya.
"Sini sebentar. Oma mau bicara."
Wanita tua itu duduk di sofa ruang tamu. Dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, dia melirik Arga yang berwajah kusut. Kurang tidur dan perdebatan kecil di dalam mobil tadi membuatnya tampak lesu.
"Hei, kenapa wajahmu begitu?" Tanya Margareth sebelum memulai pertanyaan inti.
"Kurang tidur, Oma. Tadi katanya mau bicara. Kalau ngga ada, Arga mau naik aja."
Margareth menggelengkan kepala. Anak ini memang sulit dikendalikan. Jangankan bicara baik-baik, diancampun dia tak akan peduli. Membuat semua orang harus bersabar dan menurutinya saja daripada dia kabur lagi seperti dulu.
"Selama ini oma ngga pernah urusin yang udah menjadi urusan kamu karena oma yakin dengan kemampuanmu soal management rumah sakit. Tapi, kemarin oma dengar dana rumah sakit kian menipis dan penggunanya adalah kamu. Bisa jelaskan pada oma?"
Arga diam sejenak. Dia sudah duga oma akan menanyakan soal ini. Untunglah hanya mereka berdua yang ada disana, karena dia juga tak ingin Maminya tahu.
"Untuk pengobatan temen Arga, Oma. Dia kesulitan dana dan dirawat di rumah sakit kita. Jadi, Arga gratiskan semua kebutuhannya."
Margareth manggut-manggut mendengarkan jawaban Arga. Dia percaya dengan cucunya itu. Hanya saja, dia penasaran dengan sesuatu.
"Siapa yang kamu bantu itu?"
"Syahdu. Cewek yang waktu itu Arga bawa kesini."
Margareth membulatkan mata. "Dia sakit??"
"Bukan dia. Tapi neneknya. Arga cuma bantu sedikit."
Margareth mengangguk lagi. Walau yang dimaksud sedikit oleh Arga itu sudah hampir mencapai satu miliyar.
Cucunya itu rela kehabisan dana rumah sakit demi untuk kekasihnya. Tentu itu membuat Margareth yakin secinta apa cucunya pada gadis itu.
"Nanti Arga cari jalan untuk menutupi dana itu, walau sebenarnya rumah sakit belum sampai kekurangan dana, kan." Lanjut Arga lagi.
"Yaa.. atur saja sesukamu. Oma percaya padamu. Terus, dimana ruangannya? Oma mau jenguk."
"Eh?" Buru-buru Arga mengangkat sepuluh jarinya. "Ngga usah, Oma, ga perlu sampe jenguk. Nanti Syahdu jadi segan."
"Tapi oma juga pengen ketemu lagi sama Syahdu."
Arga menggaruk kepalanya. Bingung, dia tidak mau membuat oma mengenal Syahdu, apalagi jika sampai tahu kisah keluarganya.
"Gini, Oma. Nanti, Arga akan bawa Syahdu kesini."
"Yang benar, kamu. Kemarin kamu bohongin Oma waktu oma telepon suruh datang sama Syahdu, kamu iya-iyain tapi nggak datang-datang." Cebik Margareth. Dia ingat beberapa hari lalu meminta cucu dan kekasihnya itu datang, tapi Arga tidak kunjung datang.
__ADS_1
"Oma, Arga janji akan bawa Syahdu kesini. Tapi, oma ngga perlu datang ke rumah sakit. Oke?"
Margareth mengangguk setuju. "Kabari oma secepatnya, ya. Awas kalau kamu bohong lagi."
"Iya, Arga janji."
"Kamu kapan nikahin dia?" Tanya Margareth lagi.
"Hah? Nikah apaan. Oma jangan bercanda, hubungan kami sebatas teman."
"Tapi kamu suka, kan?" Ledek Margareth.
"Dia teman sekelas Arga, oma. Ngga ada suka-sukaan. Lagian nih, ya. Arga masih tetap dengan pemikiran Arga. Tidak ingin menikah." Arga menekan kalimat terakhir supaya Margareth ingat.
"Jangan, dong. Oma ini kepingin gendong cicit. Rumah ini sepi, nggak ada isinya. Anak Oma cuma satu, cucu oma juga cuma satu. Masa kamu ngga mau nikah. Kamu mau menghentikan keturunan oma, iya?" Omel Margareth pada Arga. Lelaki itu hanya menghela napas. Dia tidak akan mampu berdebat dengan omanya sendiri.
"Sesekali senengin Oma-lah. Syahdu itu perempuan yang baik. Oma bisa liat itu, lho. Nyesel kamu kalau nggak nikahin dia gara-gara prinsip gak jelasmu itu." Omelan Margareth masih berlanjut. Dia ingin cucunya itu meneruskan keturunannya. Apalagi Arga satu-satunya keturunan yang ia miliki.
"Iya, Oma. Iya. Arga naik dulu. Ngantuk banget." Arga berdiri lalu menaiki tangga.
"Ingat lho, bawa dia kesini."
"Iya, Oma." Jawab Arga sembari terus menaiki tangga.
Arga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ocehan Margareth. Yah, perempuan tua itu memang menganggap Arga anak yang baik. Sampai Arga yang tak pernah membawa perempuan, atau bercerita perempuan pun dianggap karena Arga tak ingin menikah di masa depan.
...🍁...
Syahdu menggenggam tangan neneknya. Sudah tiga jam setelah operasi dilakukan, sang nenek masih betah tidur dengan napas yang pelan.
Wicak baru saja pulang. Lelaki itu masih punya pekerjaan lain yang harus ia lakukan. Katanya, kalau sempat ia akan datang lagi untuk menemani Syahdu tidur di rumah sakit.
Tok..tok..
Pintu terbuka, seorang perempuan berusia hampir setengah abad masuk ke dalam dengan senyuman lembut, membuat Syahdu langsung berdiri menyambutnya.
"Tante.."
"Syahdu.."
Mereka berpelukan sebentar, lalu perempuan itu memberikannya sekeranjang buah dan Syahdupun menyuruhnya untuk duduk diatas sofa.
Sejenak perempuan itu memperhatikan seisi ruangan mewah yang menjadi tempat Syahdu dan neneknya berada sekarang. Dia sebenarnya penasaran, kenapa mereka bisa menyewa ruang yang mahal itu.
"Syahdu, gimana kabar nenek?" Tanya Minarti, Ibu Awan.
__ADS_1
Mata Syahdu mengarah pada sang nenek yang masih berbaring dengan alat bantu pernapasan.
"Bantu doa ya, tante. Nenek ngalamin komplikasi. Satu sembuh, lainnya muncul." Mata Syahdu berlinang lagi. Tak kuasa menahan kesedihan.
"Pasti, tante pasti doain. Tante kesini karena Awan bilang, katanya Syahdu dan nenek udah pindah kesini. Terus, nenek masuk rumah sakit. Tapi tante baru ada waktu sekarang. Maaf ya, Syahdu." Jelas Mina.
"Ngga apa-apa kok, tante. Awan ngga ikut, tan?"
"Dia sibuk, katanya udah jenguk juga. Padahal dia baru pergi bareng kamu, kan?"
Syahdu mengangguk lambat. Dia ada masalah dengan Awan, mungkun itu sebabnya Awan tak mau diajak ke rumah sakit.
"Tante apa kabar? Udah lama ngga ketemu. Winda sehat kan, tante. Kata Awan, om Anton punya perusahaan gede. Syukurlah, Tante. Syahdu senang dengarnya." Tutur Syahdu. Dia ingat, Mina salah satu perempuan yang baik padanya dan nenek.
"Yah.. begitulah." Mendadak wajah Mina menjadi kusut. "Kamu.. masih ingat Riska?"
Syahdu terdetak saat Mina menyebut nama Riska. Pikirannya langsung teringat saat di pantai ia melihat Riska dan Om Anton. Apa Ibu Awan ini sudah tahu? Pikirnya.
"Riska, teman kecil kalian. Dia.." tiba-tiba saja Mina meneteskan air mata. "Dia menjadi perempuan simpanan suamiku."
Syahdu membeku. Aliran darahnya serasa terhenti. Ternyata Mina sudah tahu bahwa suaminya ada main dengan Riska. Entah kenapa tiba-tiba saja Syahdu merasa bersalah.
"Kenapa dia tega. Apa dia ngga ingat, dulu kecil dia selalu main di rumah. Tega sekali.." Mina menghapus air matanya.
"Ah, maaf. Tante jadi curhat."
"Ngga apa-apa, tante." Syahdu mengelus lembut punggung Mina. "Eee.. Awan tau soal ini, tante?" Tanya Syahdu dan Mina mengangguk.
"Tante tau juga baru tadi malam. Enggak sengaja ketemu waktu tante lagi main sama teman-teman tante. Tante liat om Anton dan Riska berjalan mesra di sebuah mall. Setelah tante selidiki, ternyata..." Mina tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menutup wajahnya dengan tangan, terisak-isak mengingat kejadian tadi malam.
Syahdu tidak bisa berkata-kata. Terlebih dia sudah tahu soal ini duluan. Ternyata, bangkai yang ditutupi memang akan tercium baunya. Apakah dia juga begitu nantinya?
"Awan tau karena liat tante nangis di rumah. Akhirnya tante cerita. Sampe sekarang Awan belum keluar kamar." Jelas Mina lagi.
"Awan pasti syok, tante."
Mina mengangguk-angguk. "Apalagi, Riska memutuskannya karena ayah Awan sendiri. Kasihan dia.." Mina tidak pernah membayangkan itu sebelumnya. Bagaimana bisa, pacar anaknya menjadi selingkuhan suaminya sendiri.
"Trus.. Riska dan Om Anton, gimana tante?" Syahdu penasaran dengan Riska. Apa perempuan itu baik-baik saja?
"Tante udah usir Ayah Awan. Tante ngga kuat.. tante ga bisa ketemu Riska." Ucapnya dengan suara parau.
Syahdu tahu baik tante Mina ataupun Awan pasti syok berat saat ini. Terlebih Awan. Dia pasti sulit menerima keadaannya sekarang.
Setelah bercerita cukup lama, Mina pun pulang diantar Syahdu sampai depan. Kepergian perempuan itu meninggalkan bekas di hati Syahdu. Dia tidak bisa menggambarkan suasana hatinya. Merasa bersalah, juga melihat situasi Mina dan Awan, membuat Syahdu terus menerus teringat Wicak. Tanpa ia sadari, air matanya lagi dan lagi keluar tanpa izin darinya.
__ADS_1