
Playlist: Into Your Arms - Witty Lowry Ft. Ava Max (Slow)🎧
Syahdu tidak tahu lagi apa yang terjadi disana, yang pasti saat ini, Wicak membuatnya merasa aman.
Wicak mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sebelah tangannya memegang kendali, sementara sebelahnya lagi terus memegang tangan Syahdu yang melingkar diperutnya.
Syahdu memakai almamater biru yang diberikan Wicak padanya. Sementara lelaki itu memakai kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku.
Udara malam sangat dingin. Syahdu merapatkan pelukannya, merasakan hangatnya tubuh Wicak. Sementara lelaki itu sejak tadi tidak berbicara. Rahangnya terus mengeras, dia masih sangat marah pada kejadian tadi. Apalagi baju Syahdu sudah sempat koyak. Untung saja dia cepat datang. Kalau tidak, Wicak tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kekasihnya itu.
Syahdu pula mengerti dan sangat menyadari bagaimana Wicak melindunginya. Kenyataan yang lagi-lagi membuatnya sedih seandainya Wicak tahu, orang yang dia jaga kehormatannya ternyata merusak dirinya sendiri. Namun ia segera menepis pikirannya. Apa yang Arga katakan benar, seharusnya dia memang hanya memikirkan apa yang ada didepannya dan jangan memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Wicak menghentikan motornya. Dia menepi di tempat yang tidak ramai, hanya ada lalu lalang kendaraan disekitar mereka.
Wicak memeriksa kondisi Syahdu. Sejak tadi dia hanya ingin membawa gadis itu menjauh saja.
"Syahdu.." dia menangkup kedua pipi gadis itu. "Apa ada yang sakit?"
Ditanya begitu, Syahdu malah menangis lalu menggelengkan kepala. Dia menyentuh luka disudut bibir Wicak akibat perkelahian tadi. Lelaki itu terluka, tapi dia malah menanyakan kondisi Syahdu sendiri.
"Jangan nangis, sayang. Maaf, aku datang terlambat."
Bukan berhenti, Syahdu justru semakin menangis mendengar ucapan Wicak, lalu memeluk Wicak dengan erat. Disana, ia tersedu-sedu. Bagaimana kejadian tadi masih melekat jelas diingatannya, tetapi entah kenapa justru berhadapan dengan Wicaklah yang semakin membuatnya menangis.
Wicak hanya tahu bahwa Syahdu sangat syok soal kejadian tadi. Dirinya merasa bersalah dan beruntung dalam satu keadaan dan bertekad akan lebih ketat lagi dalam menjaga Syahdu.
"Makasih, kak. Makasih banyak udah jagain aku." Lirihnya, kemudian menghapus air matanya. "Sekarang kita obatin luka kakak dulu."
"Aku ngga papa, Syahdu. Sakit ini ngga ada apa-apanya dibanding dirimu yang disentuh orang lain. Aku ga bisa membayangkan kalau itu terjadi. Aku pasti merasa sangat bersalah karena ga bisa menjagamu."
__ADS_1
Syahdu membuang wajahnya, air mata tak bisa ia hentikan karena hatinya terasa teriris mendengar kalimat yang keluar dari mulut Wicak. Ketulusan lelaki itu, Syahdu merasa tidak berhak menerimanya.
"Aku ga apapa, kak. Ngga usah pikirin lagi. Sekarang kita ke rumah sakit. Aku bantu kakak untuk obatin luka, ya. Ayo." Ucapnya dengan suara parau. Dia tak ingin berlama-lama bertatapan dengan Wicak, apalagi mendengar semua kata-kata cinta darinya, hanya membuat Syahdu semakin bersalah.
...🍁...
"Nay, lo kenapa, sih? Dari tadi diem terus, gue jadi serba salah." Tukas Alika pada Naya.
Gadis itu hanya menatap jalanan, mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak bisa dipungkiri, apa yang ia lihat tadi sangat membuat hatinya sakit.
Dia memang buru-buru ingin masuk ke dalam kelas supaya bisa makan karena terlalu lapar. Tidak tahunya, dia disajikan pemandangan yang tak pernah ia pikirkan itu akan terjadi, yaitu Arga dan Syahdu berciuman tepat di depan matanya.
Jantungnya berdetak kencang. Bagaimana bisa Arga dan Syahdu bermain begitu cantik dibelakang mereka? Bukankah selama ini keduanya sangat jarang terlibat berdua? Bahkan Naya tak pernah melihat mereka sekedar bercakap-cakap.
Tapi apapun itu, Syahdu benar-benar sudah menyakiti hatinya. Padahal gadis itu jelas tahu kalau dirinya sangat menyukai Arga. Namun lihatlah apa yang terjadi, dia bermain dibelakang seperti itu. Perempuan yang terlihat baik dan polos itu, ternyata juga mengkhianati pacarnya yang sudah 7 tahun bersamanya. Wajah polos itu, bisa-bisanya Naya tertipu.
"Iya. Gue mau nemuin dia." Jawab gadis itu cepat.
"Hah? Kenapa? Bukannya lo males ngadepin tu cowok?"
Naya tak langsung menjawab. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil, dengan tatapan terus kedepan.
"Lo inget nggak, tadi pagi Awan bilang apa ke Laras."
Alika diam mendengarkan apa yang diucapkan Naya.
"Dia bilang, kalau Laras keliatannya aja baik."
"Hush. Ngomong apaan, sih. Itukan karena Awan lagi emosi. Emang lo liat selama ini Laras gimana? Dari cara bicaranya aja lo pasti tau, kan?"
__ADS_1
Naya mencengkram erat setir. Cara bicara?? Naya tak bisa menahan rasa marahnya apalagi saat dia mengingat lagi potongan ingatan yang berkaitan dengan Syahdu dan Arga.
"Tapi Awan bener, Al." Tukas Naya dengan suara mengeras. "Awan bener kalo Laras tuh nggak sebaik keliatannya!"
"Hah? Maksud lo apa?"
Naya tiba-tiba saja tak bisa menahan air matanya. "Dia.. gue liat sendiri kalo Laras ciuman sama Arga!" Pekiknya dengan mata yang terus menatap kedepan. Berulang kali ia mengerjap demi mengalirkan air di matanya agar tak membuat pandangannya buram.
Alika tak bersuara. Dia menganga saat mendengar ucapan Naya. Rasanya tidak mungkin, namun Naya saat ini sedang menangis tanda bahwa ini sangat serius.
Naya menepikan mobilnya. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya saat pikirannya tak mampu menghapus apa yang tadi ia lihat.
"Nay.." Alika tak tahu harus berkata apa. Dia mengusap-usap bahu perempuan itu.
"Gue... gue liat sendiri. Bener kan, Al, tebakan gue. Gue bilang kan, ke elo, kalo gue curiga sama hubungan mereka berdua. Dan gue yakin, ikat rambut, tempat tidur, jubah mandi, juga anjing Arga. Gue yakin itu semua bukan kebetulan." Jeritnya sambil terus menangis. Rasanya terlalu sakit, saat ternyata salah satu temannya yang tahu perasaannya pada Arga, malah punya hubungan istimewa dibelakangnya.
"Nay, gue.. nggak tau harus bilang apa ke elo. Tapi, gue paham apa yang lo rasain.." Alika juga bingung. Apa benar Laras punya hubungan begitu dengan Arga? Bukankah dia punya pacar? Apa hubungannya sejauh itu sampai ketempat tidur?
"Nay, sebenarnya kita perlu denger penjelasan Laras juga, kan. Siapa tahu.. siapa tahu lho, ya. Ternyata emang mereka punya hubungan sebelum kenal sama kita."
Naya membuang wajah. Memang dia tak bisa langsung menuduh. Tapi dia tahu betul, selama ini dia memperlihatkan perasaannya pada teman-temannya terutama Syahdu. Apa gadis itu tidak terdetak atau semacamnya? Hubungan macam apa yang dibangun Syahdu dan Arga, sampai tak ada yang tahu bahkan kekasihnya yang 7 tahun itu? Apa Arga tidak cemburu?
Semua pertanyaan itu tak bisa terjawab satupun oleh Naya dan tentu saja, itu membuatnya frustrasi.
"Nay, lo tenangin diri dulu, ya. Kalo lo emang pengen tahu jawabannya, lo bisa tanya langsung ke Laras."
"Enggak. Gue mau tau dari Awan. Gue yakin dia tau banyak. Gue pengen tau apa yang buat Arga semarah itu ke Awan. Gue pengen tau!" Ucapnya dan langsung menjalankan mobilnya dengan cepat.
TBC
__ADS_1