
"Awan dari kemarin memang ngga datang, ya?" Tanya Syahdu pada yang lain saat mereka duduk di taman kampus menunggu kelas selanjutnya dimulai.
"Iya. Sakit, kali." Jawab Dina dengan mata yang terus ke ponselnya.
"Kemarin waktu kalian pulang bersama, keadaan dia gimana?" Mata Syahdu mengarah pada Naya dan Alika secara bergantian.
"Ngga banyak cerita, sih. Dia juga ngga bilang apa-apa soal kejadian itu." Jawab Alika.
Syahdu menghela napas. Lalu membuka ponsel. Dia melihat ruang percakapannya dengan Awan. Laki-laki itu online tapi kenapa tidak ada balasan.
"Paling besok juga dia masuk. Atau lo hubungi aja kalau emang khawatir." Saran Adina dan Syahdu hanya mengangguk tanpa mengatakan bahwa pesannya hanya dibaca saja oleh Awan.
"Hai."
Seorang perempuan bertubuh tinggi dan rambut hitam bergelombang berdiri diantara mereka. Dia tersenyum ramah, tapi tidak ada yang membalas sebab tidak ada diantara mereka yang mengenal perempuan itu.
"Ehm.. maaf kalau ganggu. Kalian teman-teman Arga, kan?" Tanya perempuan itu dengan ramah.
"I-iya. Tapi Arganya lagi ke toilet." Jawab Adina.
"Oh, gitu. Eem.. kenalin, aku Soraya. Calon tunangan Arga."
Semua terkejut dan saling pandang. Calon tunangan Arga, katanya? Bukannya Arga kemarin bilang, kalau dia tidak berniat menikah dan hanya sebatas naksir dengan seorang perempuan? Apa perempuan yang dimaksud Arga adalah perempuan ini?
Soraya mengulurkan tangan pada perempuan yang berada di dekatnya, dia ingin tahu siapa nama perempuan itu.
"Alika." Gadis itu menyambut tangannya.
"Naya."
"Salam kenal, Dina." Sambut Dina ramah.
Lalu mata Soraya menuju ke satu-satunya perempuan yang belum berkenalan.
"Kalau kamu?"
Syahdu menyambutnya dengan senyum kecil. "Laras."
"Oh.." tak sesuai harapannya, ternyata bukan nama yang tadi disebut oleh Julia.
"Gue Ibra. Eee.. mbaknya mau saya panggilin Arga?"
"Ngga, ngga perlu. Emm.. kalau yang namanya Syahdu, yang mana, ya?"
Syahdu terdetak. Ada apa? Kenapa calon tunangan Arga menyebut namanya? Apa karena dia tahu?
Alika menunjuk Syahdu. "Dia, Syahdu Larasati."
Soraya manggut-manggut. Matanya menelisik penampilan Syahdu dari atas sampai bawah. Lalu senyum kecil muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Maaf, ya. Mungkin kalian kaget tapi aku cuma mau kenalan aja."
"Pacarnya Arga temen kita juga, kok." Sahut Adina.
"Terima kasih. By the way, kalian semester satu, ya? Berarti masih anak baru, dong, ya. Kalau aku udah semester akhir." Soraya menjelaskan bahwa dia lebih senior dari pada mereja semua dengan senyuman manis yang di mata Naya sangat centil.
"Keliatan kok, mbak." Ungkap Naya terus terang dan tentu membuat Soraya kaget, kemudian merubah ekspresinya dengan tersenyum ramah.
Arga yang baru saja berjalan keluar toilet, menghentikan langkah saat melihat sosok Soraya diantara teman-temannya. Rahangnya mengeras, kenapa perempuan itu berani datang? Tahu darimana dia soal teman-temannya?
"Eh, Arga.." Soraya tersenyum ramah pada laki-laki yang baru saja datang itu.
"Aku kesini mau nemuin kamu sekaligus kenalan sama temen-temen kamu." Senyum lebar mengambang di wajah Soraya. Dia tahu, Arga takkan mungkin mempermalukan dirinya disana.
Arga melirik Syahdu. Gadis itu meremas jarinya karena takut.
"Cakep banget calon tunangan lo, Ga. Pantes aja lo ngga mau dideketin cewek-cewek kampus." Ujar Adina padanya, tapi Arga hanya diam menatap Soraya.
Dibilang cakep banget oleh teman Arga, tentu membuatnya senang.
"Ikut gue."
Arga melangkah menjauh dari teman-temannya, dia tidak mau mereka mendengar kemarahannya pada Soraya.
"Permisi, ya." Kata Soraya mengikuti Arga yang sudah berjalan cepat.
"Arga kok tiba-tiba punya calon tunangan?" Tanya Alika, masih tak percaya.
"Tapi.. Arga kok kayak ngga suka gitu liat ceweknya disini." Tukas Dina.
Naya yang sejak tadi diam, langsung beranjak pergi tanpa kata. Wajahnya terlihat kesal setengah mati.
"Eh, Nay, tungguu." Alika mengejarnya. Sementara yang lain hanya diam termasuk Syahdu. Semoga saja tidak ada masalah apapun, batinnya.
~
"Ngapain lo kesini??" Tanya Arga tak suka. Wajahnya sudah sangat menunjukkan kemarahan pada gadis itu.
"Aku.. cuma mau kenalan kok, sama temen-temen kamu." Jawabnya mulai takut melihat wajah Arga yang berang.
"Gue ingetin lagi, ya. Jangan sampe gue mempermalukan lo disini. Gue nggak pernah ada niatan nikah. Apalagi sama lo. Sampein itu sama bokap lo!" Tukasnya menatap tajam Soraya, kemudian pergi begitu saja.
Soraya masih diam disana, menatap kepergian Arga. Walau kesal dengan ucapan Arga, setidaknya dia sudah tahu perempuan yang bernama Syahdu itu seperti apa. Dia berharap, semoga perempuan itu segera sadar karena laki-laki yang didekatinya sudah memiliki calon tunangan.
Toh, Arga sendiri tidak akan bisa mengelak dengan perjodohan itu.
~
Syahdu meraih tas saat dosen keluar, tanda kelas sudah berakhir. Beberapa sudah berhambur keluar kelas, begitu juga Dina dan yang lain, sudah pamit duluan pada Syahdu yang masih menyusun bukunya.
__ADS_1
Pikiran Syahdu kini tertuju pada perempuan yang mengaku sebagai calon tunangan Arga dan tiba-tiba saja menyebut namanya. Apakah Arga pernah bercerita soal dirinya, atau perempuan itu tahu tentang hubungannya dengan Arga?
Lalu, jika Arga bertunangan, bukankah itu hal baik untuknya? Artinya kontrak berakhir tanpa harus menunggu dua tahun. Jika Arga menikah, mungkinkah dia bebas?
"Hei."
Syahdu mengangkat kepala. Arga berdiri di depannya sambil menunduk menatap gadis itu.
Segera Syahdu menoleh ke seisi ruang, hanya dua orang lain tersisa di sana.
"Gimana keadaan lo?" Arga berbasa-basi, padahal dia jelas sudah melihat gadis itu kembali berkuliah dengan wajah segar.
"Baik. Thanks buat makanannya."
Arga mengangguk. Akhirnya Syahdu mengucapkan terima kasih padanya. Tanda bahwa gadis itu tahu kalau Argalah yang membuatkan sop itu untuknya.
"Kalau lo mau, gue bisa masakin yang lain buat lo."
Syahdu tersenyum, merasa terharu dengan perbuatan baik Arga padanya. Sayangnya, itu sia-sia setelah Syahdu mendengar semuanya. dia merasa hal itu tidak membuatnya betah. Justru Syahdu tengah mencari cara supaya dia bisa lepas dari kontrak yang dibuat Arga.
"Kayaknya aku belum bisa balik, Ga. Nenek belum bisa ditinggal."
"Gue ngerti."
Syahdu berdiri, bersiap untuk pergi.
"Mau gue anter?" tawarnya pada Syahdu.
"Ngga perlu. Kak Wicak udah nunggu di depan. Makasih, ya. Aku duluan."
Arga mundur, mempersilakan Syahdu lewat. Gadis itu pun langsung pergi tanpa ingin terlalu banyak pertanyaan walau sebenarnya Syahdu juga ingin tahu apa benar laki-laki itu ingin menikah? Tapi dia mengurungkan untuk bertanya dan lebih memilih pergi saja jauh-jauh dari Arga.
Sementara Arga, dia masih mematung disana. Sebenarnya dia ingin mengajak Syahdu pulang ke apartemennya. Tapi dia tidak bisa memaksa kalau Syahdu masih ingin di rumah sakit.
Walau sebenarnya Arga sangat bisa mentitah gadis itu. Tak seperti dulu, Sekarang Arga lebih mementingkan suasana hati Syahdu. Jika Syahdu tidak berkenan, maka dia tak mau melakukannya.
Tapi, kali ini Syahdu terasa berbeda. Dia sangat dingin dan tak seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang membuat gadis itu berubah? Apa karena Soraya?
Ah, Soraya. Arga langsung segera melangkahkan kakinya saat mengingat perempuan itu. Dia ingin menegaskan lagi pada Julia bahwa dia tidak ingin menikah dengan gadis itu.
**
Syahdu berhenti saat Soraya tiba-tiba saja berdiri di depannya. Dia memakai kacamata hitam dengan bibir yang mengukir senyum kecil.
"Bisa bicara sebentar, Syahdu?"
Kehadiran Soraya tentu membuat Syahdu tegang. Tapi gadis itu segera mengubah ekspresinya, menyembunyikan sesuatu yang bisa membuatnya dicurigai, walau dia sendiri tidak tahu secara pasti kenapa calon tunangan Arga ini malah mengajaknya mengobrol.
Soraya membuka kacamatanya. "Jangan menolak. Gue tahu banyak soal Lo. VVIP 08, kamar nenek lo, kan?" Soraya tersenyum miring, lalu berjalan kesuatu tempat yang membuat Syahdu mau tak mau harus mengikutinya.
__ADS_1
**TBC
Makasi guys Like dan Komennya🥰