
Arga berdiri di sisi tempat tidur menatapi wajah Syahdu yang terlelap. Setelah mandi dan minum obat, gadis itu akhirnya tertidur dengan sisa air mata di wajahnya. Sesekali ia bergerak gelisah dan rintihan kecil keluar dari mulutnya. Syahdu tersiksa, Arga tahu itu. Tidak hanya dalam dunia nyata, dalam dunia mimpi pun Syahdu masih merasakan penderitaannya.
Arga duduk di tepi tempat tidur. Dia menggenggam tangan Syahdu, membelai wajah yang murung seperti melihat sesuatu yang ia tak sukai. Setelah Arga memberinya sentuhan, Syahdu kembali tidur dengan tenang.
Arga tidak bisa terus melihat perempuan yang ia sayangi itu menderita. Dia akan membuat Syahdu kembali ceria walau mungkin berat. Apalagi Syahdu seperti tak menganggapnya ada. Syahdu sering diam dan menatap kosong kedepan.
Walaupun begitu, Arga takkan menyerah. Dia akan berusaha sekuat tenaga, untuk mengalihkan pandangan Syahdu ke arahnya.
Arga melirik ponselnya yang bergetar diatas nakas. Dia berdiri dan menjauh untuk mengangkat telepon dari Julia.
"Ya, mami."
'Alexander, kemana aja, hah? Udah 2 malam ini kamu ga pulang. Tadi mama Soraya datang tapi kamu ga bisa dihubungi. Kamu mau buat mama malu. Iya?'
Arga memperhatikan wajah Syahdu. Kenapa dia bisa lupa, kalau dirinya akan bertunangan dan malah menjanjikan ini itu pada Syahdu?
'Answer me, Alexander!'
"Iya, mi. Besok Arga kesana."
'Kemarin mami dan mama Soraya udah mastiin tanggalnya dan kami sepakat kalau tunangan kamu dan Soraya diadakan tanggal 29. Jadi, kamu harus siap-siap.'
Arga menghela napas. Artinya waktu tersisa hanyalah 9 hari lagi. Apa ia bisa menggagalkan rencana pertunangan ini?
"Iya, mi."
'Bagus. Besok pagi harus udah di rumah oma. Banyak yang mau mami jelaskan.'
Julia menutup teleponnya. Arga masih diam mematung menatap layar ponselnya. Terasa sulit baginya mencerna semua kejadian ini. Syahdu sekarang sedang sangat terpuruk dan dia pula akan bertunangan. Apa bisa dia meninggalkan perempuan itu? Apa ada cara lain untuk lari? Tapi dia tidak ingin mengecewakan Margareth dan Julia, yang mana nama baik dua orang itu dipertaruhkan. Tapi, apa dia harus mengorbankan perasaannya juga?
Syahdu kembali sesenggukan. Matanya terpejam tapi kondisi bahunya terguncang.
Arga naik ke tempat tidur, menarik Syahdu dalam pelukan.
"Sst.. aku disini. Jangan sedih, Syahdu." Bisiknya sembari mengelus kepala Syahdu. Gadis itu kembali tertidur dalam pelukan Arga yang menenangkannya.
...π...
Syahdu duduk di depan pintu kaca yang terbuka dengan kepala yang ia sandarkan ke tembok. Dia memeluk lutut, membiarkan rambutnya tertiup angin.
Pandangannya kosong, sudah 20 menit sejak ia terbangun Syahdu memilih duduk dan meminta angin membantu menyegarkan pikirannya.
"Sarapan, yuk." Arga duduk disebelahnya, mengajak gadis itu makan bersama.
Beberapa detik, tidak ada jawaban. Syahdu tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Aku mau ke rumah oma sebentar, terus ada satu mata kuliah juga. Ga apa-apa kutinggal?"
Syahdu mengangguk kecil. Dia sama sekali tidak masalah, karena dia hanya ingin sendirian.
"Syahdu, aku udah masakin kamu menu spesial, ada diatas meja. Kamu makan, ya. Nanti minum obat. Oke?"
Syahdu masih betah diam walau dia paham apa yang Arga katakan. Tapi hati dan jiwanya sedang tak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Arga, walau dia tahu, saat ini hanya Arga yang peduli padanya.
__ADS_1
Arga menghela napas pelan. Dia sangat paham ini berat bagi Syahdu. Dia akan terus mendorong perempuan itu untuk tetap hidup.
"Aku pergi, ya." Dengan berat, Arga bangkit dari duduknya. Dia berdiri cukup lama menatap Syahdu sampai ia meyakinkan dirinya bahwa Syahdu akan baik-baik saja selama di apartemennya. Gadis itu tidak akan bunuh diri.
Arga pun akhirnya melangkah keluar untuk menemui maminya sembari mencari cara agar terus bisa bersama Syahdu.
~
Arga masuk ke dalam rumah dan mendapati Margareth tengah duduk di teras sambil meminum teh.
"Oma dengar cowoknya Syahdu meninggal dunia kemarin."
Arga yang tadinya ingin masuk menemui Julia pun akhirnya duduk disebelah Margareth.
"Kasihan, ya. Padahal belum lama neneknya juga meninggal dunia. Sekarang dia sebatang kara." Margareth meletakkan gelas yang sejak tadi ia genggam.
"Bawa dia kesini. Biar oma yang bantu dia."
"Dia di apartemen Arga."
"Hah? Kamu bawa dia ke apartemen kamu? Jadi dua hari ga pulang kesini karena tidur sama Syahdu?" Tanya Margareth dengan mata melotot.
"Bu-bukan tidur gitu, oma. Syahdu kan, lagi sedih. Dia ga punya siapa-siapa lagi, jadi..." Arga menggaruk kepala, bingung cara menjelaskannya pada Margareth.
Namun Margareth paham, apalagi dia tahu cucunya menyukai Syahdu. Tentu lelaki itu tak mau Syahdu kenapa-napa.
"Bawa dia kesini kalau kondisinya udah baikan, ya. Ada yang mau oma obrolin."
"Alexander, disini rupanya." Julia muncul dari pintu depan, ikut duduk diseberang Margareth membawa beberapa lembar kertas undangan. "Ini, undangan udah jadi. Nanti kamu sebarin ke teman-teman kamu, ya. Papa juga udah nyebarin ke koleganya."
Arga melirik undangan yang diletakkan Julia diatas meja. Namanya dan Soraya ada disana. Arga membuang wajah, melihat undangan itu membuatnya semakin menyadari, kalau pertunangan ini semakin berat untuk ditentang. Apalagi undangan sudah disebar.
"Sayang, selama ini mami ga pernah minta apapun sama kamu. Kali ini, tolongin mami, ya. Please, jangan lakuin hal yang enggak-enggak selama papa di London. Minggu depan papa balik lagi, jadi jangan sampe nama baik keluarga hancur karena kamu. Mami tahu, mami sangat egois. Tapi mami yakin, setelah ini kamu pasti bahagia. Soraya anaknya baik, dia-"
Arga berdiri. "Kalau ga ada yang mau dibilang, Arga pergi, ya. Bentar lagi ada kelas." Ucapnya sembari melirik jam tangannya.
Julia memandang Margareth yang hanya santai meminum tehnya. Margareth pun tampak tak peduli, dia juga tidak mengundang koleganya, entah kenapa, Julia tidak mengerti. Margareth memang tidak menentang, tapi tidak juga mendukung.
Julia mengangguk, dan Arga pun pergi tanpa membawa kartu undangan yang diberikan Julia untuk teman-temannya.
"Ma, kenapa mama diam aja?" Tanya Julia setelah Arga menghilang dari pandangan mereka.
"Mama setuju kan, sama pertuanangan ini? Mama kan, kepingin punya cicit."
Margareth memang kepengen Arga melanjutkan keturunannya. Tapi, dia juga sadar kalau cucunya itu tidak menyukai Soraya. Lalu Syahdu, dia juga berat menerima latar belakang gadis itu. Serba salah dan membingungkannya.
"Mama, undangan ini mau dikirim kemana? Biar Julia bantu kirim ke teman-teman mama, ya."
"Ngga usah. Mama ga niat undang siapapun. Nanti aja, saat wedding Arga." Ucapnya kemudian beranjak meninggalkan Julia.
...π...
Arga masuk ke dalam apartemen. Dilihatnya Syahdu masih pada posisi yang sama padahal dia sudah keluar selama 2 jam, namun gadis itu tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Arga melirik dapur. Tidak ada tanda-tanda masakannya tersentuh. Syahdu memang hanya diam disana sejak tadi.
Perlahan Arga mendekat, dia melihat Syahdu memejamkan mata dengan sebailgian wajah tertutup rambutnya yang tersibak angin dengan lembut.
Arga menggendongnya, membawanya keatas tempat tidur. Pasti lelah duduk disana berjam-jam, namun saat diangkat, ternyata Syahdu membuka matanya.
Arga berhenti dan menatap mata sendu gadis itu.
"Ma-maaf, gue kira.. lo tidur."
Arga segera mendudukkan Syahdu perlahan diatas tenpat tidur.
"Lo belum makan, ya. Belum minum obat?"
Syahdu tak menyahut. Dia menarik kakinya kemudian ia peluk lagi.
"Gue ambilin, ya." Arga menuju dapur, sementara Syahdu menatap ponselnya yang bergetar diatas nakas. Beberapa kali panggilan nomor baru ia abaikan, sampai sebuah pesan masuk membuatnya meraih ponsel. Ternyata itu nomor Margareth. Dalam pesannya, Margareth meminta Syahdu untuk datang kalau perasaannya sudah tenang.
Lalu dia membuka pesan grup. Syahdu diam menatap layar, dimana sebuah kartu undangan dikirim oleh Adina dan nama Arga ada didalamnya.
"Makan dulu, setelah itu minum obat." Arga duduk dan meletakkan segelas air diatas nakas. Dia bersiap menyuapi Syahdu, namun gadis itu hanya diam menatapnya.
"Ayo, aaaa.."
Syahdu membuka mulut, membuat Arga teresenyum senang.
"Gue bawain sesuatu buat lo." Arga meraih tasnya, lalu mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Syahdu.
"Nilai lo paling tinggi."
Syahdu melihat nilai pada lembar ujiannya waktu itu. 97 dan itu membuatnya sedikit senang.
"Untung waktu itu kita ga taruhan." Arga menunjukkan nilainya, 95. Dia kalah 2 digit dari Syahdu. "Kalau ngga, gue pasti kalah." Sambungnya dengan tertawa.
"Kapan lo siap ngampus, gue bakal bantu."
Syahdu mengangguk. Nilai itu membuat semangatnya naik. Kalau ada nenek, dia pasti bangga. Batinnya.
"Makan lagi, dong." Arga kembali menyodorkan sendok dan Syahdu membuka mulutnya.
Setelah beberapa waktu saling diam, Syahdu akhirnya membuka mulut.
"Selamat ya, Ga."
Arga menatapnya tak mengerti. Selamat soal apa? Tanyanya dalam hati.
"Selamat, minggu depan kamu tunangan, kan?"
Arga tak bisa menjawabnya. Karena dia tidak menyukai ucapan yang keluar dari mulut Syahdu itu.
TBC
__ADS_1