
"Terima kasih, Syahdu." Bisiknya. Syahdu mengelus lembut punggung Margareth. Dia sudah menganggap wanita tua itu sebagai neneknya sendiri. Wanita yang sangat baik, pernah menawarkannya tinggal untuk disekolahkan. Wanita yang tidak pernah menilai buruk dirinya walau Syahdu yakin Margareth pasti tahu soal dirinya.
"Kalian sudah tentukan tanggalnya?"
Syahdu menoleh pada Arga. Begitu juga Arga, dia sebenarnya ingin Syahdu yang menentukan semuanya.
"Emm.. belum, Oma. Nanti kami akan urus berdua. Tapi pasti dalam waktu dekat ini. Sebelum Syahdu kuliah, dia harus udah nikah sama Arga."
Margareth tergelak. "Syahdu mau kuliah lagi, ya? Oma setuju, pendidikan itu penting apalagi kamu gadis pintar."
"Arga juga akan bangun yayasan panti untuk Syahdu. Arga udah janji."
"Oh, ya?" Mata Margareth bulat menatap Syahdu. "Bagus itu. Oma sangat dukung. Kalau perlu, bekerja samalah dengan rumah sakit, supaya semua gampang terpenuhi."
"Gampang kalau soal itu. Yang utama sekarang, urus pernikahan kita." Sahut Arga cepat. Kembali Margareth tergelak.
"Julia udah tau soal ini?"
"Udah Arga kabarin, tapi Mami kayanya ngga percaya."
Margareth terkekeh. "Nanti Oma kabarin lagi. Dia harus pulang, dia harus menyambut calon menantunya."
"Iya, tolong kabarin ya, Oma. Kami mau mempersiapkan semuanya secara matang. Arga gak mau momen terindah ini berjalan terlalu biasa. Semuanya harus istimewa, karena Arga menikah dengan gadis yang spesial dan luar biasa."
Disebut begitu, Syahdu jadi malu. Pasalnya ia tak pernah merasa spesial dan istimewa. Namun kali ini tatapan hangat Arga membuatnya semakin jatuh dalam.
"Selamat, ya. Oma harap semua berjalan dengan lancar. Jangan segan minta Oma untuk keperluan kalian." Ucap Margareth dengan hati berdebar menunggu waktu dimana cucu kesayangannya itu akan melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya.
...🍁...
Syahdu berjalan perlahan melewati beberapa gundukan tanah dengan deretan nisan yang terpacak diatasnya. Gadis itu sudah hapal dimana ia akan berhenti. Dengan sebuah bucket bunga Syahdu akhirnya berhenti disebuah makam beratas namakan Suriani. Dia berjongkok, meletakkan bucket bunga lili diatasnya.
__ADS_1
Syahdu mengusap nisan, ingatannya terbang kearah dimana Suriani selalu memberi perhatian padanya. Senyum wanita tua yang ia rindukan, yang ia harapkan akan terus bersamanya.
Arga ikut berjongkok. Dia mengelus punggung Syahdu yang masih hening menatap makam itu.
"Nenek, Syahdu datang." Mata Syahdu mengarah pada Arga. "Gak sendirian, berdua sama Arga. Laki-laki yang dulu nenek bilang ramah dengan senyuman." Syahdu tersenyum mengucap kata itu. Sebab dulu Suriani memang selalu membicarakan senyuman Arga, membuat Syahdu stres lantaran dia tak mengerti kenapa sang nenek terus mengoceh soal senyuman yang dia hampir tak pernah lihat dulunya.
"Dulu Syahdu bingung kenapa nenek selalu bilang kalau Arga itu suka senyum. Padahal sama Syahdu dia jutek."
Arga meliriknya. Dia juga ikut tersenyum mengingat itu. Memang dulu dia memberi batas pada Syahdu, nyatanya dia yang melewati batas itu.
"Sekarang Syahdu hampir setiap detik liat senyum Arga. Dia.. udah lamar Syahdu, nek. Dan sebentar lagi kami akan menikah." Syahdu melebarkan jarinya, menunjukkan cincin yang tersemat.
"Syahdu harap nenek ikut senang, karena Syahdu udah bahagia. Sesuai dengan yang nenek harapin." Syahdu menghapus air mata yang mengalir, sementara Arga mengecup rambut Syahdu, menenangkan gadis itu.
Setelah selesai di makam Suriani, mereka berjalan menuju makam Wicak. Syahdu kembali berjongkok, meletakkan setangkai mawar diatas pusara itu.
"Hai, kak." Sapa Syahdu, mengusap nisan Wicak. Arga berdiri dibelakangnya, memperhatikan Syahdu.
"Kakak pasti senang, kalau aku sekarang udah bahagia. Iya, kan?" Akhirnya kata itu keluar dari bibir Syahdu. Dia tahu tak mungkin Wicak memikirkannya lagi, sebab lelaki itu pasti tengah bahagia di alam sana.
"Makasih ya kak, untuk semuanya." Syahdu terkenang ke masa dimana Wicak sangat banyak membantunya. Mungkin Wicak sudah lelah mendengar ribuan ucapan terima kasih yang Syahdu berikan. Walau kata itupun rasanya belum cukup menggambarkan betapa Syahdu sangat menghargai semua yang Wicak berikan dan lakukan padanya.
"Aku.. akan menikah, kak. Aku.." Syahdu tak bisa melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba dadanya terasa sesak dan matanya perih.
"Maafin aku.." ucapnya lagi dengan suara parau. Syahdu beberapa kali berkedip demi menghilangkan gumpalan air di matanya.
Tak ada kata yang bisa ia ucapkan, karena semua terasa pahit untuk Wicak. Jika Wicak hidup, tak mungkin lelaki itu bahagia mendengar bahwa Syahdu akan menikah dengan laki-laki lain. Dimana Wicak sendiri pernah mengatakan bahwa ia takkan menikah jika Syahdu yang pergi duluan darinya.
Gadis itu berdiri setelah berhasil menghapus air matanya. Dia tersenyum pada Arga.
"Yuk.."
__ADS_1
"Kamu duluan, ya."
Syahdu mengangkat alis, disuruh duluan oleh Arga? Ia pun mengangguk lambat, ia menurut walau ingin tahu apa yang ingin Arga lakukan di makam Wicak.
Setelah Syahdu cukup jauh berjalan, Arga mendekat pada makam Wicak. Dia menatap pusara yang sudah dipenuhi rumput hijau itu.
Ia teringat bagaimana tatapan tak suka Wicak padanya. Arga tahu kalau Wicak sudah menyadari sejak dulu bagaimana perasaannya pada Syahdu, dan ia memaklumi apa yang Wicak lakukan padanya.
"I'm so sorry for all my fault." Tutur Arga dengan segala penyesalannya. Wicak harus meninggal dalam keadaan dirinya yang menyadari bahwa kekasihnya sudah mengkhianatinya.
"Gue.. mau bilang kalo gue akan buat Syahdu bahagia bareng gue. Lo ga perlu khawatir, karena gue cinta mati sama gadis itu.."
Kembali Arga terkenang saat Wicak menghajarnya karena mengatakan bahwa ia akan bersama Syahdu jika Wicak sudah tak ingin bersama gadis itu. Nyatanya, Wicak memperjuangkan Syahdu sampai akhir hayatnya.
"Lo tau, kan, perjuangan gue buat dapetin Syahdu nggak main-main. Itu juga yang buat gue tau betul kenapa lo pertahanin dia. Gue.. akan kaya lo, Bro. Gue akan terus mencintai Syahdu sampe gue mati. Gue janji, Lo harus tau itu!"
Arga menunduk, dia berharap Wicak bisa mendengar kalimatnya, bahwa dia benar-benar serius dengan ucaapnnya sendiri.
"Gue pamit. Gue mungkin akan jarang bawa dia kesini. Tapi lo jangan khawatir, gue tau doa Syahdu masih berjalan buat lo." Ucapnya sebagai penutup pembicaraan.
Ia berjalan ke arah parkiran, dilihatnya Syahdu sudah menunggu berdiri menatapnya. Gadis itu pasti ingin tahu apa yang Arga katakan pada makam Wicak.
Mata Syahdu tak lepas dari Arga yang mendekat. Tanpa kata apapun yang keluar, Arga memeluk Syahdu. Dia tidak tahu gambaran apa yang tepat untuknya saat tahu Wicak meninggal dunia. Disatu sisi, ia turut sedih dan menyesal dengan apa yang ia lakukan pada lelaki itu. Apalagi wafatnya Wicak membuat Syahdu terpukul dan hampir putus asa. Namun disisi lain, dia senang karena bisa memiliki Syahdu seperti saat ini.
Syahdu, dia memeluk gadis itu erat. Seperti apa yang diucapkannya pada Wicak, dia bertekat dalam dirinya akan terus mencintai dan membahagiakan Syahdu seumur hidupnya.
Aditya Wicaksana. Potret By Syahdu Larasati 8 tahun yang lalu...
TBC
__ADS_1
Jangan Lupa Vote yaaahhh