
...Playlist: Those Eyes - New West🎧...
Syahdu tepekur dalam pelukan Wicak. Dia melamun memikirkan nasibnya. Dalam situasi saat ini, dia memang tidak bisa berpikir panjang. Yang dia tahu hanyalah dirinya kini sendirian. Karena Wicak pun akan meninggalkannya jika tahu bahwa dirinya sudah dicurangi.
Syahdu bisa merasakan hangatnya napas Wicak di puncak kepalanya. Sejak tadi lelaki itu mengecup kepalanya sambil memeluk erat. Pelukan yang sangat Syahdu sukai, namun itu tidak lagi berarti.
Syahdu melepaskan diri. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri dan melangkah pergi.
"Syahdu, mau kemana?" Tanya Wicak.
Gadis itu, dengan sisa air mata, tersenyum kecil melihat perhatian kekasihnya.
"Sebentar. Aku pergi sebentar." Ucapnya kemudian keluar dari ruang jenazah neneknya.
Tak berapa lama pula, Arga masuk dan mendapati Wicak sendirian disebelah jasad Suriani. Dibelakang lelaki itu ada dua wanita.
"Syahdunya mana?" Tanya Julia yang hanya melihat seorang lelaki duduk di dekat jenazah.
"Syahdu.. tadi pergi." Jawab Wicak bingung, sebab dia tak mengenal dua perempuan itu. Tapi dia menebak, kalau keduanya adalah keluarga Arga. Karena kehadiran mereka di rumah sakit ini membuat beberapa perawat dan dokter berdiri di depan pintu.
Arga berbalik badan, keluar dari ruangan untuk mencari Syahdu. Dia berlari kecil kearah toilet perempuan. Dia masuk tanpa peduli siapa yang ada di dalam, tapi toilet itu kosong. Entah kenapa, pikiran Arga langsung tertuju pada rooftop. Tempatnya pertama kali melihat keterpurukan Syahdu.
Dia berlari kencang naik ke tangga menuju lantai paling atas. Arga menoleh kesana kemari mencari sosok Syahdu, dan dia menemukan gadis itu berdiri diatas tembok pembatas.
Tegang, Arga sejenak mematung melihat Syahdu diatas sana bersama hembusan angin lembut menerpa rambutnya.
"Syahdu!"
Panggilan Arga berhasil membuatnya menoleh.
"Turun! Lo mau ngapain, hah!" Arga berusaha mendekat. Dia takut Syahdu langsung melompat kebawah.
Gadis itu menatap Arga dengan sayu. Ujung hidungnya juga sudah memerah karena lelah menangis.
"Syahdu, turun, ya. Kita bisa cari jalan keluarnya. Kita..." Arga sampai tak tahu harus mengatakan apa. Dia tak pandai membujuk.
"Syahdu, tolong jangan lakuin itu. Please.."
Syahdu menoleh kebelakang, tepat dimana Arga berdiri menatapnya. "Kasih alasan kenapa aku harus bertahan hidup!"
Arga termangu. Dia tidak bisa kehilangan Syahdu. Dia tidak mau gadis itu mati.
"Syahdu. Aku tahu ini kedengaran aneh tapi... a-ku.. membutuhkanmu."
Syahdu tak bergerak. Dia terus menatap kebawah. Perkataan Arga bisa ia sangkal, karena Arga hanya membutuhkannya untuk dilayani.
"Aku.. sayang sama kamu. Kamu ingat, kan, waktu kita di rumah oma. Kamu mau berteman. Jadi teman apapun. Aku udah ngerasa nyaman dan beneran membutuhkanmu. Aku..." Arga mengigit bibirnya. Dia hampir mengutarakan perasaannya disaat yang tidak tepat. Lalu mau bilang apa lagi?? Sementara Syahdu tak juga tergerak diatas sana.
"Syahdu, tadi pagi.. kamu bilang kalau kamu sayang samaku, kan. Kamu bilang kalau kamu senang aku akhirnya akan menikah."
__ADS_1
Syahdu menoleh lagi kebelakang, menatap Arga yang sudah dibawahnya.
"Katanya, kamu mau liat aku tunangan. Katanya, kamu senang kalau aku nikah. Kamu.. apa ga mau liat teman kamu ini tunangan?"
Arga yang tak tahu mau bilang apa itu, akhirnya mengatakan kata yang mungkin suatu hari akan dia sesali. Tapi, kali ini dia tak memikirkan itu. Yang penting, Syahdu mau mendengarkannya.
"Banyak yang sayang sama kamu, Syahdu. Kamu ingat, Wicak juga sangat menyayangimu, kan. Kamu masih ada dia."
"Justru dia juga yang buat aku mau mengakhiri hidup." Sentak gadis itu.
"Hah. Ke-kenapa.."
"Aku udah ga punya harga diri." Syahdu menunduk, dia menangis lagi. "Kalau dia tau aku udah ga punya kehormatan, dia juga pasti akan tinggalin aku." Jeritnya pada Arga, sementara lelaki itu hanya mematung. Menyebut nama Wicak malah membuat Syahdu semakin menangis.
Arga maju satu langkah. Tangannya mengulur keatas supaya Syahdu mau ikut bersamanya.
"Masih banyak orang yang menyayangimu, Syahdu. Apa kamu bisa bayangin, gimana perasaan nenek melihatmu seperti ini."
Syahdu mendadak diam, menghentikan tangisnya.
"Nenek pasti ga mau kamu sedih. Dia mau kamu tersenyum dan melanjutkan masa depan. Kamu masih bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Anak-anak di lampu merah yang pernah kamu tolong. Mereka juga punya harapan untuk bertahan hidup, mereka nggak nyerah gitu aja, kan?"
Syahdu menghapus air matanya.
"Pegang tanganku, Syahdu. Dengarkan aku."
Syahdu menatapnya.
Melihat keinginan kuat Arga untuk membuatnya tetap hidup, Syahdu pun perlahan menyentuhkan jarinya ke tangan Arga yang terulur. Dengan cepat lelaki itu menarik dan menggendong Syahdu turun.
Arga langsung memeluknya, begitu juga Syahdu yang terisak dan tiba-tiba saja menyesali keputusannya. Dia tahu dirinya gegabah dan berpikir pendek. Syahdu menangkup wajahnya di tubuh Arga sampai ia merasa tenang dan kembali untuk mengurus jenazah neneknya.
...🍁...
Syahdu masuk ke dalam ruang jenazah Suriani bersama Arga dibelakangnya. Dilihatnya di dalam ada Julia dan Margareth. Wanita berusia hampir setengah abad itu langsung mendekat dan memeluk Syahdu yang matanya sudah sembab.
"Sabar ya, sayang. Kamu ga sendirian. Masih ada mami dan oma yang akan nemenin kamu."
Syahdu hanya mengangguk dalam pelukannya. Dia tak lagi menangis.
Kini giliran Margareth mendekat dan memeluknya. Margareth tidak mengatakan apa-apa. Dia sudah mendengar penjelasan orang kepercayaannya tentang siapa Syahdu dan apa yang Alex sudah lakukan padanya.
Diujung, Wicak penasaran kenapa Syahdu bisa datang bersama Arga. Juga kedua perempuan yang tampak sangat dekat dengan Syahdu sampai melabeli diri sebagai mami dan omanya. Namun saat ini Wicak memilih tak mempersoalkan itu.
"Apa mau dibawa ke kampung?" Tanya Julia lagi.
Syahdu menggeleng lemah. Dia tak mau lagi menginjak kampungnya itu.
"Disini aja. Kalau bisa, sore ini." Ucap gadis itu dengan sisa suara yang ada.
__ADS_1
"Rumah sakit akan urus semuanya. Kamu tenangin diri aja ya, Syahdu." Margareth mengelus bahu Syahdu.
Syahdu kembali duduk disebelah jasad Suriani. Dia mengelus lengan yang terselimuti kain putih sembari mencoba mengikhlaskan kepergian Suriani. Dia tahu, kematian memang milik yang maha kuasa dan tak bisa diganggu gugat jika Tuhan memintanya kembali. Sekeras apapun Syahdu berjuang, waktu Suriani kembali memang saat ini.
"Udah ga sakit lagi, kan." Ucapnya masih mengelus lengan neneknya. Kini ia berusaha tegar.
"Nenek jangan khawatir. Disini banyak yang sayang sama Syahdu." Dia menarik napas panjang. Lalu tersenyum.
"Syahdu akan jadi anak yang baik, sesuai apa yang nenek selalu bilang. Nenek tenang aja, ya."
Wicak mengelus kepalanya. Dia tahu kekasihnya adalah perempuan kuat. Walau Wicak sendiri sebenarnya tidak sanggup melihat gadis itu merasakan kepedihan seperti sekarang.
Begitu juga Julia. Dia memeluk lengan Margareth melihat Syahdu berduka. Dia bersyukur mamanya itu masih hidup dan sehat sampai sekarang.
...🍁...
Jenazah Suriani dikuburkan. Pemakaman hanya dihadiri oleh keluarga Arga, Wicak, juga Adina dan Ibra. Tak banyak orang sebab mereka orang baru di kota, juga Syahdu yang tak mengabari orang-orang di kampungnya.
Syahdu menebarkan bunga. Sesekali dia menyeka air mata. Perjalanan hidupnya bersama Suriani telah selesai. Suriani sungguh banyak memberikannya pelajaran hidup. Nenek sekaligus ibu itu mendidiknya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang. Sekarang sudah saatnya Syahdu berdiri sendiri.
Setelah semua memeluknya dan pulang, Syahdu terduduk di tanah dengan mengusap nisan, belum sanggup meninggalkan neneknya sendirian disana.
Hanya Wicak yang terus memeluknya. Sementara Arga, lelaki itu berdiri didekat mobilnya, masih memperhatikan Syahdu.
"Ayo, sayang." Julia menepuk lembut bahu Arga yang bahkan tak bergerak.
"Sudah, kamu jangan khawatirin Syahdu. Dia punya laki-laki yang terus ada disampingnya."
Arga menoleh pada ibunya. Walau yang diucapkan benar, tapi hatinya tak terima.
"Mami bisa liat kalau laki-laki itu baik. Dia pasti jagain Syahdu. Kamu jangan ganggu hubungan orang lain. Ya?" Julia sejenak memperhatikan mata Arga yang masih lurus kedepan. Dia merasa kasihan pada putranya. Tapi, dia juga tidak bisa melakukan banyak hal terlebih Arga akan bertunangan dengan Soraya.
Mobil Arga meninggalkan pemakaman, dimana Syahdu dan Wicak masih disana.
Kali ini, gadis itu kembali tersedu-sedu. Ikhlas itu bukanlah sesuatu yang gampang ia jalani. Setiap kali Syahdu memikirkan bagaimana kehidupannya kedepan, dia pasti akan menjerit tatkala Suriani tak ada lagi disisinya.
"Syahdu, aku disini, sayang." Wicak memeluk Syahdu yang terduduk di tanah.
"Masih ada aku. Aku ga akan tinggalin kamu apapun alasannya. Kamu ga sendirian. Aku tetap disampingmu sampai kapanpun. Aku janji."
Mendengar itu, Syahdu kembali tersedu haru. Benarkah apa yang Wicak ucapkan ini? Benarkah dia mau menerima dirinya yang sudah tak lagi suci?
Wicak mengelus lembut pipi Syahdu dengan ibu jarinya, mengusap air mata yang kembali tumpah.
"Aku janji. Aku ga akan ninggalin kamu. Aku.. akan tetap mencintaimu dalam keadaan apapun." Ucapnya lagi saat menyadari sorot mata Syahdu menginginkan penjelasan lagi.
Syahdu berhambur kepelukan Wicak. Satu lagi, Aditya Wicaksana, lelaki yang sejak dulu selalu ada sampai sekarang, mengikrarkan janjinya untuk Syahdu. Gadis itu mendekap erat tubuh Wicak saat menyadari bahwa ia masih punya satu pegangan dan penjaga dalam hidupnya.
TBC
__ADS_1
**Jangan lupa Vote weh. Udah kasih rate belum?
Thank you, Pen🙌**