
Wicak berlari di lorong kampus. Sebelah tangannya menggenggam bucket bunga, dan tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga, menelepon Syahdu yang sejak tadi tak mau mengangkatnya. Hatinya kacau setelah membaca pesan dari Syahdu. Satu hal yang tak Wicak temukan jawabannya adalah Syahdu yang tiba-tiba saja meminta putus.
Wicak berkali-kali menelepon tetapi tak ada jawaban. Bahkan Syahdu tak memberitahu dengan jelas apa apa alasannya, kenapa dia meminta putus secara tiba-tiba padahal hubungan mereka sangat baik-baik saja. Sungguh, Wicak berharap kejadian ini hanyalah jebakan Syahdu saja. Dia akan merasa lebih baik jika ini hanya leluconan Syahdu.
Wicak berdiri di depan kampusnya. Dia tidak tahu harus kemana karena gadis itu sangat jarang ke rumah yang ia kontrak waktu itu. Akhirnya Wicak memilih rumah sakit. Siapa tahu Syahdu ada disana. Lelaki itupun berlari ke arah dimana sepeda motornya terparkir.
"Wicaak. Mau kemana? Nggak masuk kelas??" Teriak Cintya padanya. Lelaki itu hanya melihat sekilas dan berlari saja.
"Lho, kenapa dia?" Tanya Imel.
"Nggak tau, buru-buru gitu. Apa ada sesuatu, ya? Bolos dia? Tumben."
Wicak benar-benar tak menghiraukan kedua orang itu. Pusat pikirannya hanya Syahdu. Bagaimana pun yang utama adalah bertemu dan menanyakan apa yang terjadi pada Syahdu.
Sambil mengendarai motornya, Wicak berpikir keras. Gadis itu tidak pernah mengucapkan kata putus sekalipun dalam 7 tahun hubungan mereka. Jika kali ini Syahdu memutuskannya, artinya ada sesuatu yang Syahdu tidak sukai dalam dirinya. Atau selama ini Syahdu menahankan sesuatu yang sebenarnya ia tak sukai dari Wicak, dan akhirnya Syahdu menyerah hingga memutuskan hubungan dengan dirinya.
Berkali-kali Wicak menggelengkan kepalanya, mencari kemungkinan alasan yang membuat Syahdu minta pisah darinya. Walau dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Wicak yakin kesalahan pasti ada dari dirinya.
Wicak sudah sampai di rumah sakit. Dia bergegas menuju kamar nenek Syahdu. Tetapi tidak ada Syahdu disana. Yang ada, nenek tengah makan disulangi oleh suster.
"Wicak, Syahdunya baru aja pulang."
"Pu-pulang?" Kaki Wicak ingin langsung berlari lagi, tapi tertahan karena nenek Syahdu masih melihatinya dari atas brankar.
"Iya. Baru aja. Mau jemput Syahdu, kan? Paling juga masih di depan."
Wicak terenyuh, ucapan nenek Syahdu menandakan gadis itu belum cerita apa-apa pada neneknya.
"Kalau gitu, Wicak langsung susul Syahdu aja." Ucap Nenek.
"Ah, iya Nek, Wicak pamit, Nek." Lelaki itu sedikit menunduk memberi hormat, dan langsung berlari ke arah lobi rumah sakit. Padahal dia dari tempat yang sama kenapa tidak bertemu Syahdu? Batinnya.
Wicak mencari-cari Syahdu di lobi, juga di arah jalan keluar namun tak kelihatan juga. Lama Wicak mencari, sampai akhirnya dia memutuskan untuk duduk di halte depan rumah sakit.
Wicak menyandarkan kepalanya, menatap langit yang perlahan berubah menggelap. Di pikirannya penuh wajah Syahdu. Dia berusaha keras mengingat kesalahannya, namun ia terus gagal.
"Seandainya kamu katakan aja apa salahku. Demi Tuhan aku akan memperbaikinya asal kau tetap bersamaku, Syahdu." Lirihnya di tengah kebisingan kota. Wicak menahan air matanya. Bukan saatnya untuk menangis karena dia harus berusaha lagi mencari Syahdu.
Tapi kemana? Selama ini gadis itu selalu meminta antar dan jemput di lokasi yang berbeda-beda. Wicak memilih kembali ke kampus mencari teman Syahdu yang barangkali tahu dimana gadis itu biasanya berada.
__ADS_1
...🍁...
Di satu sudut ruang, Syahdu duduk sendirian. Ramai dan bisingnya tempat itu tak membuat dirinya melupakan kesedihan. Dia kira datang ke tempat seperti ini akan membuat suasana hatinya membaik. Nyatanya tidak sama sekali.
Awan datang setengah berlari. Dia terkejut saat Syahdu menyuruhnya datang ke sebuah club di tengah kota. Dia sampai berpikir keras kenapa Syahdu nyasar kesana. Apa abis dihipnotis? Pikirnya.
"Syahdu. Astaganaga. " Awan duduk disebelah gadis yang saat ini memutarkan jarinya di ujung gelas berisikan bir.
"Hei, sadar, hei." Awan mengguncang-guncangkan bahu Syahdu.
"Is! Apa, sih!" Protes gadis itu.
"Masih sadar, kan? Aaah, syukurlah." Awan menarik bir di tangan Syahdu, menjauhkan supaya gadis itu tak menenggaknya.
"Kenapa minum-minum gini, sih? Kenapa lu? Nggak lagi nge-prank gue, kan? Yang ulang tahun kan elu." Tukas Awan lagi.
"Katanya kalau minum bisa ngilangin stres kan, Wan? Aku udah coba, bukan ilangin stres yang ada kepalaku pusing." Ucap gadis itu dengan suara parau.
Awan memperhatikan Syahdu yang perlahan meneteskan air mata. Namun dia cepat-cepat menghapusnya lagi.
"Du, lu kenapa? Ada masalah ya, sama Wicak? Tapi kayaknya bukan itu. Soalnya Wicak datang ke kelas bawa bunga. Tapi lu malah ngga dateng."
"Putus? Nggak salah?"
Syahdu menggelengkan kepala. Dia memang terlihat sangat menyedihkan sekarang. Tapi alasan itu nampak tak masuk akal bagi Awan. Sebab dalam kurun waktu 7 tahun, rasa-rasanya Awan tak pernah mendengar mereka putus.
"Tapi kenapa? Dia selingkuh?" Awan malah tidak percaya dengan pertanyaannya sendiri.
Syahdu menggelengkan kepala lagi. Dia menatap Awan disebelahnya. "Aku.. aku nggak pantes buat dia."
Awan mengerutkan alisnya. Dia tak paham, tapi lebih memilih menenangkan saja perempuan di sampingnya.
"Udah, jangan sedih. Aku antar pulang, yok. Tempat kayak gini nggak bagus tau, Du."
Syahdu menggeleng lagi. Dia meraih gelas yang berada di dekat Awan, tapi laki-laki itu semakin menjauhkan gelasnya.
"Kemarikan itu.." rengek Syahdu.
"Sejak kapan sih, ngerti minum kayak gini. Aku pesankan es teh aja, ya?"
__ADS_1
Syahdu malah mengenggak bir langsung dari botolnya, membuat Awan kaget dan langsung menarik botol itu dari mulutnya.
"Hoi, hoi, hoi. Ya ampun.. anak ini!"
Syahdu meletakkan kepalanya di atas meja. Dia menangis dengan bahu yang terguncang.
"Aduh, ini gimana ceritanya." Ucap Awan sambil menggaruk kepalanya.
Dia menepuk-nepuk punggung Syahdu. Dia tak paham cara menenangkan perempuan itu, tapi dia tetap akan menemaninya saja dari pada Syahdu melakukan hal yang tidak-tidak.
"Du, udah dong."
Syahdu belum juga menghentikan tangisnya. Dia semakin terisak disana. Untung saja musik kencang tak membuat suara Syahdu terdengar di tempat itu.
~
Syahdu duduk di bangku tepi jalan. Bekas air masih nampak di matanya. Tapi dia sudah lebih baik, walau sebenarnya angin malam membuatnya semakin terasa menyedihkan.
Syahdu mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Arga menelepon, dan pesan menumpuk dari Wicak belum ia baca.
"Ya?"
'Lo dimana?'
Syahdu tak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang. Satu permasalahan saja belum tuntas dan lelaki ini.. apakah dia menyuruh datang untuk meminta dilayani?
"Aku diluar."
'Dimana? Biar gue jemput.'
"Ngga usah. Aku pulang sendiri. Bentar lagi balik."
'Ya udah kalau gitu.'
Syahdu menutup telepon dan membuka pesan dari Wicak. Dia membacanya satu persatu. Panggilan dari Wicak juga ia lewatkan. Laki-laki itu pasti nggak terima dengan keputusan Syahdu yang tiba-tiba.
Biarlah. Ini hanya baru terjadi dan Wicak belum terbiasa. Nantinya dia akan perlahan menerima dan mereka sudah bisa hidup dengan jalan yang terpisah.
"Jangan melamun. Nih." Awan duduk dan menyerahkan air mineral pada Syahdu. Gadis itu menerimanya dan terus memandang kosong ke depan.
__ADS_1