SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Gosip yang Beredar


__ADS_3

Syahdu berjalan cepat saat ia menyadari, bahwa ia sudah terlambat lima menit. Yang masuk hari ini adalah pak Mawardi. Dosen yang sangat disiplin soal waktu.


Benar saja, dosen setengah abad itu sudah duduk di tempatnya.


Semua mata kini menatap Syahdu. Entah kenapa justru terasa canggung dan tidak biasa.


"Permisi, pak. Maaf, saya terlambat." Ucap Syahdu dengan sopan, supaya pak Mawardi mau menerimanya masuk.


Lelaki tua itu melirik jam di tangannya, lalu mengangguk tanda mengizinkan Syahdu masuk.


Ya, baru lima menit, itu adalah kompensasi waktu yang diberikan olehnya.


Syahdu duduk di bangku kosong sebelah Adina.


"Hah. Capek banget, aku lari-lari karena telat." Oceh Syahdu pada Adina. Perempuan itu hanya diam dan menatap Syahdu dengan iba.


"Ada apa?" Syahdu menyentuh wajahnya. "Ada yang salah, ya?" Tanyanya lagi, kemudian mengeluarkan cermin kecil dari tasnya. Mencari apa yang salah sampai membuat Adina menatapnya seperti tadi.


"Ngga ada apa-apa, kok." Syahdu memasukkan cermin itu kedalam tas setelah menyadari tak ada yang salah dari wajahnya. Ia lalu membuka buku, tak lagi memperdulikan Adina yang masih menatapnya.


Adina sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan. Dia membiarkan dulu Syahdu fokus pada pelajaran saat ini.


~


Hujan diluar sangat lebat. Kelas juga sudah selesai, namun aktifitas terhambat lantaran tak ada satupun yang sepertinya membawa payung, karena tadi matahari pagi sangat terik.


Syahdu memasukkan buku-bukunya kedalam tas. Sebagian orang mulai keluar kelas, sebagian lagi memilih menetap di dalam sambil menunggu hujan reda.


"Din, kamu bawa payung?" Tanya Syahdu.


Adina mengangguk lambat.


"Mau pulang duluan? Aku ngga apapa, kok."


"Eng.. gue nunggu reda aja."


Syahdu tersenyum karena akhirnya dia punya teman.


"Oh, ya. Tugas kemarin gimana, Din?"


"Udah, kok. Tinggal punya Alika sama Naya." Jawab gadis itu pelan.


Syahdu menghampiri Naya dan Alika yang duduk tak jauh darinya.


"Nay, laporannya kalo udah selesai, serahin ke aku, ya. Soalnya aku yang-"


Naya langsung berdiri dan pergi begitu saja dengan menenteng tasnya. Tentu hal itu membuat Syahdu bingung.


"Nanti kita kirim ke email lo ya, Ras." Alika menyilangkan tas ke bahu. Dia berdiri.


"Al, Naya kenapa? Sakit, ya?" Tanya Syahdu.


Alika tampak bingung. Dia menoleh kearah pintu dan Naya sudah tidak nampak.


"Iya. Lagi.. badmood parah."


Syahdu mengangguk-angguk. "Oke, deh. Nanti kamu bilang ke dia, kirim aja ke email-ku, ya." Ujarnya kemudian berjalan menuju bangkunya.


"Ras.."


"Iya?"


Alika diam sejenak. Dia tahu kalau Syahdu belum menyadari siapa yang menjadi bahan gosip hari ini.


Apalagi Naya tadi bercerita, saat dia curhat pada sang kakak tentang cowok yang dia sukai ternyata menyukai orang lain, kakaknya mengaku mengenal Arga saat Naya menujukkan foto mereka diatas bukit.


"Dia, kan, yang namanya Arga?"

__ADS_1


"Kakak kenal?"


"Kenal, lah. Inikan temen Arvian. Kemarin juga ketemu waktu kita ke kliniknya."


"Kakak ketemu dia juga?"


"Iya. Dia sama cewek ini. Baru keluar dari ruangan Arvian." Kakak Naya menunjuk foto Syahdu.


Tentu hal itu mengagetkan, Naya. Arga dan Syahdu ternyata ke klinik Arvian? Mau apa mereka? Pantes saja Arga menolak saat ia ajak pergi jalan-jalan. Ternyata ada Syahdu disana. Walau kakak Naya bilang, bahwa Arga dan Syahdu datang hanya mengobrol, tapi Naya tak percaya. Bisa saja mereka datang untuk cek kandungan atau semacamnya. Apalagi ia sudah mendengar cerita masuk akal Awan, juga apa yang ia saksikan kemarin secara langsung.


"Al?" Syahdu menyadarkan Alika dari lamunannya.


Alika menggeleng pelan. Tidak, semua berita itu hanya gosip dan belum ada yang pasti kecuali soal ibunya Syahdu.


"Gue.. balik dulu. Lo.. hati-hati, ya."


"Kamu juga, Al. Hati-hati, ya." Syahdu melambai kecil pada Alika sambil tersenyum manis.


Alika merasa bahwa Syahdu adalah perempuan yang berhati baik. Tapi, dia juga tak paham dengan apa yang terjadi saat ini. Intinya, mulai hari ini, Syahdu akan kehilangan hari cerianya, dan bisa saja berdampak pada masa depannya. Alika pun berjalan menunduk menuju pintu.


Adina yang melihat itu di bangkunya, hanya menghela napas. Dia tak sangka, berita seperti ini tersebar dengan cepat. Apalagi Syahdu sudah dikenali karena tadi malam gadis itu menyanyi dengan sangat baik, tentu membuat orang-orang tahu siapa yang menjadi bahan gosip hari ini. Entah bagaimana Syahdu menghadapinya, Adina merasa kasihan pada temannya itu.


"Eh, Arga ngga datang, ya?" Syahdu baru menyadari sesuatu saat matanya tak menangkap Arga di kelas.


"Tadi dia dateng. Trus pergi lagi."


"Kemana?"


Adina menggeleng pelan. "Ngga tahu."


Syahdu melirik jam di tangannya. Sudah siang, dia harus kembali ke rumah sakit dulu sebelum ke kosan Wicak.


"Din, kita keluar aja, yuk. Kayaknya aku harus nerobos hujan." Syahdu berdiri sambil menyandang tasnya.


"Duluan, aja."


Syahdu berjalan cepat melewati orang-orang yang berdiri di koridor. Semua orang itu terjebak hujan, tapi mendapati Syahdu berjalan, membuat mereka saling berbisik.


"Yang itu, bukan?"


Bisikan itu terdengar di telinganya sesaat setelah ia melihat tangan orang itu menujuk ke arahnya.


"Iya, dia."


Syahdu merasa, banyak pasang mata yang menatapnya itu pasti membicarakan soal kasus pelecehan tadi malam yang menimpanya. Ya, kasus itu memang tersebar juga. Apalagi yang melecehkan Syahdu langsung mengundurkan diri malam itu juga setelah mendapat ancaman dari teman-teman Wicak.


Syahdu berhenti diujung koridor. Hujan masih sangat deras, bagaimana caranya ia kabur? Tidak bisa. Dia pasti sangat basah nantinya.


Tiba-tiba Syahdu teringat Arga. Dia langsung membuka ponsel dan mendapati banyak pesan dari Arga.


Kening Syahdu berkerut. Ada apa? Kenapa Arga memintanya untuk tidak ke kampus? Apa ada sesuatu?


Syahdu membalas pesannya, tapi Arga tak membaca pesan itu. Agak aneh, sebab biasanya lelaki itu langsung membalas pesan dengan cepat. Ada apa, ya? Pikirannya mulai menjelajah.



~


Dua jam yang lalu....


Arga turun dari mobil. Hari ini dia datang satu jam lebih awal karena ingin menemui Syahdu. Tadi pagi, lagi-lagi Margareth memaksanya untuk membawa Syahdu datang ke rumah. Itu sebabnya dia ingin membujuk Syahdu lagi, supaya ia mau mengunjungi sang oma.


"Yang namanya Syahdu, bukan?"


Langkah Arga tertahan. Dia memastikan pendengarannya, apakah itu tidak salah, tiga perempuan di koridor tengah menyebut nama Syahdu.


"Iya. Yang tadi malam nyanyi."

__ADS_1


"Gue inget wajahnya."


"Cakep sih, tapi sayang, anak pelacur."


"Gue jadi ga yakin kalo tadi malem dia diperkosa."


"Sama. Apa jangan-jangan dia ngejebak kakak kelas, ya? Soalnya kakak kelas itu juga ngga ngaku, kan?"


"Jahat banget ga, sih, kalo emang dia ngefitnah gitu."


"Ngga heran, nyokapnya aja pelacur!"


Arga mengeraskan rahang, ingin menghajar tiga perempuan itu. Tetapi ia segera sadar, saat yang lebih penting adalah, bagaimana orang-orang itu tahu soal Syahdu.


"Arga!"


Adina memanggil, dia datang bersama Ibra dibelakangnya.


"Ga, lo liat Laras, nggak?" Tanya Adina. Tampaknya dia sudah mendengar gosip itu.


Arga menggelengkan kepala. Sebab dia juga ingin menemui gadis itu.


"Ah.. gimana, nih?" Wajah panik Adina jelas membuat Arga khawatir.


"Ada apa?" Tanya Arga. Ingin penjelasan langsung.


"I-ini.. ini ada gosip."


"Gosip apa?" Tanya Arga lagi.


Adina menggaruk keningnya. Dia tampak bingung.


"Laras, dia anak pelacur. Itu kan, gosipnya?"


Semua menoleh pada Naya yang tiba-tiba datang sambil bersedekap. Sementara Alika berdiri dibelakangnya.


Arga diam. Wajahnya pun tak terlihat terkejut padahal Naya memperhatikannya. Dan melihat reaksi itu, membuat Naya yakin kalau Argapun sudah tahu.


"Siapa sih, yang nyebarin gosip ini? Gila banget!" Tukas Adina.


"Gue rasa, itu bukan gosip. Mungkin aja kenyataan." Sambung Naya lagi.


"Nay, lo ngomong apa, sih!" Sentak Ibra. Namun Naya hanya angkat bahu, kemudian berjalan menuju kelas diikuti Alika dari belakangnya.


"Aduh, gimana, dong. Kasian banget, Laras."


Arga memikirkan satu nama yang ia yakin, darinyalah gosip ini beredar.


"Eh, Ga. Mau kemana??!"


Teriakan Dina tak membuat Arga berhenti. Dia berlari kencang menuju mobilnya untuk menemui orang itu.


~


Syahdu menyimpan ponsel. Tangannya mengulur, menampung air hujan yang jatuh. Dia menatap hujan. Dingin, dan suasana hatinya berubah sendu karena teringat dengan apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini. Dia merasa rapuh, saat merasa bahwa selama ini dirinya telah menghitamkan masa depannya sendiri.


Namun sayang sekali, dia tak bisa menghapus tinta hitam yang sudah ia coretkan ke lembaran putihnya. Yang bisa ia lakukan adalah pasrah, jika suatu hari, dirinya harus menerima hinaan karena sudah menjual diri, yang orang anggap karena uang. Tanpa orang-orang itu peduli, bagaimana kehidupan ini sangat berat dan tak sanggup ia pikul sendiri.


Syahdu melamun, sampai tak sadar lengan bajunya pun mulai basah karena air yang ia tampung sendiri.


Sementara di tempat lain. Arga berdiri ditengah hujan. Dadanya naik turun. Matanya mentap kebawah dengan berang. Tangan Arga mengepal, lalu ujungnya mengalirkan darah yang bercampur dengan air hujan.


Sementara diantara kedua kaki Arga, Awan, sudah terkapar dengan banyak luka di wajahnya. Dia hampir tak bergerak. Hanya matanya yang terlihat berusaha terbuka, namun derasnya air hujan membuatnya kesulitan.


Dibalik gedung besar, air hujan bercampur darah mengalir masuk kedalam selokan. Sementara keduanya masih diam di tempat, sampai Arga menyadari bahwa dia sudah selesai. Yang ia lakukan saat ini adalah bentuk pembalasan, walau ia tahu itu tak bisa menarik gosip yang telah beredar.


TBC

__ADS_1


__ADS_2