SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Meminta Restu Margareth


__ADS_3

Arga mengendarai mobil bersama Syahdu disebelahnya. Sejak tadi senyuman tak lepas dari bibirnya. Memberi kabar gembira pada sang Oma, tentu ia tak sabar. Apalagi Margareth tak pernah lagi mengungkit soal pernikahan sejak kejadian 7 tahun lalu. Arga tahu, walau begitu jauh di dalam lubuk hati Margareth, ia ingin melihat cucunya menikah.


"Senyum terus.." Syahdu memperhatikan itu. Dia juga ikut tersenyum melihat goresan kebahagiaan yang terlihat di wajah Arga.


Ketahuan, Arga malah tertawa. "Aku seneng banget. Ngga ngerti lagi gimana cara jelasinnya."


Tentu Syahdu juga merasa bahagia. Ia terus mengelus bulu lembut Popi yang ia pangku. Mereka berencana membawa Popi karena kedepannya nampaknya akan sibuk berdua.


Arga tergerak untuk menelepon sang mami. Jangan sampai maminya itu tahu belakangan, bisa-bisa kuping Arga panas mendengar omelannya.


Lelaki itu menempelkan ponselnya ke telinga dengan pandangan tetap kedepan. Lama ia menunggu sampai Julia mengangkatnya.


"Mami.."


Syahdu menoleh, ternyata Arga tengah menghubungi ibunya.


'Heii. I'm surprised you calling me. Mami pikir udah lupa sama ibu sendiri.'


Arga tertawa renyah. Belum apa-apa saja maminya itu sudah mengomel lantaran ia memang sangat jarang menghubungi Julia.


'How are you doing, honey. Ada sesuatu ya sampe ngubungi mami.'


"I'm great." Jawabnya sembari tersenyum pada Syahdu. "Ya, ada sesuatu."


'Ada apa, sayang? Mami ga liat ada berita aneh-aneh soal kamu.'


"Memang. Karena berita ini baru mami yang akan tahu."


'Hmm.. Mami jadi curiga. Kamu gak ngelakuin yang aneh-aneh, kan?!' Tanya Julia penuh selidik. Dan lagi, Arga tertawa.


'Kok ketawa gitu, sih. Mami kan, jadi penasaran. Memangnya berita apa, sih, sampe jadiin mami orang pertama yang harus denger.'


"Arga akan bilang, tapi mami janji jangan kaget, ya?"


'Ck. Apa, sih..' Julia sudah sangat penasaran disana.


"Emm.. Arga akan menikah, Mi."


'WHAAATTT?? ARE YOU KIDDING ME?'


Arga menahan tawanya mendengar keterkejutan sang Mami mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Arga serius."


Hening diseberang membuat alis Arga berkerut. "Mami? Are you there?"


Tak ada sahutan, sampai sambungan telepon terputus tiba-tiba. Arga terheran, ada apa sampai maminya itu terdiam diseberang sana?


"Mami kamu pasti kaget. Kamu ga pernah ngubungin, sekalinya ngubungin malah ngabarin nikah."


Arga hanya tertawa. Benar juga. Maminya disana pasti tengah menelepon Oma untuk menanyakan masalah itu.


"Aku juga kaget, kenapa semuanya bisa berubah kaya gini." Arga meraih jari Syahdu lalu menggenggamnya. Matanya sesekali melirik gadis itu. "Semua ini karena kamu. Makasih ya, sayang."


Syahdu tersenyum mendengar itu. Dia juga beruntung saat ini, keputusannya menemui Arga ternyata bukan sebuah kesalahan. Syukurlah.


"Emm.. Ga."


"Iya?" Lirik Arga sekilas.


"Boleh, ngga.. setelah pulang dari rumah oma, kita.. ke makam nenek dan.. Ka Wicak." Tanya Syahdu dengan hati-hati, khawatir Arga tidak mengizinkannya.


"Oh, tentu, sayang. Nanti kita singgah kesana, ya." Jawab Arga cepat.


...~...


Margareth tengah duduk di taman depan. Bibirnya langsung tersenyum melihat mobil yang sangat ia kenali pemiliknya.


Ia semakin senang melihat Arga turun bersama Syahdu dan Popi. Nampaknya hubungan dua orang itu semakin dekat. Tentu Margareth sangat mendukung itu.


"Kalian tidak bilang kalau mau datang." Margareth memutar roda kursinya untuk mendekat. Wajahnya sangat cerah penuh senyum.


"Iya, Oma. Ada yang mau kami bicarain." Ujar Arga pada Margareth.


"Wah, sampe datang segala. Berarti berita penting, nih."


"Banget, Oma." Sahut Arga.


Margareth mengajak mereka masuk. Arga yang mendorong kursi roda wanita itu.


"Eh, itu kak Argaa." Teriak Shania yang duduk di sofa dengan ponsel di depan wajahnya. Dia tengah bervideo call dengan sang ayah.


"Dad, do you wanna say something to Arga. He's here!" Ucapnya bersemangat pada sang ayah. Shania berlari kecil menghampiri Arga dan Syahdu yang mendekat.

__ADS_1


"I have to work, honey. I will call you again, ok? I will send you new coloring books. Bye.."


"Yaah.." Shania lemas saat sang ayah memutuskan sambungan video padahal dia sudah sampai di depan Arga.


Syahdu menatap kekasihnya yang masih diam. Nampaknya gadis kecil itu memang tidak tahu apa-apa soal kakaknya dan sang ayah.


"Daddy's always like this. He never wanna talk to you." Katanya pada Arga yang hanya terkekeh.


"Kami sering ngobrol, kok." Ucap Arga berbohong. "Kamu kok ga sekolah?"


"Hah? Hari ini tanggal merah, tau." Shania berjalan menuju kearah Popi yang sejak tadi sudah naik keatas sofa.


"Kita ke taman belakang aja ya, biar nyaman." Ujar Margareth. Arga pun mendorong kembali kursi roda neneknya menuju taman belakang. Tak lupa Margareth meminta pelayannya menyiapkan minuman untuk Syahdu dan Arga.


"Mau bicarain apa, sih." Margareth membuka obrolan setelah Arga dan Syahdu itu duduk di hadapannya.


Sebentar Arga menoleh pada Syahdu, lalu ia tersenyum menunduk. Rasanya sedikit malu mengungkapkan ini pada Margareth. Pasalnya dulu ia dengan tegas menolak yang namanya pernikahan. Jika dia tiba-tiba mengumumkan pernikahan, bukankah ini memalukan?


Margareth melihat Syahdu dan Arga secara bergantian. Ia menunggu mereka membuka suara.


"Emm.. Mami udah ada telpon kesini belum, Oma?" Tanya Arga. Siapa tahu Julia menanyakan keseriusan Arga pada Margareth. Itu artinya Margareth sudah menebaknya. Namun wanita itu malah menggelengkan kepala.


"Enggak. Memang ada apa, sih? Kok Oma jadi penasaran gini." Jawab Margareth penuh rasa ingun tahu.


"Eemm.. gini, Oma. Arga mau bilang kalo Arga dan Syahdu.. akan menikah."


Mata Margareth membulat. Dengan segera ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Tiba-tiba saja air matanya menggenang.


"Be-benarkah..."


Arga berjongkok di depan Margareth dan menggenggam tangan yang keriput itu.


"Iya, Oma. Arga udah mutusin buat menikah dengan Syahdu. Arga mau punya hubungan yang serius dan berumah tangga. Oma setuju, kan?"


"Kamu bicara apa? Oma sangat setuju, tentu Oma senang sekali.." tangannya merentang, dan Arga langsung memeluk Margareth. "Akhirnya.. Oma bahagia mendengarnya, Arga."


"Arga juga senang, Oma." Jawabnya sembari melepaskan pelukan.


Margareth kini menatap Syahdu dengan mata sendu. Sorot itu bersamaan dengan rasa terima kasih yang sangat besar, karena Syahdu sudah mau menerima Arga dan merubah cucunya itu.


"Kemari, nak." Ucapnya, dan Syahdu datang memeluknya. Margareth sampai meneteskan air mata. Dia terharu, perjuangan cucunya luar biasa untuk Syahdu. Dia juga bersyukur karena Syahdu mau kembali dan menjalin ikatan dengan Arga.

__ADS_1


__ADS_2