SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir


__ADS_3

Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat seakan semua tak mungkin menghilang


Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan, tak tersisa lagi waktu bersama...


Mengapa masih ada sisa rasa di dada, disaat kau pergi begitu saja.


Mampukah kubertahan tanpa hadirmu, sayang.


Tuhan, sampaikan rindu untuknya...


*


Arga memindai sidik jarinya di handel pintu, membuat suara muncul dan pintu pun terbuka. Ia disambut girang oleh seekor anjing berbulu putih yang diberi nama Popi.


"Kangen, ya?" Arga tersenyum, dia menggendong anjing kecil yang tubuhnya sudah lebih besar sedikit dari yang terakhir Syahdu tinggal dulu.


Ah, Syahdu...


Setiap kali ke apartemen ini, Arga mengingat semua dengan jelas bagaimana kali pertama Syahdu hadir, juga saat terakhir ia meninggalkan tempat ini. Masih sangat jelas di memori Arga. Namun sekarang apartemen yang dulunya sempat ia hadiahkan pada Syahdu, tak lagi ia tempati. Ia tak ingin harum dan keindahan Syahdu menghilang. Terlebih di kasur itu.


"Kamu rindu dia, nggak?" Tanya Arga pada Popi. Atau jangan-jangan Popi sudah melupakannya? Arga tersenyum getir. Lalu ia meletakkan kembali Popi dan berjalan menuju lemari diikuti anjing kecil itu dari belakang.


Arga membuka lemari. Matanya memindai satu persatu baju yang ada di dalam. Diambilnya dress Syahdu malam itu, yang bagian tengahnya sudah terkoyak karena ulahnya sendiri. Walau baju itu tidak lagi menyimpan aroma parfum Syahdu, tapi dia masih menyukai sisa aroma disana.


"Harumnya.." Arga memejamkan mata saat mencium kain hitam yang aromanya khas di hidung Arga. kenangan malam itu kembali datang dengan jelas di kepalanya. Membuatnya merasa sekujur tubuh yang kini meremang


Sebenarnya Arga datang bukan untuk mengenang Syahdu. Dia ingin membawa Popi. Tapi karena memang tempat inilah kenangan yang paling melekat, sudah pasti ia teringat Syahdu.


"Popi, tau nggak, komentar orang-orang bilang kalau aku sepertinya depresi. Hhh.." Arga tertawa pahit. Hanya karena dia menunggu seseorang di dalam hidupnya, banyak yang menganggapnya berlebihan dan perlu datang ke psikolog.


"Aku sadar apa yang kulakukan sekarang. Ini bukan keinginanku. Tapi perasaanku. Perasaan yang ngga bisa kuatasi yang buat aku kaya gini." Arga kembali mengambil ujung dress, mencium aromanya.


"Aku ngga tau sampe kapan. Tapi.. mungkin ini batas akhirnya. Kalau sampai di tahun ini Syahdu ngga muncul, aku harus menyadarkan perasaanku kalau dia ga memang ngga punya perasaan apa-apa padaku."


Arga menatap Popi yang menggunggung dibawah kakinya. Ekor kecil itu bergoyang-goyang, dan Arga menggendongnya.


"Kau dengar kan, Popi. Kalau sampai dia ngga datang, aku harus berubah. Semua orang bilang gitu. Aku harus berubah untuk masa depanku yang panjang." Arga tanpa sadar meneteskan air mata. Dia pula tersenyum pada Popi yang tampak mengerti perasaannya.


Dia mendekap Popi. Apa yang menjadi trending belakangan ini membuatnya tergerak untuk berubah. Banyak orang yang menyarankannya untuk move on saja. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek dalam menunggu seseorang. Jika selama itu bahkan orangnya tidak pernah muncul, sudah dipastikan dia tidak peduli pada Arga. Dan kenyataan pahit itulah yang membuat Arga bersedih, karena penantian selama itu harus terhenti nantinya.


Arga, laki-laki yang selama ini terlihat kuat dan dingin, ternyata menyimpan luka teramat besar dan harus segera diselamatkan. Mengingat judul Headline itu membuat Arga terkekeh, walau dia tahu, itu memang benar adanya.


...🍁...

__ADS_1


Nani membuka pintu rumah. Dia mencari Syahdu di teras, namun tidak ada. Kemana anak itu? Syahdu tak pernah seperti ini. Nani sangat tahu gadis lembut itu. Dia takkan pergi kemana-mana.


"Bunda, itu kak Syahdu!" Tari menunjuk puncak bukit kecil. Dari kejauhan Tari bisa melihat sebayang hitam diatas bukit tengah duduk sendirian disana, tepat dibawah bulan yang terang.


"Tari, sama Adit disini aja, ya. Bunda mau menyusul kak Syahdu."


"Tari aja, bunda di rumah. Ini dingin, malam-malam juga. Nanti bunda sakit."


"Bunda aja. Kamu masuk, ya."


Nani berjalan keluar. Dia tahu ada yang tak beres dengan Syahdu dua hari ini. Itu pula yang membuat Syahdu ada di bukit malam-malam begini. Nani tahu itu.


Perlahan Nani naik keatas bukit. Dilihatnya Syahdu membelakangi sambil menunduk.


"Syahdu.."


Gadis itu buru-buru menghapus air matanya saat Nani sampai. Namun terlambat, Nani sudah tahu Syahdu menangis.


Nani duduk disebelah Syahdu. Di tangan gadis itu ada sebuah kotak yang dulu Syahdu bawa pertama kali datang kesini.


Nani tak bertanya, dia membiarkan Syahdu tersedu-sedu.


"Bunda.." Suara parau itu membuat Nani ikut bersedih.


Syahdu menyerahkan selembar foto pada Nani. Foto ia dan teman-temannya berada di atas bukit. Tangannya menunjuk kearah satu laki-laki yang berdiri dibelakangnya dan lelaki itu melihat ke arah Syahdu.


"Dia Wicak?" Tanya Nani, dan Syahdu menggeleng pelan.


Syahdu menghapus air matanya. Dia berusaha menenangkan perasaannya sebelum bercerita.


"Ada hal yang nggak pernah Syahdu ceritakan ke bunda."


Nani diam, menunggu Syahdu menyelesaikan kalimatnya.


"Dia Arga, teman tidur kontrak."


Nani mengerutkan dahi. Apa maksud Syahdu, dia tak mengerti.


"Sebelum Syahdu cerita, Syahdu mohon.. jangan hakimi Syahdu, jangan benci sama Syahdu, jangan usir Syahdu dari sini." Pinta gadis itu dengan suara yang hampir tak terdengar. Matanya berharap agar Nani mau menurutinya kali ini saja.


Nani mengangguk. "Kamu udah jadi anak bunda, nak. Bunda ngga mungkin melakukan itu."


Syahdu tahu, itu sebabnya dia berani bercerita masalah yang tak seorangpun tahu.

__ADS_1


Syahdu menghembuskan napas. Dia mengadahkan wajahnya keatas langit hitam, mulai memutar kembali memori tujuh tahun silam.


Arga, dia laki-laki yang muncul dalam hidupnya secara tiba-tiba disaat jalan Syahdu hampir menuju jurang. Arga mengulurkan tangan, membantunya untuk meringankan beban. Tapi malah lelaki itu membawanya nyaris ketepi jurang.


Syahdu menceritakan semuanya pada Nani, semuanya tanpa ia tutup-tutupi. Tentang Arga, Wicak, juga apa hubungan ketiganya. Berkali-kali ia menghapus air mata yang tumpah. Syahdu ingin dia terlepas dari masalahnya yang sekarang. Dia ingin melepaskan beban di dalam hatinya yang sudah lama sekali tersimpan. Dia ingin kembali menjalani hari dengan baik disini. Dia ingin sesak di dadanya hilang. Dia tak ingin lagi kenangan buruk dan masa lalu membuatnya mengutuk kebodohannya lagi.


"Dan anehnya, perasaan campur aduk yang nggak bisa digambarkan ini muncul lagi. Tapi Syahdu ngga tau harus gimana, Bunda.." Syahdu terisak. Dia menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Nani diam sejenak, melihat bahu yang berguncang karena kesedihan. Sebenarnya sejak awal kemunculan Syahdu di desa ini cukup membuat heboh, ditambah bayi laki-laki tiba-tiba hadir dua hari setelah ia berada disini, membuat masyarakat desa sempat berpikir kalau itu anak Syahdu.


Lalu, enam tahun lalu, ada juga berita bahwa Syahdu pergi ke bidan desa untuk melepas alat kontrasepsi di rahimnya. Hal itu tentu membuat Nani mulai mencurigai siapa sosok Syahdu sebenarnya, walau dia tak memikirkan itu terlalu dalam karen ia bisa merasakan Syahdu adalah gadis baik-baik. Setelah itu, Nani lah orang yang terus berusaha menutupi desas-desus kampung tanpa sepengetahuan Syahdu.


Nani pula sering melihat Syahdu menangis diawal-awal kehadirannya. Bahkan tidur gadis itu tidak tenang. Hampir tiap malam Syahdu menangis dalam tidur, tak jarang dia meneteskan air mata saat terlelap. Sampai Nani harus memendam rasa penasarannya supaya Syahdu merasa nyaman berada di rumahnya.


Lalu setelah mendengar ini semua, dia mengerti, dia paham dengan apa yang selama ini terjadi pada gadis itu.


"Syahdu.." Nani mengelus bahu gadis itu.


"Apa kamu ngga sadar, nak, kalau Wicak udah tau kamu suka sama laki-laki lain."


Syahdu mengangkat wajahnya. Jelas ia terkejut dengan penuturan Nani.


"Apa ada tanda-tanda yang buat Wicak berubah semakin menunjukkan cintanya? Semua karena dia sadar, kamu mulai jatuh cinta dengan laki-laki lain. Tapi kamu yang ngga sadar itu."


Syahdu diam menatap wajah Nani, tapi air matanya tak berhenti mengalir. Apa yang dikatakan Nani? Apa benar begitu? Tapi.. Nani benar soal Wicak yang berubah lebih menunjukkan cintanya. Bahkan Wicak sering tiba-tiba memeluknya, memintanya untuk tidak meninggalkannya. Syahdu mengira itu karena Wicak mengetahui sisa hidupnya. Ternyata...


"Sejak kamu sering bersetubuh dan mendapat perhatian Arga, secara tidak sadar kamu menyukai dia, nak. Kamu ngga merasa risih dan benci pada Arga walau kamu tahu dia udah memanfaatkanmu. Iya, kan? Pola itu yang kamu tidak sadari, tapi Wicak menyadarinya."


Syahdu menyimak dengan mata yang sejak tadi tak berkedip. Benarkah yang dikatakan Nani?


"Lalu perasaanmu pada Wicak, itu karena terbiasa. Dalam hatimu sudah terpatri, bahwa laki-laki yang baik dan cocok untuk dijadikan pendamping adalah yang seperti Wicak. Sebab itu yang membuatmu tak menyadari keberadaan Arga dengan jelas."


"Dari itu semua, sebenarnya Wicaklah yang punya perasaan luar biasa. Dia mengorbankan semuanya demi meraihmu. Supaya dia bisa hidup dengan kekasih yang sudah ia cintai sejak dulu. Cintanya yang tertinggi, dia melihatmu seperti melihat diri sendiri karena dia sudah menyatukanmu dalam hidupnya, dalam cintanya. Dia merasa dirimu dan dirinya adalah satu nafas."


Penjelasan Nani membuat Syahdu menahan napas. Dadanya sesak jika teringat Wicak. Apa benar dia mencintai lelaki lain? Padahal sampai sekarang Wicak masih membuatnya sedih.


"Satu lagi, nak. Ingatanmu pada Wicak bukan karena cinta lagi. Tapi karena penyesalan dan rasa bersalah yang sangat besar. Sebab itukan, kamu lari kesini? Desa yang diinginkan Wicak untuk kalian datangi?"


Syahdu terdiam, dia tak bisa menjawab itu karena perasaan bersalah kepada Wicak dan Arga sekarang muncul bersamaan. Dia merasa sangat menyesal atas semua hal yang terjadi. Pada Wicak, atau pun Arga...


TBC


__ADS_1


** Hayoo.. udah Vote kah? Vote sebagai hadiah ultah gw ya🀭😝😝**


__ADS_2