SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Makan malam


__ADS_3

"Guys, makan yuuk. Laper guee.." Naya mendekati cowok-cowok yang baru selesai mendirikan dua tenda.


"Dingin gini emang buat laper. Lagian udah masuk jam makan malam nggak, sih?" Sambungnya lagi. Dia mengambil satu gelas kopi panas dan menyeruputnya perlahan.


"Iya. Gue juga mulai laper. Gue keluarin ya, makanannya." Adina mengambil tasnya saat melihat Ibra mengangguk-angguk setuju.


Kamipun duduk melingkar diatas tanah. Awan duduk disebelah kiriku. Dan entah punya keberanian apa, Arga duduk disebelah kananku.


"Wah, wangi banget, Ras." Seru Naya saat aku membuka kotak bekal.


"Kalau mau, ambil aja." Aku menyodorkan kotak bekal berisikan blackpaper beef pada Naya dan diapun mengambilnya.


"Nih, cobain sambel buatan mbok gue." Adina juga membuka kotak makanannya. Begitu juga Alika.


Kamipun saling bertukar makanan dan aku malah tertarik dengan sambal dari Adina. Dari bentukannya kayanya benar-benar enak.


"Arga, cobain deh. Ini udang sambel. Enak banget." Naya menaruh dua sendok udang sambal di piring Arga dan membuatnya hanya diam menatap udang itu diatas piringnya.


"Selamat makan, semuaa." Ibra menekuk satu kakinya dan mulai menyantap makanan yang diambilnya satu persatu dari setiap kotak bekal kami. Sama halnya dengan Awan, dia pun ikut mencicipi semua makanan.


"Masakan lo, nih?" Tanya Awan dengan mulut yang penuh makanan.


"Iya. Pelan-pelan makannya. Jangan takut direbut. Masih banyak, kok." Ledekku.


"Enak. Makin pinter aja lu masak." Komentarnya setelah berhasil menelan makanan.


"Ya iyalah. Laras mah, spek istri idaman." Sambung Adina dan aku hanya mencebikkan bibir.


"Istri idamannya Wicak doang. Itu juga karena Wicak matanya sipit. Kagak bisa ngelirik cewe lain." Sahut Awan tak terima dengan pujian Adina.


Mendengar itu, aku langsung menarik piring Awan yang baru saja menuangkan lagi lauk ke dalamnya.


"Eeh. Iya, iya. Becanda guee. Yaelah gitu doang merajuk. Aslinya lo emang spek bidadari deh, makanya beruntung tuh, dia dapet elu."


"Halah. Mau makan gratis mah, ngga perlu muji-muji kaya gitu. lebay." Ucapku setengah kesal dan mendapati tawa dari Adina.


"Kalian lucu, deh. Udah akrab banget. Emang dari kecil, ya? Pasti seru, ya. Apa nggak rindu kampung halaman kalau ketemu orang sekampung di kota?"


Ucapan Alika membuatku diam. Rindu apanya. Aku justru tak ingin lagi kembali kesana.

__ADS_1


"Nggaklah. Kita aja emang lari dari sana." Celetuk Awan sambil fokus pada piringnya.


"Lari? Emang kenapa?" tanya Naya mulai penasaran.


Awan berhenti mengunyah, dia melihatku. Sial. Bicara apa kau, hah? Begitulah arti tatapanku padanya.


"Biasa. Dikejar rentenir." Jawab Awan sambil bercanda. Dan tentu saja dapat gelakan dari yang lain.


"Gue kira apaan." Kata mereka disela tawa.


Semua mulai tenang sambil menghabiskan makanan. Kulirik Arga belum menyentuh makanannya. Aku tahu, dia alergi udang. Dia pernah mengatakannya padaku waktu di supermarket hari itu.


"Nay, udang sambelnya masih ada, nggak?" Tanyaku pada Naya.


"Yah, habis, Ras. Ini nih, yang ngabisin!" Naya menunjuk Ibra. Lelaki itu hanya terkikik.


Padahal aku juga tahu, kalau makanan itu sudah habis. Hanya saja aku mau menyelamatkan Arga. Dia juga tidak mau jujur, padahal tinggal bilang alergi udang apa susahnya, sih.


"Ga, sambel udang itu buat aku aja, ya? Lagi pengen banget. Sebagai gantinya aku kasih blackpaper beef, atau chicken fillet aja gimana?"


Arga, seperti biasa, menatap dengan wajah datar ke arahku.


Gimana, sih? Dibantu malah diem aja. Akupun langsung menarik piringnya dan menukarnya dengan piringku yang baru berisikan sambal dan ayam gorengnya Adina.


Aku langsung menyuapkan nasi ke mulut dengan sedikit kaku. Rasanya aku terlalu berani, apalagi di mata anak-anak, hubunganku dengan Arga tidak seakrab itu sampai tukaran piring. Benar-benar memalukanku.


Arga juga mulai mengunyah makanannya. Mendadak suasana hening sampai Awan bersendawa keras, membuat yang lain tertawa.


Setelah selesai makan, aku duduk lagi di tepi bukit. Memandang danau yang tertutup awan. Cuaca mulai semakin dingin. Kulihat yang lain tengah berkeliling dan berfoto, tanpa kusadari Ibra duduk disebelahku dengan memegang kamera DSLR.


"Nggak ikut kesana, Ras?" Tanya Ibra. Dia tengah membidik dengan sebelah matanya.


"Enggak. Setiap ke puncak bukit atau gunung, aku lebih suka duduk sambil menatap pemandangan. Rasanya seluruh beban langsung hilang."


"Bener. Makanya gue kesini mulu. Nggak bosen-bosen gue."


Aku tersenyum menanggapinya.


"Eh, tahan-tahan, Ras." Ibra mengarahkan kameranya padaku.

__ADS_1


"Tahan, senyum kaya tadi, dong." Pintanya, dan aku menuruti.


"Wih, wajah lo cocok jadi sampul majalah motivasi hidup gitu, Ras." Ibra menunjukkan hasilnya. Disana aku tersenyum dengan menahan rambut yang berhembus ke wajahku sambil tersenyum. Bagus, aku suka.


"Ngobrolin apaan kalian?" Adina duduk disebelahku. "Eh, Kita belum punya banyak foto berdua lho, Ras."


"Sini, gue fotoin." Ibra langsung mengarahkan kamera ke arah kami berdua.


"Munduran dong, Ip. Deket banget muka kita, ngga keliatan pemandangannya." Adina mengibas tangannya, menyuruh Ibra menjauh.


Diapun menggeser duduknya dan memotret beberapa kali sampai Adina merasa puas.


"Heeii. Sunset udah mau muncul." Awan duduk di depanku.


"Hati-hati, Wan. Ini tuh, curam. Kepleset dikit langsung nyahok lo." Ucap Adina, dan Awan hanya menjulur lidah, membuat Adina malah kesal padahal dia peduli.


Tak lama, Arga datang dan duduk di belakang Ibra. Mereka mengobrol sebentar. Alika dan Naya pun duduk dibelakangku, tepatnya disebelah Arga.


Tanah yang kami duduki agak menurun, sehingga membuat kami bisa melihat dengan jelas ke arah cahaya temaram yang mulai meredup.


Sunset, kemarin aku melihatnya bersama kak Wicak di pulau itu. Hmm, rindu kan, jadinya.


"Indah banget.."


Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, saat dengan bersamaan awan bergeser dan memperlihatkan danau dengan jelas, juga matahari yang perlahan turun dengan warna oranye. Keindahan yang tentu saja dinikmati semua yang ada diatas puncak.


"Ngga nyesel gue kesini." Sambung Adina.


"Ntar kita kesini lagi, yah." Lanjut Naya.


"Iya. Gue suka banget sama tempat ini." Alika juga menyambut kalimat Naya.


Kami berdiam disana sambil terus menatap matahari yang perlahan tenggelam.


Akupun tenggelam dengan pikiranku, lagi-lagi memikirkan masa depan yang entah bagaimana nantinya. Rasanya tidak ada hal lain yang lebih penting untuk kupikirkan dari sebuah masa depan. Misteri, aku tidak tahu akan seperti apa nantinya. Aku hanya memendam ketakutanku karena harapan besar jika Wicak bisa menerimaku.


~


'My mama don't like you and she likes everyone And I never like to admit that I was wrong'🎶

__ADS_1


Aku bernyanyi diiringi genjrengan gitar dari Awan. Beberapa orang masih ada yang berdatangan, juga terlihat beberapa orang yang tengah mendirikan tenda dengan penerang yang diikat di kepalanya.


Ungtunglah cahaya bulan sangat terang, juga bantuan api yang Awan nyalakan tepat di depan kami. Teman-teman yang lain tengah dengan aktifitas masing-masing, aku tidak tahu. Yang ada disebelahku hanya Adina. Dia juga hanya diam sambil bermain ponsel.


__ADS_2