SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Penjelasan Riska


__ADS_3

Syahdu diantar oleh Wicak menuju rumah sakit. Sepanjang jalan Syahdu tak bicara. Dia hanya memeluk Wicak di dalam taksi online yang dipesannya.


Wicak memakaikan jeket abu-abunya pada Syahdu supaya perempuan itu tidak kedinginan. Dan tentu Syahdu merasa semakin nyaman, apalagi harum Wicak menempel di jeket itu.


Sudah paham, Wicak juga terus mendekapnya, menenangkan Syahdu yang masih sesegukan di dalam pelukannya.


Dia tengah menyesali dirinya sendiri. Jika seandainya ia tak pindah ke kota dan menetap saja di desa, mungkin keadannya takkan begini. Mungkin nenek tidak akan sakit, mungkin dia tak perlu menukarkan keperawanannya, mungkin dia tak sepuruk ini.


Wicak mengusap air mata Syahdu saat mereka sudah memasuki area rumah sakit. Lelaki itu tak mau nenek melihat kesedihan Syahdu. Wanita tua itu tak boleh kepikiran soal apapun mengenai Syahdu.


Wicak merangkulnya berjalan menuju ruangan nenek. Sesampainya disana, nenek masih tidur. Suster yang biasa berjaga pun tidak ada.


"Kamu istirahat, ya." Wicak membantu gadis itu berbaring. Syahdu memiringkan tubuhnya supaya bisa melihat Wicak yang masih duduk di tepi ranjang, setia memegangi tangannya.


"Jangan pikirkan apapun, aku akan urus semuanya. Aku akan bilang kalau berita itu ga bener." Ucapnya sembari mengelus rambut Syahdu. Gadis itu hanya diam, sesekali air mata masih menetes ke pelipisnya.


"Syahdu."


Gadis itu melihat kearahnya.


"Aku harus kerja."


Syahdu mengangguk mengerti. Dia juga akan mencoba beristirahat terlebih dahulu dari semua yang baru saja menimpanya.


Wicak mengecup lama kening Syahdu, lalu mengelus pipi gadis itu.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."


Syahdu mengangguk lagi. Wicak menarik selimut sampai ke bahu gadis itu. Sekali lagi, Wicak mengecup singkat keningnya.


"Aku pergi." Ucapnya lalu keluar dari ruangan.


Syahdu melihat kearah neneknya. Air matanya mengalir lagi. Dia ingin cepat pergi, jika dokter mengizinkan nenek pulang besok, dia akan pergi.


~


Syahdu terbangun saat mendengar getaran ponselnya. Dia mengucek mata, menatap jam dinding yang perlahan bayangannya menjadi jelas. Pukul 19, dia merasa lapar, sejak tadi belum makan.


Sekali lagi, ponselnya bergetar. Beberapa digit nomor terpampang di layar ponselnya. Entah nomor siapa, Syahdu mengangkatnya.


'Syahdu?'


Gadis itu diam, mencoba mengenali suara diseberang yang berisik.


'Syahdu, ini gue, Riska.'


Ah, Riska. Tiba-tiba saja Syahdu ingin bicara pada gadis itu.


'Syahdu, bisa ketemu? Ada hal penting yang mau gue omongin.'


Syahdu mengangguk seolah Riska bisa melihatnya. "Iya. Kamu dimana?"


'Gue di Adrenaline. Lo tau kan, tempatnya. Kalo ga tau, lo naik taksi aja. Trus... ini..' Riska menghentikan kalimatnya sejenak.


'Awan, dia disini. Dia.. mabuk. Cepat kesini, gue tunggu!'


Riska menutup panggilan. Syahdu masih kebingungan. Apa yang Riska lakukan bersama Awan, bukankah hubungan mereka memburuk?


Syahdu langsung menyingkap selimut dan mengantongi beberapa lembar uang juga ponselnya. Dirapatkannya jeket Wicak yang sejak tadi ia pakai.


Syahdu menatap neneknya sebentar. Lalu keluar saat memastikan sang nenek pulas.


Syahdu tidak tahu tempat macam apa Adrenaline itu. Tapi nampaknya bukan tempat yang baik untuk dikunjungi. Apalagi Riska bilang Awan mabuk disana.


Syahdu keluar saat taksi berhenti. Dia menatap tempat yang nampak gelap diluar.

__ADS_1


Dia tak yakin apa benar ini Adrenaline? Untuk memastikannya, Syahdu masuk ke dalam.


Dia beberapa kali tersentak saat bahunya bersenggolan dengan orang yang berlalu lalang karena lorong yang kecil.


Syahdu diam saat sudah memasuki ruangan lebar. Suara dentuman terdengar berisik, perempuan-perempuan berpakaian sangat mini, lampu kerlap-kerlip membuat matanya menyipit, mencari sosok Riska disana.


Mata Syahdu terbuka lebar saat mendapati beberapa perempuan yang hampir telanjang menari-nari diatas stage. Juga banyaknya orang yang menari dibawahnya, baik laki-laki dan perempuan.


Syahdu nampaknya menjadi satu-satunya perempuan yang memakai baju sopan disana. Dia mulai tak betah, dan berusaha mencari Riska.


Seorang perempuan melambaikan tangan kearahnya. Syahdu memastikan lagi lewat lampu yang membuatnya mau tak mau menajamkan mata. Setelah yakin itu Riska, Syahdu mendatanginya.


"Syahdu!" Riska sedikit berteriak, menyaingi suara dentuman musik.


"Awan mabuk!"


Syahdu mengguncangkan tubuh Awan, namun lelaki itu tak merespon.


"Ikut gue bentaar!" Teriaknya lalu menarik tangan Syahdu.


Di tempat yang Syahdu lewati bersama Riska, Arvian menatapnya. Matanya mengikuti kemana Syahdu pergi sampai ia tak bisa lagi melihatnya.


"Awas lepas mata lo!" Pekik Rio, lalu terbahak-bahak melihat Arvian.


"Gayaan doang lo, gak mau ngelirik cewe. Liat yang bening langsung oleng." Sahut yang lain.


"Gue aduin Melva lo, ya!" Mereka menertawakan Arvian. Dia tak memperdulikannya. Arvian membuka ponsel lalu mengirimi pesan kepada Arga.


Setelah dirasa cukup sepi dan tak begitu berisik, Riska mulai berbicara.


"Gue minta maaf, Du, soal Awan."


"Apa kamu yang bilang, Ris?"


Riska mengangguk lambat, dia tertunduk. "Sorry, gue ngga maksud buat ngasi tau, tapi gue kalap. Gue kaget pas dia tahu hubungan gue sama bokapnya."


"Lo ada hubungan sama bokap gue?"


Riska terbelalak lalu menggeleng cepat. "Lo ngomong apa, sih?"


"Gue tanya sekali lagi, lo ada hubungan sama bokap gue, kan! Gue tau, lo nggak perlu bohong!" Bentak Awan padanya.


Riska tak langsung menjawab. Dia malah menangis. "Pasti Syahdu kan, yang bilang." Ucapnya sambil terisak. "Syahdu kan, yang ngasih tau!"


Awan malah terdiam. Matanya menatap Riska yang menghapus air yang tumpah.


"Syahdu?"


Riska mendadak bisu. Melihat wajah bingung Awan membuatnya menutup mulut. Dia sudah salah bicara.


"Du, maafin gue, ya. Sumpah, gue ngga sengaja."


Syahdu menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya. "Udah terlanjur. Trus, kenapa suruh aku kesini?"


"Awan tadi ngigau, katanya dia ga nyebarin apapun soal lo. Gue ngga ngerti apa yang terjadi tapi kayanya dia frustrasi."


Syahdu menghela napas. "Satu kampus tau kalo aku anak pelacur."


Mata Riska membulat. "Hah? Siapa yang nyebarin? Awan?"


Syahdu mengangkat bahu. "Kamu sendiri tadi bilang kalau Awan ngigau ga nyebarin apapun."


Kini Riska menatap iba pada Syahdu. "Gue bener-bener minta maaf soal ini. Gara-gara gue hubungan lo dan Awan jadi ancur."


Syahdu tak lagi menjawab. Dia juga tengah pusing menghadapi berbagai masalah yang muncul satu persatu.

__ADS_1


"Trus, kamu gimana?"


Riska menggelengkan kepala. "Gue ga berhubungan lagi sama pak Anton. Dia terus nelpon tapi gue udah ga berani. Mama Awan nyebarin berita ini sampe kampung. Orang tua gue mau pindah ke desa lain karena malu. Gue juga udah ga berani ngubungi nyokap. Emang salah jalan banget gue."


Syahdu sudah memperingatkannya waktu itu. Tapi Riska sendiri keras kepala.


"Gue tinggal nunggu karma gue aja. Gue udah jahat sama orang lain, orang tua, dan diri gue sendiri. Jadi, apapun yang terjadi nanti, gue coba ikhlas karena kesalahan gue waktu itu."


Syahdu tersenyum kecil. Karma, ya. Apa dia juga kebagian?


Syahdu dan Riska kembali ke meja Awan. Lelaki itu masih disana.


"Du, gue masih kerja, nih. Gue minta tolong lo bawa Awan, bisa ngga? Gue takut dia tendang penjaga!" Teriak Riska. Syahdu mau tak mau mengangguk.


Dia mengangkat tangan Awan, lalu meletakkannya dibahunya.


Awan yang antara sadar dan tidak, mengikuti Syahdu berjalan dengan langkah berat.


"Wan, bangun dong. Berat bangettt!" Keluh Syahdu sambil menyeret langkah keluar dari tempat itu.


Saat lagi berusaha menyeret tubuh berat itu, Syahdu mendongak mendapati sesosok Arga berdiri di depannya.


BRUK! Tubuh Awan ambruk ditendang Arga. Syahdu menganga.


"Arga! Kenapa ditendang!!" Pekik Syahdu, dia berjongkok di depan Awan. "Wan, kamu ngga apapa? Bangun, dong!"


Arga menghela napas, lalu menarik tangan Syahdu untuk berdiri.


"Ngapain sih, lo, di tempat kayak gini!" Tukasnya pada gadis itu. Wajahnya tampak tak senang.


"Awan mabuk. Tolong bantuin dong, Ga." Katanya lagi, lalu mencoba mengangkat Awan yang tergeletak.


"Ck! Yauda awas!" Tak suka melihat Syahdu memegang Awan, dengan terpaksa Arga mengangkat lelaki itu, lalu memapahnya menuju ke mobilnya.


Syahdu dengan cepat membukakan pintu. Arga menolakkan tubuh Awan hingga lelaki itu tersungkur kebawah kursi mobil.


"Arga! Kok kaya gitu, sih!" Pekik Syahdu.


Arga tak peduli. Dia langsung menutup pintu lalu berbalik menghadap Syahdu.


Dia menatap tajam gadis itu. Tadi dia panik saat temannya mengatakan Syahdu berada di Adrenaline. Tempat itu gelap dan selalu menjadi tempat perjudian, prostitusi, juga narkoba. Pikirannya sudah kacau, mau apa Syahdu datang kesana? Ternyata karena lelaki itu.


"Masuk!" Arga membukakan pintu, lalu Syahdupun masuk ke mobilnya.


"Mau diantar kemana tuh anak?" Tanya Arga yang sudah dibelakang kemudi.


Syahdu diam. Dia juga tidak tahu.


"Lo nggak tau, ya!"


Syahdu menggeleng lambat. Arga, kenapa dia malah marah-marah kaya gitu? Padahal perasaan dirinya tak melakukan kesalahan.


Arga mendecak kesal. Dia kemudian mengangkat kerah baju Awan yang berada dibawah kursi.


"Rumah lo dimana, nyet!"


"Arga, apaan sih, bahasanya."


Arga menghela napas. Melihat Awan saja emosinya sudah meningkat, ditambah Syahdu malah berbaik hati padanya membuat Arga semakin dongkol.


"Ga usah lo baikin. Dia yang udah nyebar berita tentang lo di kampus!"


"Bukaan gueee.." teriak Awan dengan suara tertahan.


"Bukan gueeee...." teriaknya lagi, kemudian hening.

__ADS_1


Arga tak menghiraukannya. Dia menjalankan mobil walau tak tahu hendak kemana.


__ADS_2