
Naya dan Alika berjalan sambil cekikikan menenteng empat kantong plastik yang isinya berbagai macam makanan. Belum lagi Ibra membawa dua di tangannya. Mereka berjalan menuju mobil Arga yang sudah ada dibalik kemudi. Makanan itu semua, Arga yang membelikannya.
"Baik banget, Arga."
Ucap Naya disela ketawanya bersama Alika. Merekapun masuk ke dalam mobil.
"Arga royal banget, ya. Gue liat segala jenis susu uht coklat dibeli. Makanan ringan rasa coklat semua, tuh. Padahal gue liat dia minumnya uht putih. Aneh banget."
Aku hanya diam. Tidak mungkin aku katakan kalau yang dibeli Arga adalah yang biasa ada di apartemennya dan semua aku yang makan.
Kamipun masuk ke dalam mobil karena masih ada setengah jam lagi perjalanan sebelum sampai.
Di perjalanan, aku hanya menikmati pemandangan. Sesekali ikut nimbrung di obrolan Awan dan Dina. Nampaknya mereka berdua sudah semakin akrab.
Tak terasa, akhirnya kami sampai di sebuah pos, tempat kendaraan terparkir dan juga ada penjual makanan disana.
Aku mendongak, berusaha melihat puncak bukit yang jika dilihat dari tempatku berada, bukit itu terlihat jelas dan tidak begitu tinggi. Tapi kata Awan, pemandangan diatas sangat bagus karena dibalik bukit ada sebuah danau besar.
Awan mengeluarkan barang-barang dari mobil, dan meminta kami membawa perlengkapan itu satu persatu.
"Sudah siap semua?" Tanya Awan. Yang lain berseru semangat untuk mulai berjalan menanjak ke atas.
"Ini dingin banget astaga. Ampun, deh." Alika mengatupkan kedua tangannya karena kedinginan.
"Mau gue buat panas?" Goda Ibra.
"Apaan maksud lo?"
"Apa? Maksud gue, pake api." Ngeles Ibra.
"Nggak. Lo pasti punya maksud lain!!"
Dan terjadi perdebatan kecil diantara Ibra dan Alika yang akhirnya memang membuat Alika panas.
"Ntar juga terasa panas pas lo nanjak." Kata Awan. Dia mulai berjalan di depan.
Sebelumnya, kami sudah diberi wejangan oleh si penjaga pos tentang apa-apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama di atas. Dia juga memberi kami kantong sampah supaya tidak meninggalkan jenis sampah apapun selama diatas.
Setelah bersiap, kami berjalan bersama. Sesekali bertegur sapa dengan sesama pendaki bukit. Entah kenapa rasanya senang bisa menyapa orang yang juga satu aktifitas dengan kita. Karena biasanya, orang-orang pendaki sudah seperti satu tim, entah darimana pun asalnya, orang yang mendaki akan dianggap sebagai pecinta alam.
Ibra, dia yang paling sering menyapa. Karena dia bilang, dia sudah sangat sering ke sini. Apalagi saat libur. Dia bisa menginap 2-3 hari dan turun ke danau untuk mengambil air atau sekedar mandi. Rasanya seru banget, tapi aku tidak mau. Berbeda dengan perempuan, laki-laki pasti lebih mudah melakukan aktifitas mereka dimanapun.
Belum ada 200 meter berjalan menanjak, Naya sudah minta istirahat. Lelah, katanya. Mau tak mau kami menurut.
"Lima menit aja. Kalau gini, ntar ngga nyampe-nyampe, lagi." Celetuk Ibra.
"Gue kan, pendaki baru, Bra..."
"Udah gue bilang, jangan panggil gue bra-bra. Gue biasa dipanggil I'ip." Protes Ibra yang tak senang dengan panggilannya sendiri.
Aku hanya tertawa kecil. Padahal dulu saat kenalan, dia memperkenalkan diri sebagai Ibra. Bukan i'ip.
"Iyaa, iya.. i'ip. Puas kan, lo?"
"Yaudah, buru naik lagi. Ntar kemaleman kita ngga bisa liat sunset." Awan mulai berjalan lagi.
"Eh, ada sunset, Wan?" Naya berjalan cepat mendekati Awan.
"Ada. Makanya, cepat."
"Serius, nih? Ntar lo boong, lagi." Naya dan Awan pun berjalan paling depan. Diikuti Alika dan Ibra, dibelakang mereka. Aku dan Dina juga berjalan berdampingan. Arga, dia berada paling belakang.
"Berat banget, Ras?" Tanya Adina.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Walau sebenarnya aku merasa agak keberatan. Tas dipunggung, juga tas yang kutenteng. Entah apa isinya. Kata Awan, pokoknya semua perlengkapan selama diatas.
"Ya ampuun. Pemandangannya bagus banget disini."
Teriakan Naya membuat Alika dan Adina langsung berlari mendekatinya. Mereka mengambil foto disana. Aku hanya berhenti sejenak untuk mengambil napas. Padahal belum berada di tengah bukit, tapi rasanya sudah sesak.
Kalau dilihat dari bawah tadi, bukit ini terlihat pendek. Nyatanya belum sampai-sampai juga.
Arga yang dibelakangku pun berhenti tepat disebelahku. Dia melihatku dengan wajah juteknya itu.
"Kalau capek, gue gendong. Gimana?"
Mataku langsung membulat dan melihat sekilas ke arah teman-teman yang masih sibuk berfoto ria. Aku takut mereka mendengar ucapan sialan Arga.
Dasar gila, batinku. Arga terkekeh kecil lalu melanjutkan jalannya melewatiku.
"Ras, sini. Kita foto bareng!" Teriak Adina dari sana. Akupun berjalan cepat dan meletakkan tasku di dekat pohon kecil.
Setelah beberapa kali take, kamipun melanjutkan jalan.
Saat aku mengangkat tas perlengkapan, aku merasa sedikit berbeda. Tahu-tahu lebih ringan dari yang tadi.
"Kenapa, Ras?" Tanya Adina.
"Ee.. enggak, kok." Aku membawa tas itu sambil melanjutkan langkah. Mataku melihat ke arah tas yang dibawa Arga. Dia tengah berjalan bersama Naya dan Alika yang asyik mengobrol. Sesekali tertawa dengan candaan mereka. Tapi mataku terfokus pada tas yang ditenteng Arga. Warnanya sama, apa itu sebenarnya tas yang tadi kubawa dan tertukar dengan milik Arga?
Ah, biarlah. Lumayan kan, ketukar sama yang lebih ringan.
"Lama banget!" Keluh Awan. Dia berjalan melewatiku dan Adina.
"Eh, Wan. Tolong, dong."
Awan berhenti dan menatapku. "Apaan."
"Punya gue juga beratt!" Jawabnya cepat.
"Jadi, nggak mau, nih??"
Awan menghela napas. Dia dengan malas berjalan ke arah belakang tubuhku dan mendorong tasku dengan kedua tangannya. Seketika aku merasa beban di pundakku terasa enteng. Aku berjalan dengan ringan karena Awan mendorong tubuhku ke atas.
"Licik banget! Gue juga mauuu.." teriak Adina berlari kecil mengikutiku dan Awan dari belakang.
Aku hanya tersenyum puas. Lumayan, menghemat tenaga. Kulihat Naya dan yang lain menoleh pada kami saat kami melewati mereka.
"Ih, gue mau juga kaya gitu..." Naya mulai ikut-ikutan. "Bra, buat kaya gitu juga dooong.."
"Udah gue bilang jangan panggil BRAAA!!"
Aku semakin terkikik. Dari ekor mataku bisa kulihat Arga geleng kepala melihatku.
Setelah cukup jauh dari yang lain, Awan berhenti.
"Udah. Capeekkkk!!"
Awan terduduk lemas. Aku bisa melihat peluh di dahinya. Napasnya terengah karena kelelahan menopang tubuhku.
Aku ikut duduk di dekat kakinya dan mengurut baguan lutut Awan. Pasti bagian itu yang paling lelah.
"Tumben, ngerti." Ucap Awan disela napas beratnya.
"Ya iyalah. Aku kan, emang pengertian." Jawabku langsung.
Adina juga ikut duduk. Berlari membuatnya kehilangan sedikit energi. Diapun menenggak air dalam botol.
__ADS_1
"Haduh. Capek banget ternyata, ya." Keluh Dina.
"Seluruh capek lo akan hilang kalau udah sampe di puncak. Percaya sama gue." Awan memberi semangat pada Adina.
"Gue juga udah liat di gugel. Emang keren banget, sih. Nggak sabar gue sampe sana." Kata Adina sambil mendongak melihat ke puncak.
"Yo,yoo. Gerak, gerak, gerak!" Ibra berjalan melewati kami. Begitu juga Naya, Alika, dan Arga.
Aku menyambut tangan Awan yang sudah berdiri duluan.
"Let's goooo..." Adina berjalan. Nampaknya dia mulai semangat lagi karena tak sabar dengan pemandangan diatas.
"Kapan terakhir kali kita kemah bareng?" Tanya Awan tiba-tiba.
Aku berpikir sebentar. "Eemm.. mungkin sekitar tiga tahun yang lalu?"
Awan mulai berjalan. "Lama, ya? Untung aja disini ada bukit. Jadi rindu masa-masa di kampung."
Masa di kampung? Aku sama sekali tidak rindu walau kehidupanku disinipun tidak lebih baik. Tapi setidaknya ada kak Wicak dan teman baru seperti Adina.
Setelah mendaki lagi selama empat puluh menit, akhirnya kami sampai di puncak.
"Waaah. Gila sihhh. Keren bangett!!" Adina, wajah yang sejak tadi kulihat lelah kini berubah menjadi ceria. Dia mulai mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan puncak pertamanya.
Tak beda dengan Alika dan Naya, mereka juga sibuk berfoto ria dengan pemandangan alam yang sangat indah. Apalagi awan di dekat bukit kecil dibawah sangat jelas terlihat.
Aku mengeluarkan lipatan tenda. Sudah menjadi hal biasa bagiku saat sampai, harus mendirikan tenda terlebih dahulu untuk beristirahat sebelum malam. Ya, pastinya malam akan lebih asyik.
Bukit itu sudah diisi beberapa tenda. Tempatnya juga tidak begitu lebar, itu sebabnya Ibra mengajak untuk pergi cepat agar kedapatan tempat yang bagus.
"Yang cewe-cewe istirahat aja. Ngga perlu bantu pasang tenda." Seru Ibra.
"Dih, siapa juga yang mau pasang tenda." Cibir Naya sambil menjulurkan lidah pada Ibra.
Aku meletakkan kembali pocket tenda yang sempat kubuka.
"Du, masak aer aja dulu. Buatin kita kopi."
Aku mengangguk dan menuruti perkataan Awan. Kubuka tas yang berisikan kompor portable dan mendapati beberapa piring dan gelas plastik di dalamnya.
"Wan, ini taperwer? Nggak dimarahi tante Mina bawa-bawa ini?" Tanyaku yang memeriksa tumbler kecil bermerk yang tutupnya sudah entah kemana.
Awan yang tengah mendirikan tenda, melirik sebentar. "Oh, itu..., nyokap nggak tau gue yang bawa. Dia kira diilangin adek gue." Jawabnya cekikikan.
Setelah merebus air, akupun menyeduh kopi sasetan yang dibawa Awan. Benar-benar lengkap.
"Guys, kopinya udah aku siapin." Ucapku pada yang lain.
Aku mengambil tumbler oranye milik tante Mina dan duduk di tepi puncak menikmati hari sore dengan segelas kopi saset. Rasanya sangat menyenangkan. Apalagi hawa dingin diatas benar-benar hampir menusuk tulang. Padahal di kota sangat panas, tapi puncak ini bisa sedingin itu.
Tak lupa aku memotret secangkir kopi dan pemandangan yang ada di hadapanku. Lalu, kukirim untuk kekasihku yang sudah pasti menunggu kabarku.
Tanpa kusadari, ternyata aku mengirim foto itu di ruang obrolan Arga, bukan kak Wicak. Dan sungguh, itu membuatku sangat malu. Bisa-bisanya aku nggak teliti dan langsung main kirim aja. Benar-benar sial!
Perlahan aku melirik kebelakang. Arga tengah tertawa tanpa suara sambil menatap layar ponselnya.
Aku buru-buru menghadap depan lagi saat dia melihat ke arahku. Aaaaaahh! Kenapa harus salah kirim dengan kata-kata seperti itu, sih!!
***
Gambar diatas adalah milik pribadi saat berada disalah satu bukit indah Indonesia😍
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE YAH🥸