SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik


__ADS_3

Setelah satu minggu pernikahan, Syahdu dan Arga berpindah ke rumah Margareth untuk sementara waktu, mengabulkan permintaan Margareth sebelum Syahdu dan Arga pergi berbulan madu. Walau Syahdu sudah bilang beberapa kali bahwa ia takkan kemana-mana bersama Arga.


"Lho, Syahdu mana?" Tanya Julia saat melihat Arga turun sendiri dari lantai atas.


"Hoaammm.. Masih tidur." Jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang gatal. Arga masih mengantuk sebenarnya, tetapi perutnya terasa lapar.


"Yah, padahal mami mau ajakin lari pagi, biar seger." Ujarnya sembari mulai peregangan disebelah meja makan.


Arga menenggak segelas jus jeruk yang ada diatas meja makan. "Gak bisa, Mi. Dia kan, lagi hamil."


"APAA!!" Pekik Margareth dan Julia bersamaan. Di detik itu Arga juga terkejut sampai ia cegukan.


"Kok bisa hamil baru seminggu nikah?" Mata Julia sampai terbelalak mendengar berita itu.


Arga, dia melongo menatap Julia dan Margareth bergantian. Pasalnya ia kelepasan, padahal dia belum berniat membuka suara soal kehamilan Syahdu.


"Alexander! Astaga!" Julia memijit dahinya. "Kamu gila, ya? Kamu pikir ini di Inggris, menghamili gadis diluar nikah??"


"Yaa kan sekarang udah nikah." Jawabnya enteng sembari mengunyah roti.


"Iya, tapi kalau sampai ada yang menyadari kamu punya anak lebih cepat, apa kata orang-orang?" Pekiknya lagi.


Arga hanya menatap kedepan sembari terus mengunyah roti selai coklat. Pikirannya melayang, bukan memikirkan apa kata Julia, tapi soal rumah baru yang akan ia beli untuk Syahdu nanti.


"Hah! Mami gak habis pikir. Kamu kok bisa-bisanya ngelakuin itu ke Syahdu??"


Arga menggaruk pelipisnya. Bagaimana kalau Maminya itu tahu bahwa hubungannya dengan Syahdu bahkan sudah sejak 7 tahun yang lalu?


"Yaa.. Namanya saling cinta." Jawabnya lagi, tanpa mau banyak bicara.


Berbeda dengan Julia, Margareth tampak tersenyum bangga. Akhirnya garis keturunannya tidak berhenti di Arga.


"Udah berapa bulan kandungan Syahdu?" Tanya Margareth penasaran.


"Emm.. sekitar 7 minggu, mungkin."


"Dia nggak mual-mual? Atau pusing? Mau Oma panggil dokter?"


Arga menggelengkan kepala. "Awal-awal aja. Sekarang ga pernah lagi tuh."


Margareth sangat gembira, dia pun memanjatkan doa. "Tuhan, panjangkan umurku. Aku ingin melihat cicitku tumbuh besar."


"Amin." Sahut Arga tetap fokus pada rotinya.


"Mama gimana, sih? Cucunya melakukan kesalahan malah bangga!" Gerutu Julia.


"Ya mau gimana, udah kejadian. Kamu ngomel juga nggak guna." Jawab Margareth santai. Kini matanya beralih lagi ke Arga.


"Ga, Oma hadiahin kalian rumah, ya. Tinggal pilih mau yang gimana. Oma mau Syahdu nyaman dan tenang."


"No.. no.." tolak Arga. "Kebutuhan Syahdu adalah kewajiban Arga. Ga ada siapapun yang boleh penuhi keinginan dia selain Arga."

__ADS_1


"Kok kamu gitu. Trus kalo Oma mau kasih hadiah buat cicit Oma gimana?"


"Kalo itu, boleh. Khusus Syahdu, ga boleh." Ucapnya lalu berdiri. "Nanti Arga ada kerjaan. Arga gak mau kalau sampe Syahdu kenapa-napa selama disini, ya."


"Tenang kalau soal itu. Oma pastiin istri kesayangan kamu itu nggak kegigit semut." Jawab Margareth cepat. Mendapat anggota keluarga baru dari Syahdu, tentu dia bahagia apalagi mendapat hadiah besar dari Tuhan.


"Makasih, Oma. Arga mau lanjut tidur dulu."


Mata Julia dan Margareth masih fokus pada Arga yang menaiki tangga. Sejenak Julia termangu. Dia akan memiliki cucu, kan? Secepat ini?


"Jul, kamu cepat beliin vitamin yang paling bagus buat janin. Trus siapin semua keperluan bayi."


"Hah? Mama ini apaan, sih. Belum juga tau laki-laki atau perempuan." Jawab Julia.


"Beli semua, laki-laki atau perempuan. Semua siapkan yang bagus-bagus. Mama nggak mau cicit Mama pakai yang murahan. Nanti dia alergi. Buruan, siang ini harus udah ada semua di rumah ini." Ucapnya lalu menyeret kursi rodanya keluar dari ruang makan dengan wajah segar, meninggalkan Julia yang masih terbengong dengan situasi saat ini.


...🍁...


Syahdu baru menutup pintu kamar, Julia sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah sumringah.


"Syahdu.."


"Iya, mi?"


Matanya terfokus pada perut Syahdu. Dress yang Syahdu pakai berukuran slim fit yang membentuk badan, tapi perut gadis itu masih terlihat rata.


"Ee.. kamu lagi pengen sesuatu?" Tanya Julia.


"Yakin? Coba pikir-pikir lagi."


Syahdu semakin terheran. Ada apa dengan mertuanya ini?


"Engg.. nggak ada, Mi. Memang.. kenapa, ya?"


Julia tampak lesu. Masa Syahdu tidak ngidam apapun? Padahal dia sedang semangat menuruti apapun yang menantunya inginkan.


"Kalau kamu pengen apa-apa, kasih tau Mami, ya?"


Lama Syahdu merespon, sampai ia mengangguk bingung.


"Mana Alexander?"


"Tadi katanya harus manggung sampe sorean, Mi." Jawab Syahdu sembari menuruni tangga.


Julia langsung memegangi tangan Syahdu, menuntunnya menuruni tangga. Tentu membuat gadis itu keheranan.


"Hati-hati, nanti kamu kepleset."


"I-iya." Jawabnya kaku.


"Syahdu, kesini sebentar." Panggil Margareth dari ruang keluarga, Syahdupun mendekat dan duduk di hadapan Margareth.

__ADS_1


"Sini duduk sebelah, Oma." Pintanya, menepuk pelan sofa disebelahnya.


"Iya, Oma." Syahdu pun berpindah duduk disebelah Margareth.


Wanita tua itu meraih tangan Syahdu dan menggenggamnya. "Kamu gimana hari ini? Badannya enakan? Ada yang sakit?" Tanya Margareth perhatian.


"Eeng.. Nggak ada, Oma. Syahdu.. baik-baik aja, kok." Jawabnya bingung.


"Kamu kalau pengen apa-apa, bilang Oma, ya. Trus kalau mau makanan tengah malam, minta aja sama Arga. Biar dia yang beliin. Kamu tinggal bilang mau apa, nanti Arga pasti kabulin."


Walau bingung, Syahdu mengangguk saja.


"Kalau Oma boleh minta, kamu sama Arga pindah kamar bawah aja, ya?"


"Kenapa, Oma?"


"Kasian, nanti kamu capek naik turun tangga."


Alis Syahdu terangkat. Capek naik turun tangga?


"Iya. Mami udah siapin kamar kalian dekat taman samping. Ada dua kamar bersebelahan disana. Mami udah bersihin dua-duanya." Sambung Julia pula.


"Jul, sana anterin Syahdu liat kamarnya." Tukas Margareth pada Julia. Dengan segera wanita itu berdiri.


"Ayo, Syahdu. Mami tunjukin kamarnya."


Syahdu ikut berdiri walau dia tak menolak, dalam hatinya tetap bertanya-tanya. Apalagi dia tidak bisa sembarang menentukan. Semua tergantung maunya Arga juga.


"Nah, ini kamar kalian." Julia membuka satu kamar. Bersih, dan lebih besar dari kamar Arga di lantai atas.


"Yang sau lagi, ini." Julia membuka kamar disebelahnya. Kamar itu tak lebih luas dari kamar yang pertama, namun cukup membuat mata Syahdu terbelalak.


"I-ini.. dari siapa, Mi?" Tanya gadis itu bingung. Melihat kamar lucu nan menggemaskan.


"Kamu suka? Atau ini kecepatan, ya? Hehe, maaf ya, Syahdu. Ini perintah Oma. Oma gak sabaran banget."


Syahdu sampai tak bisa berkata-kata. Walau kehamilannya masih muda, tapi semua sudah dilengkapi oleh Julia dan Margareth.


"Makasih ya, Mi. Syahdu suka.."


"Sama-sama, sayang. Jaga kehamilan kamu untuk kami, ya. Jangan sungkan soal apapun, kalau butuh sesuatu cepat kabarin Mami. Oke?"


Syahdu mengangguk sembari menahan air matanya yang hampir saja menetes. Rasanya sungguh luar biasa berada diantara Arga dan keluarganya. Syahdu diperlakukan sangat baik. Mereka pula sangat menyayangi Syahdu. Gadis itu tidak kekurangan kasih sayang, dia mendapatkan lebih dari yang dia bayangkan. Cinta Arga, juga kasih sayang seorang Ibu dan Nenek dalam waktu bersamaan.



...**...


Gimana ya kalau seorang sekertaris menyukai istri bosnya? Anehnya, perasaan itu kian tumbuh dan Nathan tak kuasa setelah terus menerus melihat Hazeline tersiksa karena suaminya, Bos Nathan sendiri. Kisahnya ada di Something Between Us. JANGAN LUPA TAP FAVORIT DAN DIBACA YA🤗


__ADS_1


** Sabar, Ya.. Bab Syahdu masih panjang kok. Cuma emang aku buat End supaya ga perlu rutin up hehe. Makasih banyak dukungan kalian. Aku seneng banget punya pembaca setia❤️ **


__ADS_2