SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
ExtraBab - Arga Junior


__ADS_3

Setelah proses pemeriksaan, Syahdu ternyata sudah pembukaan dua. Walau awalnya tidak mengerti, Arvian, satu-satunya teman yang ada disisi Arga membantu menjelaskan.


"Lo itu harus tenang. Supaya Syahdu juga rilex." Ujar Arvian.


"Gimana gue mau tenang kalo liat dia kesakitan gitu." Gerutunya pada Arvian. Matanya tak lepas dari Syahdu yang berjalan di lorong rumah sakit sembari memegangi perutnya. Sesekali Syahdu meringis saat merasakan nyeri dibagian pinggul dan perut bawahnya.


"Ya emang gitu. Itulah proses bayi di dalam perut juga lagi berjuang mencari jalan lahir. Bukan cuma Syahdu aja yang berusaha, bayi lu juga." Jelas Arvian lagi.


Arvian menatap Arga yang amat sangat cemas. Untuk pertama kali dalam sejarah kehidupan Arga, Arvian melihatnya seperti itu.


"Gue pernah bilang kan, sama lo. Kalo gue ga mau mainin cewek semenjak jadi dokter kandungan. Ya karena ini. Gue nyadar banget perjuangan mereka, man." Arvian menarik Arga dalam rangkulannya.


"Lo liat deh, Syahdu. Lo bayangin aja beberapa tahun yang lalu, kalo ternyata dia hamil di waktu yang ga tepat, ngelahirin anak lo, dan lo nggak mau tanggung jawab karena lo ga mau punya keluarga."


Arga melepaskan tangan Arvian dari bahunya. "Gue gak segila itu. Kalo pun waktu itu dia hamil, gue pasti nikahin! Tapi masalahnya dia yang gak mau sama gue."


"Iya juga, sih. Eh, trus.. sebenarnya, gimana ceritanya lo sama Syahdu bisa ketemu lagi? Lo utang cerita sama gue."


"Halah. Nggak sempet. Gue mau nemenin bini gue dulu." Arga berlari kecil menemui Syahdu yang masih berjalan-jalan di koridor.


Arvian yang melihat itu mengulum senyum. Melihat perubahan drastis pada Arga rasanya seperti berhasil menemukan jarum didalam tumpukan jerami.


~


Syahdu semakin merasa kesakitan. Di tempat yang sama, Arga hanya mampu mengusap-usap pinggang istrinya sesuai instruksi Arvian. Sesekali Arga memberi Syahdu semangat dan kekuatan walau dirinya pun hampir tumbang.


Bagaimana tidak, kini posisi sudah pembukaan 9, sedikit lagi Syahdu akan melahirkan. Wanita itu berkali-kali merintih dan mengatakan kalau dia sudah tidak kuat. Arga juga meminta pada Arvian untuk melakukan operasi saja, supaya Syahdu tidak semenderita itu, pikirnya. Namun Arvian menolak, lantaran persalinan normal sangat bisa dilakukan. Operasi hanya dijalankan jika terdapat keadaan darurat.


"Ga, semangat, ya. Gue keluar dulu. Ini udah waktunya Syahdu ngelahirin." Arvian menepuk-nepuk pundak Arga, lalu ia pun keluar saat dokter perempuan sesuai permintaan Arga telah membenarkan posisi Syahdu untuk segera melakukan proses persalinan.


Diluar, Julia sendirian berjalan kesana-kemari. Tentu ia khawatir, tetapi Arvian melarangnya ikut masuk.


"Vian, kamu kenapa diluar? Nggak bantuin didalam?" Tanya Julia pada Arvian yang duduk di kursi tunggu.


"Nggak dikasih Arga, Tan. Khusus perempuan, katanya." Jawab Arvian, kemudian mulai menguap. Sudah pukul 3 pagi, dia tidak tidur lantaran menemani Arga.


"Kalau gitu, kamu pulang aja. Kasian, besok kerja, kan?"


"Nggak apa-apa, Tante. Udah biasa, sih. Besok juga masuknya agak siang, kok. Jadi bisa istirahat sebentar." Jelas Arvian pada Julia.


"Oh ya, Tan. Pasti Tante sekarang seneng banget karena Arga udah berumah tangga, bahkan udah ada anak."


Julia mendadak senyum. "Iya. Tante seneng banget. Kamu pasti tahu gimana kerasnya Arga waktu kalian masih sekolah di London."


"Syukurlah, Tante. Akhirnya cinta bisa buat dia berubah total. Tapi, Arga belum nerima Om Alex ya, Tan."


"Hm.. Tante juga ngga ngerti lagi. Tadi Tante baru aja telepon Alex. Tante kasih kabar kalo Syahdu mau melahirkan anak laki-laki, cucunya. Tapi dia cuma diem aja. Trus bilangnya ngantuk. Padahal disana kan, baru jam 9 malam."


Arvian tersenyum kecil. "Pasti dalam hatinya seneng, Tan. Apalagi anak Arga laki-laki."


"Mudah-mudahan sih, Vi."

__ADS_1


Mereka mendadak diam saat mendengar suara tangis bayi dari dalam ruang persalinan.


"Vi.. Vian.. anak Arga lahir. Cucu Tante lahir!!" Julia kegirangan. Dia mencoba mengintip kedalam namun gagal. Tetapi senyumannya tidak memudar.


"Wah, selamat ya, Tante. Akhirnya Arga Junior muncul juga." Ucap Arvian pada Julia yang teramat bahagia menyambut cucu pertamanya.


Di dalam, Arga berkali-kali mengecup dahi Syahdu yang basah. Berulang kali pula ia mengucap terima kasih dan kata cinta pada Syahdu. Ia lalu terduduk, lututnya terasa lemas, jantungnya pun melemah. Ternyata, menyaksikan sendiri proses lahiran membuat jiwanya melayang beberapa detik. Arga sempat melihat bagaimana bayinya keluar dari tubuh Syahdu.


Tentu perasaan luar biasa muncul untuk Syahdu. Menyaksikan wanita yang ia cintai berjuang sedemikian keras membuatnya semakin cinta dan berjanji untuk selalu membahagiakan Syahdu.


"Ga.."


"Iya, sayang. Aku disini." Arga menciumi tangan Syahdu.


Syahdu tersenyum menatap wajah panik Arga. "Makasih, udah nemenin aku."


"Aku yang makasih ke kamu. Aku bener-bener..." Arga menghentikan kalimatnya. Tiba-tiba air matanya menggenang. Dilihatnya pula Syahdu mengalirkan air mata bahagia.


"I love you so much, Syahdu. I love you so much.." bisik Arga di telinga Syahdu dengan tangisnya. Ia sangat mencintai Syahdu apalagi setelah melihat perjuangan istrinya itu.


Syahdu memeluk suaminya. Mereka menangis dalam diam disana, merasakan cinta dan kasih sayang yang merekah. Muncul begitu dalam bersamaan kehadiran bayi kecil mungil yang berjenis kelamin laki-laki.


"Permisi, ayah, ibu. Ini bayi kalian." Seorang perawat menggendong bayi yang baru saja dibersihkan.


Syahdu dibantu duduk oleh perawat lain, lalu ia menggendong anaknya untuk pertama kali.


"Tampannya anakku.." ucap Syahdu dengan suara yang terdengar serak. Matanya masih basah. Begitu juga dengan Arga.


"Iya, ya. Padahal aku berharap dia mirip sama kamu. Tapi kok, jiplak aku banget."


Syahdu tertawa mendengarnya. "Selamat menjadi ayah, Arga."


"Selamat menjadi Ibu, Syahdu." Arga mengecup puncak kepala Syahdu. Dipeluknya istrinya sembari terus menatap wajah bayi mungil yang tengah tertidur itu.


Pagi itu, Margareth menyusul datang bersama Shania. Gadis kecil itu memaksa ikut saat tahu kakak iparnya sudah melahirkan. Tentu dia ingin melihat keponakannya yang lucu.


"Yah, kok cowo, sih. Ngga bisa aku ajak main boneka, dong!!" keluhnya, dan yang lain hanya tertawa.


"Kamu juga udah ga pernah main boneka kakak liat." Sahut Arga, yang tengah menyuapi Syahdu sarapan.


"Tapi kan, tetep aja lebih seru kalo cewee!"


"Mau cewek atau cowok, sama aja. Yang penting ini cicitku yang tampan sekali haha.." Margareth sejak tadi terus tertawa menatap bayi mungil di tangannya.


"Persis Arga ya, Ma. Waktu bayi juga dia gini." Kata Julia ikut memperhatikan.


"Sama aku ngga ada miripnya kan, Mi." Seru Syahdu.


"Hahaha, sabar ya, Syahdu. Kayak Mami juga, liat Shania. Plek Papanya. Untung Arga mirip Mami, walau sifatnya mirip Papanya." Celetuk Julia, membuat Syahdu tertawa sementara Arga fokua menyuapi Syahdu.


"Kamu gimana? Udah enakan badannya?" Tanya Julia pada Syahdu.

__ADS_1


"Lumayan, Mi. Abis lahiran ternyata sakitnya langsung hilang, ya."


"Hehe, memang begitu. Makanya, banyak yang lupa rasa sakitnya itu kayak apa."


"Arga, Kamu udah ada nama buat anakmu?" Tanya Margareth antusias.


"Emm.. Udah ada sih, tapi Arga belum yakin."


"Haduh, kenapa lama? Oma aja yang kasih nama, ya."


"Emangnya Oma mau kasih nama apa?" Tanya Syahdu.


"Loui. Bermakna pejuang." Jawab Margareth senang.


Syahdu menatap suaminya. "Kamu jadi kasih nama itu?"


"Jadi. Aku mau nama itu tersemat dinama anak kita." Sahut Arga cepat.


Syahdu tersenyum, "Kalau gitu, namanya Arsya Alexander Loui."


Arga menatap istrinya. "Kenapa ada Alexandernya?" Tanyanya protes sebab ada nama ayahnya disana.


"Itukan, nama kamu, sayang. Aku mau nama kamu diletakkan disana."


Berbeda dengan Arga, Margareth dan Julia tampak menyambut senang.


"Nama yang bagusss." Celetuk Julia.


"Iya, Oma juga senang sama nama itu. Kalau gitu, Oma akan panggil dia Loui."


"Kok Loui. Arsya dong, Oma." Protes Shania.


"Oma maunya Loui.."


Kedua cucu dan nenek itu malah berdebat, membuat yang lain terkekeh geli.


"Heei, mau panggil apa aja boleh, kook." Julia mengambil Loui dari tangan Margareth dan meletakkannya dipangkuan Syahdu.


"Nah, sekarang, ayo keluar. Biarkan Syahdu istirahat. Ayo.. Ayo.." Julia mendorong kursi roda Margareth keluar ruangan. Walau berat, Margareth menurut saja.


Setelah tiga orang itu keluar, Syahdu memandang Arga.


"Mau gendong?"


"Hah?" Arga sejak tadi memang belum memegang anaknya. Dia belum berani padahal Arvian sudah membantunya praktek menggendong waktu itu.


Dengan perlahan Arga mengambil Loui dari tangan Syahdu, lalu mulai menggendongnya perlahan. Dia masih terlihat kaku, namun Syahdu menikmati pemandangan itu. Arga lucu sekali di mata Syahdu, dan dia tentu saja semakin mencintai lelaki itu.



** Yeaaayyy Akhirnya brojol juga yes **

__ADS_1


** Lanjutan kisah Syahdu dan Arga ada di High School Relation-shitt TAPI adanya di bab pertengahan ya, pas PoV Arsya yang paling banyak nampilin kebahagiaan mereka setelah Arsya besar.


__ADS_2