
Cahaya matahari yang hangat berhasil menerobos jendela kamar. Bahu Syahdu mengkilap akibat pancaran cahaya matahari, membuat bahu mulus tanpa kain itu terasa panas.
Syahdu membuka mata perlahan. Matanya sangat berat, karena dia baru tidur selama 4 jam dimana Arga terus melancarkan serangan sampai pukul 3 pagi.
Syahdu mengerjap demi menghilangkan kabur di matanya. Seketika wajah Arga langsung ia lihat. Lelaki itu sudah bangun dan tersenyum saat melihat Syahdu baru membuka mata.
Merasa terganggu, Syahdu membalikkan tubuh menghadap jendela. Tetapi cahaya matahari terpaksa membuatnya lagi berbalik badan menghadap Arga.
"Mandi. Trus turun kebawah untuk sarapan." Ucap lelaki yang masih memiringkan tubuh kearahnya.
"Sanaan deh, Ga." Syahdu mendorong dada Arga, menyuruhnya menjauh karena Arga sangat dekat dengan dirinya.
"Lah, ini kamar gue."
"Iya, tapi geser dikit, gitu." Pinta Syahdu dengan suara yang masih serak.
"Nggak, ah. Ngapain lo ngatur gue."
"Aku masih mau tidur."
"Yauda tidur. Emang gue larang."
"Munduran. Ngapain deket-deket banget gini." Syahdu masih berusaha mendorong dada Arga yang tak berbaju itu.
"Ya terserah gue lah. Kamar-kamar gue, tempat tidur juga punya gue."
Suara pintu terbuka membuat keduanya mematung. Lalu terdengar lagi suara air tersiram.
"Mami.." Mata Arga membulat. "Mami lagi nyiram bunga."
"Hah?" Syahdu menengok ke arah jendela yang terbuka lebar. Terlihat selang di atas rumput mulai bergoyang.
Cepat-cepat Syahdu meraih baju dan memakainya. "Ga, cepat keluar."
"Gak bisa, ntar malah ketauan!"
"Hah. Jadi gimana??" Syahdu masih sibuk memakai baju.
Saat melihat Julia berjalan di depan jendela, sontak Syahdu mendorong tubuh Arga dan langsung terjatuh kebawah. Arga mengerang tertahan, memegangi pinggangnya yang sakit.
"Morning, Syahdu. Udah bangun rupanya." Julia tersenyum. Tangannya memegang selang yang mengalirkan air kearah tanaman dibawah jendela kamar Arga.
"Pagi, mi. Ba-baru aja, mi."
"Cepat siap-siap, bentar lagi kita sarapan bareng."
Syahdu mengangguk, sementara Julia melanjutkan aktifitasnya. Lega, untung saja mami Arga tidak lihat, batinnya.
Dengan cepat Syahdu menurunkan kaki untuk segera menuju kamar mandi dan..
"Aakhhh!" Arga memekik memegangi perutnya, sementara gadis itu langsung terduduk di lantai karena kaget kakinya menginjak perut Arga.
"Syahdu, kenapa?" Tanya Julia dari balik jendela.
"Eee.. enggak, mi. Kepleset.." Sahutnya sembari menaikkan kepalanya melihat Julia dari balik tempat tidur.
"Hati-hati, lho." Ucapnya kemudian melanjutkan lagi siram-siramannya dan mulai menjauh dari jendela kamar.
"Sakittt.. bangettt.." Erang Arga dengan suara tertahan, memegangi perutnya yang diinjak Syahdu tadi.
"Aduh.. maaf, Gaa.."
"Lo.. kenapa injek perut guee." Bisiknya dengan penuh tekanan.
__ADS_1
"Sumpaahh. Aku ngga sengaja, Gaa." Bisik Syahdu lagi dengan nada yang amat khawatir.
"Sakit, ya? Maaf banget, ya, Ga." Sesekali Syahdu melirik Julia. Untungnya dia sudah menjauh.
"Iya. Sakit banget.." Arga malah meletakkan kepalanya dipangkuan Syahdu.
"Trus gimana, Ga? Apa perlu ke dokter?" Tanya Syahdu, masih dengan nada panik. Tanpa sadar tangannya memegangi kepala Arga.
"Enggak, kayaknya bisa sembuh kalo satu ronde lagi."
Kerutan di dahi Syahdu muncul seketika. Dia langsung berdiri hingga membuat kepala Arga terbentur lantai.
"Aaakhhhh! Apaan sih, main berdiri aja!" Pekiknya kesal.
Syahdu tak menanggapi. Dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
~
Setelah sarapan bersama, Syahdu berpamitan dengan Margareth dan Julia. Begitu juga Arga, karena mereka ada mata kuliah menjelang siang ini.
Keramahan Julia dan Margareth tidak berubah walau mereka tahu bahwa Syahdu sudah punya kekasih. Melihat Arga senang saja sudah membuat mereka meleleh. Sangat jarang melihat anak itu tersenyum, tapi saat bersama Syahdu wajah ceria Arga muncul seketika.
Mereka pun ke apartemen terlebih dahulu untuk Syahdu berganti baju. Sesampainya disana, gadis itu mendadak sakit perut sampai meringkuk diatas sofa.
"Hei, Kenapa?" Tanya Arga, dia berjongkok di dekat sofa, melihati wajah Syahdu yang kesakitan.
"Kayaknya aku haid, deh."
"Hah?" Panik, Arga menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.
"Bentar deh, gue keluar dulu." Arga berlari kecil keluar apartemen.
"Eeh, Gaa!" Teriakan Syahdu tak lagi ia dengar. Entah kenapa tiba-tiba lelaki itu pergi begitu saja.
Tak lama kemudian, Arga kembali dengan dua kantong plastik besar di tangannya. Membuat Syahdu yang baru berganti pakaian dari kamar mandi terbengong.
"Nih, gue beliin pembalut."
Arga mengeluarkan berbagai merk pembalut diatas tempat tidur. Ada yang berwarna hitam, merah jambu, kuning, dan beberapa minuman botol.
"Gue nggak tau biasanya lo pake yang mana, jadi gue beliin aja semua. Itu juga gue beli minuman pereda nyeri. Kata apotekernya sih, bagus. Lo coba aja mana yang nyaman."
Syahdu cengo. Dia menatap Arga dan barang-barang itu secara bergantian.
"Katanya sih, ini yang paling sering dikonsumsi." Arga mengambil satu botol berwarna kuning kemudian membaca petunjuk di botol sebentar. "Minum yang ini dulu." Ucapnya kemudian membuka tutup botol dan menyerahkannya ke Syahdu.
Gadis itu masih diam menatap botol digenggaman Arga.
"Kok malah bengong." Arga semakin mendekatkan tangannya ke arah Syahdu. "ini, cepetan."
Gadis itu menerimanya dengan lambat. "Aku takut kalau kamu baik banget kayak gini."
"Ck. Emang gue mau apa sama cewek yang lagi on periods." Tukas Arga lalu dia masuk ke dalam walk in closet. "Tadi malam juga udah."
Syahdu berdiri di depan pintu penghubung, melihat Arga yang tengah berganti baju. "Thanks banget ya, Ga. Aku jalan dulu."
Syahdu langsung pergi tanpa menunggu jawaban Arga. Dia segera berlari kecil masih membawa sebotol minuman pereda haid. Dia hanya ingin menetralisir pikiran yang sempat merasa bahwa Arga mungkin telah menyukainya.
Ya, pikiran itu mendadak muncul dengan beberapa bukti bahwa Arga memang sangat perhatian padanya. Tapi selama ini, Syahdu tak pernah memikirkannya.
Ah, tidak-tidak. Syahdu buru-buru menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Arga menyukainya. Tapi benar, kan? Arga yang membeli semua barang-barang keperluannya? Bukannya kemarin-kemarin dia masih sangat menolak?
Syahdu tak ingin memikirkan itu sampai tanpa sadar ia tiba di kampus. Matanya langsung menangkap Awan. Lelaki itu tengah merokok sambil berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Awan!" Syahdu memanggil, namun lelaki itu malah berjalan menjauh dan Syahdupun mengejarnya.
"Awan, tunggu!" Pekiknya memanggil. Tapi Awan seolah tidak mendengar padahal Syahdu yakin Awan tadi melihatnya. Tiba sampai di depan gudang kampus, Awan berhenti.
"Awan, astaga! Kau ini kenapa, hah?" Syahdu mengatur napas. Rasanya sesak juga berlari kecil mengejar Awan.
"Hei, Wan. Aku chat, telepon, tapi kamu nggak angkat, nggak mau balas dan cuma dibaca. Kenapa, sih?"
"Kenapa? Hahaha." Awan malah tergelak. "Masih pura-pura bego rupanya."
"Hah?" Syahdu tidak mengerti apa yang diucapkan Awan padanya. "Wan, ada apa? Aku nggak paham kamu ngomong apa."
"Nggak usah sok belagak polos, Du. Lo tau kan, apa yang terjadi dikeluarga gue saat ini."
Syahdu diam sejenak. Ya, dia tahu kalau Awan dan keluarganya sudah tahu hubungan Ayah mereka dengan Riska.
"Iya. Aku udah tahu dari tante kalau papamu.."
"Alaah. Tai! Lo masih ngelak, hah? Gue tau kalau lo sebenarnya ikut menyembunyiin fakta ini dari gue!"
Mata Syahdu membulat. Awan tahu dari mana soal ini?
"Wan.. enggak, aku.."
"Sialan. Nggak habis pikir gue. Gue nangis karena diputusin Riska, gue bawa lo buat ngibur gue, nggak taunya lo tahu semuanya dan nyembunyiin ini dari gue? Lo skongkol kan, sama Riska? Lo dapet apa dari dia, hah?"
"Wan, bukan gitu. Aku juga baru tahu kalau Riska sama papa kamu. Aku juga-"
BRAK!
Awan menendang pintu gudang di sebelahnya, membuat Syahdu menutup mata karena terkejut dengan aksi Awan yang tiba-tiba.
"Bullshit!" Pekik Awan berang. "Senang lo selama ini liat gue menderita, iya? Hah." Awan tersenyum sinis.
"Wan. Sumpah, bukan kayak gitu. Bisa nggak sih, dengerin dulu aku ngomong??!!"
Awan mencengkram bahu Syahdu lalu menghentakkannya ke tembok. Membuat gadis itu mengerang sakit.
"Lo pengkhianat. Gue benci sama orang kayak lo ini! Emang gue udah buat apa sampe lo kayak gini ke gue!"
"Wan, sakit! Aku akan jelaskan pelan-pelan tapi lepas dulu.. akh."
"Aku.. aku nggak bermaksud.."
BUG!
Satu hantaman keras berhasil mendarat di rahang kanan Awan. Lelaki itu terjerembab kesamping sambil memegangi pipinya.
"Lo nggak apapa?"
Syahdu yang syok, tak lagi bisa menjawab. Arga kembali mendekati Awan dan memberikannya beberapa hantaman di wajah lelaki itu.
"Hei, Ga. Udah!" Ibra datang melerai. Sementara Dina langsung memeluk Syahdu.
"Lo ga apapa, Ras?" Tanya gadis itu ikut panik. Sementara Syahdu sudah menangis di pelukan Dina. Tak jauh dari mereka, Naya dan Alika ikut menyaksikan apa yang ada di depan, dan sangat membuat mereka terkejut.
"Hahahaa.." Awan, dengan bibir yang mengalirkan darah, malah tertawa. Dia berdiri dan menatapi semua yang ada disana.
"Selamat, deh. Lo emang keliatan baik, makanya banyak yang belain. Nggak tau aja mereka, apa yang udah lo lakuin sama keluarga gue sampe berantakan kayak sekarang." Awan berjalan melewati Syahdu, gadis itu tampak takut apalagi mata Awan tak lepas darinya.
"Makasih!" Tukas Awan kemudian pergi dari sana.
Syahdu langsung terjatuh. Lututnya lemas dan dia sedih bagaimana sekarang Awan menilai dirinya, padahal lelaki itu hanya salah paham. Syahdu menangis. Kali ini dia harus bertemu Ibu Awan untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1