SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Perasaan diatas Cinta


__ADS_3

Awan berlari kecil menemui Syahdu. Gadis itu duduk di bangku taman sendirian dan membiarkan angin malam mengusik tubuhnya yang hanya memakai kaos tipis.


Lagi, Syahdu mengajaknya bermain apa saja asal bisa menyembuhkan kekacauan dalam hatinya.


Awan yang berdiri dari jarak cukup jauh, memperhatikan Syahdu yang duduk dengan menatap kosong kedepannya. Dia merasa kasihan pada gadis itu. Walau tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi, Awan tahu kalau dia memutuskan itu dengan sangat terpaksa. Awan merasa alasan Syahdu agak berlebihan.


"Ngapain disini?" Tanya Awan. Dia duduk disebelah gadis itu.


"Bosen." Jawabnya santai.


"Tadi ngga kuliah lu. Kenapa?" Awan tak mendengar jawaban dari Syahdu. Dia urung menjawab.


"Pasti karena Wicak, ya."


"Udahlah. Ngga usah bahas itu. Kita karokean aja, yuk. Pengen nyanyi." Syahdu berdiri dan langsung jalan. Awanpun mengikutinya dari belakang.


"Kenapa ngga ajak yang lain, sih?" Tanya Awan dari belakang Syahdu.


"Ngga mau ngerepotin. Dah malem." Sahutnya cepat. Tak mendengar lagi sahutan Awan, Syahdu berbalik arah. "Kenapa? Kamu ngga mau nemenin?" Tanyanya dengan mendelik.


"Bukan gitu. Yauda ayok!" Awan berjalan cepat menuju salah satu gedung karaoke seberang jalan.


Sesampai disana, Awan permisi sebentar pada Syahdu untuk keluar membeli makanan sementara Syahdu langsung masuk dan sudah bernyanyi di dalam ruangannya.


Dia menyanyikan lagu mellow. Begitu menghayati sampai ia tidak sadar seseorang membuka pintu dan duduk mendengarkannya bernyanyi.


Lagu itu pula tentang betapa ia mencintai namun harus melepaskan. Sungguh seperti apa yang ia alami saat ini.


Sebuah tepuk tangan terdengar ketika Syahdu selesai bernyanyi. Syahdu tak menghiraukannya, dia asyik memilih lagu lagi.


"Wan, nyanyi gantian sini." Katanya tanpa menoleh dan terus memilih lagu.


"Wan.."


Syahdu menoleh dan tertegun. Wicak sudah duduk dibelakangnya dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


Kemana Awan? Kenapa ada kak Wicak disini? Batin Syahdu.


Wicak berdiri, dia memeluk Syahdu tanpa izin. Gadis itu pula hanya diam membeku. Dia tahu ini pasti perbuatan Awan. Dia tadi pamit beli makanan tapi sampai sekarang tidak muncul juga.


"Kakak.. kenapa disini?" Tanya Syahdu.


Wicak menarik tangan Syahdu untuk duduk. Dia menggenggam tangan itu sambil menatap mata Syahdu.


"Kak.. aku.."


"Kamu senang ya, pisah denganku. Udah lama pengen pisah, makanya sesenang itu sampai karaokean begini? Kamu ngga rindu aku, hah? Kamu pacaran dengan siapa sekarang? Kenapa ngga keliatan di kampus? Menghindariku?"


Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan Wicak. Tetapi gadis itu hanya menunduk. Dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


"Syahdu, kalau kamu benar ingin putus dan nggak cinta. Kenapa kamu merasa sesedih ini?"


Wicak menangkup pipi Syahdu dengan kedua tangannya. "Bisa kita bicarakan ini? Bisa beritahu aku alasan yang lebih jelas? Aku akan perbaiki semua demi kamu, Syahdu. Aku ngga mau kita pisah ngga jelas kaya gini. Katakan, Ada apa?"


Syahdu menteskan air mata tanpa sadar. Dia menghapus dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya. Terus kamu kenapa? Memangnya Syahdu yang dulu dan sekarang itu kenapa?"


Syahdu tidak bisa menjelaskannya. Syahdu hanya diam membiarkan air matanya mengalir deras. Sementara Wicak langsung memeluknya lagi. Mengusap rambutnya dengan lembut.


"Syahdu, dulu kita selalu menghadapi semua permasalahan berdua. Syahdu yang dulu seperti itu. Dia juga perempuan yang akan bilang 'iya' walau hatinya berkata 'tidak.' Dia tetap akan mengizinkan pacarnya walau hatinya menolak. Dia akan terus mendukung semua hal kesukaan pacarnya walau itu yang membuatnya sedih. Semua kamu lakukan demi aku, kan? Sekarang kamu minta pisah, tapi hatimu menolak. Aku tahu itu. Aku sangat mengenalmu baik Syahdu yang dulu, ataupun Syahdu yang sekarang."


Syahdu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Wicak. Dia menangis lagi di dada bidang lelaki itu. Nyaman, itu yang Syahdu rasakan apalagi deguban jantung Wicak begitu teratur dan terasa hangat.


"Soal orang tuaku, biar itu menjadi urusanku, Syahdu. Kupastikan mereka akan menerimamu seperti aku menerima semua keburukan dan kebaikan dalam dirimu. Aku mencintaimu, Syahdu. Aku benar-benar mencintaimu."


Entah mengapa terasa teriris hatinya, Syahdu semakin menangis mendengar itu. Tidak ada yang bisa ia katakan lagi. Dia bahkan sudah tidak sanggup memberi alasan.


Setelah Syahdu merasa lebih tenang, dia melepaskan pelukannya. Baju Wicak sudah basah karena air matanya. Dia menangis cukup lama di dada kekasihnya itu. Apalagi rasa rindu membuatnya urung melepas pelukan dengan cepat.


"Udah lebih baik sekarang?"

__ADS_1


Syahdu mengangguk lambat. "Maaf.."


Wicak mengelus pipi Syahdu. "Kamu ngga salah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan selama ini."


"Kakak ngga ada salah apapun. Dan karena itu, aku merasa ngga pantes bersama kakak."


Wicak malah tertawa. "Bicara apa, sih. Aku juga pernah mikir begitu, sih. Merasa ngga pantes buat kamu. Rasanya kamu bisa bersama laki-laki lain yang lebih bisa bahagiakan kamu dari pada aku yang harus merintis dulu."


"Enggak. Aku lebih baik sama kakak." Jawab Syahdu cepat.


"Haha. Iya, kan. Bukan cuma kamu, aku juga pernah berpikir hal yang sama. Tapi itu membuatku semakin semangat untuk menjadi lebih pantas buat kamu, Syahdu. Karena aku ngga mau suatu hari menyesal karena ngga perjuangin kamu."


"Tapi.. gimana kalau ternyata aku ngga sesuai harapan kakak.."


"Kayaknya ngga ada manusia yang bisa benar-benar memenuhi harapan kita. Semua pasti ada plus minusnya. Dan aku akan berusaha menerima semua plus minus kamu." Kata Wicak sambil mengelus pipi Syahdu, menatap mata perempuan itu dalam-dalam.


"Benarkah?"


"Iya, sayang. Sebagaimana kamu selama ini menerima kekuranganku, akupun akan menerima semua kekuranganmu. Apapun itu."


"A-apapun itu.." Ucapan Wicak seperti memberinya secercah harapan. Hidupnya yang tak ada semangat, kini seperti diberi jutaan energi untuk berdiri tegak.


"Apa selama ini aku seperti laki-laki yang akan membuangmu jika kau memiliki kekurangan, Syahdu? Apa selama ini aku seperti itu?"


Syahdu meneteskan air mata lagi. Dia menggelengkan kepala dan langsung berhambur kepelukan Wicak. Dia memeluknya dengan erat. Dalam hatinya merasa sangat berterima kasih pada Wicak karena sudah mau menerimanya. Walau lelaki itu tidak tahu dengan jelas, tapi perkataannya membuat Syahdu sangat tenang sekarang.


Dia berharap Wicak bersungguh-sungguh akan mengerti, bahwa dia bukan melakukannya dengan senang hati, tetapi terpaksa, demi membuat neneknya sehat kembali seperti sedia kala.


"Jadi, kita ngga putus, kan?"


"Enggak. Maafkan aku, kak. Aku udah buat keputusan yang buat kakak kesusahan."


"Iya. Aku kesusahan dengan keputusanmu. Jangan gitu lagi, ya. Apa-apa yang menjadi beban pikiranmu, ceritakan padaku. Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama, bukan dengan cara putus."


Syahdu mengangguk, wajahnya merasa bersalah apalagi bukan cuma Wicak, tapi dia menyusahkan dirinya sendiri. Tapi untunglah, apa yang dikatakan Arga benar. Tingkat perasaan cinta yang sudah jauh diatas, akan membuat seseorang menerima segala kekurangannya tanpa berpikir apa-apa kecuali memilikinya saja.

__ADS_1


__ADS_2