SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Naik dulu!


__ADS_3

...PoV Syahdu Larasati...


"Syahdu."


Aku menoleh saat mendengar suara kak Wicak. Dengan senyuman tulus dari bibirnya, dia menghampiriku.


"Duduk disini sebentar."


Kak Wicak menarik tanganku untuk duduk, lalu dia mengeluarkan amplop berwarna coklat dari tasnya.


"Ambil ini."


"Apa ini?" Aku membuka amplop itu dan membulatkan mata saat isinya adalah uang beberapa lembar seratus ribu.


"Itu gajiku." Ucapnya sambil tersenyum cerah.


"Iya, gaji kakak. Terus kenapa dikasih ke aku? Simpan aja!" Aku langsung meletakkannya lagi di pangkuan kak Wicak.


Dia meraih tanganku, meletakkan lagi amplop itu di telapak tanganku. "Aku kasih buat kamu. Kamu kuliah sambil kerja, pasti capek. Apalagi hasilnya untuk biaya rumah sakit. Jadi, ambil ini untuk uang jajanmu. Gunain kalau kamu ingin beli ini itu."


Mataku tak berhenti menatap kekasihku. Dia Wicaksana, laki-laki yang amat kusayangi dalam hidupku. Betapa baiknya dirimu sampai-sampai gaji yang seharusnya kau nikmati malah kau berikan padaku yang sudah banyak membohongimu. Wicak, jangan begini. Aku sangat merasa bersalah sekarang.


"Syahdu, kenapa nangis?"


Aku buru-buru menghapus air mataku. Bagaimana aku tidak semakin cinta, Wicaksana. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin memelukmu kalau saja ini bukan di kampus.


"Kak, simpan aja. Aku juga baru gajian. Uang untuk nenek masih ada dari hasil jual rumah kemarin."


"Enggak. Ini memang udah kuniatkan untukmu. Aku selama ini mencari kerja juga untukmu nanti. Jadi, pegang aja gajiku. Kalaupun tidak digunakan, tabung aja."


Kak Wicak mengelus tanganku dengan ibu jarinya. "Udah makan kamu?"


Aku mengangguk lemah. Mataku tidak beralih padanya. Lelaki baik ini, apa jadinya kalau kau tahu aku sudah mengkhianatimu?


"Aku masih ada kelas. Nanti kutelpon, ya."


Kak Wicak langsung pergi. Wajahnya juga tidak berubah, masih saja ceria. Dia terlihat amat senang karena berhasil memberikan gajinya padaku. Aku bisa merasakan itu.


Aku menatap amplop coklat di tanganku. Bukan kali pertama kak Wicak memberiku uang. Tapi ini, ini gajinya. Hasil dari keringatnya. Selama ini yang kutahu dia membantuku dengan uang yang diberikan oleh orang tuanya. Aku tidak akan gunakan uang ini. Aku akan menyimpannya.


...~...


Aku baru tiba di apartemen Arga. Laki-laki itu belum sampai padahal dia yang minta aku cepat datang malam ini.


Aku pun mandi, berendam dengan air hangat karena belakangan bukan fisikku saja yang lelah, pikiranku juga.


Setelah beberapa saat, aku keluar dan mendapati Arga tengah memasak di dapur.


Aku menoleh ke dalam frying pan yang dia genggam. Dia tengah membuat mie instan.


Kenapa kalau Arga yang buat mie instan bisa harum begini. Kalau aku yang buat, engga ada wangi-wanginya. Nih anak emang jago masak, ya. Kapan-kapan aku akan minta dia ajarin aku masak, ah.


Tanpa diminta, aku duduk di kursi saat Arga menuang masakannya dalam mangkok.


"Gue cuma buat satu!" Tukasnya padaku.

__ADS_1


"Aelah, Ga. Bagi dikit napa."


Arga mendecak, tapi dia tetap membagi dua mie dalam mangkok dan memberikannya padaku.


"Hehee, makasih."


Aku langsung menyantap masakan Arga. Enak banget emang. Beda dengan buatanku padahal sama-sama mie instan.


Heran ya, sejak kapan perasaan takutku pada Arga memudar? Padahal wajahnya pun gak berubah. Masih terlihat seperti wajah orang yang duitnya dicolong orang.


Selesai makan, aku mencuci bekas mangkokku dan Arga. Lalu kulihat dia mulai membuka laptopnya.


"Ga.."


"Hm."


Aku meletakkan di atas meja kartu ATM yang pernah dia kasih ke aku. Ku geser kartu itu ke dekat laptopnya. Dia melihati kartu itu, lalu mendongak menatapku yang berdiri di depannya.


"Aku pulangkan kartunya. Uangnya belum ada kuambil, kok."


"Kenapa?" Tanyanya heran.


Aku duduk di sofa agak berjauhan dari Arga.


"Rasanya aku memang udah kayak pelacur kalau nerima uang lebih darimu."


Ya, setelah mendengar penuturan Alvin dan menerima uang dari kak Wicak, aku sadar kalau aku memang sudah mirip dengan pelacur. Selama ini aku hanya mengira kalau aku sedang menukar diriku dengan uang untuk biaya nenek. Jika aku menerima lebih, apa bedanya aku dengan menjual diri.


"Memangnya lo ada duit buat belanja keperluan lo?"


"Gue akan biayain kuliah dan semua keperluan lo sampe selesai. Gue janji."


Mataku membulat. Hah, kenapa Arga sampai janji begitu? Gak salah denger, nih?


Arga menutup laptop dan meletakkannya di atas meja. "Lo jangan berpikir kalau lo itu ngejual diri. Enggak. Tenang aja, gue juga gak akan ngebocorin ini ke siapapun sampe gue mati."


Aku diam. Ini kata-kata yang waktu itu Arga pernah ucapin. Tapi buktinya, Awan bisa tahu kalau dia memanfaatkan kesulitan perempuan. Juga Alvin yang bisa menebak kalau aku pelacur pribadi Arga. Darimana mereka tahu itu? Ah, aku agak takut kalau orang-orang akan tahu soal ini.


"Lo kenapa tiba-tiba begini?" Tanya Arga.


Aku menunduk. Pembahasan kami mulai serius. "Aku teringat dengan ucapan temanmu itu. Selama ini, aku gak merasa seperti pelacur sedikitpun. Tapi setelah kupikir-pikir, aku memang sudah seperti itu, ditambah lagi kau memberiku uang tambahan."


"Hah, ucapan si brengsek itu gausa lo dengerin."


"Tapi, darimana dia tau kalau aku perempuan sewaanmu?"


Arga diam sebentar. Dia lalu mencondongkan duduknya menghadapku.


"Gue emang bukan cowok baik-baik. Mereka pun kenal gue kayak gimana dulu. Tapi, bukan berarti cewek yang gue gandeng semuanya sewaan gue. Dan dia pun gak punya bukti soal itu."


Tetap saja kan, aku merasa takut kalau suatu hari bertemu dengan Alvin entah dimana, dan dia mengatakan hal yang buat aku marah lagi.


"Mereka gak akan berani nyentuh cewek yang pernah gue gandeng kalo ga dapet izin dari gue. Jadi, lo ga akan diganggu sama siapapun itu. Kalo pun lo dapet ancaman atau apa, lo harus cepat kasi tau gue. Denger?"


Jawaban Arga seolah tau apa yang ada di kepalaku. Aku mengangguk, walau aku masih takut kalau suatu hari aku bertemu salah satu teman Arga yang waktu itu.

__ADS_1


"Lo juga! Udah gue bilangin dari awal jangan mau kalau diajak kenalan, malah ngulurin tangan!"


Yah, kini aku disembur Arga. Nampaknya kemarin dia diam bukan karena tak marah. Tapi menunggu momen yang tepat. Tapi tak apalah, memang aku yang salah.


Aku menunduk, aku memang salah sampai terus kepikiran soal kemarin.


"Sorry, udah bawa lo kesana."


Eh..? Aku mengangkat kepala dan Arga menatapku sambil ucapin maaf? Padahal dia baru ngedumel, tapi masih bisa minta maaf. Ternyata ada sisi baiknya juga anak ini.


"Aku juga salah.." sambungku.


"Ck. Yaudala, intinya lo gausa pikirin lagi."


Aku mengangguk dan Arga kembali membuka laptopnya.


Aku melirik ke layar laptop Arga. Selama ini gak pernah tau dia ngerjain apa, sampai berkutat terus dengan laptop.


Kulihat di layarnya ada diagram-diagram yang buat kepalaku langsung pusing.


"Ga akan ngerti lo juga." Tukasnya tiba-tiba dan aku mencebik mendengar itu.


TRING


Obrolan grup dimulai.


Dina: udah pada beres tugas beluuum


Alika: begitu syuliiittt tugas ini...


Dina: iya, rada-rada emang nih pakdos!


Naya: huee tugas apaaaa???


Alika: wkwkwk lu mulu prasaan yang gak pernah nyadar tugas !


Eh, ada tugas emang?


"Arga, tugas apaa??" Tanyaku pada lelaki yang juga tengah memeriksa ponselnya.


"Pak Mawardi."


"Aduh. Kok aku gak tau?" Ucapku dan langsung membuka laptop.


"Naik dulu lu."


"Hah?" Aku tak paham maksud Arga. Tapi dia dengan cepat mengarahkan dagunya menuju tempat tidur.


"Udah selesai kan, lu, haidnya."


Argh.. Arga cepat banget tahu soal itu. "Eng.. Sekarang banget, nih? Aku belum ngerjain tugas, Gaa!"


Arga tampak cuek, dia berjalan menuju tempat tidur, duduk di tepi ranjang, menepuk-nepuk tempat tidur itu sambil menatapku.


Aakhhhhh Arga sialan emang!! Makiku dalam hati.

__ADS_1



__ADS_2