SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Gangguan Stres Pascatrauma


__ADS_3

Syahdu menyeret kopernya, berjalan diatas lantai bandara. Sejak obrolan mereka tadi malam, Arga tak lagi bicara. Lalu saat Syahdu berangkat pergi, Arga berusaha kembali membujuk Syahdu.


Berbagai kalimat dan cara Arga keluarkan untuk supaya Syahdu bertahan, namun gadis itu tetap pada keputusannya, bahwa dia tak ingin bersama Arga dan hidup di kota, karena alasan yang sama, yaitu rasa bersalah pada Wicak yang sudah mati 7 tahun yang lalu.


Syahdu duduk di bangku setelah check-in berhasil ia lakukan. Dia termenung. Semua ini bukan salah Wicak. Sejak awal ini memang salahnya. Mengkhianati dan membohongi Wicak berkali-kali, yang walau sudah mendengar keburukan Syahsu namun tetap memilih bertahan. Sejak saat kecelakaannya, Syahdu pun berjanji akan menerima apapun kondisi Wicak yang juga mau menerimanya kembali. Tetapi sayang, disaat itu juga Wicak pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Tak lama setelah itu pula, Syahdu kembali menerima kenyataan bahwa Arga akan menikah dengan orang lain. Dia tidak bisa membohongi diri bahwa ia juga hancur dan sulit menerima kalau Arga juga akan pergi.


Hingga puncak dimana ia, untuk pertama kali menyerahkan dirinya dengan senang hati pada Arga, dan bisa merasakan bahwa ia juga mencintai Arga, membuatnya seperti manusia tak tahu diri. Sebab dimana ia harus lari karena merasa bersalah pada Wicak yang belum satu minggu meninggal dunia.


Tanpa terasa air mata Syahdu kembali meleleh. Dengan segera ia menghapusnya, tepat bersamaan sebuah tepukan di bahunya membuat Syahdu terperanjat.


"Syahdu?"


Gadis itu menoleh, mendapati seorang laki-laki bertubuh besar sudah duduk disebelahnya. Ia berpikir sejenak, lalu matanya membulat saat mengingat lelaki yang dulu kurus dan kini bertubuh gempal.


"Kak.. Khairul?"


Lelaki itu tersenyum, lalu mulai membuka pembicaraan.


"Lama banget ngga ketemu." Katanya berbasa-basi, tanpa memperdulikan Syahdu yang berusaha menghapus air mata.


"Aah. Iya. Apa kabar, kak?" Tanya Syahdu dengan suara paraunya.


"Baik. Kamu gimana? Ngga pernah keliatan lagi, soalnya."


"Merantau, kak."


"Nenangin diri, ya? Tapi sekarang.. udah lebih baik, kan?"


Syahdu hanya tersenyum. Pandangannya lurus kedepan, mengingat kembali masa dimana ia dan Khairul menunggu Wicak di rumah sakit.

__ADS_1


Mereka berdua diam cukup lama, sampai helaan napas terdengar dari mulut Khairul.


"Kamu hebat. Bisa bertahan sampai sini. Aku sebenarnya dulu khawatir, karena yang aku denger, kamu baru aja ditinggal nenek kamu, 3 hari kemudian Wicak yang ikut ninggalin kamu."


Syahdu tersenyum lagi. Semua itu sudah terlewati dan dia bersyukur karena memang ada peran-peran penting yang membuatnya bertahan sejauh ini.


"Kamu... udah balik sama Arga?"


Pertanyaan itu membuat Syahdu menoleh. Apa katanya? Kenapa Khairul bertanya soal itu? Syahdu sampai tak berkedip menatap Khairul.


"Haha. Jangan liatin aku kaya gitu, dong. Lagian satu kampus waktu itu juga tau, kalau Arga yang tiba-tiba jadi Artis itu nyanyi buat kamu. Tersebar banget berita itu. Ngga tau deh, benar atau enggaknya. Tapi kalau menurut apa yang Wicak bilang dulu sih, seharusnya bener."


Lagi, Syahdu terbelalak. Wicak? Apa kata lelaki itu??


"Aku pikir, kamu bakalan ke Arga setelah Wicak meninggal. Ngga taunya aku salah. Arga malah cari kamu lewat lagu, sampe bertahun-tahun. Sorry ya, sempet nuduh kamu yang bukan-bukan."


"Wicak.. bilang apa, kak?" Tanya Syahdu penasaran.


"Wicak, ya? Feeling-nya kuat banget, sih. Mungkin efek cinta kali, ya. Jadi.. dia bisa liat perubahan kamu." Ungkap Khairul, membuat Syahdu kembali menundukkan pandangannya.


Kembali menggenang air mata Syahdu. Pandangannya kabur karena air yang sudah menebal.


"Puncaknya, waktu dia ngikutin kamu yang masuk ke salah satu gedung, yang katanya Arga juga tinggal disana."


DEG!


Jantung Syahdu berdetak kencang. Kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya namun masih membuat Syahdu gemetar. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Wicak saat itu. Dia tidak sanggup, sampai air matanya kembali terjatuh.


"Itu cukup buat dia syok. Tapi anehnya dia masih bisa senyum kalau ketemu kamu. Dan.. Yang aku masih ingat sampe sekarang, dia bilang, kalaupun seandainya kamu ninggalin dia demi Arga, dia ikhlas kalau laki-laki itu punya perasaan yang lebih dari dia. Dia bisa terima kalau laki-laki itu bener-bener tulus sayang sama kamu, bukan permainkan kamu."


Syahdu menunduk. Dia tak bisa menguasai saat bahunya ikut terguncang. Benar kata Nani, selama ini Wicak sudah tahu hubungannya dengan Arga, tetapi lelaki itu sangat pintar menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Mungkin selama ini Wicak hanya tahu Syahdu dan Arga sering bersama, dan menepis bayangan buruk soal hubungan jauh diantara keduanya. Lalu saat Syahdu jujur dengan apa yang terjadi, saat itulah Wicak marah karena ternyata Syahdu mengkhianatinya, dan Arga mempermainkan gadisnya.


"Syahdu, sorry. Aku ngga bermaksud buat kamu kaya gini.."


Syahdu menerima tisu yang disodorkan Khairul. Dia menyelesaikan tangisannya yang seperti tak pernah kering jika berkaitan dengan Wicak.


"Ngga apa-apa, kak. Aku jadi tau.." jawabnya dengan suara parau.


"Waktu kamu pergi dan Arga sampe nyari kamu, baru aku tau kalo kamu ngga kaya apa yang orang-orang pikirkan." Ujarnya, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Syahdu, Arga itu beneran cari kamu, kan? Soalnya kemarin malam, di konsernya, aku denger dia nyebutin nama kamu yang udah hadir. Dan aku liat kamu ada disini sekarang.. Berarti, kamu bener-bener udah ketemu sama Arga? Tapi kenapa kamu malah ada disini? Mau pergi lagi?" Tanya Khairul dengan rasa penasarannya.


Syahdu mengangguk, sambil membersihkan air yang mengalir di hidungnya.


"Kenapa?"


"Aku ngga bisa. Kak Wicak terus hadir di mimpiku." Jawabnya pendek, karena tak mungkin ia menceritakan semuanya pada Khairul.


"Kalau menurutku, itu karena kamu terlalu kepikiran dan terbawa masa lalu. Padahal sebenarnya Wicak juga udah tenang disana. Dia juga ngga akan suka kalau kamu terus sedih begini. Apa udah pernah coba ke Pskiater?" Tanya Khairul pada Syahdu.


Pskiater? Syahdu sampai mengerutkan dahinya, "M-maksud, kakak?"


"Gangguan stres pascatrauma. Beban kamu sangat berat sampe kamu ngga bisa lupain itu."


Syahdu termangu. Apa itu? Dia tidak paham. Tapi beban berat yang diucapkan Khairul, itu benar adanya. Terlalu berat sampai diawal-awal kejadian itu membuat air mata Syahdu terus tumpah tanpa henti. Nani juga mengakui itu, bahkan dalam tidur pun dia masih saja menangis tanpa sadar.


"Mimpi buruk, gelisah, suasana hati yang tertekan. Gitu, kan?"


Syahdu sampai tak bisa menjawab ucapan Khairul. Apa yang diucapkan lelaki itu benar. Bahkan Syahdu sendiri tidak bisa menggambarkan perasaannya yang muncul rasa sakit hati secara tiba-tiba. Sulit tidur nyenyak karena terkadang mimpi itu terus muncul. Mimpi yang sama, yang kadang sampai membuat air matanya meleleh saat tertidur.


***

__ADS_1



Maaf lamaa up-nyaa, Vote dulu dong🤗🤗🤗


__ADS_2