SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Alasan putus


__ADS_3

Semua terasa masuk akal sekarang. Kenapa gadis itu terlihat seperti patah semangat. Ternyata karena dia putus dengan pacarnya. Walau Arga juga heran, padahal mereka baru saja pergi bertamasya bersama-sama. Apa yang laki-laki itu lakukan pada Syahdu? Gadis itu kemarin malam memang menangis di stasiun, tapi kekasihnya malah datang membawa bunga ke kelas pagi tadi seperti tanpa masalah. Benar-benar aneh.


Arga kini berdiri tak jauh dari Syahdu. Gadis itu duduk di lantai sambil terus menatap kosong ke jendela kaca yang terbuka.


Syahdu menekuk lutut, menenggelamkan kepalanya di atas lututnya. Arga bisa melihat bahu yang terguncang itu, pasti Syahdu menangis lagi. Rasanya, dia ingin memeluk Syahdu, membantu gadis itu supaya lebih tenang. Tapi, dia tahu gadis itu pasti menolak. Ia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan Syahdu menghabiskan air mata sementara dia mengerjakan tugasnya.


Syahdu perlahan menghapus air matanya, dan mulai membaca pesan dari Wicak. Hatinya bagai tersayat, lelaki itu terus mengiriminya pesan dengan banyak tanda tanya disana. Alasan yang Syahdu berikan tidak ada. Wajar dia bertanya-tanya, tapi Syahdu pun memang tak punya alasan lain selain dirinya yang sudah kotor itu.


Alasan itu tidak akan pernah ia ungkap karena merupakan aib bagi dirinya. Cukup dia meminta Wicak untuk menerima saja keputusan itu, sudah pasti keputusan yang paling baik menurut Syahdu.


Syahdu pula tak bisa terus menahan air matanya. Air itu masih menggantung di dagunya, lalu menetes ke layar ponsel Syahdu. Cepat-cepat gadis itu menghapus air matanya walau tak juga mau berhenti.


Syahdu memeluk lututnya lagi, lalu bergumam sendiri.


"Sabar, Syahdu. Kuatlah. Waktu akan terus berputar dan kau akan segera pulih. Ya.. kau akan pulih, begitu juga kak Wicak. Akan ada hari dimana kalian akan bertemu dengan perasaan yang datar satu sama lain."


Ucapnya yang lagi-lagi menangis saat mendengar kata-katanya sendiri. Ternyata, dia tak sekuat itu untuk bersikap biasa pada Wicak walau dalam sebatas kata-kata belaka.


Beberapa jam berlalu. Syahdu sudah berbaring di ranjang. Arga pula telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat Syahdu sudah menutup matanya walau bekas air mata masih ada di wajahnya.


Lelaki itu berbaring di sebelahnya. Menarikkan selimut sampai menutupi bahu mereka berdua. Dia mengecup kening Syahdu dengan lembut sebelum ia pun akhirnya ikut tertidur di dekat gadis itu.


...🍁...


Arga bangun saat matahari mulai naik. Dia terkaget saat tak mendapati Syahdu disebelahnya.


"Syahdu!" Panggil Arga, tapi tak ada sahutan. Gadis itu menghilang karena dimanapun Arga mencari, tetap tidak menemukannya.


TRING!

__ADS_1


Itu ponsel Syahdu. Ponselnya masih ada di atas nakas. Arga memeriksa ponsel yang ternyata baru saja menerima pesan masuk. Itu dari Wicak, kekasih Syahdu yang masih ia simpan fotonya. Bahkan nama lelaki itu juga masih disertakan tanda hati. Apa benar mereka putus?


Arga mencoba membaca pesan dari layar tanpa membukanya. Dia hanya penasaran dengan alasan putusnya kekasih yang sudah 7 tahun berpacaran itu.


'Syahdu, maafkan apapun kesalahanku. Tapi kumohon beritahu aku. Ayo, bicara. Aku mau bertemu. Jelaskan padaku semuanya dan aku akan berubah demi dirimu.'


Arga meletakkan lagi ponsel Syahdu. Ternyata lelaki itu sendiri juga tidak tahu apa yang menjadi sebab Syahdu memutuskannya.


Arga menoleh ke belakang saat mendengar pintu terbuka. Syahdu masuk sudah penuh keringat bersama Popi. Dia langsung menuju kulkas dan mengenggak air dalam botol.


Jadi, dia baru saja olahraga? Memang baru pertama Arga melihat Syahdu bangun lebih dulu dari pada dirinya. Tapi jelas alasan Syahdu olahraga adalah karena putus cinta.


Hari ini mereka masuk pagi. Syahdu sudah duluan berangkat sebelum Arga. Gadis itu sampai kampus dengan jalan perlahan, menoleh kesana kemari berharap tidak bertemu dengan Wicak. Namun sayang, tangannya langsung digenggam erat oleh Wicak.


"Syahdu."


Ah, tubuh gadis itu langsung melemas. Apa yang ia hindarkan ternyata malah bertemu.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan kak, aku udah ngga bisa sama kakak." Jawab gadis itu cepat. Dia berusaha melepaskan tangannya namun Wicak menggenggamnya erat.


"Ngga bisa begini, Syahdu. Aku ngga mau putus."


"Tapi aku mau kita udahan, kak."


"Kenapa, Syahdu? Kasih tau aku alasannya." Tukas Wicak.


Syahdu menatap wajah itu. Dia menahan air mata yang mulai tergenang.


"Aku.. udah ngga cinta sama kakak." Jawab Syahdu dengan menunduk.

__ADS_1


"Bohong. Kamu nggak pinter bohong, Syahdu." Sahut Wicak. "Katakan, Syahdu. Apa salahku?"


Syahdu menatap Wicak dalam-dalam. "Kakak ngga salah apa-apa."


"Ya, trus? Kenapa kamu begini, hm?" Wicak mengelus lembut kepala Syahdu. "Kalau ada yang kamu ngga suka dariku, seharusnya kamu bilang. Bukan memutuskan hubungan sebelah pihak. Ayo, kita bicarakan." ucap Wicak dengan nada yang sangat lembut.


Akhirnya air mata Syahdu mengalir. Dia tidak bisa menahannya lagi. "A-aku yang ngga baik buat kakak."


"Syahdu, apanya nggak baik. Kamu sangat baik. Nggak ada yang lebih tau kamu dari aku. Jangan buat alasan yang ngada-ngada." Kata Wicak dengan tegas. Justru itu membuat Syahdu semakin meneteskan air matanya.


"Udahlah, kak. Hubungan kita nggak bisa dilanjut. Orang tua kakak juga ngga setuju sama hubungan kita."


Wicak menghembuskan napasnya perlahan. "Jadi karena itu?"


Syahdu diam. Dia mulai berpikir alasan apalagi yang akan dia pakai supaya Wicak bisa menerima itu.


"Pokoknya aku mau putus, kak." Syahdu melepaskan perlahan genggaman tangan Wicak. "Hubungan kita ngga bisa dilanjutkan. Aku mohon kakak turuti aku, Plis, jangan buat aku merasa bersalah lebih dalam lagi."


"Bersalah atas apa, Syahdu? Aku perlu alasan. Alasanmu terlalu maksa. Sebenarnya ada apa? Apa kamu dipaksa ibuku?"


Syahdu menggeleng cepat. "Ngga ada yang maksa. Ini dari hati." Syahdu menghapus air matanya lagi. "kakak tolong jangan hubungi aku lagi. Aku ngga mau dan ngga akan jawab pesan-pesan kakak lagi."


Wicak menghela napas. "Kamu mau break dulu? Mau istirahat? berapa lama, aku akan turuti. Tapi nggak putus, ya? Aku ngerti kalau kamu butuh ruang, mungkin aku terlalu sering mengajakmu pergi, jadi kamu bosan. Begitu, kan? Aku paham kalau memang itu yang terjadi. Wajar, karena kita sudah tujuh tahun. Tapi, enggak putus, ya?" Bujuk Wicak.


Syahdu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan kotak perhiasan dari tasnya, menyerahkan itu pada Wicak.


"Maaf, kak. Tapi aku benar-benar mau semua berakhir. Maafkan aku. Aku ngga bisa lanjutin hubungan kita. Semoga kakak dapet yang lebih baik dari aku." Kata Syahdu kemudian pergi.


"Apa? Syahdu, tunggu."

__ADS_1


Gadis itu berlari menjauh, meninggalkan Wicak dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Ternyata Syahdu memang ingin pisah begitu saja. Tapi justru itu yang membuat Wicak semakin tersiksa dan tidak bisa merelakan hal itu terjadi begitu saja. Dia tetap akan terus memperjuangkan Syahdu untuk hidupnya.


__ADS_2