SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Tergalinya Masa Lalu


__ADS_3

Haruskah kita berakhir cukup sampai disini meski hati berkata tak mampu..


Tak ingin terlambat menyudahi keadaan ini. Mungkin ini jalan kita..


...*...


Syahdu bersama Adit di ruang tengah, mengajari bocah itu mengerjakan PR-nya dan Nani baru saja muncul dari balik pintu depan dengan wajah berseri.


"Bunda, kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Syahdu penasaran.


Nani duduk di kursi, dia menggenggam tangan Syahdu disampingnya.


"Bunda senang, akhirnya kamu mau membuka hati lagi."


Mata Syahdu membulat. "Kok.. Bunda tau?"


"Arif yang bilang. Dia senang, ucapin makasih berkali-kali sama Bunda."


Syahdu menunduk, merasa malu. Kenapa pula Arif sampai seperti itu.


"Semoga hubungan kamu lancar sama Arif, ya. Bunda masuk dulu." Masih dengan senyuman yang melekat di wajahnya, Nani masuk kedalam kamarnya.


"Bunda.." panggil Adit yang sejak tadi duduk di bangku seberangnya. "Bunda mau nikah, ya?"


"Apa? Hahaha. Enggak, sayang."


"Tapi tadi kata Bunda Nani, pak Arif..."


"Bunda sama pak Arif berteman baik. Kan, selama ini Adit liat sendiri, kan?"


Bocah itu tak menjawab, matanya masih melihat kearah Syahdu dengan cemberut, kemudian melanjutkan menulis tanpa ingin tahu kelanjutannya lagi.


Disela-sela itu, Tari membuka pintu. Ia baru pulang dari kota bersama teman-temannya. Tapi bukan wajah bahagia seperti biasa, Tari justru terlihat seperti patah hati.


Gadis itu menghempaskan tubuhnya diatas kursi. Dia menenggak teh hangat Syahdu begitu saja sampai habis.


"Kenapa?" Tanya Syahdu heran. Biasanya gadis itu riang tapi sekarang malah lesu.


"Kak, bunda mana?"


"Di kamar."


Gadis itu manggut-manggut. "Eh, kak. Ada nggak sih, orang yang nyimpen perasaan bertahun-tahun sama orang yang udah ngga pernah dia temui lagi."


"Apa?" Syahdu merasa tersentil.


"Misalnya, ada cowok yang naksir sama satu cewek. Trus cewek itu ngilang. Si cowok sampe bertahun-tahun mengharap si cewek kembali. Mungkinkah?"


Syahdu mematung. Pertanyaan Tari bisa ia jawab dengan mudah karena dia merasakan itu tapi...


"Adit, lanjut kerjakan PR-nya di kamar aja ya, nak. Nanti Bunda nyusul."


Adit mengangguk, membereskan buku-bukunya dan masuk kedalam kamar.


"Mungkin." Jawab Syahdu pada Tari.


Tari mendekatkan wajahnya. "Kakak masih mengharapkan kak Wicak kembali, ya?" Wajah gadis itu tampak sedih melihat Syahdu.

__ADS_1


Syahdu menghela napas, mencoba tak mengingat masa lalunya.


"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"


"Tadi aku abis denger podcast dan isinya tuh buat aku ngga habis pikir. Kok bisa ya, ada laki-laki yang menunggu cewek sampek lama banget. Padahal dia ngga tau apa perempuan itu masih hidup atau udah mati. Udah nikah atau masih jomblo, atau jangan-jangan cewek itu udah punya suami. Atau-"


"Heei. Kamu ini lama-lama pemikirannya aneh banget, sih. Seharusnya kamu mandi, makan, trus kerjain PR! Malah bahas cinta." Omel Syahdu pada Tari.


"Tapi kak, ini tuh bikin aku pilu."


"Pilu apa, sih. Anak kecil kok ngerti pilu. Udah sana, mandi. Kakak tunggu kamu disini ngerjain PR-nya."


"Bundaa.. Adit nggak ngerti yang iniii." Teriak Adit dari kamar.


"Kesini, sayang." Balas Syahdu saat pembahasan bersama Tari sudah usai.


Tari masih melamun. Syahdu memukul pelan lutut gadis itu sampai ia berdecak dan menggerutu masuk kedalam kamarnya untuk menjalankan perintah Syahdu.


Setelah selesai mandi dan makan, Tari kembali ke ruang tengah. Disana, dia melihat hanya Syahdu sendiri tengah membaca buku yang Tari pinjamkan dari perpustakaan sekolahnya.


Gadis itu duduk di bawah Syahdu, membuka tas untuk memulai belajarnya.


"Ada PR, Tar?" Tanya Syahdu.


"Biasa kak, Bahasa Inggris. Ajarin ya, soalnya kakak kan, jago."


"Gampang." Syahdu menutup bukunya, lalu ikut duduk dibawah bersama Tari.


"Hmmm.. hmm.. hmm..🎶"


Syahdu masih diam, mendengar Tari yang tengah mengeluarkan buku dari tasnya.


Syahdu tahu dan rasanya mengenal nada itu tapi dimana? Kenapa rasanya sangat dekat tapi dia tak bisa menebak itu. Dia yakin, dia mengenal nada itu tapi nada apa itu.


"Kak." Tari menggunjang lengan Syahdu. Membuat lamunan perempuan itu buyar.


"Kok melamun. Dari tadi aku tanyain ngga nyahut."


"Oh, apa?"


"Ini, aku beli buku masakan. Kak liat deh, aku pengen banget ini. Please masak ini buat besok." Tari menunjuk satu hidangan ayam saus tiram di buku masakan itu.


Saus tiram, dulu pernah dimasakkan untuknya. Oleh seseorang yang namanya tak pernah lagi disebut oleh Syahdu.


"Hmm.. bahan-bahannya kayanya ngga ada dijual disini, deh."


"Besok ke kota lagi yuk, kak. Aku pengen banget makan ini." Tangan Tari mengetuk-ngetuk majalah


Syahdu tampak menimbang. Dia juga sebenarnya ingin membeli alat sulam. Sudah lama dia tak menyulam.


"Oke, besok kita ke kota."


"Yeayy. Gitu, dong. Ntar kita singgah ke warnet bentaran. Mau liat gebetan aku." Kata Tari sambil cengengesan, lalu mulai bersenandung lagi.


Syahdu yang memperhatikan Tari dengan gumaman di bibirnya membuat Syahdu penasaran. Sebab dia benar-benar mengenal nada itu hanya saja lupa lagu apa dan siapa.


"Tar.."

__ADS_1


"Hm?"


"Itu.. lagu siapa?"


"Yang mana?"


"Yang barusan."


Tari menunjuk Syahdu dengan pulpennya. Wajahnya mulai mengejek.


"Suka, ya? Kaann! Aku udah bilang, kakak pasti suka. Kemarin aja, nggak mau nemenin aku. Aku nggak mau kasih tau. Week."


"Hh. Ya udah, kakak juga ngga mau bantuin kamu ngerjain PR!" Syahdu mulai beranjak, tapi tangannya ditarik lagi oleh Tari.


"Bercanda ya ampun. Ini tuh, lagu teromantis sewindu ini. Judulnya apaa, ya. Tari lupa. Bahasa Inggris soalnya. Tapi penyanyinya Arga. Orangnya ganteng.. aww.." Tari mulai heboh di tempatnya, memikirkan wajah Arga.


Lain hal dengan Syahdu. Dia benar-benar diam seperti patung. Setelah mendengar nama Arga, barulah ingatannya dengan jelas kembali muncul dimana Arga beberapa kali menyanyikan itu. Di balkon rumah Margareth, dan juga di apartemennya.


'Jadi.. Arga sekarang jadi penyanyi terkenal?' Batin Syahdu.


Sejenak dia merasa Arga telah menjadi orang yang sukses. Ya, itu sudah pasti. Memang begitu kan, seharusnya.


"Kakak mau liat, orangnya??"


Tanpa menunggu jawaban, Tari mengeluarkan beberapa lembar foto dan gantungan kunci bergambar Arga.


"Tampan, kaaann..." Tari mengambil satu lalu mengelus-elus wajah Arga di selembar foto itu tanpa melihat bagaimana diamnya Syahdu. Lelaki yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat wajahnya, ternyata sudah melebarkan sayapnya ke industri musik. Dan dia.. tampan sekali.


Syahdu menarik napasnya perlahan, sesuatu terjadi dalam hatinya. Dia merasa masa lalu begitu dekat dengannya sekarang.


"Tapi.. sayang banget. Ternyata dia udah punya kekasih.."


Kekasih? Apa maksud Tari.. istri? Bukankah seharusnya dia sudah menikah dengan Soraya dan punya anak, mungkin? Syahdu penasaran, tapi dia enggan bertanya.


"Kakak tau nggak, yang tadi aku ceritain itu tuh dia! Arga, orang yang udah bertaun-taun nungguin ceweknya balik. Dia masih nunggu padahal udah pisah bertahun-tahun. Dan yang bikin aku kaget, ternyata dia udah pernah tunangan tapi gagal. Katanya dia nungguin banget cewek itu balik. Kasihan tau, kak. Ternyata dia nyiptain lagu semua buat cewek itu.." Jelas Tari menggebu-gebu.


Syahdu bergeming, benaknya tengah sibuk berpikir.


'Apa maksudnya itu? Pertunangan Arga gagal? Lalu dia menunggu siapa sampai bertahun-tahun? Maksudnya aku?'


Dada Syahdu bergemuruh. Benarkah dia yang dinanti Arga kehadirannya? Rasanya seperti tersambar petir yang hebat, membuat Syahdu kehilangan kesadaran. Dia sampai berdiri dan terhuyung saat berjalan karena tak kuat dengan fakta baru dari Tari terkait Arga.


"Kak, kak Syahdu!" Tari memanggilnya, namun Syahdu berjalan saja menuju kamarnya.


"Kak.. kok pergi? Ini tugas aku gimana??"


Syahdu menutup pintu, lalu ia terduduk dan bersandar dibalik pintu.


Kenyataan baru ini membuatnya sulit bernapas. Apa itu? Selama 7 tahun ini Arga mencarinya? Jadi laki-laki itu tidak menikah dan menunggunya? Arga.. kenapa sampai seperti itu??


Syahdu jelas bisa menjawab itu. Malam saat pertunangan Arga, dimana ia sendiri tertegun dengan ungkapan dan bisikan cinta dari Arga.


Syahdu memilih naik ke tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya dengan harapan bahwa yang ia dengar dari Tari adalah salah. 7 tahun lamanya dia pergi dan malam itu, untuk pertama kalinya, Syahdu merasa tak ada artinya perjalanannya mencari ketenangan selama ini jika akhirnya Arga membuatnya menggali kembali masa lalu yang hampir berhasil ia kubur dalam ingatan dan hatinya.


TBC


**It's 27 guys, date of Syahdu's birthday. Kasih ucapan dong ke gw wakakaka. Kalau ada pertanyaan seputar apapun, Syahdu atau Richi,monggo ditanya, pasti gw jawab asal pertanyaannya masih aman hehehe**

__ADS_1


__ADS_2