
...PoV Author...
Arga berdiri di menghadap ranjangnya, menatapi tubuh yang tergolek indah di atas tempat tidurnya. Syahdu yang tengah tidur itu terlihat tenang bersama Popi disampingnya. Selimut sudah sampai di ujung kaki, sementara jendela kaca terbuka lebar, membuat gorden putih yang menggantung tersibak angin malam yang sengaja Syahdu buka untuk melelapkan tidurnya.
Tadi, dia meminta Arga membuka semua jendela dan membiarkan angin mengiringi mimpinya. Mungkin rasa lelah, tertekan, juga ketakutan yang selalu muncul di kepalanya membuatnya sulit beristirahat dengan tenang. Bagaimana pun, Syahdu tidak bisa lepas dari pikiran menakutkan tentang 'jika suatu hari, kehidupan ini tidak berjalan sesuai keinginannya'.
Arga mematung disana. Memperhatikan wajah Syahdu yang tidur itu seperti zat adiktif baginya, tentu dia tidak ingin lepas dari itu.
Dua hari tidak melihat wajah tenang itu membuatnya gelisah. Nampaknya, dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Syahdu disebelahnya, yang kini setiap hari juga membuatnya khawatir, jika suatu hari gadis itu tidak mendapatkan kebahagiaannya. Ada rasa ingin melindungi. Tapi dia tahu, Syahdu tidak membutuhkan itu darinya. Yang Syahdu ingin hanyalah terlepas dari kontraknya bersama Arga.
Perlahan Arga menaikkan selimut hingga bahu gadis itu, mengelus lembut rambut yang bergoyang pelan karena tiupan angin. Tak lupa dia mengecup dahi Syahdu sebagai ucapan selamat tidur darinya yang tak pernah ia lewatkan.
...🍁...
Arga memperhatikan kesibukan Syahdu. Gadis itu berjalan kesana kemari membawa barang-barang dan menumpukkannya di atas tempat tidur. Hari ini dia akan pergi dan kembali di hari minggu. Wajah gadis itupun tampak sangat ceria.
Arga bersandar dengan bahu kirinya, memperhatikan Syahdu yang menyusuni barang-barangnya ke dalam ransel yang barusan dia pinjam dari Arga.
"Mau kemana lo?" Tanya Arga.
"Ada, deh." Jawabnya tanpa menoleh.
Arga duduk di sofa memulai pekerjaannya lagi. Mendengar jawaban Syahdu membuatnya agak kesal karena perempuan itu merahasiakan kemana tujuannya. Sebenarnya, Syahdu bukan merahasiakan, itu karena dia sendiri tidak tahu kemana akan pergi. Wicak mengajaknya tanpa memeberitahu lokasi. Yang pasti, kalau Wicak bilang akan seru, berarti memang seru.
Syahdu sudah selesai dan langsung menyandang tasnya. Dia menggendong Popi yang sejak tadi rebahan di atas tempat tidur, ikut memperhatikan Syahdu yang sangat sibuk.
"Baik-baik disini, yaa.." Katanya sambil menatap wajah anjing itu.
"Perhatian amat. Ngga perlu lo bilang juga gue akan baik-baik aja."
Syahdu mengerutkan dahi, dia menatap laki-laki yang tengah memangku laptop itu. "Aku bilangin Popi, bukan kamu."
__ADS_1
Arga membeku seketika. Dia menoleh dan mendapati Syahdu memang tengah menggendong anjing kecilnya. Dia berdehem, merasakan sesuatu menyeruak dari dirinya. Yaitu malu.
Arga melanjutkan pekerjaannya walau pikirannya sudah sangat kacau karena rasa malu membuatnya serasa ingin lenyap detik itu juga. Mengapa dengan percaya dirinya, dia menganggap Syahdu tengah perhatian padanya.
Syahdu meletakkan Popi lagi di atas tempat tidur dan berjalan keluar.
"Aku pergi." Katanya sambil menutup pintu. Kepergian Syahdu membuat paru-paru Arga mengembang.
"Haaah. Aduhh, Sial. Malunyaaaa!!" Arga menjambak-jambak rambutnya karena rasa malunya yang begitu besar karena sempat merasa senang dengan perhatian yang Syahdu berikan.
"Arga." Tiba-tiba Syahdu membuka pintu dan membuat Arga seketika tenang.
"A-apa."
"Jangan hubungi aku selama disana. Mengerti?" Tanpa menunggu jawaban, Syahdu langsung menutup pintu, membuat Arga tak lagi berselera melanjutkan pekerjaannya.
~
Wicak mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di telinga. Tak lama, ponsel Syahdu berdering.
"Syahdu, dimana?"
"Di hatimu." Jawab Syahdu sambil berjalan perlahan mendekati Wicak.
Lelaki itu tersenyum kena gombalan Syahdu. "Aku tau. Cepat, aku udah di depan stasiun. Lima belas menit lagi kereta jalan, lho. Kamu udah dimana?"
"Disini." Jawab Syahdu di telinga Wicak sambil berjinjit.
Laki-laki itu menoleh ke belakang dan Syahdu tertawa riang karena berhasil menjahili Wicak.
"Kamu ini.." Wicak mencubit pipi Syahdu dengan gemas. "Udah bawa barang yang aku bilang?"
__ADS_1
Syahdu mengangguk cepat. "Udah, aman."
"Oke, let's go." Wicak menggenggam tangan Syahdu masuk ke dalam stasiun kereta karena mereka butuh sekitar 5-6 jam perjalanan untuk mencapai tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan, mereka disuguhkan pemandangan sawah yang indah. Keduanya bercanda dan tertawa tanpa terasa membuat Syahdu tertidur di kaca jendela.
Wicak secara perlahan memindahkan kepala Syahdu ke bahunya. Dia mengelus lembut pipi gadis itu dengan senyuman yang terus terukir. Wicak mengecup kepala Syahdu dengan lembut. Baru kali ini dia berjalan jauh dengan Syahdu. Dia merasa perempuan itu terlalu banyak menanggung beban setelah neneknya masuk ke rumah sakit. Itu sebabnya Wicak ingin menyenangkannya walau hanya satu hari.
Setelah menempuh berjam-jam perjalanan, juga menaiki angkutan umum selama 20 menit untuk mencapai tujuan, akhirnya mereka tiba di satu pantai. Belum sampai disana, mereka harus menaiki perahu untuk menyebrang.
"Kak, kita kemana? Kan, sudah sampai pantai. Kenapa naik perahu lagi?" Tanya Syahdu yang wajahnya sudah kusut karena perjalanan. Rasanya dia ingin langsung nyemplung ke laut saja.
"Sedikit lagi." Jawab Wicak walau dia sebenarnya juga tak sabar mengejutkan Syahdu dengan pemandangan suatu pulau.
Setelah pulau itu terlihat, mata Syahdu membulat. "Kak, kita ke pulau ini?? Aaaaaa.." Syahdu berteriak senang. Dia melihat Wicak dengan tatapan tak percaya.
"Iya. Katanya pingin ke suatu pulau. Jadi, aku bawa kamu kesini."
Wajah Syahdu sudah tidak bisa digambarkan. Dia teramat senang. Baru saja perahu menyentuh pasir, Syahdu langsung melompat dan berlari kecil di pantai itu.
"Kaaak.. airnya dingiiinnn.." Teriak Syahdu girang sembari bermain air. Wicak hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu.
Wicak turun dengan membawa ransel di muka dan belakang badannya. Gadis itu asyik bermain tanpa memikirkan barang bawaannya.
"Syahdu, nanti kita kemari lagi. Ayo ke hotel untuk letakin barang dulu."
Syahdu mengangguk cepat, dia meraih tangan yang diulur Wicak padanya. Syahdu berjalan sambil memeluk lengan Wicak. Senyuman Syahdu pula tidak luntur sampai resepsionis hotel mengatakan bahwa kamar yang tersisa disana hanya tinggal satu.
"Tapi saya sudah pesan dua kamar. Ini buktinya." Tukas Wicak yang menunjuk bukti pembeliannya secara online.
"Benar, tapi kami mohon maaf, pak. Sepertinya ada kesalahan sistem. Kami akan mengembalikan uangnya dan sebagai permohonan maaf kami, kami akan memberi free makan malam untuk bapak dan Ibu yang sedang berbulan madu di hotel kami." Ucap sang resepsionis pada sepasang kekasih yang saling menatap itu.
__ADS_1