SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Sadar


__ADS_3

Bukan hanya rembulan yang meredup tertutup awan hitam, tetapi juga sebuah hati yang sempat bahagia karena dia berpikir, mungkin hidupnya akan sempurna setelah seorang wanita yang tiba-tiba saja merajai hatinya mengungkapkan cinta. Lalu ia harus meremas kebahagiaan itu lantaran cinta yang terucap bukanlah untuknya.


Satu yang Arga sadari, ialah dia bukanlah pemenangnya.


Selama ini, dengan membuka segel pertama, berarti ia sudah menjadi salah satu orang penting dalam hidup wanita itu. Tapi nyatanya, hal itu tidak berlaku. Syahdu bahkan tidak meliriknya. Di mata Syahdu hanya ada Wicak. Dalam pikiran perempuan itupun hanya ada Wicak, bahkan di dalam tidurnya, lelaki itu terus mendominasi kehidupan Syahdu. Bukankah lelaki itulah pemenangnya?


Arga tak merasakan dingin tatkala angin berhembus ke tubuhnya. Dia tidak bisa merasakan apa-apa selain sakit dalam hatinya. Harga diri Arga seolah runtuh saat ternyata perempuan itu hanya mengkhayalkan dirinya sebagai Wicak. Selama ini, apakah Syahdu membayangkan lelaki itu saat bermain bersamanya?


Arga menendang kuat besi pembatas balkon. Dia meremas kuat besi itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain merasa kecewa yang amat dalam. Arga memilih masuk lagi. Matanya menatap perempuan yang tergolek di atas kasurnya. Syahdu, wajah teduhnya yang tanpa dosa itu malah tersenyum dalam tidur. Siapa yang dia mimpikan? Siapa? Hal itu justru membuat Arga semakin kesal.


Sudah pukul 9 pagi, Syahdu mengerjap saat Arga membuka lebar tirai jendela yang membuat cahaya matahari memancar ke wajahnya.


Syahdu memegang kepalanya ketika mulai tersadar. Rasanya berat, Syahdu menutup mata lagi, dia masih ingin tidur.


"Bagun. Lo nggak kuliah?" Arga berjalan menuju dapur, membawa semangkok bubur dan meletakkannya di atas nakas.


"Makan tuh. Gue buatin bubur."


Syahdu membuka matanya, mendapati Arga berdiri menatapnya. Sekilas ingatan Syahdu muncul, kak Wicak dan dirinya melakukan hubungan badan tadi malam.


Mata Syahdu seketika terbuka lebar saat dia mengingat malam panas bersama Wicak. Tapi, kenapa dia malah di apartemen Arga? Ah, sepertinya itu hanya mimpi. Tapi, terasa sangat nyata.


"Aku.. tadi malam.."


"Mabuk! Nyusahin aja sih, lo. Gara-gara lo mabuk, gue harus nganter lo pulang dan kena pinalti ke kerjaan gue yang gak tuntas tadi malam!" Gerutu Arga dengan kesal. Alisnya bertaut, menandakan bahwa dia sedang marah.


Arga memang lari dari pekerjaannya tadi malam karena melihat Syahdu yang mabuk. Karena itulah, Arga harus membayar denda atas apa yang ia lakukan lantaran mengakhiri penampilannya yang tak sesuai jadwal kontrak.


"Aku ngga ingat, Ga. Maaf, ya. Tapi kepalaku pusing.." ucapnya dengan suara serak.


Arga menatapnya dengan kesal. Sialnya, Syahdu melupakan malam itu.

__ADS_1


"Makasih, ya, buburnya. Aku makannya nanti soalnya perutku juga ga enak banget." Ucapnya lalu meraih dan mengaktifkan ponselnya.


"Lain kali, jangan ganggu kalau mau mabok!" Gerutu Arga lagi dan berjalan meninggalkan Syahdu.


"Eh, Ga." Syahdu menunjuk leher Arga. "Itu kenapa.."


Arga melipat tangannya di dada. "Lo emang ga inget atau pura-pura ga inget? Ini tuh perbuatan lo." Jelasnya sambil menunjuk lehernya yang penuh bercak merah.


"Perbuatanku? Kenapa aku??"


Pertanyaan Syahdu malah membuat Arga semakin kesal. Padahal, gadis itulah yang terus menciuminya sampai Arga sendiri heran bercampur senang.


Syahdu mencoba duduk, tetapi tubuhnya yang tanpa busana itu membuatnya mengerutkan dahi.


"Aku..." Syahdu menatap Arga yang masih berdiri bersedekap. Melihat hubungan antara tubuhnya yang hanya tertutup selimut dan leher Arga yang penuh kissmark membuat Syahdu mulai mengerti.


"Astaga, i-itu.. beneran aku yang buat?" Syahdu menutup mulutnya. Dia sendiri bingung kenapa dia bisa melakukan itu pada Arga. Padahal dia hanya mengingat kebersamaannya dengan Wicak. Apa tadi malam sebenarnya bukan Wicak melainkan Arga??


Arga keluar dan sudah berganti pakaian. Dia memakai kaos turtle neck untuk menutupi merah kebiruan di lehernya padahal cuaca diluar sedang panas.


"Ga, mau kemana?" Tanya Syahdu yang masih duduk di tempat tidur.


"Kuliah." Jawabnya dan langsung keluar apartemen.


Syahdu bersandar, menatap langit-langit dengan gelisah. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mengingat Arga dan malah melihat wajah Wicak dalam ingatannya?


Memang jika dipikir-pikir lagi, dia datang bersama Awan dan ada Arga juga disana. Lalu, dia tak sengaja meminum alkohol yang disodorkan Naya padanya. Sejak itu, dia tidak mengingat apapun selain Wicak yang menjemputnya di parkiran mobil.


Parkiran mobil? Syahdu mulai memejamkan mata sembari memijit keningnya yang pusing. Errgh.. Ternyata emang Arga. Bukan Wicak, karena kekasihnya itu tidak punya mobil.


Aah.. berarti mimpi saat ia tidur bersama Wicak sebenarnya adalah kenyataan yang ia lakukan pada Arga. Arrgh..malunya. Mungkin itu sebabnya Arga marah begitu, kan? Syahdu memilih merebahkan tubuhnya, dia akan meminta maaf pada Arga nanti. Sekarang, dia ingin tidur karena kepalanya masih terasa berat. Siang nanti dia akan masuk kuliah.

__ADS_1


Drrtt..


Ponsel Syahdu bergetar, dia merabanya di atas nakas dan mengangkat telepon dari Wicak.


"Iya, kak?" Jawab Syahdu dengan mata tertutup.


'Syahdu, kamu baik-baik aja?'


Syahdu membuka matanya, sepertinya ada sesuatu yang terlewat.


'Tadi malam aku telepon tapi dimatikan. Kamu juga nggak masuk kuliah. Kamu bener baik-baik aja?'


"Aa.." Syahdu menghela napas berat. Dengan cepat dia berpikir untuk membuag sebuah pernyataan baru. "Aku baik-baik aja, kak. Hari ini agak pusing jadi ngga kuliah." Ucap Syahdu dengan suara seraknya.


'Kamu sakit? Kamu dimana? Aku kesana ya, anterin kamu ke rumah sakit.'


"Oh, engga usah, kak. Aku masuk kok, nanti siang. Ini juga udah mendingan.' Jawab Syahdu cepat.


'Yang benar? Kalau masih sakit, istirahat aja dulu. Oh ya, tadi malam pulang jam berapa memangnya? Dianter Awan, kan??'


"Eee.. Iya, kak. Dianter Awan sekitar jam 11 malam."


'Baguslah. Kamu beneran ngga apa-apa, kan? Kamu mau makan apa, nanti aku bawain.'


Syahdu terenyuh. Lelaki ini, benar-benar pujaan hatinya.


"Aku ngga apa-apa, kak, benar. Nanti siang aku ke kampus, kita ketemu, ya?" Potongan ingatan melakukan hal itu bersama Wicak membuatnya rindu.


'Iya. Ya udah kalau gitu. Kamu istirahat aja, ya.'


Syahdu menutup teleponnya. Dia memejamkan mata. Rasanya terus menerus membohongi Arga sudah menjadi kebiasaannya. Dia merasa menjadi perempuan yang jahat sekarang. Tapi ini tidak akan berlanjut lama. Karena Syahdu akan memikirkan cara supaya dia bisa terlepas dari Wicak setelah neneknya sembuh dan kembali ke rumah nantinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2