SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Tidak berniat Nikah.


__ADS_3

"Mau singgah kesuatu tempat?" Tanya Arga dengan pandangan yang lurus ke depan menatap jalan.


"Engga."


"Yakin?" Tanya Arga lagi.


"Iya."


Arga melirik Syahdu. Gadis itu terus menoleh ke luar dengan jendela yang terbuka.


Arga menatap ponselnya saat berdering. Dia membaca nama si pemanggil yang tertera di layar, yaitu ibunya. Dia tahu pasti ibunya mau membicarakan soal Soraya. Sudah beberapa kali dia menolak panggilan ibunya. Tapi kali ini, Syahdu ikut melirik ke arahnya karena tak kunjung mengangkat telepon.


"Iya, Mi."


'Alexander, why did you not answer my call!' (Alexander, kenapa ngga angkat-angkat telepon?)


Suara Ibu Arga dari seberang masih bisa terdengar di telinga Syahdu. Tapi gadis itu nampak cuek dan hanya menatap keluar jalan.


" i..." Arga menoleh pada Syahdu. Gadis itu masih bergeming di tempatnya.


'You know, Soraya always talks about you who never wanna meet her. Can you be gentle, dear? She is your fiencee." (kau tahu, Soraya terus membicarakanmu yang tidak mau bertemu dengannya. Bisakah kau lebih lembut, sayang. Dia tunanganmu.)


Syahdu spontan menoleh pada Arga. Laki-laki itu tampak gelagap karena ternyata Syahdu mendengar apa yang ibunya bicarakan. Arrgh. Arga mengutuk diri. Dia lupa kalau Syahdu juga mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Mami, can i call you later? I am driving now. Okay. Bye, Mom." Arga langsung menutup teleponnya. Dia melihat Syahdu, gadis itu masih menatap keluar. (Mami, kutelpon lagi nanti, ya? Aku lagi bawa mobil. Dah, Mom).


"Arga, kamu... udah tunangan?"


"Eeng. Enggak. Itu cuma rencana nyokap gue aja. Gue juga ngga setuju. Gue ngga berencana nikah, sih."


"Kenapa?" Tanya Syahdu dengan alis berkerut.


"Yaa.. Nggak mau aja. Ngapain juga gue nikah kalau semuanya bisa gue lakuin sendiri."


Syahdu diam sebentar, menelaah ucapan Arga. "Memangnya kamu bisa membelah diri?"


"Hah? Lo pikir gue Amoeba."


"Emang kamu ngga kepengen punya anak, Ga?" Tanya Syahdu lagi. Dia penasaran dengan cara pandang Arga.


"Enggak."


"Serius ngga kepingin punya pendamping?" Tanya Syahdu lagi.

__ADS_1


"Yaa.. Kan, gue bisa punya pasangan tanpa nikah. Bisa having segs tanpa ikatan. Gue juga mandiri, apa-apa bisa sendiri. Ngehasilin duit, diwarisin harta, teman dimana-mana."


Syahdu mendesah. Kalau sudah begitu, sulit diberitahu tentang nikmatnya pernikahan. Lagi pula, memang tidak salah punya pemikiran begitu. Apalagi Arga lama diluar negeri dan dia juga pasti punya alasan yang kuat dengan pemikirannya.


"Jadi, kamu mau begini saja sampai tua? Memangnya ngga pingin punya pendamping sampai mati?"


Arga tampak berpikir. "Lo tau nggak, Oma gue. Dia menikah dua kali dan gagal keduanya. Masa tuanya sekarang cuma sama pembantu. Anak-anaknya cuma mau harta dan ngga ada yang nemenin. Menurut gue, ngapain lo harus ngabisin masa muda lo untuk menikah apalagi dengan orang yang salah begitu."


Syahdu mengerti sekarang. Pantas saja Arga punya pemikiran seperti itu, ternyata ada celah dalam keluarganya.


"Bokap gue juga sama. Nyokap tuh, kaya hidup sendirian. Kasian gue liatnya." sambung Arga lagi.


Poin ke dua yang Syahdu tangkap, selain rumah tangga sang nenek, ternyata orang tua Arga juga demikian.


"Dari pada lo ngejalanin kaya gitu, mending ngga usah nikah sekalian. Santai. Lo mau ngapain juga bebas. Dari pada kaya nyokap dan Oma, disakitin terus ditinggalin."


"Tapi kan, kamu bisa jadi laki-laki yang ngga ninggalin perempuannya, Ga."


Arga diam dan itu menjadi kesempatan bagi Syahdu untuk berbicara lagi. "Nanti, suatu hari, pikiran kamu pasti akan berubah. Akan ada saatnya dimana kamu jatuh cinta dan semua pikiran kamu saat ini, akan terbalik dan kamu malah menginginkan pernikahan bahkan keturunan dengan orang yang kamu cintai itu."


Perkataan Syahdu membuat Arga terus menatapnya. "Berarti, gue tinggal ngga jatuh cinta aja, kan?"


"Memangnya kamu bisa menghalangi perasaanmu?" Tanya Syahdu serius, menatap wajah Arga yang juga menatapnya.


Arga menghela napas perlahan. Perkataan Syahdu benar karena perasaannya sendiri sekarang condong pada Syahdu.


Arga dan Syahdu terdiam dengan keadaan Syok. Untung saja Arga masih sempat memberi rem hingga tidak sampai menabrak mobil di depan mereka.


"A-arga. Lain kali, lihat-lihat dong!"


"Ini juga gara-gara Lo!" sungut Arga.


"Hah? Kok aku!" Protes Syahdu kesal. Padahal dari tadi, Argalah yang tidak memperhatikan jalan.


Mereka pun akhirnya saling diam sampai tiba di apartemen Arga. Syahdu langsung menuju dapur untuk mengambil susu kotak, tapi ternyata sudah tidak ada yang tersisa.


"Kenapa?" Arga mendekat, mengambil air mineral di dalam kulkas dan menenggaknya.


"Susu abis, ya."


"Abis?" Arga ikut mengecek, dan tidak mendapati lagi susu kotak disana. "Besok deh, gue belanja. Gue mau masak. Lo mau sekalian nggak?"


"Masak apa?" Tanya Syahdu balik.

__ADS_1


"Ceplok telor aja deh, simpel."


"Aku pengen nasi goreng.." pinta Syahdu dengan mata memohon.


Arga menghela napas, kemudian berjalan untuk mengambil apron dan memakainya.


Syahdu mengulum senyum. Walau mendesah, Arga tetap membuatkan permintaannya.


"Ngga niat buka kafe aja, Ga?" Tanya Syahdu. Dia duduk di kursi makan sambil memperhatikan Arga menggulung kemeja dan menyalakan kompor.


"Buka kafe?"


"Iya, soalnya masakan kamu enak." Puji Syahdu terus terang.


"Ngga kepikiran, sih."


"Ajarin aku dong, Ga." Pinta Syahdu sambil tersenyum pada Arga yang menatapnya.


"Berani bayar berapa lo."


"Astaga. Peritungan amat."


"Gue masak juga ikut sekolah, bukan pinter gitu aja." Jawabnya sambil memotong bahan makanan.


"Kan, biar dapet pahala, Ga."


"Mau aja sih, gue. Tapi ada syaratnya."


"Apa?" Tanya Syahdu antusias.


"Biasalah. Dikasur." Jawab lelaki itu sambil tersenyum nakal.


"Biasanya juga gitu, kan.."


Arga menghentikan aktifitasnya dan menunjuk Syahdu dengan pisau di tangannya. "Ngga nyadar lo, ya. Udah berapa lama lo ngga layani gue?"


Syahdu membungkam mulutnya sendiri. Betul juga, dia sampai lupa. "Engg.. Lo ngga minta, sih.."


"Harusnya lo yang inisiatif. Gue kan bos lu."


Syahdu menghela napas. Nampaknya dia salah bicara tadi. "Yaa.. Tapi beneran ya, ajarin masak." Ucap Syahdu sambil beranjak dari kursinya. Pembahasan mulai panas, dia memilih pergi dari pada Arga menyuruhnya naik ke kasur, bisa panjang urusannya. Apalagi perasaannya masih tak enak.


"Mau kemana lo?"

__ADS_1


"Mandi." Jawab Syahdu cepat-cepat menghilang dari pandangan Arga, sebelum laki-laki itu berubah pikiran.


Arga menggelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil saat menyadari kelakuan lucu Syahdu. Dia sadar, pasti Syahdu lari karena tak mau percakapan semakin dalam. Padahal kalau aja dia masih disini, pasti Arga juga akan berubah haluan dari dapur ke kasur.


__ADS_2