
Arga memutar-mutarkan ponsel di jarinya. Pandangannya lurus kedepan. Sejak tadi Syahdu tak bisa dihubungi. Arga sendiri khawatir tentang gadis sewaannya itu. Walau info dari Adina nampaknya Syahdu belum tahu apa yang tengah gempar di kampus saat ini.
TRING
Arga cepat-cepat membuka ponsel saat mendengar notifikasi pesan. Namun ia harus menelan kekesalan lantaran chat itu bukan dari Syahdu, melainkan Soraya.
Arga melempar ponselnya ke ujung kasur saat membaca pesan Soraya. Rasanya dia dijebak oleh perempuan itu. Tapi dia tak bisa apa-apa. Arga takut kalau dia banyak melakukan perlawanan, yang ada malah Syahdu menjadi korbannya.
Arga membaringkan tubuh di tempat tidur. Bayangan wajah Syahdu menari di pelupuk matanya. Gadis itu, entah sejak kapan meraja di hati Arga. Sampai pikiran dan tenaganya pun habis untuk Syahdu.
Lalu Arga mengingat lagi bagaimana ia bertemu Syahdu, juga kontrak yang dia buat untuk mengikat Syahdu. Tapi semakin menyadari perasaannya, Arga justru membiarkan Syahdu melanggar kontrak itu. Tapi, bagaimana jika Syahdu meninggalkannya?
Hal itu tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Tapi dia akan mencari cara supaya Syahdu tak pergi dari sisinya. Kecuali kontrak itu berakhir, barulah hal lain akan dia pikirkan. Atau jika Syahdu menikah dengan kekasihnya, Arga akan mundur. Karena sesuai isi kontrak, bahwa dia tak bisa mengganggu hubungan gadis itu dengan kekasihnya.
Ah, Arga memijit dahinya. Tiba-tiba saja ia merasa menyesal. Kenapa dia tak membuat larangan saja supaya Syahdu tak bisa bersama pacarnya. Supaya gadis itu utuh menjadi miliknya. Seharusnya dia melakukan itu, kan? Arga terus berpikir sampai ia terlelap dalam.
...π...
Syahdu terbangun saat mendengar suara motor yang menderu. Seseorang nampaknya tengah memanaskan motor lalu terdengar suara lain seperti tukang bangunan yang bekerja, juga beberapa kebisingan lainnya.
Syahdu tidak mendapati Wicak disebelahnya. Dia melirik kamar mandi, juga tidak ada. Dia duduk dan menyadari Wicak pergi, entah kemana.
Segera Syahdu mengaktifkan ponselnya. Ia malah mendapati pesan yang banyak dari Arga. Kenapa dia? Padahal dirinya yang bolos kelas tapi malah mengajak-ajak.
Syahdu langsung menuju kamar mandi, dia tak tahu Wicak kemana tapi yang jelas dia harus sudah bersih dan rapi saat Wicak kembali nanti.
Tak lama ia mandi dan berganti pakaian, Wicak baru menutup pintu dengan beberapa kantong plastik di tangannya.
"Cepat banget mandinya. Takut ketauan muka bantalnya, ya?" Wicak meletakkan nasi uduk yang dia beli diatas meja kecil miliknya.
"Ga usah mandi juga ga papa. Toh, aku udah tau muka kamu gimana pas tidur dengan bibir terbuka." Sambung Wicak lagi.
"Kayak dia ga gitu aja. Ngorok lagi." Balas Syahdu tak mau kalah. Wicak malah terbahak-bahak. Lalu tawanya terhenti saat merasakan sensasi dingin telapak tangan Syahdu di dahinya.
"Udah sembuh. Pantes kumatnya mulai lagi." Cebik Syahdu.
"Jadi, bagusan aku sakit, gitu ya?"
"Eh, enggak dong. Aku ga mau kakak sakit." Gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Wicak. Sementara lelaki itu langsung mengecup dahi Syahdu.
"Makasih udah temenin malam ini, ya. Coba dari kemarin kamu temenin, pasti sakitnya ngga lama-lama." Ujar lelaki itu. "Sering-sering nginap disini."
"Itu sih, ngenakin kakak." Jawab Syahdu kemudian duduk di dekat meja. "Sarapan dulu, supaya fit. Hari ini mau daftar sidang, kan?" Senyum Syahdu kembali mengembang setelah mengingat bahwa hari ini, Wicak akan bimbingan dan menyelesaikan skripsinya.
"Iya.." Wicak mendekat dan menerima suapan dari Syahdu.
__ADS_1
...π...
"Apa sih, Ga? Mau ngajak bolos, ya? Aku ngga mau!" Syahdu berjalan sambil menelepon Arga. Dia baru sampai di kampus dan berpisah dengan Wicak dipersimpangan lorong karena lelaki itu hendak bertemu dosen pembimbingnya.
'Lo dimana sekarang?!'
"Kampuslah. Mau kuliah. Udah, cepat dateng. Siang ini ujian, tau. Emang kamu mau bolos lagi?"
'Ikut gue. Ini penting!'
"Sepenting apa, sih. Kita bicara di kampus aja, kamu dima.. na." Langkah Syahdu terhenti saat ia mendapati Arga sudah berdiri di depannya dengan ponsel yang masih di telinga.
Syahdu langsung menyimpan ponselnya. "Mau bicara apa? Cepat, nanti aku telat."
"Ga bisa bicara disini. Ayo ikut gue." Arga hanya ingin Syahdu tak mendengar berita yang beredar. Dia ingin membawa gadis itu pergi dari kampus secepatnya.
"Iya, kemana??"
"Ke -"
"Syahdu!" Adina memanggilnya. Gadis itu berlari kecil kearahnya. Lagi, Adina memanggilnya dengan nama yang biasa ia terima dari orang terdekatnya.
Adina menatap Syahdu dan Arga bergantian. Lelaki itu sempat memberi kode pada Adina, untung saja dia mengerti.
"Ee.. gue.. mau ke toilet dulu, deh." Adina hendak bergerak, namun tangannya ditahan Syahdu.
"Kenapa, sih? Ada sesuatu, ya? Kok kalian pake kode-kode gitu." Syahdu rupanya melihat kode yang diberikan Arga pada Adina.
"Jadi kenapa sih, kamu juga." Syahdu menunjuk Arga. "Kok kayak gak mau aku kuliah, gitu."
"Ee.. soalnya gue mau ngajak kalian jalan-jalan. Iya kan, Din?" Arga, untuk pertama kali memberi Adina senyuman yang langsung ditangkap gadis itu.
"Ah, iya, bener." Jawab Adina.
"Sekarang kita pergi, ayo."
"Hah? Sekarang?" Adina malah terbelalak lantaran dia jadi terikut, padahal dia tidak mau bolos.
"Iya. Kan, lo yang ngusul refreshing hari ini." Tuduh Arga. Adina hanya menganga, walau dia tahu ini rencana Arga supaya Syahdu tak mendengar gosip tentang dirinya, tapi dengan bolos sepertinya bukanlah jalan yang benar.
"Udah, ayo ke mobil gue." Arga mendorong tubuh Syahdu, membuat gadis itu mau tak mau melangkah dengan wajah yang bingung. Sementara Adina masih terpaku di tempat.
"Ee.." Adina masih bingung.
"Cepetan, Din!" Teriak Arga yang sudah berjalan beberapa langkah.
"Argh, sialan si Arga." Adina mau tak mau mengikutinya.
Di parkiran, mereka bertemu Ibra.
__ADS_1
"Hei, pada mau kemana?" Baru turun dari motor, Adina langsung menarik tangannya menuju mobil Arga.
"Eh, eh, apaan, Din?" Tanyanya bingung.
"Udah, ikut aja." Tak mau bolos sendiri, Adina mengajak serta Ibra dan langsung memaksanya masuk kedalam mobil Arga.
"Kemana, sih?" Tanya Ibra bingung. Dia menatap Adina dan Arga yang menyetir.
"Kok kamu malah nanya, Ib? Bukannya ini usul kalian?" Tanya Syahdu dengan penuh selidik.
Adina memberi kode, matanya sudah mau keluar lantaran Ibra tak mengerti maksudnya.
"Apasih?"
"Lo diem aja, deh." Bisik Adina akhirnya.
"Kalau mau pergi, kan bisa hari minggu. Kenapa harus sekarang banget? Ini bentar lagi ujian, lho. Emang kalian ga mau ikut ujian?" Syahdu mendesah kesal. "Kalau mau main-main, jangan ajak aku. Aku mau belajar, tau. Aku mau lulus dengan nilai memuaskan supaya nenek tahu aku belajar bener-bener."
Adina dan yang lain menunduk. Terlebih Arga. Dia hanya diam sambil menatap hamparan aspal di depannya.
"Pokoknya jam 2 harus udah di kampus. Oke kalo jam pak Bono bolos, ngga apapa, dia masih baik. Kalo ujian di skip juga, aku ga bisa." Omel Syahdu lagi dan yang lain hanya diam. Terlebih Adina. Gara-gara ide buruk Arga, dia jadi ikut bolos dan kena semprot Syahdu juga.
"Trus, ini mau kemana?" Tanya Syahdu lagi.
Diam, tak ada yang bersuara, sebab mereka pun tak tahu mau kemana.
Syahdu melirik Arga yang ada disampingnya. Lelaki itu tampak mengalihkan pandangan dan mencoba fokus kedepan walau ia tahu Syahdu memandangnya.
"Arga."
"Hm."
"Kemana? Katanya kamu mau bicara penting."
"Iya ini 'kan lagi jalan." Jawab Arga seadanya. Dia tengah memutar otak hendak pergi kemana.
"Iya. Kemana? Masa ngga tau tujuannya?" Kini Syahdu mulai bete, lantaran ketidak jelasan Arga membuatnya harus bolos dan sekarang tak tahu mau kemana.
Dibelakang, Ibra menyenggol Adina. Gadis itu hanya menggelengkan kepala karena dia juga hanya mengikuti Arga.
"Kalau ngga jelas, aku turun aja. Berenti di depan, aku mau masuk kelas." Syahdu bersiap membuka handel pintu.
"Eh, jangan, dong. Ini lagi jalan, juga."
"Kamu ngerjain aku, ya? Dari tadi ngga jelas banget."
"Duduk aja diem disitu, napa sih." Arga mulai kesal lantaran Syahdu terlalu banyak pertanyaan.
"Gimana mau diem, kamu aja ngga jelas. Dari tadi aku nanya mau kemana, kamu ngga bisa jawab karena gatau, kan?"
__ADS_1
"Kita mau ke pantai! Puas?!"
Syahdu diam. Sementara Adina dan Ibra saling pandang. Sejak kapan Syahdu dan Arga seakrab itu sampai sikap mereka sekarang layaknya pasangan kekasih yang tengah bertengkar.