SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kehilangan Kedua Kali


__ADS_3

"Aku mau pulang sebentar, ya, kak."


"Jangan.."


"Aku balik lagi, kok. Mau ambil beberapa barang juga. Soalnya belum mandi dari kemarin, hehe." Syahdu tertawa supaya melepaskan keseriusan di wajah Wicak.


"Bau nggak, aku? Belum ada mandi." Syahdu mengendus tubuhnya sendiri. Tapi lelaki di hadapannya masih dengan wajah yang tegang dan serius.


"Jangan.." Jawab Wicak lagi. Suaranya hampir tak ada, genggamannya pun semakin kuat. Melihat respon itu, Syahdu mengalah.


"Iya, iya. Aku ga jadi pulang. Aku disini nemenin kakak." Kata Syahdu, akhirnya mengalah.


Lelaki itu diam menatap Syahdu. Seperti ada yang ingin dia katakan pada gadis itu, namun lidahnya tertahan.


Syahdu pun mengelus pipi Wicak sampai lelaki itu tertidur kembali. Wajah yang tadi tegang kini mulai tenang dan perlahan menutup mata. Setelah Wicak tertidur, Syahdu dengan hati-hati melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.


Dia keluar dari ruang ICU. Pamit pada orang tua Wicak untuk pulang sebentar mengambil barang dan bersih-bersih sebelum menginap lagi di rumah sakit.


Sesampainya di rumah pun Syahdu buru-buru menyusun pakaian dan barang yang perlu ia bawa. Dia tak mau Wicak tersadar dan dia malah tak ada disebelahnya.


Ponsel Syahdu berdering. Dia menatap layar yang menampilkan nama ibu Wicak. Syahdu membiarkannya saja, karena entah kenapa Syahdu merasa takut saat di telepon seperti ini. Dipikirannya, Mirna menelepon untuk mengabarkan berita buruk.


Ponselnya berdering sekali lagi, dia mengangkatnya.


'Syahdu, ini lho, Wicak bangun dan udah bisa bicara dengan jelas kaya biasa. Ibu senang banget akhirnya membaik dengan cepat. Tapi kayanya dia belum merasa apa-apa dengan kakinya. Tadi dia cari kamu, ibu bilang lagi mandi. Kamu  masih lama?'


Syahdu menghela napas yang sejak tadi ia tahan. Syukurlah, bukan berita buruk, pikirnya.


"Ini mau berangkat ke rumah sakit, bu. 15 menit lagi sampai."

__ADS_1


'Ya sudah. Hati-hati, ya.'


"Iya, bu." Syahdu tersenyum lebar saat akhirnya ia bisa seperti ini dengan Ibu Wicak. Sesuatu yang diinginkan lelaki itu sejak dulu. Tapi sekarang, semua sudah baik-baik saja.


Syahdu mengancing tasnya dan keluar dengan memakai jeket abu-abu Wicak.


Dia bersenandung riang karena progres kesembuhan Wicak yang cepat. Sebentar lagi, mungkin lelaki hebat itu akan keluar dari rumah sakit.


Setelah menuruni angkutan umum, Syahdu berdiri menunggu lampu hijau berubah merah. Dia ingin menyebrang supaya kakinya langsung menyentuh halaman rumah sakit yang kini ada di seberangnya.


Gadis itu terus tersenyum, perasaan Wicak padanya sangat luar biasa. Dia hanya butuh itu dan selama ini dia merasa hanya Wicak yang bisa memberinya kasih sayang dan kebahagian sebesar sekarang.


Ponsel Syahdu berdering lagi. Masih orang yang sama. Kali ini Syahdu mengangkatnya dengan cepat untuk mengabarkan kalau dia sudah di seberang rumah sakit. Namun, belum ia mengatakan apa-apa, suara berisik diseberang membuatnya membeku.


Syahdu diam, tiba-tiba saja senyum yang ia sunggingkan sejak tadi meluruh.


Syahdu mematung. Penjelasan orang diseberang membuatnya merasa dunia ini berhenti berputar. Tiba-tiba saja detak jantungnya terhenti dan tak mengalirkan oksigen ke dalam tubuhnya. Ingin dia terjatuh, namun Syahdu memilih berlari diantara lampu hijau. Membuat klakson mobil berisik karenanya. Tubuh Syahdu sampai tertabrak mobil yang masih berjalan di lampu yang masih hijau.


Syahdu berlari kencang di koridor rumah sakit. Jantungnya berpacu dengan cepat sekali. Benaknya menolak berita bahwa Wicak telah meninggal dunia. Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Pasti ada yang salah dan Syahdu ingin memastikan itu sendiri.


Sepuluh menit yang lalu, Mirna bilang kalau Wicak membaik dan bicaranya semakin jelas.


Wicak tidak mungkin mati. Dia baru berbicara setengah jam yang lalu. Lelaki itu tertidur di depan matanya. Dia tidur, bukan mati.


Syahdu naik tangga terburu-buru. Ruangan Wicak berada tepat di depan tangga.


Belum Syahdu berhasil menaiki seluruh tangga, dengan jelas melihat ruangan Wicak terbuka lebar dengan suara isak tangis Mirna terdengar jelas di telinga Syahdu.


Syahdu melangkahkan kakinya di anak tangga terakhir dengan berat. Dia melihat brankar dengan lapisan kain putih diatas tubuh seseorang. Apa mungkin, yang berbaring dengan kain putih itu Wicak. Tidak, dia ingin memastikan kalau itu orang lain.

__ADS_1


Syahdu mendekati tubuh panjang diatas brankar. Disisi seberang, Bayu menunduk menghapus air matanya. Di ujung ruang, Mirna terisak-isak. Sementara Syahdu, dengan tangan bergetar mencoba membuka kain putih yang menutup wajah jasad itu.


Perlahan ia membukanya, hingga tersingkaplah kain yang menutup sampai ke dadanya.


Seketika Syahdu menutup mulut, bendungan air pecah begitu saja. Syahdu menjerit. Dia tidak mempercayai apa yang saat ini ada di depannya.


"Enggakkk. Ini gak mungkin.. kak Wicak belum mati. Ini salah, pak." Syahdu meletakkan tangannya di wajah Wicak yang masih hangat. Seluruh alat telah terlepas dari tubuh lelaki itu. "Coba dulu pak, coba pakai pacu jantung. Ini masih bisa diselamatkan. Aku yakin Wicak nggak matii. Dia cuma pingsaann. Wicak cuma pingsan!!"


"Udah dicoba pake alat, nak. Tapi Wicak memang udah ga ada. Sabar ya, nak.." jawab Bayu dengan nada bergetar.


"Pakkk ini masih hangatt. Badan kak Wicak masih hangat. Dia belum mati, paakkk. Ini masih bisa diobatiiin. Coba lagi, pak.. coba lagiii." Jerit Syahdu tak terima dengan takdir yang menimpanya.


Bayu hanya diam menunduk. Dia tahu pasti berat menerima orang yang dicintai berpulang kepangkua  sang pencipta. Apalagi, sebagai ayah, Bayu kehilangan sosok anak yang tangguh.


"Tolong ini gimana. Ini belum matiii. Kak Wicak masih bisa hidup. Dia belum maati. Suster, tolongggg." Syahdu mengguncang lengan perawat yang berdiri di dekat pintu. Namun sang perawat hanya tertunduk lesu.


"Kaak. Banguuun. Bangun, kaaak." Syahdu mengguncang tubuh Wicak, namun tak ada jawaban.


"Jangan tinggalin akuuu! Kakak udah janji, kaaan. Katanya ga akan tinggalin aku apapun ceritanyaaa. Kakak bohong! Huuuuu." Jerit Syahdu dengan derai air mata. Dia terisak-isak sampai dadanya terasa sakit.


"Kaaakkk.." Syahdu terduduk karena tubuhnya yang sangat lemas tak bertenaga. Jerit tangis Syahdu mendapat perhatian orang-orang yang lewat. Dia sangat terpukul. Duka kepergian Suriani belum hilang. Kini dengan jarak satu minggu, Wicak malah ikut pergi meninggalkannya.


Syahdu teringat, belakangan Wicak memang sangat sering mengucapkan kata cinta. Dia sering tiba-tiba memohon untuk tidak ditinggalkan padahal pembahasan saat itu sedang asyik, tapi Syahdu merasa lelaki itu aneh saat sering berubah sikap dan memintanya untuk terus berada disampingnya.


Syahdu baru mengerti, kenapa Wicak melakukan semua itu padanya. Lelaki itu seolah tahu dengan kepergiannya sendiri. Itu sebabnya dia sering berubah dan lebih cinta kepada Syahdu.


Mirna ikut duduk disebelah Syahdu. Dia memeluk gadis itu dan menangisi kepergian Wicak.


Syahdu kini sendirian. Dia benar-benar sendirian karena cinta dan kasih sayang untuknya telah hilang.

__ADS_1


TBC


**Kalau ada yang bertanya, kenapa ditinggal padahal dia minta tetap Stay disana. Ga ada yg tau soal umur. Akupun begitu. Kalau aku tau itu hari terakhirnya, aku pasti tetap disisinya sampai ajal menjemputnya**


__ADS_2