
Syahdu duduk di depan ruko yang tutup. Dia mendesah pelan, lantaran tubuhnya sudah lelah setelah menaiki bus 4 jam lamanya dari bandara. Kini dia masih di kota Bebatu dan harus menempuh waktu yang sama untuk menuju desa. Sayangnya, transportasi menuju kesana sudah tidak ada.
Ditengah kebingungannya, Syahdu membuka ponsel. Dia membalas pesan Ibra yang mengirimi foto Arga untuknya. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri melihat betapa tampan dan kerennya Arga di foto itu. Berbeda sekali dengan aslinya yang sangat dikenali Syahdu, terkadang menyebalkan.
Syahdu menutup ponselnya. Sudah setengah jam gadis itu duduk menunggu, tak ada satupun yang nampaknya bisa membawanya menuju desa. Syahdupun menyeret kopernya, mencari orang yang mau mengantarnya dengan upah besar yang akan dia berikan.
"Syahdu!"
Gadis itu menoleh kebelakang. Dia terdiam kaku saat mendapati Arif berlari kecil kearahnya. Syahdu langsung terbayang saat dimana ia mengucapkan kata yang seharusnya tak ia katakan disaat masa lalunya belum terselesaikan. Lalu sekarang, bagaimana cara mengatakannya pada Arif?
"Baru pulang?" Tanya Arif saat sudah berada di depan Syahdu. Dia tersenyum senang menyambut gadis itu. Dia memperhatikan tampilan Syahdu dari atas sampai bawah. Gadis itu sudah kembali ke tampilan kota dan terlihat semakin cantik.
"Emm.. iya."
Lelaki itu melirik jam di tangannya. "Kalau udah jam segini, ngga ada kendaraan lagi ke desa."
"I-iya."
"Mau kuantar?"
Syahdu tak langsung menjawab, sebab dia datang dengan berita tak mengenakkan bagi Arif. Tetapi dia juga membutuhkan tumpangan.
"Ayo, aku parkir disana tadi." Arif melangkahkan kakinya hendak menuju sepeda motornya.
"Tapi, Rif.." Syahdu ragu. Apa Arif juga akan baik padanya jika dia tahu apa yang akan Syahdu katakan nanti?
"Udah hampir gelap. Kamu mau disini terus?"
Lelaki itu tersenyum melihat Syahdu yang menunduk diam. Tentu Arif tahu, Syahdu merasa tak enak pasti karena dia sudah memiliki kekasih sekarang.
"Kalau gitu, tunggu aja disini. Aku ambil motor dulu." Katanya, kemudian berlari kecil menuju kearah dimana motornya terparkir.
~
"Gimana, kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Arif yang tetap fokus kedepan jalan.
"Baik. Kamu gimana?" Tanya Syahdu balik. Sedikit mengeraskan suara supaya Arif bisa mendengarnya.
"Baik juga."
Setelah jawaban Arif, mereka berdua saling diam. Tidak ada lagi pertanyaan Arif seperti biasa, menanyakan kapan waktu kosong Syahdu.
Setelah menempuh dua setengah jam perjalanan, akhirnya merekapun tiba. Waktu sampai lebih cepat karena menaiki sepeda motor.
"Kakak!" Tari yang tengah duduk di teras pun berhambur memeluk Syahdu. Begitu pula Syahdu yang merasa rindu dengan adiknya itu.
"Arif, makasih banyak, ya."
Arif meletakkan koper Syahdu. "Iya, sama-sama."
"Ayo, masuk."
"Engga usah. Aku mau ke rumah pak RT dulu." Jawab lelaki itu.
Biasanya Arif tak pernah menolak jika diajak mampir. Tapi hari ini lelaki itu tanpa berpikir panjang langsung menolaknya.
"Eem.. bisa ngobrol bentar nggak, setelah aku dari rumah pak RT. Kalau kamu lelah, aku ngerti, kok. Besok sepulang sekolah, aku-"
"Bisa kok, Rif. Sekalian, ada yang mau aku omongin."
__ADS_1
"Aku tunggu diatas bukit." Kata Arif, lalu mendorong motornya keluar dari pekarangan rumah Syahdu.
Gadis itu masuk, diserbu dengan banyaknya pertanyaan dari Tari. Di dalam, Adit juga memeluknya. Begitu juga Nani. Syahdu memberikan mereka hadiah dari kota. Berupa baju, alat tulis, dan makanan kemasan yang tentu saja belum pernah mereka makan sebelumnya.
"Kak, ini enak banget!" Seru Tari saat mencicipi makanan yang Syahdu beri.
"Bunda, makasih ya. Adit jadi punya baju baru." Ucap Adit sembari melekatkan baju baru ke tubuhnya.
"Iya, sayang."
"Kota enak ya, kak? Pasti seru ya, disana. Trus, ada bioskop kan, kak. Kakak pernah nonton bioskop, dong." Celetuk Tari, dan Nani hanya menggelengkan kepala melihat gadis kecil itu.
"Tari, kamu mau ke kota?"
"Mau kak, mauuuu.." Jawab Tari dengan semangat.
"Kalau kamu, Dit?"
"Mau, bun. Kata temen Adit, kota itu menyenangkan."
Syahdu sangat senang mendengar jawaban adik-adiknya. "Kalau gituu.. gimana kalau kita pindah ke kota??"
"Maaauuuuu!!" Serentak Tari dan Adit bersamaan. Mendengar semangat adik-adiknya, membuat Syahdu tersenyum puas.
"Aaah, Tari nggak sabarrr.."
Sementara Nani, hanya diam menatap ketiganya. Pindah ke kota? Tentu hal itu tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
...๐...
Syahdu menaiki tanah tinggi dengan Arif yang sudah menunggu diatasnya. Angin kencang diatas sana tak membuat lelaki itu kedinginan, justru ia menikmatinya.
Arif tersenyum melihat kedatangan Syahdu. Gadis itu sedikit merasa canggung. Otaknya tengah berputar, memikirkan kata yang tepat untuk mengatakannya pada Arif.
Ia lalu memberikan selembar foto pada Syahdu, dengan bingung gadis itu menerimanya.
"Selamat ya, kamu.. udah kembali ke Arga."
Syahdu mematung menatap foto di tangannya, foto yang diambil Tari waktu itu. Ternyata Arif masih menyimpannya.
"Rif, maaf.." hanya itu yang keluar dari mulut Syahdu. Dia tak sangka Arif sudah menebak itu. Ya, Arif tinggal di kota Bebatu. Pastilah dia mengikuti berita Arga belakangan ini.
Arif hanya menunduk dengan senyum kecilnya. Senyum yang terpaksa ia perlihatkan, senyum kekecewaan.
"Seharusnya aku ngga ngasih kamu kesempatan waktu itu. Aku sendiri juga ngga pernah nyangka kalau ternyata Arga cari aku lewat media dan lagu."
"Berarti dia memang sangat mencintaimu, Syahdu." Sahut Arif dengan perasaan pahit.
Syahdu hanya menunduk. Tentu ia merasa bersalah pada Arif. Apalagi lelaki itu sudah mengharapkannya sejak beberapa tahun terakhir.
"Aku ngga tau apa yang terjadi dulu sama kamu. Tapi aku bisa liat kehampaan lewat sorot matamu selama ini, dan tadi saat pertama kali liat kamu di kota, aku bisa rasain kamu lebih bahagia sekarang."
Arif memiringkan tubuhnya, menghadap Syahdu. "Aku memang cinta sama kamu, Syahdu. Tapi setelah tahu bagaimana perjuangan Arga untukmu, aku jadi merasa kecil."
Lelaki itu menarik napas. Lalu menatap Syahdu. "Besok aku akan kembali ke kota asalku. Masa kerjaku udah selesai disini. Jadi, mungkin ini kali terakhir aku liat kamu."
"Ke-kenapa besok? Bukannya masih ada dua bulan lagi?"
Lelaki itu tertawa kecil. "Sebenarnya bulan kemarin udah selesai. Tapi...." Arif sengaja menggantungkan kalimatnya, dia yakin Syahdu sudah mengerti dan itu bisa ia lihat dari tunduknya Syahdu.
"Aku benar-benar minta maaf, Rif. Aku ngga bermaksud buat mempermainkan kamu."
__ADS_1
"Aku ngerti, kok. Aku turut senang kamu udah nemuin kebahagiaan kamu. Karena aku belum tentu bisa memperlakukanmu seperti apa yang Arga lakukan untukmu."
"Jadi.. kamu besok pulang?"
"Iya. Aku udah urus semuanya." Arif kemudian menghela napas berat. "Yah.. entah kenapa sebenarnya aku suka disini. Tapi rindu juga dengan kota kelahiranku." Katanya diselingi tawa.
"Benar. Aku juga ngerasa begitu."
Merekapun terlibat obrolan yang cukup panjang. Setelah itu, Arif pamit pergi karena besok masih ada yang harus ia urus pagi-pagi sekali.
Syahdu masih berdiri diatas bukit, memperhatikan Arif yang mulai melajukan motornya tanpa menoleh lagi kebelakang.
Syahdu sedikit lega walau ada rasa bersalah di hatinya. Dia tidak perlu menjelaskan banyak hal karena ternyata Arif sudah tahu soal itu.
Ponsel Syahdu bergetar sejak tadi di kantongnya. Dengan segera ia mengambilnya.
'Lama banget angkatnya!!'
Syahdu terperangah. Ternyata diatas bukit menangkap sinyal walau beberapa titik.
'Kamu kalau udah disana, lupa sama aku.'
Syahdu tersenyum mendengar celoteh Arga.
"Kamu lagi ngapain? Ngga ada jadwal, ya?" Tanya Syahdu, mengabaikan kekesalan Arga yang dianggapnya berlebihan.
'Udah selesai semua. Bisa video call, nggak? Aku kangennn.'
Syahdu pun mengangguk, dia duduk dan menempatkan kamera kedekat wajahnya. Terlihat pula wajah sumringah Arga di layar ponselnya.
"Kamu baru selesai mandi?"
'Iya. Dari waktu aku mandi tadi aku telefon, tapi kamu ngga angkat!' Ucapnya dengan wajah sebal.
"Aku kan, baru sampe. Trus ini aku diatas bukit makanya ada sinyal."
'Bukit? Kamu mendaki bukit malam-malam gini?'
"Enggak. Emm.. ada bukit kecil tempat biasa aku.. mainlah."
'Oh. Kamu kapan balik? Besok, kan? Mau aku jemput?'
"Aku baru sampe, Gaa.."
'Aku rinduuu.. ngga enak tidur sendiri. Kamu udah bilang sama bunda kamu, belum? Cepat bilang kalau kita-'
"ARGAAA!"
Syahdu hampir saja menjatuhkan ponselnya karena kaget dengan teriakan Tari yang ada dibelakang Syahdu.
"Itu Argaaa! Itu Arga kan, kaaakk!!" Teriaknya dengan wajah tak percaya. Sementara Syahdu memegang jantungnya yang berdetak hebat karena kehadiran Tari yang tiba-tiba.
TBC
__ADS_1
**Udah Vote belum? Yuk like 150 kita upp๐๐๐ซฐ**