
Syahdu terpaksa menginap di kosan Wicak karena Hujan belum juga reda. Dia sudah menghubungi suster agar neneknya tidak khawatir karena dirinya yang tak kembali ke rumah sakit.
Gadis itu membelai lembut rambut Wicak yang tengah tertidur efek obat yang ia minum tadi. Matanya mengarah pada lembaran kertas yang tadi Wicak berikan padanya.
Desa Bebatu, tempat yang akan ia tuju untuk melarikan diri dari Arga. Walau niatnya juga ingin menjauhkan dirinya yang kotor itu dari Wicak, nyatanya lelaki itu juga yang akan ikut dengannya. Entahlah, Syahdu tak ingin memikirkan dulu bagaimana hubungannya dengan Wicak. Yang pertama ingin dia lakukan adalah lari dari Arga.
"Kok berhenti."
Suara berat Wicak menyita perhatiannya. Gadis itu tersenyum dan kembali mengelus rambut Wicak.
Wicak pun meraih tangan halus nan lembut yang menyapu kepalanya. Dia mengecup lama tangan Syahdu hingga gadis itu bisa merasakan napas dan kulit Wicak yang panas.
Wicak menatapnya dengan sayu. Kini gadis di depannya sudah berganti pakaian, memakai kaos dan celana training yang ia berikan tadi.
"Sini.." Wicak menggeser tubuhnya supaya Syahdu bisa berbaring disebelahnya. Tangan kanannya bersiap sebagai bantal untuk Syahdu.
"Hmm..." Wicak mendekap Syahdu. Memejamkan matanya sembari mengecup kecing Syahdu. Nyaman, itu rasa yang tercipta dari keduanya.
"Kamu ga ngantuk?"
Syahdu menggeleng pelan.
"Nanti kalau kamu denger suara aneh-aneh, jangan terkejut, ya?"
Mata Syahdu seketika membulat. "Ada hantunya, kak?"
Wicak terkekeh pelan. "Nanti juga kamu tau sendiri."
Jawaban Wicak malah membuat kening Syahdu berkerut. Apa benar kosan Wicak ada hantunya? Dia mulai takut.
"Syahdu."
"Hm?" Gadis itu sedikit mendongak.
"I love you." Bisik Wicak di depan wajahnya. Aroma maskulin pria itu begitu terasa dihidung Syahdu.
"I love you more." Balas Syahdu dengan berbisik pula.
"I love you so bad."
"I love you to the moon and back." Balas Syahdu tak mau kalah.
"I love you more than all stars at night." Bisik Wicak, kini matanya menatap bibir yang bersiap membalas ucapannya.
"I love you unconditionally." Balas Syahdu lagi.
"I love you until death do us apart." Jawab Wicak dengan tatapannya yang terlihat begitu serius dengan ucapannya.
Kini mata Syahdu menatap kedua manik hitam milik Wicak. Ucapan cinta sampai mati yang Wicak baru katakan membuat hatinya tertegun.
"I love you madly, i love you.. so much, you are the crayons to my coloring book. You make my life more colourful." Sambung Wicak lagi dan berhasil membuat Syahdu terenyuh. (Aku sangat mencintaimu, aku sangat-sangat mencintaimu. Kamu adalah crayon pada buku gambarku. Kamu membuat hidupku lebih berwarna)
Air mata Syahdu menetes melewati tulang hidungnya. Seketika ia mengerjap untuk menghilangkan genangan air yang bersisa di matanya.
Wicak tersenyum teduh dan membantu Syahdu menghapus air matanya. Perempuan yang ia kenal hampir delapan tahun itu memang mudah sekali menangis.
__ADS_1
Syahdu bukannya tak pernah mendengar Wicak mengucapkan cinta. Malahan belakangan lelaki itu terlalu sering mengucapkannya. Tapi entah kenapa, momen ini membuat hatinya tersentuh dan terdayuh bersamaan.
Wicak menyentuh dagu Syahdu. "You are my sunshine, my rainbow, my everything."
Syahdu tersenyum lebar mendengar ungkapan hati itu. Lalu tangannya menyentuh rahang Wicak. Dipandangnya wajah yang selalu tersenyum padanya. Dalam hati Syahdu mengiba dirinya sendiri. Jika suatu hari cinta tulus ini pergi, dia harus bersiap.
Wicak mengelus dan mengangkat sedikit dagu gadis itu sampai ia bisa menggapai bibir ranum milik Syahdu. Ia mellumatnya dengan lembut.
Darah Syahdu berdesir tatkala merasakan sensasi hangat dalam bibir Wicak. Dia memejamkan mata, menikmati decapan yang diberikan Wicak padanya, hingga erangan lolos dari bibir Syahdu saat Wicak mengigit kecil bibir bawahnya.
Garis senyum di sudut kanan bibir Wicak naik. Dia senang mendengar itu.
"Do you like it?" Bisik Wicak dengan senyum nakalnya. Sementara Syahdu seketika blushing karena malu.
"Belajar dari mana yang begituan?" Selidik Syahdu.
"Mm.. tahu sendirilah. Itu namanya naluri lelaki."
"Heleh." Balas Syahdu dan Wicak hanya terkekeh.
"Kamu ingat, dulu waktu kamu nangis di depan gudang?"
Alis Syahdu bertaut tanda ia berpikir. Memorinya kembali ke masa SMP dimana beberapa orang berhasil membuatnya sedih karena ucapan mereka mengenai ibu Syahdu yang telah meninggal itu. Dia lari ke gudang dan menangis tanpa suara disana.
"Itu pertemuan ketiga." Ucap Syahdu saat dia sudah mengingat kenangan itu dengan jelas.
Wicak mengangguk lemah. "Setelah pertemuan pertama, waktu aku obati luka cakaran itu, kamu satu-satunya perempuan yang dapat perhatian dariku."
Syahdu terus menatapnya, menunggu lanjutan cerita sebab dia paling suka mendengar isi hati Wicak.
Mata Syahdu berbinar. Pantas saja dia terus-terusan bertemu dengan Wicak seolah itu semua adalah kebetulan. Padahal tidak, Wicak memang mencarinya.
"Kalau ga ketemu, aku pasti bete."
Syahdu tertawa tanpa suara. "Waktu itu malah aku yang bete terus ketemu kakak."
Wicak mengelus lembut pipi Syahdu. "Kalau sekarang?"
Syahdu langsung mengeratkan pelukannya. "Ngga bisa kalau ga ketemu."
Wicak memeluknya dengan penuh senyuman. Rasanya senang saat sakit, Syahdu ada disampingnya.
"Kita ini kayak lagu Afgan. Kamu tahu lagu Afgan, kan?"
Syahdu mendongak. "Sadis?"
Wicak malah terkekeh lalu menyentil pelan dahi Syahdu.
"Ini mau bikin suasana romantis, kamu malah jawabnya gitu."
Syahdu ikut terkekeh. "Sadis kan, judul lagu Afgan, kak."
"Iya. Tapi bukan itu. Masa hubungan kita kaya lagu sadis."
Syahdu memendamkan wajahnya di dada bidang Wicak sambil terkikik.
__ADS_1
"Kita itu kayak lagu Afgan yang judulnya Bukan Cinta Biasa."
Wicak lalu berdehem, kemudian dia mulai bernyanyi.
🎶'Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku'🎶
Syahdu mendengarkannya sampai ia selesai. Tangan Wicak tak diam, dia masih mengelus lembut pipi Syahdu dengan ibu jarinya.
"You're so sweet." Lirih Syahdu. Padahal dulu Wicak terbilang cuek padanya. Tidak bersikap manis seperti sekarang, dulu lelaki itu hampir tidak pernah mengutarakan cintanya sehari-hari, atau memanggil Syahdu dengan sebutan 'sayang' saja mungkin bisa dihitung. Tapi sekarang, jangan tanya, setiap hari Syahdu bisa mendengar sampai sepuluh kali sehari.
Dulu, pernah mereka berjalan kaki berdua setelah pulang sekolah. Syahdu bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia bisa menyelesaikan tugas yang diberikan guru dalam waktu singkat. Wicak hanya diam mendengarkan. Pandangannya lurus, sementara Syahdu sibuk mengoceh tanpa ia sadari, ada bola yang terbang kearahnya.
Dengan sigap Wicak melangkah kedepan Syahdu lalu menangkap bola itu.
Syahdu terkesiap saat tiba-tiba saja punggung Wicak tepat di depannya.
"Hei, hati-hati kalau main bola!" Teriak Wicak berang, lalu melempar lagi bolanya kearah beberapa anak yang bermain di lapangan pinggir jalan.
"Maaf, kak." Teriak anak itu lalu kembali bermain bola.
"Kamu ga papa? Ada yang sakit?"
Syahdu menggeleng. Dalam hatinya berbunga, karena baginya sikap Wicak yang seperti itu sangat manis. Laki-laki itu memang seperti tak terlihat menyukainya. Tapi dia benar-benar melindunginya.
"Aah... ah.. aaahhh.."
Mata Syahu membulat menatap Wicak. Apa yang dia dengar ini? Suara desahhan perempuan, kan? Apa dia salah dengar?
"Kak.."
Wicak malah tertawa. "Sudah kubilang, kan, nanti ada suara-suara aneh."
Jadi, suara aneh yang dimaksud kak Wicak itu, suara ini? Batin Syahdu.
Apa setiap malam Wicak mendengar itu? Syahdu mendongak, tapi Wicak menutup matanya, berusaha tidur.
Syahdu sangat paham, Wicak pasti menahan diri. Karena dia bisa merasakan sesuatu mengeras dibawah sana.
Syahdu pernah bertanya, kenapa Wicak mengekos di tempat ini. Jelas-jelas tulisannya kos pria, tapi ternyata tempat ini bebas. Apalagi, karena tempat ini murah dan dekat dengan kampus. Itu sebabnya Wicak bertahan walau pasti sangat banyak godaan.
Wicak membuka matanya. "Kamu kenapa ga tidur?"
"I-iya. Ini mau tidur."
__ADS_1
"Jangan dengarkan suara-suara aneh. Cepat pejamkan mata." Wicak mendekapnya, walau suara itu masih terdengar, tapi Syahdu juga mencoba mengabaikan dan memejamkan mata. Dia tak ingin ikut terpancing karena suara dan suasana saat ini.