
Arga berdiri di depan pintu kamar mandi. Menunggu Syahdu keluar dari sana. Dia tahu, dia salah karena telah membohongi Syahdu. Apa yang dikatakan Syahdu benar. Seharusnya dia lebih memikirkan kesehatan istrinya dan janin yang ada di dalam kandungannya. Terlebih lagi, Syahdu awalnya menolak kehamilan itu. Tapi demi dirinya, Syahdu mau melahirkan keturunannya.
Pintu kamar mandi terbuka. Syahdu keluar tanpa menoleh pada Arga. Lelaki itupun menahan lengan istrinya.
"Syahdu..."
"Ck!" Syahdu berdecak, melirik sebal kearahnya. Untuk pertama kali, Syahdu marah padanya dan cukup serius.
"Syahdu.."
Wanita itu keluar dari kamar, mengabaikan Arga disana. Dia menuju ruang makan yang sudah ditunggu Margareth dan Julia.
Sarapan pagi di meja makan terasa ramai. Syahdu diapit Julia dan Margareth mengobrol seru. Wanita itu pula tak tampak ada masalah apapun. Dia pandai menutupinya.
Arga menarik kursi dan duduk dihadapan Syahdu dengan wajah kusam. Permintaan maafnya tak dilayani Syahdu. Apalagi istrinya itu tidak mau melihat kearahnya.
"Lho, kamu udah pulang? Kok mami ngga tau." Kata Julia.
"Tengah malam tadi." Jawabnya singkat, lalu mengambil roti isi dan menyantapnya malas.
"Kenapa, sih? Pagi-pagi udah bete mukanya." Julia memperhatikan anaknya yang tak seperti biasa. Lalu ia perhatikan juga Syahdu disebelahnya yang tengah makan dengan santai. Abai pada Arga. Kemudian ia pun paham, nampaknya anak dan menantunya sedang ada masalah. Julia pun memilih diam, tak mau mengurusi masalah keduanya.
Setelah selesai sarapan, Syahdu masuk kedalam kamar. Disana, ia membuka koper Arga dan melipat kembali pakaian yang bersih dan memisahkan dengan pakaian kotor.
Arga pun masuk. Diperhatikannya Syahdu yang membereskan barang-barangnya walau wanita itu tengah marah padanya.
"Syahdu." Arga berjongkok di depan istrinya. Wanita itu masih tak melihatnya. Ia fokus pada apa yang tengah ia kerjakan.
"Sayang, maaf. Aku udah bohong sama kamu. Kedepannya aku akan lebih baik lagi. Aku berusaha buat berenti ngerokok demi kamu dan anak kita. Please, maafin aku. Tolong jangan abaikan aku kaya gini." Wajah Arga memelas, mengharap agar sang istri tidak lagi marah padanya. Tapi nampaknya gagal. Syahdu masih diam lalu berdiri untuk menyusun pakaian ke dalam lemari.
Arga ikut berdiri. Di tahannya lengan Syahdu. "Sayang, please dengerin aku. Sebentaar aja." Ucapnya memohon yang akhirnya membuat Syahdu melihat kearahnya.
Arga menarik Syahdu kepelukannya. Sebenarnya, satu minggu tidak bertemu membuatnya sangat rindu. Tapi kejadian tadi malam menjadikan hubungannya dan Syahdu merenggang.
"Maafin aku." Arga mengelus rambut Syahdu. Dikecupnya bahu wanita yang tak membalas pelukannya.
"Aku bakalan berhenti ngerokok. Tapi tolong kasi aku waktu. Aku pasti berhenti tapi sulit buat aku untuk langsung stop. Aku udah searching di gugel tadi, cara untuk berhenti and i need you to support me. Mau, kan? Bantu aku, ya?"
Syahdu akhirnya mengangkat tangannya dan memeluk Arga. Iya, dia mau membantu suaminya itu.
Arga tersenyum. Walau tanpa kata, Arga tahu jawaban Syahdu.
"Aku kangen banget sama kamu." Ucap Arga lagi, mengecup kening Syahdu.
Gadis itu merebahkan wajahnya di dada Arga. Diapun rindu. Rindu sekali...
...🍁...
__ADS_1
Syahdu datang dan meletakkan secangkir teh lemon di atas meja dimana Arga tengah duduk dengan memeluk gitar. Sesekali ia menulis sesuatu diatas kertas setelah beberapa kali memetik senar.
Syahdu duduk di dekatnya, melirik tulisan diatas kertas yang berantakan.
"Kamu nulis lagu lagi?"
"H'em. Lagu terakhir."
"Lagu terakhir?" Alis Syahdu berkerut.
"Iya, sayang." Arga meletakkan gitarnya diatas kursi sebelahnya. Lalu menghadapkan diri kearah Syahdu.
"Aku mau berhenti jadi penyanyi. Menurut kamu gimana?" Tanya Arga, ingin mengetahui respon istrinya.
"Kok mendadak? Memangnya ada apa?"
Arga menggenggam tangan istrinya erat. "Aku udah pikirin ini mateng-mateng. Nyanyi itu cuma hobi yang aku kembangin karena kamu. Sekarang kamu udah ada disamping aku, jadi aku ga punya alasan lagi untuk lanjutin ini. Karena ini juga yang buat kita sering berjauhan." Jelas Arga lagi pada Syahdu.
"Kamu.. yakin?"
"Yakin. Aku ga mau buat kamu kepikiran terus soal aku diluar rumah ngapain aja. Aku tau kamu nanyain aku terus ke Ibra. Ya, kan?"
Syahdu melipat bibir saat ketahuan. Apa Ibra selama ini juga mengadu pada Arga?
Arga terkekeh melihat reaksi Syahdu. "Aku udah stop semua projek mulai dua minggu kedepan. Aku udah putusin buat ngelanjutin bisnis yang Oma kasih ke aku. Karena tadi Oma bilang, direktur utama yang ditunjuk Oma meninggal dunia kemarin malam. Jadi, aku mau ngelanjutinnya."
"Aku juga mikirin dia, kok. Aku udah tau mau nempatin posisinya dimana di perusahaan Oma. Pokoknya kamu tenang aja, semua udah aku atur." Ucapnya sembari mengelus pipi Syahdu dengan ibu jarinya.
"Eh, pipi kamu kayanya makin berisi, ya." Arga mencubit-cubit pipi Syahdu yang mulai gembul.
"Iiihh!" Syahdu memukul lengan Arga, tak senang pipinya dijadikan mainan.
"Hehee. Ini mah, bukan karena kamu yang makan banyak. Pasti karena si kecil ini, kan." Arga memegang perut Syahdu yang mulai menonjol sedikit.
"Ini pasti anak ayah yang maunya makan banyak. Ya, kan?" Arga mengelus dan mengajak ngobrol janin yanga ada di perut Syahdu. "Sehat-sehat ya, Nak. Jangan buat Ibu kamu kesakitan."
Syahdu tersenyum, mengelus rambut Arga dengan lembut. Beruntungnya dia memiliki lelaki seperti Arga.
"Sini, duduk." Arga menepuk pahanya, meminta Syahdu duduk dipangkuannya.
"Aku berat, lho.."
"Sini, cepetan." Kata Arga lagi, menarik Syahdu untuk duduk di pahanya.
Syahdu pun duduk di pangkuan Arga. Tangannya melingkar di leher lelaki itu.
Arga mendongak, memandangi wajah Syahdu yang teduh. Saat hamil begini, aura kecantikan Syahdu begitu terpancar.
__ADS_1
"Duh. Berat, ya." Ledek Arga.
"Udah ah!"
Arga terkekeh sembari mengeratkan ikatan tangannya di pinggang Syahdu, tak ingin istrinya kabur.
"Becanda, sayang. Kamu ih, sekarang sensi banget, ya. Gampang marah. Apa karena ada anak aku disini?" Katanya sembari memegang perut Syahdu.
"Makanya kamu jangan buat bete terus, dong."
"Hehe. Iya, maaf, yaa." Arga mengecup bibir Syahdu singkat. "Tapi serius. Kamu makin cantik. Apa anak kita perempuan, ya?"
"Memangnya kamu maunya apa?"
"Hemm.. kalo aku, mau perempuan atau laki-laki ga masalah. Yang penting kamunya. Kamu harus sehat, kuat, dan sanggup ngelahirinnya. Kamu udah minum vitamin yang dibeliin Oma, kan?"
"Udaah. Aku juga kontrol rutin. Oma dan Mami betul-betul jagain aku banget."
Arga tersenyum. Syukurlah. Dia lega saat Syahdu diperlakukan sangat baik di keluarganya.
"Aku mau potong rambut. Kayanya rambut aku makin panjang. Udah sama panjang kaya kamu." Tukas Arga, bermanja-manja di ceruk leher Syahdu.
"Iya, yauda sana, gih."
Arga mencium leher Syahdu, lalu membuat tanda disana. Sontak aksi Arga membuat Syahdu terkesiap lalu mendorong tubuh Arga.
"Iiihh. Arga! Kamu apaan, sih. Merah, tau." Gerutunya kesal sembari mengusap-usap bekas yang dibuat Arga. Syahdu berdiri dari pangkuan Arga.
"Hehee. Kamu siap-siap, ya. Sepulang aku dari barbershop, kita kencan." Ucap Arga dengan wajah sumringah. Namun Syahdu menatapnya penuh kecurigaan.
"Kencan? Emang mau mana?"
"Ke..." Mata Arga mengarah ke kamar mereka.
Syahdu dengan bingung ikut mengarahkan matanya ke arah kamar, dan ia langsung paham.
"Kencan apaan kaya gitu." Sanggah Syahdu dengan suara pelan.
Arga terkekeh sebab ia masih mendengar suara istrinya.
"Aku pergi dulu." Ucapnya sembari mengecup kening Syahdu dan langsung pergi.
** Heyyoo!! Mau kasih kabar ke kalian. Sebisa mungkin aku bakalan up Syahdu walau sebulan sekali ya. Karena aku mau buat WHAT IF nya Syahdu dan Arga. See Ya🫶**
Vote dulu dong. Disini atau di SBU juga boleh😝
__ADS_1