
...PoV Syahdu Larasati...
Aku membuka pintu perlahan saat kedua orang itu sudah beralih topik.
"Sudah selesai?" Sapa Arvian. Dia tersenyum manis padaku. Tapi di mataku, senyumannya seperti mengejek bahwa aku hanyalah seorang pelacurnya Arga. Pikiran buruk itu muncul setelah aku mendengar kalimat Arga barusan.
Arga menoleh kebelakang. Tampak senyum samar di bibirnya saat melihatku.
"Kalau gitu, kita balik dulu, bro. Thanks, ya." Arga berdiri, bersiap untuk pergi.
"Ya-ya. Setelah ini lo nggak perlu lagi khawatir kayak tadi, ya. Hehehe."
Arvian lalu berdiri menatapku. "Tadi udah dijelasakan kan, sama perawat?"
Aku mengangguk lambat. Tadi juga aku udah banyak nanya soal KB yang dipasangkan ini. Sampai bertahan berapa lama, dan apa efek sampingnya.
Aku merasa, menjadi diriku terlalu menyedihkan. Jika aku hamil, maka harus digugurkan padahal efek buruknya sangat besar untuk kesehatan rahimku. Lalu sekarang, untuk mencegah kehamilan, akulah yang harus menjalankan KB sementara dia --aku melirik Arga dingin-- santai dan tertawa-tawa tanpa beban.
Tapi yah, inilah kesepakatan yang sudah kutanda tangani sejak awal, dengan alasan kesembuhan nenekku. Oleh sebab itu, jika nenek benar-benar sembuh nanti, aku... akan lari.
"Lo masih syok, ya." Tanya Arga saat kami berjalan di lorong rumah sakit. Dia bertanya karena melihatku masih lemas dan lesu.
"Gue lega banget. Hah.. Syukur deh, gue nggak bisa bayangin kalo lo hamil. Sekarang gue nggak risau lagi. Lo inget kan, apa kata Arvian tadi. Kalo lo ngerasa ada yang-"
"Aku ke toilet dulu." Aku memotong kalimatnya. Kepalaku masih pusing, ditambah mendengar ocehan Arga membuatku mual. Akupun segera melangkah menuju tanda panah toilet.
"Oke. Gue tunggu di lobi."
Jawabnya, sementara aku masuk ke dalam toilet. Mencuci tangan sebentar, lalu diam menatap diri di cermin.
Menyedihkan. Kata-kata itu terus muncul di kepalaku. Ternyata selama ini aku sangat menyedihkan. Bahkan di mata Arga sekalipun.
Padahal dulu dia bilang kalau aku berbeda. Aku bukan seperti pelacur. Tapi itu hanya di lidah Arga saja. Pada akhirnya dia tetap menganggapku sebagai pelacur pribadinya.
Aku menatap senyum miringku di cermin. Ya, memangnya selama ini kau mengira kau ini apa, Syahdu? Menjadikan dirimu sebagai sewaan seorang Arga, demi biaya rumah sakit yang sudah hampir mencapai 1 miliyar dalam waktu tiga bulan, dan kau masih menganggap dirimu perempuan baik-baik yang patut dihormati?
Hah. Sialan. Entah kenapa hatiku terasa sesak. Aku ingin menangis, tapi kutahan. Sudah beberapa hari ini aku menangis dan aku bosan dengan air mata.
Kulihat lagi wajahku di cermin. Kukepalkan tangan kuat-kuat. Salahku yang menilai Arga laki-laki berbeda. Terus terang, sebenarnya aku terkesima padanya. Dia bahkan tak pernah menolak apapun permintaanku. Selalu ia turuti, bahkan saat ia terlihat kesal sekalipun.
Sebenarnya, aku sempat berpikir lain ke Arga. Aku bisa sedikitnya merasakan kasih sayang Arga padaku. Kepeduliannya, perhatiannya.
Tapi, semua itu ternyata hanya bohongan saja supaya aku betah dengannya.
Hahaha. Aku tertawa tanpa suara, sampai air mataku keluar dengan sendirinya. Bodoh. Syahdu memang bodoh. Aku mengutuk diriku sendiri yang memang sangat gampang dibodohi.
Setelah puas. Aku mencuci wajah dan keluar dari toilet. Langkahku terhenti saat melihat Arga tengah mengobrol dengan seseorang. Mataku menyipit. Naya?
__ADS_1
Aku buru-buru menarik masker dan menurunkan topi ke sebagian wajahku. Lalu berjalan keluar dengan cepat. Untunglah Naya membelakangiku, dan aku bisa melihat Arga menatap kearahku berjalan.
~
"Kemana, mbak?" Tanya supir taksi saat aku menutup pintu.
"Rumah sakit Harapan Kita, pak."
Supir itu mengangguk, lalu menjalankan mobilnya.
Yah, syukurlah aku bisa pulang sendiri. Karena aku tidak tahu harus bagaimana bersikap pada Arga untuk sementara ini. Padahal seharusnya aku bisa santai saja, karena apa yang Arga katakan benar. Tapi entah kenapa aku kecewa.
Ponselku bergetar, aku segera mengangkat telepon dari kak Wicak.
'Syahdu, dimana?'
"Ah, aku jalan menuju rumah sakit, kak."
'Ini, ibu kontrakannya tadi telepon aku. Katanya mau dilanjut, nggak? Udah tiga bulan, kan?'
Aku diam sebentar. Nenek akan sembuh, sudah pasti aku memerlukan rumah. Tapi, aku punya rencana lain.
'Halo, Syahdu.'
"Ee.. iya, kak. Lanjut aja. Aku kesana sekarang antar uangnya, ya."
'Temui aku di taman kota. Nanti kita pergi bareng. Bisa?'
Yah, terserahlah. Aku sudah tidak peduli lagi. Kali ini aku mau memikirkan diriku sendiri dan nenek tentunya. Aku akan meninggalkan kota ini secepatnya.
~
"Kak.."
Aku menghampiri kak Wicak yang duduk sendirian di bangku taman. Dia tersenyum manis saat melihatku.
Aku duduk disebelahnya. Dia tidak bicara apa-apa, hanya membantuku merapikan anak rambut yang terbang di wajahku. Lalu, menatapku cukup lama.
"Kamu masih sakit?"
Aku menggeleng cepat, walau kepalaku masih terasa pusing. Tapi tak ingin dia khawatir.
"Udah makan?" Tanyanya dan aku menggeleng lagi.
"Kenapa? Masih nggak selera, ya? Kamu pengen makan apa, biar aku belikan."
Ah, lelaki ini memang tidak ada imbangnya. Dia yang terbaik.
__ADS_1
Aku menyandarkan kepala di bahu kak Wicak. Nyaman. Lalu aku memeluk lengannya dengan erat. Tidak ada duanya, Wicak, aku sungguh beruntung.
"Capek, ya?" Kak Wicak mengelus kepalaku. "Kalau capek, harus istirahat. Aku nggak mau kamu sampe sakit. Perempuan kuat juga ada batas tenaganya, kan?"
Aku tersenyum sambil memejamkan mata. Perempuan kuat. Dia selalu mengatakan itu.
"Kak."
"Iya."
"Ayo, kita pergi dari kota ini."
Wicak diam. Nampaknya dia masih terus menatapku yang menyandar padanya.
"Aku.. nggak suka kota ini, dan orang-orangnya."
"Ada apa? Apa ada orang yang nyakitin kamu?"
Aku mengangkat kepala, menatap mata yang terlihat khawatir.
"Enggak. Aku cuma merasa, kehidupan kota nggak jauh lebih baik dari kampung kita. Aku pengen ke desa yang jauh dari perkotaan, desa yang indah tanpa gunjingan orang-orang."
Wicak tersenyum lagi. "Ngga ada, Syahdu. Dimana-mana pasti ada aja orang yang ngga suka sama kita."
Aku diam karena apa yang kak Wicak katakan benar.
"Ah, tapi, aku pernah ingin bawa kamu lari, sih."
"Hah?"
Wicak tertawa. "Dulu, waktu mama ngelarang aku berhubungan denganmu, aku sampai berpikir ingin membawamu pergi jauh. Supaya ngga ada orang yang ngerecokin kita. Aneh, ya?"
Senyum mengembang di bibirku. Lucu. Ternyata dia pernah berpikir seperti itu juga.
"Kemana emang?" Tanyaku kemudian.
"Namanya kampung Tebatu. Disana masih asri banget. Jauh dari orang-orang yang kita kenali."
"Kakak tau desa itu dari siapa?"
"Temen. Ada yang kampungnya disana. Tapi dia ngga betah. Ngga ada listrik, apalagi sinyal Hp."
Aku mengangguk-angguk. Boleh, juga. Pikirku.
"Kalau nenek udah sembuh, aku pengen tinggal disana." Lirihku.
"Kita pergi sama-sama, mau?" Ajak Wicak dengan semangat, dan aku mengangguk cepat. Iya. Aku mau pindah kesana bareng kak Wicak dan juga nenek. Kita tinggal disana, melupakan semua beban pikiranku yang semakin bertambah.
__ADS_1
TBC