
*Bab ini mengandung plusplus. Harap diskip saja dari pada ngapa-ngapain disana*
Syahdu baru selesai mencuci wajah setelah tiga puluh menit memakai masker. Diliriknya Arga, lelaki itu masih berbaring di atas sofa sambil memejamkan mata. Entah dia tidur atau tidak, Syahdu tak menghiraukannya.
Dering ponsel Arga terdengar keras sampai ia terkejut dan membuka mata.
"Mana hp gue?" Arga mengedarkan pandangan mencari ponselnya.
Syahdu mengambilnya di atas nakas. "Ini." Unjuknya.
"Siapa yang telfon?" Tanya Arga tanpa mau bergerak mengambilnya.
Syahdu melihat layar ponsel yang masih berdering. Tidak ada nama, hanya nomor yang tertera.
"Ngga ada namanya."
"Oh. Angkatin. Bilang gue mandi." Dia beranjak dari sofa menuju kamar mandi.
Syahdu mengangkat telepon itu lalu me-loadspeakernya.
'Halo, Argaa. Kamu dimana? Aku mau nanya, nih. Kamu liat bra aku ngga, yang warna hitam itu loh..'
Arga cengo. Begitu juga Syahdu yang melongo mendengar perempuan itu menanyakan bra miliknya pada Arga.
Secepat kilat Arga lari mendekati Syahdu dan ingin merebut ponselnya tapi Syahdu malah menjauhkannya karena masih ingin mendengar ucapan perempuan itu.
'Aku tau pasti kamu yang ambil. Itu kan, bra kesukaan kamu.'
Syahdu tergelak tanpa suara. Dia memegangi perutnya sampai tak sadar Arga merebut ponsel dari tangannya.
'Ga, kok ngga jawab, sih.'
"Ngga ada gue ambil. Ketemu lo aja enggak!" Jawab Arga cepat. Dia melirik kesal pada Syahdu yang masih tergelak. Apalagi wajah Arga tampak lucu dengan masker yang sudah retak-retak.
'Tapi ilangnya udah lama, Ga. Terakhir ketemu itu pasti kamu ambil, kan? Ngaku aja, deh. Kamu sengaja, ya, biar kita bisa ketemu lagi. Iya, kan?'
"Nggak ada! Udah, jangan ganggu." Arga langsung menutup teleponnya.
Kini Syahdu mengeluarkan suara gelaknya yang tak pernah Arga dengar sebelumnya.
"Ketawa lagi, lo!"
"Jadi.. jadi.. kamu tukang nyolong bra, Ga?" Tanya Syahdu di tengah tawanya.
__ADS_1
"Diem nggak, lo?"
Syahdu semakin tergelak. "Apa jangan-jangan, lingerie di lemari hasil colongan, juga. Hahaha."
Entah kenapa Syahdu tak bisa menahan tawanya. Rasanya terlalu lucu.
Mendengar kata lingerie, Arga jadi panas sendiri. Nampaknya dia punya ide untuk membungkam Syahdu.
"Ganti baju lo. Pake lingerie sekarang!"
"Hah?" Tawa Syahdu berhenti seketika. Raut wajahnya berubah kaget. Rasanya menyesal sudah menertawakan Arga seperti tadi.
"Gue mau, setelah gue cuci muka, lo harus udah pake lingerie!" Tukas Arga kemudian masuk kamar mandi. Tak lupa dia tertawa di dalam setelah melihat reaksi Syahdu tadi. Lucu sekali.
Syahdu masih diam mamatung di tempatnya. Menyesal. Itu yang pertama ia rasakan. Dengan malas, Syahdu menyeret langkahnya ke tempat dimana benda itu tersimpan.
Syahdu menghela napas melihat satu lingerie yang dia keluarkan dari lemari. Yah, memang jika dipikir-pikir, rasanya sudah hampir sebulan tidak melayani Arga. Aaakh.. padahal dia udah senang karena Arga tidak pernah meminta lagi. Ternyata, karena ulahnya sendiri menyebut-nyebut kata lingerie, Arga jadi ingat kebutuhannya itu.
"Udah belom?"
Teriakan Arga sudah terdengar dari walk in closet, membuat Syahdu mau tak mau keluar dari sana. Berjalan lambat mendekati Arga yang sudah duduk di tepi ranjang.
Jari telunjuknya sudah bergerak-gerak, menyuruh Syahdu untuk mendekat. Senyuman merekah di bibirnya dengan tatapan penuh pada tubuh Syahdu yang hanya memakai benang-benang tipis tak menutupi bagian sensitifnya.
Dia menarik napas saat menatapi tubuh Syahdu dari atas sampai bawah. Sudah lama sekali ia berpuasa dan sekaranglah waktunya.
Arga yang masih duduk di tempatnya, menarik pinggang Syahdu supaya lebih mendekat. Kini dada indah itu tepat berada di hadapannya. Dengan cepat dia melahap sebelahnya tanpa aba-aba. Membuat Syahdu seketika memejamkan mata dan membuka mulutnya. Apa yang Arga lakukan pada dadanya, seperti mengalirkan aliran listrik ke seluruh tubuh. Tak hanya diam, sebelah tangannya memeluk pinggang Syahdu, dan sebelah lagi memainkan kepemilikan bagian bawah perempuan itu.
Arga menghentikan permainannya saat merasa milik Syahdu dibawah sudah basah.
Dia membuka bajunya lalu mengangkat pinggang Syahdu naik ke tempat tidur.
Kini Arga berada di atasnya. Lelaki itu terus memandangi wajah perempuan dibawahnya dengan kabut gairah. Dia sudah tak tahan namun ingin membuat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Dia ingin membuat Syahdu menikmati permainannya.
Tiba-tiba saja, Arga teringat dengan Syahdu yang pergi berlibur dengan Wicak beberapa hari lalu. Apakah mereka juga melakukan itu?
"Lo.. udah pernah lakuin ini dengan dia?" Tanya Arga tiba-tiba, membuat Syahdu tertegun sebentar lalu menggelengkan kepala.
"Yang bener?"
Syahdu mengangguk. "Kami nggak pernah sampai sini." Lanjutnya lagi.
"Trus, lo nginep berdua satu kamar?"
__ADS_1
Syahdu mengangguk lagi.
"Nggak ngapa-ngapain?"
Gadis itu menggeleng.
Ada rasa senang di hati Arga. Sampai saat ini, masih dia orang yang mendapatkan kenikmatan dari Syahdu.
"Tapi, masa nggak ngapa-ngapain?" Arga mulai tidak percaya.
"Baru.. ciuman." Jawab Syahdu perlahan.
"Hah?" Arga tertawa kecil. Tahan betul laki-laki itu, batinnya. "Gimana ciuman sama dia? Enak?"
Syahdu menyipit mendengar pertanyaan Arga. Pentingkah? Apa tidak bisa selesaikan dulu yang ini supaya dia bisa bersantai? Batinnya.
"Mana enakan sama ciuman gue."
"Dialah!" Jawab Syahdu cepat.
Arga malah terkekeh. "Lo pasti diem aja, kan, pas dicium." Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Syahdu. "Sini, gue ajarin."
Arga mulai mellumat bibir Syahdu dan perempuan itu benar-benar diam seperti biasa.
"Coba buka mulut dikit."
Syahdu tampak bingung namun dia menurut. Arga memiringkan wajahnya, mellumat bibir bawah Syahdu, lalu memasukkan lidahnya ke dalam.
Gadis itu hanya diam lalu perlahan menutup mata. Bibir lembut dan permainan Arga berhasil membuat tubuh Syahdu meremang, sampai entah bagaimana Syahdu merasa dirinya melayang dan dibawahnya terasa berdenyut karena menginginkan lebih.
Arga menghentikan aktifitasnya dan membuat Syahdu langsung membuka mata.
"Lo bisa lakuin hal yang kaya gue lakuin barusan. Ngerti, kan?"
Bagai terhipnotis, Syahdu mengangguk.
Arga tersenyum kecil. Dia berharap setelah ini Syahdu mau membalas ciumannya dan menikmati permainan.
"Lo bisa praktekin ke gue sekarang." Ucapnya lalu mulai menciumi bibir Syahdu lagi. Tapi, Syahdu tak membalas sesuai yang ia harapkan.
Walau begitu, gairah Arga sudah dipuncaknya. Dia tidak bisa menahan lagi. Dengan perlahan Arga menerobos masuk miliknya kepada Syahdu, hingga membuat gadis itu membuka mulut dan membusungkan dada karena nikmat, namun ia merapatkan mulut lagi supaya desa*an sialan itu tidak lolos dari bibirnya.
"Mendesah aja, gue seneng dengernya." Bisik Arga di telinga Syahdu.
__ADS_1
Tetap saja gadis itu memilih tutup mulut. Dia harus ingat, bahwa yang dia lakukan adalah keterpaksaan atas pekerjaannya untuk menyelamatkan sang nenek, tidak lebih. Jika dia ikut menikmati, rasa bersalah semakin menggerogotinya.