SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pertemuan dengan Julia


__ADS_3

Pagi itu mendung. Gerimis sudah memberi jejak di balkon teras bersama dua burung yang berteduh. Hembusan angin menerobos masuk melalui jendela yang terbuka. Udara dingin tak membuat sepasang kekasih berbalut selimut putih merasa dingin. Justru pertemuan kulit keduanya menjadikan suasana dan tubuh mereka hangat.


Arga terusik ketika mendengar ponselnya bergetar. Sejenak ia membuka mata, lalu menutup kembali saat ponselnya mulai tenang.


"Arrghh.." kesal, Arga berbalik, meraba ponsel diatas nakas yang kembali bergetar. Perlahan Arga bergerak supaya Syahdu tidak terbangun dari lengan kanannya.


Ia membuka mata, melihat nama sang mami tertera disana.


"Iya, mi.."


'Kamu dimana?? Mami udah di jalan dari bandara ke rumah Oma. Mami mau ketemu sekarang!'


"Hah?"


'Buruan!' Sambungan terputus. Arga meletakkan kembali ponselnya dengan asal. Yah, memang begitu. Julia tidak pernah memberi kabar kapan dia akan datang dan kembali. Tiba-tiba saja sudah sampai di Indonesia.


"Siapa, Ga?"


Melihat Syahdu terbangun, Arga langsung mendekapnya.


"Mami." Jawabnya pendek. Dia memeluk Syahdu sembari memejamkan mata, ingin melanjutkan tidurnya.


"Kenapa mami?"


"Udah sampe sini. Nyuruh aku ke rumah Oma."


Syahdu mendorong Arga pelan, "Mami kamu udah disini? Kok ngga bilang mau pulang?"


"Emang biasanya gitu." Arga menarik Syahdu lagi, memeluknya dan memejamkan mata. "Nanti aja kesananya. Aku masih ngantuk banget. Tidur lagi, yuk."


"Gaa.." lagi, Syahdu mendorong tubuh Arga. "Ayo siap-siap. Kasian nanti mami kamu nungguin, lho."


Syahdu membuka selimut. Dia duduk dan mengikat rambutnya. "Ayo, Ga."


"Hujan, sayang. Ini enaknya tidur. Badan aku capek bangettt. Lutut aku kayak mau lepas."


"Salah sendiri. Siapa yang suruh ngulang berkali-kali?" Syahdu mengomel sembari memakai baju.


"Memangnya kamu ga capek?" Tanya Arga, dengan mata yang terus tertutup.


"Enggak."


"Ah.. Ini ga adil. Dulu aku bisa ngalahin kamu. Sekarang kok baru 4 ronde aku udah kalah." Gerutu Arga tanpa mau membuka matanya.


"Wajar, udah tua."

__ADS_1


"Hah." Lelaki itu spontan membuka mata. "Tua apanya."


"Udah masuk 30, kan?"


Arga diam berpikir. Iya juga. Usianya baru masuk 30 tahun. Tapi rasanya tidak terima dibilang tua oleh Syahdu.


"Ini bukan karena usia, sayang. Ini tuh, karena aku ga pernah lagi gituan selama bertahun-tahun. Jadi badannya kayak kaget, gitu lho." Elak Arga mencari alasan.


"Makanya kita harus sering-sering supaya stamina aku balik lagi kayak dulu."


Syahdu hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan Arga. Ia selesai memakai bajunya. Kini dia berdiri di sisi tempat tidur. "Mami kamu udah nungguin. Ayo, siap-siap, Ga."


Arga tak menghiraukannya. Dia memejamkan mata, sementara Syahdu berdecak dan masuk kedalam kamar mandi untuk bebersih diri.


Tak lama, terdengar jeritan Syahdu. Arga pun seketika membuka mata dan langsung lari menuju kamar mandi.


"Syahdu! Kamu kenapa, sayang? Buka pintunya!" Arga terus menggoyangkan handle pintu sembari terus mengetuk.


"Syahdu!"


Pintu terbuka, Arga langsung masuk dengan wajah paniknya.


"Kamu kenapa, hah? Jatuh? Atau apa.." Arga sibuk memperhatikan kekasihnya. Syahdu menahan senyuman, perlahan mendorong pintu dan menguncinya.


"Kecoa? Mana mungkin. Tempat ini selalu bersih dan ga pernah ada kecoa, sayang."


"Gitu, ya." Syahdu cengengesan menggaruk kepalanya.


Arga mulai curiga. Dia melihat pintu sudah tertutup. "Kamu ngerjain aku, ya?"


"Hehe." Syahdu mengambil shower dan langsung menyiramnya kearah Arga.


"Syahduu. Dingiinn!"


Syahdu tertawa-tawa tanpa mau menghentikan aktifitasnya sampai Arga yang menarik tangan gadis itu dan merebut showernya. Namun tubuhnya sudah basah. Terpaksa dia mandi bersama Syahdu.


"Kita belum pernah lakuinnya disini, ya?" Celetuk Arga saat dia membantu Syahdu mencuci rambutnya.


"Emang masih kuat?"


Arga mencebik diledek seperti itu. Namun niat jahilnya sudah muncul. Suatu hari nanti dia pasti akan menarik Syahdu dan melakukannya di kamar mandi. Dia tersenyum-senyum dibelakang dengan pikiran kotornya itu.


...🍁 ...


Pintu gerbang rumah Margareth terbuka. Arga memasukkan mobilnya ke dalam halaman yang luas. Didepan teras, Julia dan Margareth sudah menunggu di depan. Wanita yang berusia hampir memasuki setengah abad itu langsung berdiri. Dengan tak sabar menunggu Arga keluar dari mobilnya.

__ADS_1


Julia terbelalak melihat siapa yang keluar dari pintu satu lagi. Dia sampai memegang jantungnya yang berdebar. Dalam pikirannya terus bertanya-tanya. Itu.. Syahdu? Dia yakin dengan ingatannya, kalau itu memang Syahdu.


Arga dan Syahdu mendekat, dan pandangan Julia hanya terkunci pada Syahdu yang tersenyum kecil padanya.


"Mami, kenpa ga ngabarin sih, kalo mau datang. Padahal Arga sama Syahdu tuh mau..." ucapan Arga terhenti saat Julia melewatinya. Wanita itu mendekat pada Syahdu.


Tangannya terulur menyentuh pipi Syahdu. Ini benar Syahdu. Gadis yang menghilang selama 7 tahun hingga membuat rasa cinta terasa hampa bagi putra semata wayangnya. Kini gadis itu kembali, bersama Arga disisinya.


"Syahdu.." air mata Julia menggenang. Bagaimana pun ia teringat dengan apa yang sudah Syahdu dan anaknya alami selama ini.


Dia tahu betapa Syahdu tersiksa dengan kehilangan nenek dan calon suaminya. Dia pergi, mungkin karena saat itu Arga akan menikah. Tetapi Syahdu juga tidak meninggalkan sesuatu yang membuat mereka tahu kemana gadis itu berada.


"Syahdu, kamu.."


"I-iya, mi.."


Julia memeluknya. Mata wanita itu terpejam dengan air mata yang mengalir. Apakah kemarin Arga mengatakan akan menikah itu dengan Syahdu? Jika benar, maka dia akan sangat bahagia.


Julia tidak mengatakan apa-apa. Dipeluknya Syahdu dengan erat. Dalam hatinya sangat bersyukur dan berterima kasih dengan kehadirannya dan menerima Arga dalam hidupnya. Karena Julia sendiri tidak pernah lagi meminta apapun kepada Arga kecuali kebahagiaannya saja. Hanya itu yang ia pinta saat melihat asa tak lagi ada dalam jiwa anaknya waktu itu.


Julia melepas pelukan. Dia tersenyum lebar sembari memegang kedua bahu Syahdu.


"Mama kenapa ngga bilang.."


Margareth tertawa dibelakangnya. "Sengaja, supaya kamu liat sendiri."


Julia mengangguk. Melihat sendiri memang sangat mengaharukannya. "Kapan kita lamar Syahdu, Ga? Mami ngga sabar. Apa bisa bulan depan?"


Syahdu sampai tertawa. Apalagi Arga, tentu dia bahagia mendengar ucapan maminya itu.


"Secepatnya, Mi.."


"Kamu jangan khawatir. Serahkan semua sama mami. Mami akan buat semua spesial dan mewah. Khusus untuk menyambut calon menantu kesayangan mami ini." Ucap Julia penuh antusias.


"Besok kita ke butik kenalan mami, ya. Kita buat baju pengantin untuk kamu."


"Eh.." Syahdu sampai membulatkan mata.


"Mami mau kamu yang tentuin sendiri gaun kamu. Mami percaya pilihan kamu selalu bagus. Oke?"


Melihat mata berbinar milik Julia membuat Syahdu tak mampu menolak. Dia pun mengangguk, hingga membuat Julia kembali bersorak senang dan kembali menarik Syahdu dalam pelukannya.


TBC


**Kalian udah Vote belum? Oh ya, yang mau namanya masuk komentar Tweet, boleh ketik namanya di komen ya, ntar aku masukin di bab selanjutnya**

__ADS_1


__ADS_2