SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kehidupan Baru Syahdu


__ADS_3

Malam itu terasa dingin dengan angin yang berhembus cukup kencang. Tetapi tak membuat kerumunan warga masuk kedalam rumah mereka masing-masing. Sebab malam ini adalah malam istimewa, awal dimana sebuah perubahan besar akan dilakukan.


"Siap semuaaa?!" Seru kepala desa yang berdiri di tengah warganya.


"Siaaapp!" Sahut seluruh warga.


Serentak semua mulai berhitung. "Satuu.. duaa.. tigaaaaaa! Yeaaaaa.."


Suara yang ramai itu bersorak bergembira bersamaan dengan aliran listrik dan lampu yang menyala terang. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun lamanya hidup tanpa aliran listrik tentu membuat seluruh penduduk kampung Bebatu antusias menyambut sesuatu yang baru. Mereka merasa sangat bersyukur. Terlihat pancaran kebahagiaan di wajah-wajah mereka semua.


"Syahdu.. Syahdu.." Teriak seorang lelaki mencari-cari Syahdu kesana kemari. Padahal tadi perempuan itu ada disebelahnya. Kenapa tiba-tiba menghilang?


"Rif.."


Ia menoleh saat namanya dipanggil.


"Cari Syahdu??"


Arif mengangguk cepat. "Iya, Buk."


"Dia diatas."


Arif mengarahkan pandangannya ke gundukan tanah yang berumput hijau dengan kilat lampu sebab tetesan hujan beberapa jam yang lalu.


Arif bisa melihat dengan jelas orang yang ia cari tengah berada diatas bukit kecil bersama beberapa orang lainnya. Mereka tampak menari-nari riang dengan suara kendang. Ia pun berlari menerobos kerumunan orang-orang, tak sabar ingin melihat wajah perempuan di malam yang terang.


Perempuan yang dicari itu menyanyi sambil menari diatas bukit bersama teman-teman perempuannya.


Arif berdiri menatapnya. Angin kencang membuat rambut panjang Syahdu berkibar dengan indah. Banyaknya lampu yang dipasang masyarakat desa untuk menyambut listrik membuat wajah Syahdu sangat jelas terlihat. Dia tersenyum, memang Syahdu secantik itu. Dia merasa tak salah telah memilihnya.


"Syahdu." Arif menyentuh lengan Syahdu, gadis itu berhenti menari lalu menoleh dengan sisa senyuman di bibirnya.


Setiap kali melihat, sorot mata itulah yang disukai Arif. Walau disana juga lelaki itu merasakan bahwa Syahdu banyak menyimpan rahasia di dalamnya. Pasalnya, sudah hampir lima tahun dia berada di desa ini, mengenal Syahdu. Tetapi tak banyak yang tahu bagaimana latar belakang gadis yang dari cerita warga, tiba-tiba saja sudah ada disini tanpa identitas yang jelas.


"Ehem.. udah disusul aja, nih." Goda Pipit, menghentikan kendang yang tadi ia tabuh.


"Tau, nih, Arif. Ngga sabar banget padahal di rumah juga bisa puas."


"Heeii!" Semprot Syahdu, tak ingin ada fitnah yang menyambarnya nanti. Teman-temannya terkikik, sementara Arif hanya menggelengkan kepala.


"Bundaaaaa..." Kini gantian, seorang anak laki-laki berusia 7 tahun berlari dan menghambur kepelukan Syahdu.


"Lho, belum tidur?"


Bocah kecil itu menggelengkan kepala.


"Tau nih, kak. Malah keluar kamar katanya pengen liat lampu." Seru Tari, gadis berusia 17 tahun yang akrab dengan Syahdu.


"Ngga apa-apa, Tari. Makasih udah anter Adit kesini. Ayo, pulang."


"Yaah. Kok, pulang sih, Duu.." Seru teman-teman Syahdu kecewa. Padahal mereka berharap bisa menghabiskan malam indah dengan cahaya terang sampai pagi menjemput.


"Yauda kita bubar juga, deh."

__ADS_1


"Lho, kok gitu?" Tanya Syahdu heran.


"Iyalah. Yang suaranya bagus kan, cuma kamu. Pipit tuh, suaranya kaya kambing diseret." Ledek Lia.


"Sialan. Enak aja ngatain!"


Mereka semua tertawa, lalu Syahdu menatap sekitarnya. Dia sudah bisa melihat dengan jelas rumah-rumah yang tersusun rapi, juga rerumputan yang terhampar di depannya. Semua itu karena aliran listrik yang kini sudah terpasang dan tidak ada lagi lilin dan obor disepanjang jalan.


"Ayo, bunda." Aditya menarik tangan Syahdu, mereka pun pulang bersama melewati banyak lampu yang menggantung. Malam ini, kampung Bebatu yang sudah 7 tahun dihuni Syahdu, untuk pertama kali tampak sangat terang. Mereka takkan lagi kesulitan karena mereka sudah mendapat kemudahan baru dari pemerintahan.


"Besok.. kamu kemana?" Tanya Arif hati-hati. Pasalnya ada Aditya dan Tari berjalan bersama mereka.


"Besok anak-anak latihan nyanyi."


"Hmm.. begitu, ya."


Hening, sebab Arif tak tahu lagi mau bicara apa dan Syahdu pula tampak jalan saja tanpa mau berbasa-basi, sampai tanpa sadar mereka sudah berada di depan rumah Syahdu.


"Udah sampe. Makasih udah ditemenin. Aku masuk dulu." Kata Syahdu, dia tersenyum pada Arif lalu masuk kedalam rumah bersama Adit dan Tari.


"Cieee..." Ledek Tari saat Syahdu menutup pintu.


"Hush. Anak kecil!"


"Hihihi.." Tari hanya terkekeh.


"Adit, masuk kamar, ya. Udah malam. Besok kan, ada pertandingan bola." Syahdu mengelus kepala bocah itu.


"Bunda, belum tidur." Syahdu duduk di dekat Nani, wanita tua pemilik rumah yang ia tempati saat ini.


"Belum. Mau menikmati penerang pertama."


Syahdu tersenyum mendengarnya. Kampung Bebatu ini dulunya sangat gelap. Syahdu sendiri sampai tidak berani keluar saking gelapnya. Nani adalah orang pertama yang menolongnya, memberi tumpangan dan makan, lalu diangkat menjadi anak. Itu sebabnya Syahdu merasa sangat berterima kasih pada Nani.


"Bunda tau, nggak. Tadi kak Syahdu digoda sama bang Arif." Seru Tari memberi informasi.


"Bang?" Ulang Syahdu meyakinkan pendengarannya. Pasalnya, Arif adalah guru matematika di sekolah Tari. Tapi gadis itu malah memanggilnya abang?


"Iyalah. Kalo kakak jadian sama pak arif, kan aku manggilnya jadi abang. Masa bapak?" Celetuk gadis itu.


"Tari.." Tegur Nani. "Bunda bilang apa soal kamarin?" Nani memberi peringatan.


"Ah, Bunda. Aku ngga bisa kalau disuruh manggil kak Syahdu dengan sebutan bunda. Udah terbiasa panggil kakak. Lagian umur kita juga beda dikit, masa iya aku manggilnya bunda."


"Dikit apanya!" Omel Nani pada Tari.


Syahdu tertawa mendengarnya. Ya, ini Tari. Dia bukan anak kandung Nani. Sebenanya rumah yang Syahdu tempati adalah sebuah panti. Dulu ada banyak sekali anak- anak yang tinggal disini. Baik anak terlantar di jalanan kota yang dibawa Nani kesini, atau bayi yang sengaja dibuang dan dirawat oleh Nani.


Contohnya saja bocah laki-laki yang berusia 7 tahun itu, Aditya. Dia ditemukan tepat di depan pintu panti. Syahdu yang pertama kali menemukannya saat gadis itu baru dua hari disana. Maka gadis itu pula yang memberinya nama Aditya. Nama depan dari kekasihnya, Aditya Wicaksana.


Waktu pertama kali datang, Tari masih berusia 10 tahun. Tapi anak itu sungguh manis dan dewasa, sampai-sampai kehadiran Syahdu dianggapnya sebagai teman, bukan ibu asuh baru.


Dan sekarang, mereka tinggal bertiga karena yang lainnya sudah besar dan bekerja diluar, sebagian lagi diadopsi orang tua asuh yang datang meminta anak.

__ADS_1


"Ummm, kak. Besok temenin aku ke kota, yuk?" Ajak Tari pada Syahdu.


"Ngapain, Tar? Males, ah."


"Aaah, ayolah, kak. Besok tuh, ada podcast penyanyi kesukaan aku. Aku pengen nonton." Seru Tari memeluk lengan Syahdu.


"Ke kota kan, jauh, Tar. Makan waktu 3 jam. Lagian sejak kapan kamu suka penyanyi-penyanyi gitu."


"Sekarang cuma 2 jam kok, kak. Eh, kakak tau nggak lagu yang judulnya 'Missing the piece of You'. Ini lagu yang lagi booming banget."


Syahdu menggelengkan kepala. Lagu apa, sejak di desa dia tidak tahu menahu artis, penyanyi, atau lagu-lagu yang menurutnya sudah tak penting lagi.


"Lagunya tuh, eennakkk! Kakak pasti suka. Tari juga terlambat tau. Temen-temen Tari pada suka sama penyanyinya. Ganteng bangetttt, malah pada ngayal jadi pacarnya. Makanya mereka mau ke kota buat nonton di warnet. Ayolah, kaak." Rengek Tari pada Syahdu.


"Tari, Kak Syahdu kan memang ngga pernah mau kalau kamu ajak ke kota. Lagian buat apa, coba? Jauh, capek. Kalau kamu mau, kamu aja sama temen-temen kamu." Tukas Nani pada Tari. Gadis itu merengut.


"Ya udah deh, besok aku aja yang ke kota. Awas ya, kalo kak Syahdu naksir sama gebetan baru aku." Katanya, kemudian beranjak menuju kamar.


Nani menggelengkan kepala, sementara Syahdu merasa geli dengan gadis itu.


"Syahdu.." Panggil Nani pada gadis yang sudah bersamanya sejak lama, namun tidak terlihat tanda bahwa gadis itu ingin menikah. Padahal sudah banyak laki-laki di desa yang ingin melamarnya.


"Arif tadi siang datang kesini. Seperti biasa, dia nanyain kamu. Kalau kamu berubah pikiran..."


"Bunda, Syahdu minta maaf kalau masih merepotkan Bunda."


"Bukan gitu maksud Bunda, nak."


Syahdu menunduk dengan senyuman yang terlukis di wajahnya. Dia merasa selama ini terlalu banyak merepotkan Nani.


"Syahdu.." Kini Nani pindah duduk disebelah gadis itu.


"Kamu masih kepikiran soal Wicak?" Tanya wanita itu dan Syahdu tak menjawabnya.


"Iya, bunda ngerti, kok. Maaf ya, bunda ngga bermaksud buat kamu sedih."


"Ngga apa-apa, Bun. Emm.. nanti Syahdu coba pertimbangkan, ya." Kata gadis itu, menggenggam tangan Nani.


"Arif anak yang baik. Dia disukai banyak gadis, tapi dia menunggu kamu, nak."


Syahdu mengangguk-angguk. "Iya, Bun. Besok Syahdu coba untuk ketemu sama Arif.."


Nani tersenyum lalu menarik Syahdu dalam pelukannya. Dia merasa beruntung, gadis baik dan lembut seperti Syahdu bisa ada di rumahnya. Sebelumnya ia merasa sendiri dan cukup kerepotan merawat banyak anak. Kehadiran Syahdu sangat membantu dan membuatnya punya teman.


Nani teringat saat dimana ia tengah menanam mentimun di ladang orang. Dia melihat Syahdu duduk di tepi jalan sambil memeluk tubuhnya. Dia kedinginan.


Nani mendekatinya, menanyakan banyak hal padanya. Ternyata gadis itu baru tiba dan tidak punya tujuan sama sekali. Itu sebabnya Nani membawa Syahdu bersamanya yang kebetulan memiliki panti sendiri.


"Makasih banyak ya, Bunda. Sampai sekarang masih ngizinin Syahdu tinggal disini." Ucap gadis itu dalam pelukan Nani.


"Bunda senang kamu disini, jadi anak bunda." Jawab Nani dengan bijak, ia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Syahdu yang sangat ia sayang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2