
"Bolehkah?"
Syahdu menaikkan alis. Apa maksud Arga? Pertanyaan itu tidak jelas arahnya. Tapi belum dijawab, Arga sudah naik keatas tubuhnya.
Syahdu tak bisa bergerak, Arga mengungkungnya dan kini dia hanya melihat wajah lapar di depannya.
"A-arga.."
Arga hanya menatapnya sejak tadi. Ada keraguan dalam dirinya. Dia ingin mencium Syahdu, tetapi khawatir perempuan itu marah padanya.
Arga akhirnya merebahkan kepalanya di ceruk leher Syahdu. Gadis yang sejak tadi sudah berdebar menanti apa yang akan Arga lakukan, bisa mencium aroma harum rambut Arga. Lelaki itu tampak frustrasi.
"Maaf.." Gumam Arga yang sejak tadi hanya bisa menghirup aroma leher Syahdu.
Syahdu menggigit bibirnya. Dia sama sekali tidak keberatan kalau hanya berciuman saja. Tapi dia juga tidak seberani itu untuk mengatakannya. Padahal kalau saja Arga langsung melakukannya seperti biasa, dia takkan menolak.
Arga bergerak. Dia ingin kembali pada posisinya, tapi Syahdu menahan kerah leher lelaki itu sampai membuat pandangan mereka bertemu.
"Ciuman aja, oke?"
Mendengar itu Arga tersenyum. Diberi izin, tentu dia senang sekali.
Perlahan Arga memiringkan wajah dan mengecup bibir Syahdu. Terasa aliran darah yang mengalir deras keseluruh tubuh keduanya, membuat Arga semakin bergerak sementara Syahdu menggenggam erat baju Arga.
Arga mulai memainkannya dan Syahdu menutup matanya. Gadis itu terhanyut hanya dengan sentuhan bibir Arga yang begitu lembut terasa. Saliva yang kemudian saling menyatu, membuat tubuh keduanya kian memanas.
Hasratnya naik, perlahan Syahdu membalas ciuman Arga. Gadis itu membuka bibirnya, membiarkan Arga memasukkan lidahnya dan mellumat bibir gadis itu sampai mereka melakukannya sangat lama.
Rasa rindu diantara mereka ikut mengikat keduanya. Arga dan Syahdu terhanyut sampai lelaki itu menurunkan ciumannya ke leher Syahdu. Dia membuat tanda cinta disana. Lalu perlahan turun ke dada.
Arga memasukkan tangannya ke dalam kaos Syahdu. Dia tahu kalau izin Syahdu hanya sebatas cium bibir. Tapi dia tak bisa menahan diri. Dia menginginkan yang lain. Terlebih sesuatu telah mengeras dibawah sana.
Gadis itu pula, yang sejak awal hanya mengizinkan ciuman bibir, akhirnya pasrah dengan apa yang Arga lakukan padanya. Dia tak bisa menolak karena tubuhnya pun menyukai setiap sentuhan yang Arga berikan. Hasrat dalam dirinya muncul dan ia sangat menyukai itu.
Arga berhasil membuka baju Syahdu. Tangannya menyentuh benda kenyal yang sangat ia rindukan.
Hanya dengan satu tangan, Arga mampu membuka kaitan yang ada dibelakang badan Syahdu sampai terbukalah keindahan yang ada dihadapannya.
Lelaki itu menyentuhnya. Dia meremas dan memberikan sentuhan sensual diujung puncak benda itu. Membuat Syahdu melenguh, membusungkan dadanya karena rasa nikmat yang Arga berikan.
Arga benar-benar tahu titik sensitif yang membuat Syahdu ter*ngsang. Dia menatap wajah yang mendongak keatas tak kuasa menahan gejolak luar biasa pada seluruh tubuhnya. Cantik sekali. Dia menyukai wajah Syahdu yang takluk karena ulahnya.
Terus terang ini membuat Syahdu seperti lupa diri. Sudah lama sekali ia tak merasakan sesuatu yang membuat inti tubuhnya berdenyut nikmat. Tentu Syahdu tak ingin hal ini terlewat begitu saja.
Saat Arga melahap dadanya, Syahdu kembali merasakan sensasi menggelitik dan nikmat secara bersamaan. Diremasnya rambut Arga, mendorongnya pelan supaya Arga memperdalam isapannya.
Tangan Arga tidak diam. Lelaki itu kembali beraksi dengan menurunkan celana Syahdu. Sampai tak tahu bagaimana caranya, keduanya sudah tidak berlapis kain sehelaipun.
__ADS_1
Arga kembali menciumi bibir Syahdu. Disaat bersamaan dia memasukkan miliknya kepada Syahdu.
Gadis itu menganga memejamkan mata saat sesuatu yang keras menghujamnya perlahan. Sedikit perih namun nikmat.
"Sakit?" Tanya Arga ketika melihat Syahdu menggigit bibirnya. Reaksi yang sama saat pertama kali ia menggauli Syahdu.
Gadis itu menggelengkan kepala, tak ingin Arga berhenti jika dia mengatakan 'iya. Tetap saja Arga mengerti. Kembali ia mengecupi dada Syahdu, sembari perlahan ia mendorong panggulnya karena dirinya pun tak kuat menahan kenikmatan itu.
Dihujamnya perlahan sampai ia melihat Syahdu benar-benar menikmati pergumulan itu, barulah Arga mempercepat ritmenya, membuat Syahdu tak mampu menahan dessahan yang keluar dari bibir indahnya.
~
"Ga.."
"Hmm." Jawab lelaki yang betah memejamkan mata di dada Syahdu.
"Aku mau tanya.." Ucapnya sembari mengelus rambut panjang Arga.
"Tanya aja, sayang." Sahut Arga dengan tetap menutup mata. Syahdu tersenyum mendengar panggilan sayang dari Arga.
"Kenapa kamu sampai mau nungguin aku bertahun-tahun.."
Arga mengangkat kepalanya, melihat wajah Syahdu yang nampaknya perlu diperjelas lagi, padahal seharusnya perempuan itu sudah tahu jawabannya.
"Kamu.. masih ngga tau juga??"
"Bukan gitu. Biasanya, ga ada orang yang akan tahan lama nunggu seseorang. Apalagi laki-laki."
"Aku ngga tau."
Jawaban itu membuat Syahdu sedikit kecewa. Dia ingin mendengar jawaban yang membuatnya percaya diri, menjadi orang yang selama ini ditunggu dan dicintai seorang Arga.
"Yang jelas, setiap hari aku ngga berhenti mikirin kamu. Aku rindu semua yang ada padamu, Syahdu. Suaramu, tawamu, tangisanmu, dadamu.."
Arga mendapat delikan tajam dari Syahdu, ia pun tertawa.
"Aku mencintaimu, Syahdu. Aku ngga tau apa yang buat aku jatuh sedalam ini. Tapi jujur, walau kemarin terasa menyakitkan dan melelahkan, tapi itu semua kayak ngga ada apa-apanya sekarang. Karena yang kurasain itu, inndaaah banget." Ungkap lelaki yang sejak tadi mengelus pipi Syahdu dengan ibu jarinya. Ditatapnya kedua bola mata yang juga menatap matanya.
"Aku mencintaimu, Syahdu. Lebih dari diriku sendiri. Aku rela korbanin semua yang ada asal kamu tetap disisiku. Aku mau kamu terus dekat aku. Aku mau kamu bergantung sama aku. Kalau kamu pengen sesuatu, bilang ke aku. Apapun yang kamu mau, aku usahain semuanya. Oke?"
Syahdu tersentuh. Hatinya berbunga mendengar itu dari Arga. Dulu dia pernah mendapatkan cinta yang besar dari Wicak, dan kali ini setelah penderitaan yang cukup panjang, dia menerimanya lagi dari seorang Arga, lelaki yang dulunya adalah teman tidur kontraknya.
"Aku juga..."
Arga menopang kepalanya dengan sebelah tangan, memiringkan tubuh menatap kearah Syahdu.
"Kamu apa?" Tanyanya ingin memperjelas, walau ia paham maksud gadis itu.
__ADS_1
"Aku juga.. punya perasaan yang besar untukmu."
"I love you so much.." Bisik Arga.
"Love you too." Jawab Syahdu, kemudian keningnyapun dikecup oleh Arga.
"Sejak kapan kamu punya perasaan ke aku?" Kini Arga mempertanyakan sesuatu yang sudah lama ingin ia tahu.
Syahdu menggeleng. "Entahlah."
"Selama ini.. kamu mikirin aku, Syahdu?" Tanya Arga penasaran.
Syahdu mengangguk. "Hampir setiap hari."
"Jadi, kenapa kamu lari? Hm? Ceritakan sekarang selama ini kamu dimana. Kenapa ngga bisa diakses sama sekali? Bahkan KTP kamu juga tinggal disini."
Syahdu menarik napas sebelum akhirnya menceritakan satu desa dimana tak ada listrik dan jaringan. Akses yang sulit dan tak ada fasilitas canggih. Disanalah Syahdu bertahan hidup. Disanalah ia membuka lembaran baru yang punya banyak coretan masa lalu.
Arga sampai tak percaya mendengar cerita Syahdu. Dia tak tahu masih ada desa seperti itu di negaranya.
"Kok.. aku jadi ngerasa sia-sia jadi penyanyi terkenal selama 7 tahun, ya. Toh, kamu ngga tau aku."
Syahdu sampai tertawa mendengarnya. "Kalau kamu ngga kaya sekarang, aku ngga akan tau kalau kamu nyari aku, Ga."
"Bener juga." Ucapnya kemudian mencium bibir Syahdu cukup lama. Dia berhasil membuat bibir Syahdu basah karena salivanya. Lelaki itu tersenyum melihat wajah gadis yang ada dibawahnya itu.
"Syahdu."
"Hm?"
"Apa selama 7 tahun ini.. kamu ngga ada deket sama orang lain?"
Pertanyaan itu langsung membuat Syahdu membulatkan mata. Ada. Ada seorang laki-laki yang terus menunggunya untuk membuka hati. Tapi saat ia mulai membuka hati, dia malah pergi.
"Kalau diliat dari wajah kamu sih, pasti ada. Ya, kan?"
Syahdu tak menjawab. Memang ada, dan kini bertambahlah beban pikirannya. Bagaimana cara ia memberitahu Arif soal ini?
"Jangan-jangan kamu punya tunangan, ya? Trus kamu selingkuh disini. Aku ini selingkuhanmu, ya?"
"Ck. Apaan, sih." Protes Syahdu.
"Aku ngga mau tau. Putusin dia dan nikah sama aku besok." Arga membuat Syahdu terbelalak kaget.
"Hah?!" Menikah? Besok??
TBC
__ADS_1
** Netflix-nya udah kemarin. Sekarang Chill-nya😆. Udah paham kan, arti Netflix and Chill? Oh ya, Guys, mau nanya dong. Dari Arga, Hugo, dan tuan Krishan, kalian lebih suka karakter cowok yang mana? Kalau gw sih Krishan🤤 Mafia outside, Bucin inside😆**
Like 150 lah baru up biar gw semangat dongðŸ«