SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Menahan Hasrat


__ADS_3

Wicak menatap wajah Syahdu. Sudah tujuh tahun dia berpacaran dengan Syahdu, tapi inilah kali pertama dia melihat sesuatu yang selalu tersembunyi dari balik baju Syahdu.


Wicak menyentuhnya, merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan secara langsung. Dia perlahan meremas benda itu hingga menimbulkan dessahan halus dari Syahdu.


Syahdu pula merasakan hal yang luar biasa. Apa yang dilakukan Wicak terasa nyata berbeda dari Arga. Kenapa saat bersama Wicak, seluruh tubuhnya meremang dan sangat bergairah. Dia bahkan bisa mendengar deguban jantungnya sendiri.


Wajah Wicak, dia terus menatap wajah yang sangat memikatnya. Dia ingin Wicak juga melakukannya, sesuatu yang sudah ia khayalkan sejak bertemu Arga.


Wicak mencium bibirnya lagi, perlahan membaringkan tubuh Syahdu dengan tangan yang meremas salah satu dada perempuan itu.


Syahdu pula membuka kancing kemeja Wicak, meraba dada bidang lelaki itu. Sesekali Syahdu memejamkan matanya, menikmat sentuhan demi sentuhan yang Wicak berikan untuknya.


Wicak tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Dia menatap wajah yang amat dekat dengan dirinya. Memperhatikan kedua bola mata Syahdu yang melebar, memintanya untuk tidak berhenti. Dia pun ingin begitu, tapi ada sesuatu yang menghalanginya.


Wicak duduk, dia diam menunduk. Syahdu pula ikut duduk disebelah laki-laki itu. Apa yang membuat Wicak berhenti, kenapa dia tidak melanjutkannya?


Tangan Syahdu yang mengelus punggung kekasihnya, menanyakan apa yang membuatnya berhenti?


Wicak meraih tangan gadis itu, menggenggamnya dengan erat seraya menatap mata kekasihnya. Dia mengecup tangan Syahdu lalu mengancingkan baju gadis yang ia hampir salurkan hasratnya itu.


Syahdu pula merasa bingung kenapa Wicak mengancingkan bajunya, tanpa sepatah kata. Lelaki itu mencium lama kening Syahdu, dia memejamkan mata, seperti ingin mengucapkan terima kasih karena sudah berani menyerahkan dirinya, sudah mempercayakannya untuk menjadi orang yang pertama, walau dia tidak mengucapkan apa-apa.


Wicak melepas bajunya, dia berdiri untuk mengambil kaos di dalam lemari.


"Tidurlah. Aku keluar sebentar."


Wicak meninggalkan Syahdu yang masih diam di atas sofa. Perasaan Syahdu bercampur aduk. Dia sejak tadi berpikir apa yang membuat Wicak enggan melakukan itu dengannya? Apa karena Wicak merasakan kalau dirinya sudah pernah disentuh orang lain?


Syahdu menggelengkan kepalanya. Enggak, itu tidak mungkin. Lalu apa?


Syahdu merasa kesal. Dia melangkah menuju tempat tidur. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang tengah berlari di tepi pantai.

__ADS_1


Syahdu tahu itu Wicak. Laki-laki itu berlari-lari dengan earphone di telinganya.


Kenapa Wicak olahraga malam-malam? Syahdu semakin merasa tak diinginkan, karena lelaki itu malah keluar dan entah apa maksudnya berolahraga seperti itu, membuat Syahdu menarik tirai, menutup jendela lalu kembali ke tempat tidur.


~


Wicak berlari-lari kecil dengan earphone di telinganya. Lagu yang ia putar bernuansa rock supaya dia bisa memulihkan pikirannya yang kacau karena Syahdu.


Tentu dia sudah tahu konsekuensi dari tidur berdua dengan orang yang dia cintai adalah kemungkinan memuncaknya nafsu hingga ia tidak sanggup lagi menahan hasratnya.


Seperti tadi, dia benar-benar hampir melakukan itu pada Syahdu. Walau dia tahu, Syahdu juga menginginkannya. Tapi Wicak sudah membuat keputusan bahwa ia tidak akan melakukan hal seperti itu pada Syahdu sampai status mereka berubah menjadi suami-istri.


Baginya Syahdu adalah sebagian dari hidupnya. Walau pernah dia berpikir untuk meniduri Syahdu supaya gadis itu menjadi miliknya, tapi dia membuang jauh-jauh pikiran kotor itu saat dia juga bisa merasakan cinta yang luar biasa dari kekasihnya.


Dia hanya ingin menikmati Syahdu saat sudah sah sebagai pasangan suami istri. Dia yakin, akan ada keindahan dari apa yang sudah setengah mati ia tahan demi menjaga tubuh Syahdu.


Hampir saja dia kehilangan akal, sesat dia tersadar kalau apa yang dia lakukan sudah melanggar janji dalam dirinya. Maka Wicak memutuskan untuk berlari-lari agar hasrat yang sudah di ubun-ubun itu menghilang.


Wicak bisa merasakan Syahdu yang tengah kesal padanya. Dia pun paham karena itu bisa saja menyinggung perasaan Syahdu. Dia akan menjelaskannya pada gadis itu nanti. Sekarang, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Syahdu. Dia mendengar pintu terbuka dan suara air yang dari kamar mandi. Sejak tadi dia sudah berusaha untuk tidur tapi gagal padahal sudah setengah satu, seharusnya dia sudah tidur dua jam yang lalu.


Apa yang Wicak lakukan padanya sungguh tak bisa ia tebak alasannya. Sempat terpikir olehnya tentang ucapan Arga kalau Wicak itu tidak normal. Namun dia menepisnya, dia sangat bisa merasakan kenormalan Wicak! Hanya saja lelaki itu pasti punya alasan yang kuat kenapa begitu saja meninggalkannya dalam keadaan setengah mati menahan hasrat.


Syahdu memejamkan mata saat dia merasa tempat tidur itu bergoyang. Wicak naik ke tempat tidur. Dia mendekat ke arah Syahdu dengan tubuh yang harum.


Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Syahdu membuka mata saat Wicak mengecup kepalanya.


"Maaf.." bisik lelaki itu dibalik tubuhnya. Wicak memeluk Syahdu dari belakang, merapatkan tubuhnya dengan tubuh Syahdu.


"Kuharap kamu ngerti." Bisiknya lagi dan sungguh, itu membuat Syahdu semakin penasaran. Mengerti apa?

__ADS_1


Syahdu membalikkan tubuhnya, membuat Wicak terkaget karena ternyata kekasihnya itu tidak tidur.


"Syahdu, belum tidur?"


"Apa aku nggak menarik bagi kakak?"


Pertanyaan Syahdu membuat Wicak terdiam sesaat. Dia mengelus rambut kekasihnya. Bukan tak menarik. Dia justru sangat menarik hingga membuat Wicak tak bisa menahan hasratnya.


"Aku mencintaimu, Syahdu. Aku akan ucapkan itu setiap hari sampai aku mati." Kata Wicak sambil mengelus pipi Syahdu.


"Sejak awal berpacaran, aku berniat melindungimu. Menjagamu dari semua keburukan yang terjadi. Tapi ternyata aku ngga mampu. Orang-orang terus mencemoohmu, menjatuhkanmu, sampe buatku ikut tersiksa."


"Setelah itu aku merasa, kalau aku ngga bisa menjagamu sepenuhnya. Jadi, aku mau menjaga hidupmu dari rumor bahwa kau sama dengan ibumu. Karena aku tau kau berbeda."


"Itu sebabnya aku nggak mau merusak dirimu. Aku mau menjagamu, melindungimu. Bukan menjadikanmu tempatku melampiaskan nafsu."


Syahdu, tanpa sadar dia meneteskan air mata. Matanya tiba-tiba saja perih.


"Aku ngga mau melakukan itu sebelum kita menikah, Syahdu. Aku ngga akan menjadikanmu sama seperti yang orang-orang tuduhkan tentangmu."


Syahdu benar-benar tak bisa menahan sesak di dadanya. Dia menutup wajahnya, menangis, dan Wicak menariknya ke pelukannya, mendekap gadis yang terisak itu.


"Syahdu, jangan nangis..." kata lelaki itu sembari mengelus-elus punggung Syahdu.


Syahdu merasa malu. Ucapan kekasihnya itu sungguh mengoyak-koyak hatinya. Betapa selama ini Wicak menjaganya, menepis seluruh prasangka buruk orang-orang. Tetapi yang dia lakukan malah sebaliknya.


Tanpa sepengetahuan Wicak, Syahdu sudah menjual dirinya demi pengobatan sang nenek. Syahdu pasti sangat mengecewakan Wicak.


Tidak ada laki-laki sebaik Wicak, Syahdu menyadari itu. Dan sungguh, dia kini merasa tidak pantas bersama laki-laki itu. Syahdu merasa dia tidak layak berdampingan dengan Wicak yang sudah menjaga kehormatan perempuan yang tak menghargai dirinya sendiri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2