SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Curiga


__ADS_3

"Ras, lo tau nama anjingnya Arga?" Tanya Naya dengan tatapan menyidik dan aku kaku di tempat.


Mati aku. Kenapa bisa keceplosan begini, sih? Bagaimana ini??


"Eeem.. itu, di bandul kalung anjing itu ada namanya, kan?" Jawabku cepat setelah berhasil mendapatkan alasan tepat.


Arga menahan tawanya melihatku yang gelagapan. Arga sialan.


"Anjing lo keren juga, Ga. Tau aja mana yang cantik." Ujar Ibra melangkah menuju sofa dan duduk disana.


"Sialan, lo ngatain gue jelek??" Umpat Naya.


"Hahahhaha!" Tawa Ibra meledak setelah berhasil ngeledek Naya.


Yang lain ikut duduk bersama Ibra kecuali Naya. Dia berkeliling memperhatikan detil tempat tinggal Arga. Membuatku tidak tenang.


Naya berhenti di tempat tidur. Dia menatap lama ke arah sana begitupun aku, ikut mencari celah apa yang Naya perhatikan padahal tempat tidur rapi dan bersih.


Naya membuka ponselnya, lalu melihat secara bergantian ke arah ponsel dan tempat tidur.


"Nay, ngapain? Cepat sini!" Alika memanggilnya tapi tak membuat Naya menoleh.


"Ga, lo tinggal berdua, ya?"


Pertanyaan Naya membuat darahku berdesir. Apa, sih? Seseorang tolong buat Naya duduk diam supaya aku tidak gemetar seperti ini. Gara-gara lelaki sialan itu! Mataku tajam menatap Arga yang santai saja sejak tadi.


"Sendirian." Jawab Arga sembari meletakkan makanan yang diambilnya dari kulkas lalu dia duduk dibawah sofa.


"Kok, jubah mandi lo ada dua?" Naya menunjuk ke arah kamar mandi.


Aaah. Lututku lemas sekali. Akupun terduduk di bawah sofa, meletakkan tasku diatas meja.


"Punya nenek gue. Kadang main kesini." Jawabnya santai sambil membuka laptop.


Kulihat Naya tidak juga bergerak dari tempatnya.


"Bisa kita mulai?" Kata Arga kemudian.


"Ras, Tempat tidur lo, mirip banget sama tempat tidur Arga."


Hah. Aku menahan napas. Apa lagi ini? Tempat tidur? Apa maksudnya? Kenapa Naya membuatku terus gelisah, sih.


"Mirip gimana?" Tanya Alika.


"Iya, liat nih." Naya menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Alika. "Lo pernah ngirim foto buku diatas tempat tidur, kan? Mirip banget kaya punya Arga. Sandarannya juga, bantalnya juga."

__ADS_1


Aku bahkan tidak bisa bernapas. Terasa tercekat di tenggorokanku terlebih Alika melihatiku tanpa kedip. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku memendam rasa panikku saat ini. Aku berharap pada Arga, lelaki itu menatap dingin ke arah Naya dengan tangan melipat di dada.


"Maksudnya, gue dan Laras punya hubungan di atas ranjang?"


Pertanyaan Arga membuat semua saling toleh. Begitu juga Naya yang tampak terkejut dengan ucapan Arga.


"Bu-bukan gitu maksud gue-"


"Lo nuduh Laras selingkuh dari cowoknya, gitu? Selingkuh sama Arga?" Tanya Dina memastikan maksud dari ucapan Naya.


"Enggak. Bukan gitu, gue cuma, cuma nanya." Naya terbata-bata dan telihat panik menatap Arga. "Arga, sumpah, bukan itu maksud gue. Gue nggak nuduh lo tidur bareng Laras, enggak, sumpah."


"Gue tau lo suka banget sama Arga. Tapi apa sampe segitunya? Laras loh, ini." Sambung Adina.


"Eng, enggak gitu.."


"Bukan cuma Arga sih, yang punya tempat tidur kaya gini." Sambung Alika kemudian meletakkan ponsel Naya di atas meja.


Suasana jadi hening seketika. Naya tampak merasa bersalah sembari memilin jari-jarinya. Begitu juga aku yang terus menunduk, sama sekali tidak bisa berkata-kata. Rasanya ingi menangis saja.


"Ras, maaf, ya. Nggak bermaksud gue buat nuduh lo. Sumpah." Ucap Naya sembari menggenggam tanganku.


Aku mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum supaya pembahasan ini cepat berakhir. Aku benar-benar nggak nyaman.


"Ya udah, nggak usah dibahas lagi. Cepat diskusikan tugas, jangan buang waktu."


"Ee, gue ke kamar mandi dulu, ya." Naya langsung masuk ke kamar mandi. Entah apa lagi yang ia kerjakan, yang jelas aku ingin cepat-cepat keluar dari apartemen Arga secepatnya.


~


Selesai membahas tugas, satu persatu dari kami sudah pulang duluan mulai dari Ibra yang selalu punya jadwal padat, Alika dan Naya pulang bersama, menyisakan aku dan Dina yang merangkum hasil diskusi.


Mata Arga terus mengarah padaku. Aku tahu dia tengah berusaha berkomunikasi, tapi aku sama sekali tidak ingin menatapnya lagi.


TING!


Ponselku bergetar. Aku juga tahu itu dari Arga karena dia tengah memegang ponselnya. Aku pun enggan mengeceknya. Suasana hatiku benar-benar rusak. Harga diriku yang disembunyikan Arga, dia hampir membuat semua terbongkar.


Tak lama, aku dan Dina pun sudah selesai dan berniat pulang.


"Udah selesai nih, kita balik dulu." Ucap Dina sembari berdiri dan membawa berkas di tangannya.


"Thanks ya, Ga, tumpangannya." Sambung Dina sambil melambaikan tangan. Aku mengikuti Dina, membiarkan Arga yang masih berdiri di depan pintu apartemennya, melihati sampai kami berbelok di persimpangan lorong.


"Terus terang gue jadi nggak suka sama Naya, Ras. Rese' banget nuduh lo kaya gitu? Emangnya dia liat hubungan lo sama Arga selama ini gimana? Gue aja nggak pernah liat lo ngobrol bareng dia." Tukas Dina tiba-tiba.

__ADS_1


Adina membelaku walau dia melakukan itu hanya berdasarkan feeling kalau aku tidak mungkin melakukan apa yang Naya tuduhkan. Walau jauh dalam hati, aku merasa prihatin dengan diriku sendiri. Yang Naya ucapkan bukan tuduhan, tapi kebenaran.


"Lo nggak papa kan, Ras?"


"Eng.. enggak, kok. Nggak usah dipikirin." Ucapku pada Dina yang mengangguk saja. Untunglah, tidak ada yang percaya dengan ucapan Naya tadi dan Arga si brengsek itu, benar-benar bisa membalikkan kata-kata Naya hingga membuat gadis itu merasa sangat bersalah.


...🍁 ...


...PoV Author...


Naya mengaduk milkshake-nya dengan perlahan, matanya terus menatap pergerakan sedotan yang memutar sementara pikirannya melayang.


Alika duduk membawa nampan berisi makanan. Dia menepuk pelan tangan Naya yang sejak tadi melamun.


"Udaahh, ngga usah lo pikirin yang tadi. Laras juga udah maafin lo." Kata Alika ikut mengaduk minumannya.


"Tapi gue masih curiga, sih."


"Ck. Bahaya banget curigaan lo. Arga sampe kaya gitu mukanya. Lo nggak liat, dia pasang wajah ngga suka?"


Naya mendesah perlahan. Dia merasa beberapa keganjalan terjadi diantara Laras dan Arga.


"Lo tau nggak, gue pernah liat Arga senyum-senyum ke arah Laras waktu kita presentasi di depan."


"Biasa aja kali, Nay." Sahut Alika.


"Beda, Al. Terus, gue juga sering banget liat Arga diam-diam natap Laras sampe kek yang..." Naya tidak melanjutkan ucapannya karena dia tidak bisa menjelaskan ekspresi Arga yang ia lihat hanya saat lelaki itu menatap Laras.


"Naksir kali, si Arga. Lagian Laras kan, emang cakep."


"Ck." Naya berdecak. Jawaban Alika tidak membuatnya tenang dan malah jadi kesal.


"Tadi juga, anjingnya si Arga bisa langsung ngenalin Laras, masa?" Sambung Naya lagi, merasa belum puas dengan apa yang dia ceritakan.


"Hm.. agak aneh sih, emang yang itu."


"Ya, kan? Tempat tidur, persis banget. Dua jubah mandi, ngga mungkin banget neneknya Arga disitu. Terus..." Naya mengeluarkan sesuatu dari kantong celana jeansnya.


"Punya siapa, tuh?" Tanya Alika.


Naya menggelengkan kepalanya. "Ngga tau, tapi ini gue dapet dari kamar mandi Arga." Jelas Naya yang sontak membuat mata Alika membulat.


"Serius? Tapi rambut Arga kan, panjang?"


"Tapi ini punya cewek, Al." Sanggah Naya dengan cepat, karena rasa penasarannya kian meningkat dan dia, ingin cepat-cepat menemukan siapa pemilik ikat rambut merah jambu yang ia tak sengaja lihat terletak di rak kamar mandi apartemen Arga siang tadi.

__ADS_1


TBC



__ADS_2