SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Menentukan Pertunangan


__ADS_3

Syahdu menangisi dirinya. Apa benar fakta bahwa dia anak pelacur sudah tersebar? Bagaimana dia akan menghadapi ini semua? Lalu siapa yang menyebarkannya?


Syahdu menggelengkan kepala saat nama Adina muncul di benaknya. Tidak, tentu bukan dia. Walau Syahdu yakin satu-satunya yang tahu tentang itu adalah Adina. Syahdu pernah menceritakan kisahnya pada gadis berambut pendek itu. Tapi Syahdu yakin kalau Adina tidak mungkin menyebarkannya.


Syahdu mengangkat wajah saat dia teringat Awan. Ancaman lelaki itu, apa maksudnya adalah ini?


Syahdu menghapus air matanya, kemudian dia berdiri. Tangannya merogoh ponsel dan mencoba menelepon Awan, namun nomornya tak bisa dihubungi.


Syahdu mencuci wajahnya. Nampaknya dia harus menemui lelaki itu. Apa benar Awan yang menyebarkan berita soal dirinya di kampus? Syahdu mengira Awan hanya tengah marah saja, dia tak sangka lelaki itu sampai setega itu.


Syahdu keluar dari toilet. Dia melewati beberapa orang yang masih ada koridor. Tatapan orang-orang itu mengarah padanya. Lalu berbisik-bisik, Syahdu tak bisa mendengarnya.


"Dia kan, anak pelacur yang dibicarain orang-orang?"


Syahdu bisa mendengar itu.


"Iya. Baru-baru ini mencoba menarik perhatian lewat nyanyi dipanggung." Sahut seseorang.


"Dia tau ngga ya, siapa bapaknya."


"Ya enggaklah."


"Cap cip cup aja, siapa yang kaya, berarti itu bapaknya." Mereka tertawa. Padahal Syahdu hampir diujung lorong, tapi suara mereka samar-samar terdengar.


Syahdu duduk di bangku koridor. Kini hujan sudah turun dengan sangat lebat. Seakan-akan mengerti apa yang kini Syahdu rasakan.


Tangannya gemetar memegang ponsel. Apa yang dia takutkan ternyata terjadi. Sia-sia rasanya pindah ke kota, jika sekarang dia dikenal dengan julukan yang sama.


Kemarin orang-orang itu masih menegur ramah dirinya saat dikenal karena suara yang syahdu. Namun setelah mendengar berita ini, mereka kini ikut menghinanya seolah sudah yakin dengan berita itu.


Apakah mereka tak tahu, kalau dia pun menyesal telah lahir dari rahim seorang pelacur? Lalu dia menyalahkan siapa? Dia tidak bisa memilih siapa ibunya.


Syahdu menangis. Kedua tangannya mengepal diatas paha. Dia menunduk sesegukan. Tiba-tiba saja nama Arga melintas dipikirannya. Dia mengiriminya pesan, dia ingin lelaki itu membawanya pergi.


Syahdu semakin menunduk saat ada yang lewat. Dia bisa mendengar ocehan orang-orang itu.


"Eh, itu dia kan, yang.."


"Iya. Kasian, ya."


Syahdu menghapus air matanya saat orang-orang sudah lewat. Lalu dia melihat ponselnya yang bergetar. Arga, dia menelepon.


'Syahdu?'


Gadis itu masih menggenggam ponselnya. Rasa sesak di dada membuatnya begitu rapuh dan terasa ingin menghilang dari bumi ini.


'Halo, Syahdu.'


"Arga." Suara Syahdu parau dan hampir tak terdengar. Dia tak sanggup berkata-kata, bagaimana caranya memberitahu Arga untuk menjemputnya?


'Syahdu, ada apa? Kenapa?' Terdengar kepanikan dari seberang, Syahdu bisa merasakan itu.


"Arga.. A-aku.. mereka.. bagaimana mereka tahu aku anak pelacur.." Syahdu terisak-isak sampai bahunya terguncang.


"Arga.. aku.. aku.. mau pulang.." ucapnya lagi.


'Kasi tau lo dimana, gue kesana sekarang.' Terdengar suara Arga membuka pintu.

__ADS_1


"Kelas.. aku.. hiks.. di depan kelas."


'Gue kesana sekarang. Lo tenang disana, gue dijalan. Oke?' Suara berisik terdengar, Arga nampaknya berlari kencang.


Syahdu menekuk lutut. Hujan deras tak membuat Syahdu merasa dingin. Dia tak memikirkan itu lagi. Yang dia pikirkan bagaimana nasibnya di kota ini, dengan pandangan orang-orang yang sudah berubah dan menghinanya. Syahdu terpuruk.


Beberapa menit kemudian, ia merasa keterpurukan itu seperti akan memudar tatkala ia merasakan sebuah pelukan hangat di tubuhnya.


"Syahdu." Wicak mendekapnya dengan erat, semakin membuat Syahdu menangis. Dalam ceruk leher lelaki itu, Syahdu menumpahkan segala sesaknya. Wicak, lelaki yang selalu ada saat dirinya seperti ini.


Wicak pula tak mengatakan apa-apa. Dia hanya memeluk dan menenangkan Syahdu. Lelaki itu merasa terluka. Hatinya ikut pedih melihat Syahdu saat ini.


Disudut lain, seseorang berdiri dengan tetesan air dari bajunya yang kuyup. Dia mengabaikan dingin yang menusuk tulang demi menjemput perempuan yang disukainya. Tapi dia tak bisa melakukan apa-apa. Arga hanya diam menatap bagaimana Syahdu menangis. Perempuan itu dipeluk kekasihnya.


Bukan terlambat, Arga tidak terlambat datang. Hanya saja, posisinya yang tidak beruntung. Tak seberuntung lelaki yang kini mendekap Syahdu dengan erat.


Ponsel digenggamannya bergetar, tanpa melihat pemanggil, Arga menangkatnya.


'Sayang, kamu dimana? Kita harus ke acara dinner keluarga Soraya. Kamu harus bersiap, mama tunggu di rumah.'


Arga mematikan ponselnya. Sebelum pergi, dia ingin memastikan Syahdu sudah mendapatkan tempat yang tepat. Ya, tanpa memastikannya pun, Syahdu sudah bersama kekasih yang pasti lebih ia butuhkan dari pada dirinya.


Arga berjalan gontai. Dia meninggalkan gadis itu bersama pacarnya, walau Arga ingin sekali mendekap, menjaga, juga menenangkannya dalam pelukan.


...🍁...


Arga tak berniat bicara. Sejak tadi ia hanya bungkam menatap tatanan kota yang basah. Pikirannya dipenuhi Syahdu. Bagaimana kabar perempuan itu sekarang, apa yang dia lakukan, apakah dia sudah berhenti menangis, atau malah semakin bersedih. Entahlah, Arga tak bisa menebaknya saat mengingat bagaimana Syahdu terpuruk tadi.


Dibelakang, Julia dan Margareth asyik bercerita. Arga pula duduk disebelah supir yang kini akan membawa mereka menuju rumah Soraya.


Bahkan saat sudah sampai, Arga masih diam di dalam mobil. Dia sama sekali tak berniat turun kalau saja bukan karena ocehan Julia.


"Halo, akhirnya bertemu ya, Jeng." Sapa Julia balik, mereka saling berpelukan seolah berteman lama. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Selama ini hanya bertukar salam.


"Ibu Margareth, apa kabar." Sapa perempuan itu lagi, Ibu Soraya.


"Baik." Jawab Margareth penuh senyum. Dia sudah menyelidiki keluarga ini dan hasilnya bersih. Itu sebabnya Margareth akan setuju jika Arga jadi menikah dengan Soraya.


"Aah.." Kini matanya tertuju pada Arga yang berwajah dingin. "Ini.. Arga?"


"Benar, Jeng. Ini Arga Alexander, anak kami."


"Ya ampun, gantengnya. Pantes aja anak gadis kami tergila-gila, sampai foto-fotonya menempel banyak di kamarnya. Ternyata aslinya lebih tampan."


"Wah, yang bener? Soraya sampai segitunya." Sahut Julia sambil tertawa kecil.


"Katanya dia sudah naksir dari kecil. Eh, iya, ayo kita bicara di dalam, Jeng. Mari, masuk." Ibunda Soraya mempersilakan tamunya masuk lalu mereka langsung duduk di meja makan yang panjang.


Diatasnya sudah tersedia aneka menu dan buah. Arga duduk diapit Margareth dan Julia.


"Bi, panggilkan Soraya, ya." Pinta Sasmita pada pelayannya.


Tak lama, Sutomo Adiguna, ayah Soraya turun dari lantai dua.


"Selamat malam, selamat datang di rumah kami." Sambut Sutomo, dia tampak rapi dengan jas abu-abunya.


Mata Tomo langsung mengarah pada lelaki bersetelan jas hitam.

__ADS_1


"Arga Alexander, akhirnya kita bertemu." Tomo tertawa dengan wibawa, menyalami Arga yang memaksa dirinya untuk tersenyum.


"Arga sibuk, biasa, anak muda." Sahut Margareth.


"Anak muda yang produktif. Sudah bisa mengelola rumah sakit milik omanya. Setidaknya itulah yang saya dengar dari Alex." Ucapnya kemudian duduk di bangku ujung, tersenyum pada tamunya.


Soraya turun, dia tampak sangat menawan dengan balutan dress yang menyesuaikan bentuk tubuhnya. Dia duduk tak jauh dari Arga.


"Wah, cantik sekali.." Puji Julia tulus.


"Makasih, tante." Soraya menunduk malu. Dia melirik Arga, laki-laki itu tampak tak peduli.


"Bagaimana kalau kita bahas dulu inti pertemuan kita ini." Sasmita menyenggol kaki suaminya dibawah meja. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan buat anak semata wayangnya.


"Oh, ya, benar. Soal pertunangan anak kita." Sambung Tomo cepat saat menyadari kode dari istrinya.


Kening Arga mendadak mengerut. Padahal katanya ingin membahas kerjasama proyek yang Tomo lakukan pada sang ayah, kenapa jadi pertunangan?


"Saya sangat merasa terhormat, dengan kedatangan Ibu Margareth dan keluarga lainnya." Sasmita menggenggam tangan anaknya, tersenyum lebar saat menyadari akhirnya apa yang anaknya impikan jadi kenyataan.


"Sebenarnya saya sudah menentukan waktunya, bagaimana menurut Ibu?" Tanya Sasmita lagi pada Margareth.


"Kalau saya, terserah pada Julia dan Arga." Jawabnya melirik Arga.


"Wah, begitu, ya."


"Kami kembalikan pada keluarga pak Tomo." Sahut Julia lagi.


"Bagaimana kalau bulan depan." Usul Sasmita.


"Ti-" Ucapan Arga terhenti saat tangan Julia menggenggam erat tangannya dibawah meja.


Julia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mi, apa-apaan ini." Bisik Arga.


"Your dad is headed here." Bisik Julia balik dan tentu membuat mata Arga membulat. Papanya ada disini? Indonesia?


"You didn't tell me!" Suara Arga tertahan, dia kesal pada ibunya karena tak mengatakan soal ini padanya.


Julia tak lagi menyahut. Kini dia merubah wajahnya, tersenyum kearah depan.


"Bagus sekali, Alex pun akan setuju jika pertunangan ini dilakukan secepatnya." Tukas Tomo dengan bangga. Begitu juga Soraya, dia tampak sangat bahagia.


Lain hal dengan Arga. Matanya menatap ponsel cukup lama, sampai akhirnya ia berdiri.


"Hei, ada apa, sayang." Tanya Julia.


"I've to go, mom." Arga beranjak, dia berlari keluar.


"Alexander!" Panggil Julia, namun Arga terus berlari keluar.


"Aah.. maaf, sepertinya.. dia.. ada sesuatu yang penting." Ucap Julia pada sang pemilik rumah. Dia sampai merasa malu dan tak tahu harus mengatakan apa.


Diluar, Arga sempat diam sebentar saat mendapati papanya berdiri diluar. Namun lelaki itu mengabaikan ayah kandungnya dan masuk kedalam mobil meninggalkan rumah megah milik Soraya.


__ADS_1


**Halo, maafkan buat bhs inggris yg brantakan ya**


__ADS_2