SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pertunangan Bulan Depan


__ADS_3

"Kalau bukan kamu, lalu siapa.." Lirih Syahdu, namun Arga masih mendengar itu.


Arga mengeratkan genggamannya pada kemudi. Jika memang bukan Awan, artinya itu adalah perbuatan Soraya. Perempuan sialan itu. Maki Arga dalam hati.


"Kita kemana, Ga?" Tanya Syahdu. Pasalnya Arga hanya berjalan tanpa tujuan.


"Ngga tau." Jawabnya ketus.


Syahdu beralih pada Awan dibelakang. Dia mengguncang tubuh lelaki yang ada dibawah kursi.


"Wan, alamat kamu dimana?"


"Hueeekkk!"


Arga mendadak menepikan mobil saat mendengar suara Awan yang akan muntah.


"Bangsat. Jangan muntah di mobil gue!" Arga turun dari mobil, dia membuka pintu tengah dan menarik tangan Awan, membuat lelaki itu mau tak mau duduk di kursi.


"Cari taksi!" Titah Arga pada Syahdu. Gadis itupun berdiri di tepi jalan untuk memberhentikan taksi.


"Siapa yang nyebar gosip itu, Hah? Kalo bukan elo, siapa?!" Tanya Arga pada Awan.


Lelaki itu menatap sayu pada Arga, lalu dia menggelengkan kepala.


"Yang tau cuma lo, nyet!"


Awan mengangkat satu jari telunjuk di depan wajahnya. "Soo,, raa,, yaaa.." bisiknya, lalu memejamkan lagi matanya.


Arga sudah menduga. Perempuan itu benar-benar menjadikan Syahdu sebagai korbannya.


"Ga, itu taksinya."


Arga menarik tangan Awan dan memapah tubuhnya menuju taksi.


"Lo tunggu di mobil."


Syahdu dengan berat langkah masuk kedalam mobil Arga, menuruti lelaki yang wajahnya sudah bertekuk-tekuk itu.


Dengan kasar Arga memasukkan Awan ke dalam taksi, lelaki itu tergeletak diatas kursi penumpang.


Arga mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya pada supir.


"Pak, bawa jauh-jauh. Kalau perlu sekalian bikin dia jangan balik lagi."


"Hah?" Si supir tampak bingung.


"Heh, kasi tau alamat lo sama driver!" Pekik Arga pada Awan.


"Pak, kalo dia ngga mau kasih tau alamatnya, buang aja, terserah mau dimana." Tak peduli dengan kebingungan supir, Arga menutup pintu taksi lalu masuk ke mobilnya.


"Udah?" Tanya Syahdu, Arga hanya diam.


"Awan dibawa kemana, Ga? Dia kasih tau alamatnya, kan?" Tanya gadis itu lagi, merasa tak puas dengan respon Arga.


"Iya." Jawab Arga seadanya, lalu menjalankan mobil.

__ADS_1


Sepanjang jalan, mereka saling diam. Syahdu hanya menatap jalanan, sementara Arga mencuri-curi pandang kearah gadis itu.


Matanya terlihat sembab, pasti Syahdu tidak berhenti menangis tadi.


Gadis itu memegangi perutnya. Arga yang paham langsung menepikan mobil ke sebuah restoran yang ada di pinggir jalan.


Syahdu menatap keluar jendela. "Ga, ini kita.. kenapa kesini?"


"Gue laper." Ucapnya kemudian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran tanpa menunggu Syahdu.


Arga duduk di meja yang terbilang menyudut dan tak banyak pengunjung. Syahdu pun duduk di depannya.


"Pesen, cepat."


Syahdu mencebik. Entah kenapa Arga suka marah-marah. Tapi dia juga merasa lapar dan tak melewatkan kesempatan.


Setelah Syahdu memesan, Arga meminta pelayan itu pergi.


"Lho, kamu nggak makan?" Tanya Syahdu, padahal tadi katanya dia laper.


"Tiba-tiba kenyang liat lo."


Syahdu tak peduli, terserah, yang penting dia makan.


Syahdu nampaknya melewatkan sesuatu. Dia melihat Arga tampak rapi dengan jas hitam.


"Kamu dari mana, Ga?" Tanya Syahdu, memulai topik pembicaraan.


Lelaki yang duduk tegak itu hanya diam menatap wajahnya.


"Ga level gue di tempat begitu." Cebiknya pada Syahdu.


Gadis itu hanya diam. Benar juga, pikirnya. Pasalnya di tempat itu kelihatan banyak yang tak bermoral. Apalagi sebenarnya ia banyak digoda melalui lisan saat disana tadi, namun ia mengabaikannya.


Pesanan Syahdu datang, gadis itu dengan cepat melahapnya. Dia tampak tak peduli dengan masakan yang masih mengepulkan asap.


"Yakin, ga mau makan?" Tanya Syahdu dengan mulut yang penuh makanan.


Arga hanya diam menatapnya dengan tangan melipat di dada. Dalam hatinya merasa gemas dengan tingkah Syahdu saat ini.


"Enak, Ga. Apalagi ayamnya. Juicy, trus rasanya khas banget. Ntar aku kesini lagi, deh." Komentarnya tanpa diminta.


'Enakan mana sama masakan gue?' Tanya Arga dalam hati. Namun tampang yang ia pamerkan hanyalah wajah tegasnya.


"Aku suapin, ya?" Tangan Syahdu bersiap, namun melihat wajah Arga, membuatnya menurunkan lagi sendoknya.


'Kenapa ngga jadi, hei?' Arga menyipitkan mata. Sial sekali, Syahdu malah membodohinya.


Tiba-tiba saja Syahdu teringat saat dia menangis tadi. Arga sempat bilang kalau dia udah di jalan menuju ke tempatnya. Tapi dia malah pergi duluan. Arga pasti merasa tertipu karena ternyata dia sudah pergi duluan bersama Wicak.


"Ga.." Syahdu memberanikan diri menatap Arga. Lelaki itu juga menatapnya masih pada posisi tangan bersedekap.


"Maaf ya, pasti kamu marah gara-gara yang tadi, ya."


Arga tampak berpikir. Yang tadi mana maksud Syahdu?

__ADS_1


"Aku tadi pulang sama kak Wicak. Soalnya dia ada disana."


Baru Arga mengerti maksudnya. Padahal dia tidak marah. Sejujurnya Arga hanya kesal lantaran Syahdu pergi ke Adrenaline sendirian, menolong Awan pula.


"Trus.. tadi kamu kehujanan, nggak.."


"Basah kuyup sampe dalem-dalemnya." Jawab Arga tegas. "Gue udah kesana buat nolongin lo. Malah pergi sama cowok lo itu. Kalo gue sakit, lo mau tanggung jawab?!"


Syahdu meletakkan sendoknya, lalu tangannya ia tempelkan di dahi Arga, membuat lelaki itu terkaget dan memundurkan kepalanya sedikit. Aksi Syahdu itu membuat darahnya berdesir.


"Agak hangat, sih. Tapi ini karena kamu suka marah-marah."


Arga menaikkan alisnya sebelah. Terus terang dia ingin sekali menarik gadis itu lalu mellumat bibirnya, tapi tidak mungkin ia lakukan sekarang. Dia tengah mempertahankan sisi tegas yang disukai Syahdu. Dia tak mau jika Syahdu menyebutnya cantik lagi.


"Cepat makannya! Gue ngantuk."


"Iyaaa iya.." jawab cewek itu, kemudian buru-buru memasukkan makanan ke mulutnya, membuat Arga merapatkan bibir karena ingin tertawa.


...🍁...


Setelah makan, Syahdu mengikuti Arga menuju apartemennya. Mereka masih saling diam sampai hujan yang tiba-tiba turun dengan lebat.


Seketika Arga menyalakan wiper yang bergerak kesana kemari menghapus air yang mengalir deras di kaca mobil.


Lampu merah, mobil berhenti. Di saat itu pula ponsel Arga berdering. Julia yang meneleponnya.


"Ya, mami."


'Alexander! Kamu bikin malu mami!'


Arga menghela napas. Terlebih saat dia menyadari Syahdu menoleh ke arahnya.


"Sorry, mi. Tadi.. ada keperluan penting." Jawabnya sambil menatap Syahdu. Gadis itu kembali menoleh keluar jendela karena tak memahami percakapan ibu dan anak itu.


'Sepenting apa sampai kamu ninggalin acara?!'


"Penting banget, Mi." Jawab Arga lagi masih menoleh pada Syahdu yang kini tak menatapnya.


'Huh. Mami malu. Jadi kali ini dengarkan mami. Bulan depan kamu tunangan sama Soraya. Nggak ada bantahan, papa kamu juga sudah tanda tangan kontrak kerjasama sama pak Sutomo. Jangan permalukan Mami ya, Xander!'


Arga masih menempelkan ponsel di telinga walau panggilan sudah diputus oleh maminya.


"Arga..."


Arga menghela napas. Lalu menjalankan mobil saat lampu sudah hijau.


"Ga.." panggil Syahdu lagi dan Arga hanya menatap jalanan yang masih diguyur hujan.


"Kamu.. jadi tunangan.. bulan depan?"


Hening. Tak ada jawaban dari Arga. Lelaki itu memilih diam, sementara Syahdu pun tak lagi mempertanyakan hal itu pada Arga


TBC


**Udah up 3 bab, like banyak-banyak yaaa😆**

__ADS_1


__ADS_2