
"Laras. Heei, lo mabuk?" Alika mengguncang tubuh Syahdu. Seketika Syahdu menegakkan kepalanya.
"Enggak. Aku ngga mabuk." Kilahnya, tapi tubuhnya melemas kembali.
"Hahah, anak baik-baik masuk club langsung mabok." Tawa Naya.
"Lu sih, ngapain juga pake nyodorin alkohol segala." Sungut Alika pada Naya yang masih terkekeh.
"Ya mana gue tau dia langsung nagih kaya gitu."
"Trus ini gimana? Siapa yang nganter pulang??"
Naya menunjuk ke arah Awan. "Anak itu tadi dateng bareng dia, kan? Ntar, gue samperin." Naya bergerak menuju ke Awan yang masih bermesraan. Menunjuk‐nunjuk ke arah Syahdu yang sudah sempoyong. Dengan cepat Awan mendekati Syahdu.
"Ya ampun, kok lo bisa mabok??"
"Udah ah, anterin aja dia. Kasian tau." Tukas Alika.
Awan memapah tubuh Syahdu dan langsung membawanya keluar. "Du, aduh, gimana sih, kok lu bisa mabuk begini? Tadi ditawarin Riska pake nolak. Tau-tau dah blotto aja lu!"
Gadis itu mengoceh, entah apa yang dia bicarakan, Awan tidak paham.
Ponsel Syahdu berdering, Awan berusaha meraihnya di kantong kecil dress Syahdu. Membaca nama pemanggil membuat Awan tegang.
"Aduh, pake nelpon segala, lagi." Awan buru-buru menonaktifkan ponsel Syahdu supaya Wicak tak lagi menelepon dan memasukkan ponselnya lagi ke kantong gadis itu.
"Syahdu, hei. Sadar bentar bisa, nggak?"
"Henggg.." Syahdu mencoba berdiri dan Awan membantunya bersandar di tembok.
"Syahdu, kunci mobil gue kayanya ketinggalan. Lu disini dulu bentar, bisa kan?"
__ADS_1
Mata Syahdu terbuka, dia mengangguk.
"Jangan kemana-mana. Disini aja, ya. Inget! Bentar doang. Jangan lari yakk!" Awan langsung berlari menuju ke dalam gedung itu lagi untuk mengambil kunci mobilnya.
Sementara Syahdu mulai hilang keseimbangan. Dia bisa merasakan tangannya yang sedikit bergetar entah karena apa.
Syahdu semakin tak bisa menahan kakinya, tubuhnya yang oleng ditahan satu tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Eh.. kak." Syahdu tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Dia mendongak, menujukkan senyuman lebar untuk menyambut kekasihnya.
Syahdu dibawa masuk ke dalam mobil meninggalkan Awan yang baru saja muncul dari lift dan panik saat tak melihat Syahdu di tempatnya.
~
Syahdu yang merasa kepalanya berat, hanya bersandar dekat kaca mobil yang separuh terbuka. Dinginnya angin malam membuainya perlahan semakin merapatkan kedua matanya.
Tangan kanannya digenggam erat oleh si pengemudi yang sengaja membukakan jendela sembari sesekali melirik Syahdu yang bergeming.
Dia menepikan mobil sebentar, hanya untuk memperhatikan wajah yang tengah tertidur itu. Perlahan dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Syahdu ke belakang telinganya.
~
Arga menghentikan mobil saat sudah tiba di basement apartemennya. Dia membuka pintu dengan perlahan, takut Syahdu terjatuh mengingat wanita itu bersandar di pintu itu.
Dengan sigap Arga menangkap Syahdu saat akan terjatuh. Dia menggendongnya menuju apartemen mereka. Tak lupa Arga menutup pintu mobil dengan kakinya.
Dia berjalan tanpa perduli pandangan orang-orang hingga sampai di depan pintu apartemennya.
"Syahdu, bisa berdiri sebentar?" Arga menurunkan Syahdu yang dengan mata beratnya mencoba berdiri di topang oleh Arga dengan sebelah tangannya. Dia Merapatkan tubuh gadis itu kepelukannya supaya tidak jatuh, sementara tangannya yang lain memindai sidik jari untuk membuka pintu.
"Syahdu, ayo."
__ADS_1
Arga mendapati Syahdu tengah melihatinya dengan tatapan nanar. Arga bisa melihat pergerakan bola mata Syahdu yang menatap seluruh wajahnya dengan seksama. Lalu, senyum kecil muncul di bibi Syahdu.
Arga membiarkan Syahdu menatapnya tanpa kedip, dia diam sampai Syahdu mengecup pipinya dengan lembut.
Kecupan itu membuat Arga tertegun. Untuk pertama kali Syahdu menciumnya dan itu terlihat tulus.
Tanpa menunggu lama, Arga membalasnya dengan ciuman di bibir. Hal yang selama ini Arga inginkan pun tercapai. Gadis itu membalas ciuman Arga dan itu membuatnya semakin memperdalam ciumannya. Arga membawanya masuk ke dalam apartemen tanpa melepas ciuman mereka.
Dia melepaskan pakaian Syahdu perlahan. Begitu juga gadis itu, dia membuka kancing baju Arga sambil terus merasakan ciuman yang Arga berikan untuknya.
Arga mendorong perlahan tubuh Syahdu ke tempat tidur. Dia tidak memberi jeda lama sesaat kemudian menciumi lagi bibir Syahdu, lalu turun ke lehernya. Memberi beberapa tanda merah disana. Erangan Syahdu membuat Arga semakin memburu. Dia terus menurunkan ciumannya sampai di dua benda yang selama ini dia sukai dari Syahdu. Selalu pas di tangannya dan itu membuat Arga semakin bernafsu.
Pergumulan itu terjadi begitu panas dan memburu. Kali pertama keduanya merasakan kenikmatan yang dalam dari biasanya. Begitu pula Arga yang bahagia dengan dessahan Syahdu disetiap sentuhannya, membuat seluruh tubuh Arga meremang mendengarnya.
Arga menyelimuti tubuh wanitanya. Perempuan itu sudah terlelap begitu saja bahkan saat Arga belum menyelesaikan permainannya.
Arga mengecup kening Syahdu dengan sedikit sentuhan di pipinya, Arga mengelus lembut wajah Syahdu. Perempuan itu bergerak, dia memeluk Arga tanpa sadar. Arga yang seketika menegang, langsung tersenyum karena refleksi Syahdu yang bagus menurutnya. Dia memilih membaringkan tubuh disebelah gadis itu. Memeluk tubuh Syahdu sambil terus mengembangkan senyum bahagia yang tak terkira, dia menyadari perasaannya yang entah kapan bertumbuh begitu cepat untuk Syahdu.
"Sleep tight, wanitaku." Arga mengecup bibir perempuan itu sekilas hingga membuat mata Syahdu perlahan naik. Syahdu tersenyum pada Arga dengan mata yang separuh terbuka.
"I love you." Ucap Syahdu dengan suara yang serak.
Arga menahan napasnya, bola mata lelaki itu melebar dan debaran jantungnya meningkat. Apa kata yang keluar dari mulut Syahdu itu? Cinta, katanya?
"Syahdu, kau mencintaiku?" Tanya Arga di depan wajah Syahdu. Gadis itu tersenyum lagi dengan mata tertutup.
"Hmm. Aku cinta kakak." Jawab Syahdu yang mengeratkan pelukannya pada Arga. Sementara senyum Arga meluruh seketika. Apa Arga salah dengar?
"Aku mencintai kak Wicak..." Igau Syahdu lagi dengan mata yang masih tertutup.
Arga membeku. Ada sesuatu yang tergores di dalam sana. Terasa perih, tetapi dia tidak bisa mengutarakannya. Dia merasa kecewa, tetapi Arga tak bisa mengungkapkannya. Arga menatap wanita yang matanya sudah benar-benar tertutup itu. Apa sejak tadi Syahdu mengira dia adalah laki-laki itu? Apakah itu alasan kenapa Syahdu membalas ciumannya?
__ADS_1
Arga tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia mematung. Perasaan senang yang terbangun sejak tadi sudah remuk karena kata yang keluar dari mulut Syahdu. Gadis itu sejak tadi memang tengah mabuk dan yang ada di mata dan pikirannya hanyalah lelaki itu, bukan Arga.
Arga melepaskan pelukan Syahdu di tubuhnya. Dia bangkit dari tempat tidur seraya memakai bajunya. Arga membuka pintu balkon dengan kesal, dia menyalakan rokok dan menyesapnya dalam-dalam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arga merasakan patah hati yang sangat dalam bahkan sebelum dia menunjukkan perasaannya.