SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kenyataan Baru bagi Arga


__ADS_3

"Hei, kenapa malah melamun."


Syahdu sampai berkedip beberapa kali saat Arga mengibaskan tangannya di depan Syahdu.


"Kamu nangis?" Arga buru-buru menangkup wajah Syahdu dengan kedua tangannya. Lalu menghapus air mata gadis itu.


"Kenapa?"


"Ngga apapa. Aku kelilipan." Katanya mengelak, menurunkan tangan Arga dari pipinya.


"Kamu yakin?"


Kedua mata Syahdu menatap bola mata Arga yang jernih. Lalu nengangguk yakin.


"Kalau kamu perlu sesuatu, cepat bilang ke aku, ya?" Kata Arga lagi dengan mata yang tak lepas dari Syahdu.


"Kamu mau aku menggagalkan tunangan ini? Kalau kamu bilang 'iya', aku akan lakukan untukmu." Tukas Arga tiba-tiba, membuat Syahdu berdetak.


'Benarkah?' Syahdu tersenyum getir. Lagi pula, dia tidak akan melakukan itu. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang hatinya sendiri menginginkan Arga karena hanya sebuah keterbiasaan. Bukan karena suka. Dia yakin itu. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga Arga. Dia tidak ingin mami dan oma Arga kecewa.


"Kamu bicara apa.." Syahdu malah meneteskan air matanya. Kenapa hatinya terasa sakit, dia sendiri tidak mengerti.


"Aku tau kamu sedih kalau aku tinggalkan."


"Enggak."


"Kamu ga bisa bohong soal itu. Aku tau." Kata Arga lagi. Dia yakin tentang apa yang ia dengar dan rasakan tadi malam dari Syahdu.


Syahdu menatapnya lagi. Apa benar dia seperti yang Arga gambarkan?


"Kamu cuma bingung sekarang, aku yakin itu."


"Enggak, Ga. Aku.." Syahdu terhenti, dia tidak tahu mau menjawab apa.


Arga menahan rambut yang menutupi wajah Syahdu karena angin. Mereka saling menatap cukup lama. .


Arga memiringkan wajahnya. Dia mencium bibir Syahdu. Cukup lama, sampai gadis itu memejamkan matanya. Arga ingin Syahdu menyadari bahwa hatinya sudah berpaling kepadanya. Lagi pula, kalau Syahdu hanya membutuhkannya karena saat ini ia sedang hampa, Arga tidak masalah.


Arga bisa merasakan, Syahdu menikmati apa yang ia lakukan di bibir gadis itu. Tangan Syahdu menggenggam erat baju Arga, namun beberapa detik kemudian, Syahdu melepaskan ciumannya. Dia membuang wajah.


"Syahdu.."


"Bisa kita pulang?" Ajak Syahdu tiba-tiba.


"Kita baru sampai." Arga menggenggam tangan Syahdu. "Apa kamu ngga mau, ngabisin waktu sama aku disini?"


Genggaman hangat itu membuat Syahdu spontan melepaskan tangannya dari Arga.


"Aku mau pulang." Syahdu berlalu begitu saja, berjalan menuju mobil.


Arga menatapnya dengan bingung. Ada apa dengan perubahan sikap Syahdu padanya? Aneh sekali, padahal tadi dia bisa merasakan kalau Syahdu menerima ciumannya. Walau begitu, Arga tetap mengikuti kemauan Syahdu.


"Ada sesuatu, ya?" Tanya Arga dibalik kemudi. Pandangannya terpecah. Sesekali ia menoleh pada Syahdu yang hanya melihat keluar jendela. "Aku ada salah? Kamu masih marah karena bercandaku tadi malam? Atau karena aku cium kamu tiba-tiba?"


Syahdu menghela napas. Tidak, sama sekali tidak. Tapi karena mimpi itu, perasaannya jadi tidak menentu. Apalagi barusan Arga menunjukkan kemiripan yang sangat nyata dengan mimpinya, dan tentu saja ciuman itu membuatnya frustrasi.


"Aku minta maaf, kalau kamu masih marah. Tapi aku benar-benar ngga bermaksud buat nyakitin atau buat kamu terluka."


"Engga, kok. Aku cuma mau nepatin janji sama mami kamu. Kita ke lokasi pertunangan kamu, ya. Mami udah disana." Jawabnya tanpa menoleh pada Arga.


Lelaki itu menatap tak percaya. Padahal jelas sekali, Arga bisa merasakan tadi malam Syahdu menangis karenanya. Juga ciuman yang diterima Syahdu dengan ketenangan. Tapi sekarang, sikap gadis itu berubah.


Arga tak lagi menyahut. Sikap Syahdu benar-benar membingungkannya.


Sesampainya di lokasi, Syahdu turun dari mobil disusul Arga. Gadis itu menaiki beberapa tapak tangga untuk bisa mencapai lokasi pertunangan Arga. Sebuah taman yang indah diatas sana dan Julia sudah menunggunya.

__ADS_1


"Ah, akhirnya datang juga." Julia memeluk Syahdu sebentar, lalu menatap tajam pada Arga.


"Kamu dari mana, hah? Telepon mami nggak pernah diangkat!"


"Sibuk." Jawabnya dengan malas, lalu pergi entah kemana.


Syahdu menatap sekitar. Lokasi outdoor yang sangat indah itu memang sangat cocok dijadikan tempat mengikat janji. Udaranya juga sejuk. Semoga saja tidak hujan, doa Syahdu dalam hati.


"Ngapain lo kesini?" Suara ketus itu membuat Syahdu menoleh. Soraya datang dengan langkah lebar.


"Mau ngerusak acara gue??"


"Soraya, jangan gitu. Syahdu datang untuk bantuin kamu." Bela Julia.


"Bantuin apa, tante? Bantuin ngerusak acara??"


Julia menghela napas. "Raya, kamu tau nggak, yang buat Arga akhirnya mau tunangan sama kamu itu ya, Syahdu."


"Apa?!"


"Syahdu udah bantu bujuk Arga. Dia juga yang bantu pilihin dekorasi yang dari tadi kamu puja-puji ini."


"Syahdu, kamu datang juga akhirnya. Ayo, bantu aku disini." Seorang laki-laki berkepala plontos dengan gemulai menarik tangan Syahdu.


"Om Neno?" Soraya tampak aneh melihat designer juga pemilik Wo itu mengenal Syahdu.


"Hei, jangan galak-galak. Syahdu ini pinterrr banget ngedekor. Gue bawa dulu ya nekk." Dia langsung membawa Syahdu pergi.


Sementara Soraya masih menatap heran sekaligus tidak suka perempuan itu ada disana.


"Soraya, Syahdu itu ga punya perasaan sama Arga. Kamu tahu kan, pacarnya baru meninggal dan dia sangat sedih soal itu. Jadi, jangan galak-galak, anaknya baik. Percaya sama tante."


Soraya mendengus dengan tatapan matanya masih mengarah tajam pada Syahdu.


Beberapa menit setelahnya, Syahdu berhasil menyusun nama Arga dan Soraya, lalu memberinya sedikit dekorasi supaya terlihat indah dan menyala di malam hari.


Kenapa Syahdu merasa aneh dengan mood-nya hari ini. Tiba-tiba saja dia tidak ingin melakukan apa-apa.


"Kenapa dipandangin aja?"


Syahdu menoleh kebelakang, Arga berdiri dengan kedua tangan di saku celana.


"Bagus, kan? Aku yang buat."


"Sama sekali nggak. Malah mau aku bakar aja tempat ini."


Syahdu menggelengkan kepala. Lalu mengambil beberapa bunga untuk ditaruh didalam vas besar.


"Jam berapa kamu mau pulang? Biar aku antar."


"Ngga pulang."


"Hah? Kamu mau nginep disini?"


"Kamu yang ngga pulang. Karena besok acara kamu. Jadi, mami minta kamu nggak ke apartemen dulu."


"Arga, sayang. Kamu disini rupanya." Soraya datang dan langsung memeluk lengan Arga. Seketika itu juga Arga melepasnya dengan berdecak kesal, lalu pergi dari sana.


Soraya tampak kesal, lalu dia menatap Syahdu yang tengah serius merangkai bunga.


"Awas lo, ya. Kalo lo berani ngerusak acara gue, gue akan-"


"Ngga minat. Aku ngga suka sama Arga. Jadi jangan mikir kejauhan." Jawab Syahdu cepat, kemudian melangkah pergi meninggalkan Soraya yang menghentakkan kakinya karena kesal.


...🍁...

__ADS_1


Syahdu tersentak saat mendengar suara pintu dibanting. Arga datang dengan wajah berang karena tadi malam Syahdu meninggalkannya di lokasi itu.


"Kok pulang ngga bilang-bilang?"


Syahdu menghela napas. Dia duduk dan menyisir rambutnya di tepi tempat tidur.


"Tadi malam gimana acaranya? Seru, nggak?" Tanya Syahdu, mengabaikan pertanyaan Arga. Lelaki itu tadi malam sengaja dijebak Syahdu supaya tetap berada disana. Sementara Syahdu diam-diam pulang dan tidur di apartemen.


"Bilang kalo kamu ngga mau aku tunangan!" Sentak Arga tiba-tiba.


"Ngga ada kaitannya kesana. Aku pulang karena lelah."


"Jangan bohong. Kamu cemburu dan nggak suka kan, aku tunangan?!"


Syahdu menatap heran. Kenapa tiba-tiba Arga seperti ini?


"Kenapa tiba-tiba marah, Ga? Kamu nanti malam tunangan. Jangan aneh-aneh."


"Aku ngga aneh. Kamu yang aneh. Aku tau kamu ngga mau kehilangan aku. Ya, kan?" Arga kesal karena Syahdu menipunya. Tadi malam gadis itu bilang dia akan menunggu sampai acara keluarga nya selesai. Tahu-tahu Syahdu pergi dan Arga tidak bisa keluar dari sana. Tentu Arga marah, apalagi tidak ada Syahdu disisinya.


"Kamu salah paham. Aku masih sedih banget soal kak Wicak. Jangan nambah beban aku, Ga." Syahdu beranjak ingin pergi.


"Syahdu!" Arga menggenggam kuat tangan Syahdu yang ingin meninggalkannya.


"Aku bisa tetap disampingmu. Kalau kamu mau, aku akan batalin-"


"Udahlah, Ga. Kenapa sih, tiba-tiba kayak gini?"


"Karena aku tau, kamu sukak sama aku. Tapi kamu ngga mau akui perasaanmu."


"Aku ga suka sama kamu, Ga. Aku sukanya cuma sama kak Wicak. Please jangan salah sangka." Jawab Syahdu. Dia tak ingin acara yang sudah disusun matang akhirnya gagal karena dirinya.


"Hah, kenapa? Aku juga sayang sama kamu."


"Aku ga bisa sama kamu, Ga. Aku udah berkomitmen untuk ngga buka hati ke siapapun. Lagi pula, aku cuma mau sama Wicak, laki-laki yang seperti kak Wicak. Dan kamu ngga bisa kayak dia." Lanjut Syahdu lagi.


"Memang benar! Tapi aku punya cara sendiri untuk bahagiain kamu, Syahdu." Teriaknya tak terima, dibanding-bandingkan dengan lelaki itu.


"Tapi cuma cara Wicak mencintai aku yang aku mau!" Pekik Syahdu sambil menatap tajam pada Arga yang tampak frustasi. "Lepasin tanganku!"


"Syahdu, tolong. Beri aku kesempatan. Sekali aja!"


"Aku ngga tau kenapa kamu tiba-tiba kayak gini. Tapi sekali lagi, aku cuma mau Wicak, gak ada yang lain." Mata Syahdu berkaca-kaca sambil berusaha melepas tangannya dari Arga.


"Apa gak ada sedikitpun perasaanmu sama aku?" Tanya Arga dengan nada yang mulai merendah. "Bahkan saat kita melakukan hubungan badan berbulan-bulan. Apa kamu gak terdetak sekalipun?"


Syahdu terdiam. Dia membuang wajahnya, tak ingin menatap Arga.


"Jawab aku, Syahdu. Selama ini, apa gak ada sedikitpun rasa sukamu padaku??!"


"Pasti ada. Aku tahu. Pasti ada!" Tukas Arga lagi, lalu menggenggam kedua tangan Syahdu.


"Lihat aku, Syahdu. Katakan kalau kamu punya sedikit perasaan itu."


Syahdu tak juga menatapnya.


"Kamu menyukaiku, kan? Aku tahu. Gak mungkin selama ini kamu ga mendam perasaan padaku sedikitpun."


"Aku gak punya perasaan semacam itu pada siapapun kecuali sama Wicak!" Syahdu membalas tatapan Arga dengan suara lantang.


"Gak mungkin, hubungan kita istimewa di atas ranjang bahkan kamu juga menikmatinya."


Syahdu langsung mencengkram erat kerah baju Arga dan menatapnya dalam dengan mata yang berair. "Dengar, ya. Aku gak punya perasaan sedikitpun sama kamu. Walau udah berhubungan seratus bahkan seribu kali. Gak ada yang membuatku berdebar karena hubungan kita cuma sebatas teman tidur. Gak lebih!"


Arga kehilangan kendali diri. Tubuhnya melemas setelah mendengar ucapan itu dari mulut Syahdu. Bagaimana bisa Syahdu tidak menyukainya dengan hubungan yang mereka lakukan selama ini? Ucapan Syahdu menyakitkan baginya.

__ADS_1


"Kenapa??" Syahdu menatap sinis pada Arga yang terduduk lesu di tepi tempat tidur.


"Padahal jelas dalam kontrak kalau kamu hanya menganggapku sebatas teman tidur. Iya, kan? Sekarang keluarlah, Arga. Nanti malam ada acara besar yang menantimu." Tukas Syahdu lalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arga yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Syahdu.


__ADS_2